One More Chance : Don’t Leave Me Like a Rain [Songfict] 

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Angst, AU

Length : Songfict

Rate : T

.

.

.

.

.

Do our distinct features get forgotten too?

Does that time even exist?

Do all the times of happiness get erased too?

Is a love like that even considered love?

Senyuman itu, aku tak ingat kapan terakhir kali aku melihatnya. 

Pelukan itu, aku bahkan lupa seberapa hangatnya itu. 

Kebiasaan yang selalu kita lakukan setiap saat, aku mulai melupakan banyak dari kebiasaan itu. 

Apakah kau juga sudah lupa? 

Bagaimana dirimu memelukku dari belakang disaat aku sedang memasak. Apakah kita juga akan melupakan kebiasaan yang setiap pagi kita lakukan itu? 

Semua terjadi begitu cepat. 

Semua yang kita lalui terjadi secepat hujan yang membasahi tanah. 

Secepat aroma petrikor terhirup lalu pergi entah kemana. 

Aku tak pernah mengira bahwa wajahku pernah begitu cantik dengan senyuman kebahagiaan seperti di album foto yang saat ini sedang ku genggam. 

Aku tak menyangka bahwa senyuman itu pernah menghiasi wajahku. 

Siapa yang harus ku salahkan? Tuhan kah? Atau takdir yang telah menulis setiap paragraf cerita tentang hidupku lalu dengan seenaknya ia menghapusnya. 

Siapa yang berani beraninya menghapus segala kebahagiaan ku? Dengan menyisakan kepedihan ini. 

Mengapa ia tidak menghapus segalanya? Kebahagiaan dan kepedihan sekaligus. 

Bagaimana mungkin ia hanya meninggalkan kepedihan dan membuatku lupa bagaimana rasanya bahagia. 

Aku lupa bagaimana caranya tersenyum bahagia, 

Aku lupa bagaimana rasanya jantungku berdebar karena bahagia, 

Aku lupa segala sesuatu yang indah. 

Ingin sekali aku memukul seseorang yang telah menghapus itu semua. Tapi pada siapa pukulanku harus ku layangkan? 

Kata orang, cinta itu adalah kebahagiaan dan kepedihan. 

Kau memberikan kebahagiaan, ku akui itu. 

Tapi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun yang mampu membuat hatiku hancur saja, kau tidak pernah. 

Harusnya kau menghancurkan hatiku saat kau memutuskan untuk pergi. 

Bukan membuatku melayang terbang ke langit lalu pergi entah kemana, membiarkanku terambang di antara awan sampai aku memutuskan untuk jatuh lalu menghancurkan diriku sendiri. 

Aku tak menyalahkanmu, sungguh. 

Kau tidak berbuat salah padaku. Tidak ada kata kata ataupun perbuatanmu yang membuatku pedih dan terluka. 

Senyuman dan bahagiaku adalah akibat dari setiap perlakuanmu padaku. Air mataku selalu terjatuh dengan bahagia karenamu. 

Kau tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Kau tak pernah menggoreskan luka di hatiku. 

Menyakitiku adalah sebuah larangan untukmu. Itu moto hidupmu. 

Perginya dirimu tanpa membuat hatiku hancur mengakibatkan tanganku sendirilah yang menggoreskan luka pada hatiku sendiri. 

Diriku sendirilah yang membuat luka di hatiku ada dan semakin melebar. 

Aku yang tak pernah berhenti berharap kembalinya dirimu, membuat tanganku menggores hatiku semakin dalam. 

Kau memberikan ku kebahagiaan, tapi kau lupa untuk menyelipkan pedih di dalamnya. 

Apa itu pantas disebut Cinta, Lee Donghae?

•••

Even when I’m alone on the street we walked together

I can’t believe anything, as if it’s all a lie

It was going so well for a moment so I thought it would last forever

Was that thought and mind all selfish of me?

Album foto itu ku biarkan terbuka di atas meja makan. Aku lebih memilih melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan makan. 

Aku tak tau sejak kapan waktu berjalan begitu lambat saat aku melewati sofa di depan TV. 

Tempat kita biasa menghabiskan waktu dan bermesraan. 

Albert Einstein benar, waktu itu bersifat relatif. 

TV itu tak pernah menyala lagi. Entah sejak kapan. Yang pasti disaat kita duduk didepannya lah TV itu terakhir kali menyala. 

Niatku adalah kembali ke kamar, alih-alih aku menjatuhkan tubuhku diatas sofa di depan TV.

Hidungku mengendus endus, mencoba mencari aroma tubuhmu. 

Tapi, kenapa hanya bau debu yang tercium? Sebenarnya, sudah berapa lama sofa ini tidak diduduki? 

Tubuhku tenggelam ke dalam sofa, mencoba mencari kenyamanan seperti saat kau merangkul tubuhku di tempat yang sama ini. 

Mataku terpejam, mencoba merasakan lagi sentuhan jemarimu mengelus suariku. 

Telingaku ikut ku tajamkan, mencari setiap alunan melodi yang keluar dari mulutmu.

Tapi, seakan semua tak pernah kurasakan. 

Aku telah lupa segala kemanisan itu. 

Apakah keberadaan dirimu di masa lalu adalah sebuah kebohongan? 

Apa itu hanyalah delusi ku? 

Tapi aku tak bodoh, kau pernah ada. 

Kisah itu pernah kita lakukan bersama. 

Tapi seakan otak ku telah disabotase, aku lupa bagaimana rasanya. 

Aku tau, setiap detik denganmu adalah segalanya bagiku. 

Segala sesuatu yang kita lakukan adalah kebahagiaan. 

Tak pernah ada yang mengganggu hubungan kita. 

Semua orang tau, bahwa sebuah akhir tidak akan terjadi pada kita. 

Aku masih ingat, di tempat ku sekarang ini. 

Jemari kita saling bertautan, tertawa bersama karena setiap candaan yang terlontar. 

Malam itu hujan deras, listrik juga padam. Kita memutuskan untuk duduk di sofa ini dengan secercah cahaya dari ponsel milikmu. Duduk sambil berpelukan.

Aku tak tau pasti candaan apa yang kau lontarkan, yang pasti adalah tawaku benar benar pecah karena dirimu, mengalahkan suara hujan diluar sana.

Dan hal lainnya adalah kita berakhir panas dengan hanya bermodalkan cahaya senter dari ponsel.

Namun sayangnya, aku lupa bagaimana rasa bahagia saat itu terjadi.

Aku tau dengan sangat jelas, bahwa dirimu tak pernah membuatku terluka.

Dengan dirimu yang tak pernah melukai hatiku, ku sangka kebersamaan kita adalah abadi. 

Kenapa kita bisa berpisah padahal tak pernah saling menggoreskan luka di hati? 

Kini aku menatap kosong, otak kecilku mulai berpikir. 

Kau tak pernah melukaiku, lantas apa alasan mu pergi? 

Jika kau tak pernah bersalah, apa aku telah melakukan kesalahan besar padamu? 

Atau aku yang egois karena masih berharap bahwa kau mencintaiku setelah meninggalkanku? 

Apakah aku egois berharap kau kembali? 

Apakah kepedihan yang ku ciptakan ini adalah bentuk keegoisan? 

Berharap kau menyakitiku saat kau pergi adalah keegoisanku?

Aku tak tau harus melangkah kemana, bertanya pada siapa, dan mengadu dengan siapa. 

Aku hanya bisa berdiam di flat ini, berharap kau pulang. 

Udara kosong di depan ku ini, bisakah kau yang menempatinya sekarang, Sayang? 

Pulanglah, Lee Donghae. 

•••

Now the both of us are more used to being in different times

Even if I cry going back to the moments that you and I met

A sigh that I don’t know when will develop, turns into a song

Without realising myself, I turn to you again

Aku bisa merasakan dinginnya saat salju putih itu jatuh ke telapak tanganku. 

Mencair disana dan lenyap. 

Dua tahun kau pergi tanpa sepatah kata yang mampu menyayat hati, dan satu tahun yang lalu aku melihat pundak kokohmu lagi. 

Senyumanmu masih sama, begitu manis. 

Tapi senyumanmu bukanlah untukku lagi. 

Aku sangat ingin melangkahkan kakiku dan berlari ke pelukan mu. 

Tapi, saat kakiku hendak melangkah, seolah olah ribuan tangan telah menahanku. Aku ingin memaki saat tubuhku tak mampu menggapai pelukmu. Aku sadar, otak dan tubuhku telah berkerja sama untuk membatu. 

Berdiri diam di luar restoran tempat mu bekerja sambil mengamatimu, aku adalah seorang penguntit sekarang. 

Entah aku harus bersyukur atau apa saat takdir membuatku terbang ke Negara Sakura ini. 

Aku tak tau alasanmu menghilang dan ternyata menjadi penghuni baru di Osaka ini. Aku terlalu takut untuk tau. 

Kita sudah dijalan yang berbeda, di waktu yang berbeda, dan di tempat yang berbeda pula. Itulah alasan aku membatu disaat kerinduan akan pelukan mu membuncah di hatiku. 

Biarkan seperti ini, 

Biarkan aku tak tau alasanmu pergi,

Biarkan faktanya bahwa kau tak pernah menyakitiku, 

Biarkan aku terluka oleh diriku sendiri. 

Karena aku tau, kau takkan pernah melukaiku. 

Air mata yang entah keberapa ratus kalinya kembali membasahi pipiku. 

Langkah kakiku membawa ku pergi dari sana, meninggalkanmu yang tak menyadari keberadaanku. 

Aku kembali ke flatku, flat yang ku jadikan tempat tinggal ku di Osaka ini. 

“Tak baik menangis di malam salju pertama, Yoona noona” aku hanya tersenyum membalas ucapan Yuta, saudara jauhku yang merupakan asli orang Jepang. Aku tinggal satu flat dengannya saat aku memutuskan untuk meninggalkan Korea dengan segala kenangannya. 

Memutuskan untuk hidup di dunia baru namun sayangnya aku tak pernah bisa keluar dari sana. Aku bersyukur karena Yuta tau bagaimana sifatku, jadi aku tak perlu khawatir ia akan sakit hati saat aku tak mengeluarkan sepatah katapun dan lebih memilih berdiam diri di kamarku. 

Tangisanku pecah saat tubuhku menyentuh ranjang. 

Hatiku begitu perih saat sesuatu yang ada di depan mataku tak bisa ku genggam. 

Aku tak mengerti dengan diriku yang terdiam membisu ketika seseorang yang dua tahun menghilang muncul di hadapanku. 

Seharusnya aku menghampirimu, alih-alih aku hanya menjadi penguntit dirimu. 

Aku terlalu takut akan hal yang akan terjadi. Bagaimana jika kau memang tidak menginginkan ku dan lebih memilih pergi? 

Aku takut saat aku menunjukkan batang hidungku, maka dirimu akan menghilang lagi. Seperti dulu. 

Erangan pedih tak bisa ku tahan keluar dari mulutku. 

Ini lebih sakit daripada aku yang tak bisa melihatmu saat di Seoul dulu. 

Sejak satu tahun yang lalu, tangisanku sudah menjadi musik pembawa tidur untukku. 

Aku tak tau sudah berapa ribu kali air mata kepedihan ini mengalir. 

Aku menyesal tapi juga tidak saat aku memutuskan untuk menetap di Osaka demi menemani Yuta. 

Ku pikir aku akan melupakanmu dengan pergi ke sini.  

Melupakan segala kepedihan dan mulai mencari bagaimana rasanya bahagia itu lagi. 

Tapi tanpa sadar, aku kembali lagi padamu. 

•••

Don’t leave like the rain

I’m drenched like this again today

I seek for you amongst the wet traces

Will I be able to erase it?

If I could do it just one more time

Just one more chance, so I can see

Sekuat apapun aku menahannya, mencoba melenyapkannya. Itu semua adalah sia sia. 

Aku tak bisa. 

Aku tak bisa menghilangkan rindu yang telah tak terbendung lagi. 

Perasaan itu semakin membuncah dan akhirnya menyakitiku. 

Lagi lagi, sakitku diakibatkan oleh diriku sendiri. 

Lagi lagi, aku melukai diriku sendiri. 

Aku ingin sekali memanggil namamu dan menyuruhmu untuk menghentikanku melukai diriku sendiri. 

Tapi entah kenapa, aku tak mampu. 

Sampai pada batasnya segala pertahanan ku, 

Sampai pada hancurnya semua pion pertahanan ku,

Sampai hancurnya tembok pertahanan ku, 

Aku memutuskan berlari diantara ribuan juta hujan yang membasahi bumi. 

Tak peduli dengan apa yang akan terjadi,

Rinduku harus segara ku lepaskan. 

Aku sampai pada restoran itu dan memasukinya secepat mungkin. 

Mataku tak mendapatkan sosok dirimu, tapi aku tak menyerah. 

“Maaf, dia sudah tidak bekerja lagi disini sejak dua hari yang lalu” bahuku mengendur kala mendengar seorang pelayan yang bekerja di restoran itu menjawab pertanyaan ku akan keberadaan dirimu. 

Aku mengangkat tanganku, membiarkan hujan membasahi telapak tanganku. Lalu mengering, dan lenyap. 

Aku bisa merasakan alisku menukik menahan isakan yang sudah diujung lidahku. 

Lee Donghae, jangan pergi seperti hujan! 

Entah setan darimana yang merasukiku, aku berlari. 

Mencoba mendapatkan takdir yang membawaku kembali bersamamu. 

Apakah aku terlalu menyepelekan takdir yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menemuimu lagi? 

Apa takdir marah padaku? 

Hingga ia mengambilmu lagi dari ku. 

Aku tak peduli dengan hujan yang begitu dingin di akhir musim salju ini. 

Rasa dihatiku yang sudah membeku jauh lebih dingin dari setiap tetesan hujan itu. 

Air mataku kembali memembasahi pipiku. Menggantikan jejak hujan yang sebelum nya membasahi pipiku. 

Kapan pelangi akan muncul kembali di wajahku ini setelah sekian lamanya hanya hujan yang menyapa? 

Aku masih berlari, mencoba mencari jejak langkahmu sekedar untuk mengikutimu. 

Tapi tak kunjung kutemukan. 

Hanya ada genangan air di depan sana. 

Katakan padaku, bagaiman caranya untukku menemukan setiap jejak langkahmu di genangan basah itu? 

Kakiku tersandung pada batu dan aku bisa merasakan sakit yang tak seberapa pada lututku. 

Wajahku benar benar tertutupi oleh air mata mengalahkan air hujan yang membasahinya. 

Aku menatap nanar pada genangan air di depanku. 

Bisakah aku menghapus segala genangan yang menutupi setiap langkah jejakmu? 

Bisakah aku menghapus segala kepedihan hatiku akibat rindu dan bertemu denganmu? 

Brengsek! Aku tak bisa! 

•••

Another tomorrow that I thought it’d be okay

As time passes by, it’s getting deeper

I thought I’d become new as the longing for you passes away,

As if the clock in my heart has broken, it’s always the same time

Aku tau, takdir telah mempermainkan ku. 

Tapi, inilah aku. Im Yoona. 

Aku tak akan kalah dari tadir. 

Jika ia tak membiarkan ku bertemu dengan mu lagi, baiklah. 

Kita tidak akan bertemu. 

Aku akan baik baik saja. 

Seperti tiga tahun terakhir yang ku lewati tanpamu.

Tubuhku masih sempurnah. 

Mataku tidak hilang, telingaku, jariku, lenganku bahkan kakiku. Semuanya masih lengkap. 

Aku bisa melewati segalanya dan tak akan menangisi takdir yang begitu kejam padaku. Tidak lagi. 

Semua sudah berlalu, kerinduanku yang tak bisa kulepas bukankah sudah terlepas dengan tak sengaja? 

Disaat satu tahun aku menjadi penguntit Lee Donghae. Disitulah kerinduanku mulai terbayar.

Waktu itu relatif. Aku bisa melewati segalanya seiring berjalannya waktu, bukan? 

Aku percaya bahwa dengan seiringnya waktu, hatiku ini akan sembuh dengan sendirinya. Seperti luka di lututku yang akan mengering dengan sendirinya. 

Aku yakin, luka di hatiku pun begitu. 

Tapi, sekali lagi aku keliru. 

Dibawah pohon Sakura yang sudah memekar, hujan di wajah ku kembali mengguyur. 

Aku tak tau kapan pelangi akan terbit disana. 

Aku tak tau kenapa wajahku sudah seperti Kota Hujan Tersembunyi yang selalu menumpahkan air dan selalu basah. 

Bahkan aku tak perlu mengeluarkan uangku sekedar membeli pelembab wajah, karena wajahku selalu lembab alami. Oleh air mata. 

Ku pikir aku mampu melawan takdir, mengalahkannya setelah itu mengejek ia dibawah kakiku. 

Aku terlalu berdosa karena hal itu, hingga ia semakin tega membuatku jatuh semakin dalam. Luka di hatiku semakin membesar, rindu di benakku semakin terbentang luas.

Aku tak yakin aku bisa menampung semuanya diatas pundakku. Mengingat sejak kepergianmu, pundakku hanya seperti daun yang begitu kering dan rapuh. 

Aku sadar, ini adalah musim semi kedua sejak dirimu lagi lagi menghilang di musim salju dulu. 

Berarti, sudah empat tahun aku tak mendengar suaramu dan melihat sosok dirimu. 

Setiap aktifitas dan kesibukanku tampaknya tak membuat rindu di hatiku lenyap dimakan oleh waktu. 

Aku mulai berpikir, dan menyimpulkan bahwa waktu bukanlah pemakan rindu. 

Waktu tak akan mampu menghabiskan rindu dan melenyapkannya. 

Tidak, waktu saja tak mampu.

Aku tau, ribuan hari sudah terlewat sejak dirimu meninggalkan ku sendirian di flat kita yang dulu.

Tapi seakan aku masih terjebak di waktu yang sama. 

Aku merasa jarum jam di arloji yang melingkar di tangan ku ini tak pernah berputar. 

Seolah ia telah mati dan masih berdiam di angka yang sama. 

Seperti empat tahun yang lalu. 

Rasa sakit itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. Kerinduan itu semakin membuncah. 

Bahkan aku masih tidak tau bagaimana rasanya kebahagiaan itu. 

Aku terjebak di dalam labirin waktu. Aku tak bisa keluar dari sini selamanya. 

Jam dihidupku sudah rusak. 

Dimana aku harus membeli baterainya agar jarum jam itu kembali berputar? 

•••

I was okay even standing in the rain

Because everything was the traces that you left

Because longing for you is a beautiful pain

I thought that I would be able to endure it

I had a lot of mistakes and a lot of wounds too

TruthfuIIy, I don’t want to be afraid of everything and want to end it too

The rain falls, dries up and disappears

You can’t leave like that alone, please

Katakan aku bodoh atau apapun. 

Yang kubutuhkan hanyalah dirimu. 

Aku tak bisa mengatakan seberapa besarnya penyesalanku saat tak menghampirimu disaat aku tau bahwa kau ada di depanku.

Aku menyesal lebih mendengarkan otakku dan tak memberontak tubuhku yang membatu kala itu. 

Harusnya dulu aku mendengarkan hatiku yang bersorak untuk berlari memelukmu, bukan malah mendengarkan otakku yang menyuruhku menjadi penguntitmu. 

Lagi lagi semua ini adalah kesalahan ku, bukan?

Lagi lagi aku menambah goresan di hatiku. 

Sudah berapa banyak goresan tanganku disana? Aku tak bisa menghitungnya lagi karena sudah terlalu banyak. 

Aku tak ingin kembali menyesal hingga mendatangi restoran tempatmu bekerja dulu adalah rutinitas ku sekarang. 

Aku tak peduli dengan hujan yang terus menerus mengguyur Osaka belakangan ini. 

Aku hanya berharap pundak kokohmu kembali menyapa retina mataku di restoran itu. 

Aku tak berniat membuka payung dan melindungiku dari hujan. 

Aku tak ingin menghindarimu. 

Bukankah kau seperti hujan? 

Kau suka menghilang seperti hujankan? 

Jatuh, mengering, dan lenyap. 

Biarkan tubuhku merasakan dirimu lagi, walaupun sebentar. 

Aku tak peduli dengan tatapan iba orang orang padaku yang semakin menggigil dan tetap berdiri ditengah hujan. 

Aku hanya ingin merasakan sakitnya dirimu, sang Hujan. 

Meninggalkan jejak di tubuhku, mengering lalu lenyap. 

Dirimu sekali, kan? 

Lagi lagi, membiarkan luka itu semakin dalam. 

Dan aku tau, itu adalah murni perbuatan ku. 

Aku tak pernah bosan untuk menambah luka lagi di tempat yang sama. 

Hanya untuk merasakanmu.

Merindukanmu adalah rasa sakit yang indah. 

Biarkan aku terus merasakan keindahan itu dengan cara menambah rasa sakit. 

Karena aku tau, daun kering ini mampu menahan segala sakit itu. 

Bukankah sudah terlalu banyak luka dan pedih yang ku torehkan? Aku sudah kebal dengan segalanya.

Aku tak merasakan rasa sakit itu lagi karena sudah begitu banyak, dan ku rasa aku akan mati rasa setelah ini. 

Aku tak menyangka, aku bisa sedepresi ini. 

Takdir juga akan menghapus rasa pedihku hingga aku akan lupa bagaimana rasanya kepedihan. 

Dan menjadikan ku sebagai makhluk mati rasa. 

Aku sadar betul, hujan masih mengguyur kota Osaka. 

Tapi tubuhku yang sudah basah kuyup tak merasakan tetesan itu lagi di sekujur tubuhku. 

Sepasang Converse putih menyapa manik mataku yang terus menunduk. 

Mataku membulat kala aku mendongakkan kepalaku.

Aku ingin memelukmu, lagi. 

Tapi perasaan takut masih terbenak di hatiku. 

Ingin sekali aku tidak takut pada apa yang akan terjadi, seperti Déjà vu otakku kembali mendominasi hingga tubuhku membatu. 

Aku sangat ingin mengakhiri segala kelakuanku yang membuat luka di hatiku bertambah, tapi percayalah itu sulit. 

Sama seperti biasanya, 

Disaat hujan turun, akan mengering, lalu lenyap. 

Tampaknya kau tak akan membiarkan itu terjadi lagi, pada dirimu. 

Jam dihidupku kembali berputar. 

Kehangatan itu kembali merasuki tubuhku, dan aku bisa merasakan kebahagiaan itu lagi. 

Kala pundak kokohmu memeluk tubuhku yang mengurus. 

Aku tak tau ocehan apa yang kau lontarkan disertai isak tangismu, aku terlalu hanyut dalam perasaan ku. Terlalu sibuk merasakan setiap jengkal pelukan tubuhmu. 

Walaupun begitu, telingaku masih menangkap sedikit ucapan maaf darimu, kau mencariku di Seoul satu tahun yang lalu. 

Aku tersenyum, itulah alasanmu menghilang dari Osaka ini. 

Mataku mulai sayu, rasanya tubuhku memberat.

Aku terlalu rapuh untuk menopang berat tubuhku akibat guyuran hujan yang selalu mengikis pertahanan ku. 

Namun aku tak perlu khawatir, karena kau akan membangun kastil pertahanan ku lagi. 

Kau akan menjadi kekuatanku lagi, seperti dulu.

“Jangan pergi seperti hujan”.

– TAMAT – 


Akhirnya selesai nih ff dalam satu malam hohoho. 

Serius, liat mv dan denger lagunya SJ yang baru rilis kemarin bikin nyesek. 

Apalagi pas liat video yang Donghae blg kalo nyanyi di part ‘Idaero bichorom gaji mayo. Ugh~’

Kata Donghae ugh nya harus sakit gitu 😂😂

Liriknya menyentuh, jadi bepikir apakah YoonHae bener bener udah berpisah di dunia nyata? 

Ngingat itu lagu, Donghae yang nyiptain. 

Yaudah, gitu aja. 

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 😍😍😚😚😘😘

Iklan

Fake or Real 

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona x Lee Donghae

Genre : Comedy, Romance, School-life, Sad

Length : One-shot 

Rate : T




“Arrggghhh!” puluhan pasang mata dikantin itu menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengejutkan mereka.

“Dimana matamu, idiot?!” pemuda yang dikenal sebagai si pembuat onar di SMA itu berteriak pada gadis yang baru saja menabraknya dan menumpahkan Jjampong panas yang ia bawa diseragam sekolah milik si pembuat onar atau lebih kasarnya si Penguasa SMA mereka itu.

“Matilah kau,  Im Yoona” bukan membantu, Yuri malah menakuti Yoona dengan membisikkan mantra pencabut nyawa ditelinga gadis itu.

“Kau juga tidak melihat aku berjalan kan!  Apa kau bilang?  Idiot?  Kau lebih idiot!” tidak ada yang lebih mengagetkan lagi ketika mendengar Yoona membalas teriakan Donghae. Yoona mencetak sejarah dengan melawan pada si Penguasa sekolah ini.

“Beraninya kau!  Siapa namamu hah?  Oh,  Im Yoona!” Donghae melihatnya di bet nama milik Yoona. Menandai gadis yang telah membuatnya kotor terkena Jjampong.

“Sebagai permintaan maaf, kau harus menjadi kekasihku!” tidak ada yang lebih gila daripada ucapan Donghae yang baru saja ia katakan.

Setelah ia membentak Yoona, ia memintanya untuk menjadi kekasihnya?  Benar benar gila. Itu yang ada didalam pikiran Yoona.

“Menjadi kekasihku,  dan membuat Jessica cemburu. Dengan itu, ia akan kembali padaku”

 

 

•••
“Hey!  Itu Im Yoona! ” Oh tidak, mereka menemukan Yoona. Yoona segera lari dari belakang perpustakaan mereka.

Ia masih ingat saat menolak Donghae kemarin, Donghae mengancam akan mengganggu hidupnya, seperti sekarang.

Berlari dari tempat ke tempat tentu saja membuat Yoona kehabisan tenaganya.

Gadis itu bersembunyi di belakang gudang sekolah mereka. Melihat situasi sepertinya aman, Yoona harus kembali ke kelas karena jam istirahat sudah selesai.

‘Byurrrr!’

Terkutuklah kau, Lee Donghae!

Yoona menatap kesal kearah atas dimana teman teman Donghae dan tentu saja Donghae yang ada di balkon lantai 2, dan baru saja menyiramnya dengan air yang Yoona yakini bekas mengepel lantai toilet sekolah mereka.

“Bagaimana, Yoona?”

“Jawabanku tetap tidak, Idiot!” ini sungguh tak adil, Lee Donghae bersama kru krunya,  akan sulit untuknya membalas perbuatan pemuda nakal namun sayangnya kelewat tampan itu.

 

 

 

“Tugas yang saya berikan kemarin, dikumpulkan sekarang. Kau akan tau akibatnya jika tidak menyelesaikan tugas yang ku berikan” itu seperti pertanda keramat bagi para siswa dan siswi yang tidak mengerjakan tugasnya.

Bagaimana Guru Kang akan menghukum mereka dengan mengutip dedaunan yang gugur dibelakang sekolah dan harus menghitung berapa helai daun itu. Sangat gila.

Jadi, harus wajib untuk menyelesaikannya.

“Ada apa, murid baru?” Yoona memejamkan matanya erat, sungguh ia sudah menyelesaikan tugasnya kemarin. Dan ia juga sangat ingat membawa buku itu. Apa buku itu memiliki kaki dan kabur dari tas Yoona?

Ia sungguh tak mau dihukum dan dicap buruk oleh Guru Kang. Karena ia adalah siswi baru disini.

Lalu, tak sengaja tatapan Yoona bertemu dengan tatapan Donghae yang sialnya teman sekelasnya.

Donghae tersenyum ramah padanya. Sangat teramat ramah. Membuat Yoona benar benar ingin meninju wajah tampan Donghae.

Donghae lah pelaku nya, siapa lagi?

 

 

 

Disaat saat seperti inilah Yoona sangat merindukan ranjang empuknya.

Harusnya ia sudah pulang kerumahnya dua jam yang lalu. Karena harus membersihkan dedaunan kering dibelakang sekolah mereka, ia harus mengurung niatnya untuk beristirahat di ranjang kesayangannya.

Jika Donghae meminta bantuan padanya, kenapa dengan cara seperti ini?

Bukan kah akan lebih baik jika ia memperlakukan Yoona bak Putri di istana olympus?  Bukan malah membuatnya seperti ini. Sangat amat teraniaya.

Yoona itu tipikal orang yang sabar, sungguh. Karena itu ia tidak akan menyerah, untuk menolah Donghae.

Saat ini saja ia sudah diperlakukan seperti ini, apalagi menjadi kekasih palsu Donghae.

Sepasang sepatu beserta kakinya sudah ada didepan Yoona, gadis itu mengadakan kepalanya dan mendapati Donghae yang berdiri didepannya.

“Tidak,  tidak!  Aku ini kuat! Bagaimanapun caranya, aku tidak akan menyerah!  Tidak, untuk preman sekolah itu!” Yoona menyemangati dirinya sendiri, kedatangan Donghae beserta kru nya itu merupakan malapetaka baginya. Akan ada musibah yang menimpa dirinya.

“Kau sungguh sangat keras Yoona. Baiklah jika kau tetap menolak” Donghae berlalu setelah sebelumnya menyapa Yoona dengan senyuman manis miliknya.

Yoona sempat terpesona melihatnya namun itu hilang dalam sekejap setelah teman teman Donghae menumpahkan 3 plastik besar berisi dedaunan kering ke sekelilingnya. Entah darimana dedaunan itu,  Yoona tak tau.

Yang ia tau pasti, ia akan pulang malam hari ini.

“Aku kuat!”

 

 

•••
Yoona harus berakhir di Ruangan Kesehatan hari ini, karena semalam terlalu lelah ditambah ia terlambat tadi pagi dan mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan.

Walaupun ia memiliki fisik yang kuat, ia masih seorang anak perempuan yang tak lebih kuat dari anak lelaki.

Berada di Ruangan Kesehatan bukanlah ide yang buruk, ia bersyukur berada disana karena tak akan ada Lee Donghae.

“Apa kau tidur?” Yoona kenal suara ini,  suara berat milik Donghae. Ia segera memejamkan matanya erat, berpura pura tidur.

“Maafkan aku,  itu akibatnya jika kau menolakku. Istirahat lah dan sembuh. Aku tak ingin kekasih ku sakit” setelah itu Donghae mencium kening Yoona.

Tanpa Donghae sadari, jantung Yoona berdetak begitu cepat. Apa begitu mudahnya untuk pria mencium wanita?  Pikir Yoona.

Namun, tanpa Yoona sadari Donghae sudah tersenyum miring. Tentu saja Donghae tau kalau Yoona itu tidak tidur dan sadar sepenuhnya atas kehadiran Donghae.

 

 

 

•••
“Yoona-ssi!  Kau harus melihat ini!” Victoria menarik paksa lengan Yoona. Tanpa bisa mengelak, Yoona mengikutinya dan didampingi oleh Yuri, sahabat Yoona.

“Donghae!  Turunlah!” hampir seluruh siswa dan siswi sekolah itu berkumpul dilapangan depan sekolah, melihat Donghae yang berada dilantai teratas sekolah mereka yang siap untuk melompat kebawah.

Melihat Yoona sudah hadir diantara ratusan siswa dan siswi dibawah sana, Donghae memulai aksinya.

“Aku akan melompat kebawah jika kau menolakku, Yoona!” teriakan itu membuat semua orang khawatir, dan menyuruh Yoona untuk menerima Donghae.

“Dia tak akan melompat, itu hanya ancamannya saja” Yoona tau Donghae itu seperti apa,  ia tak akan berani melompat kebawah.

“Ini serius, kenapa kau begitu jahat?” pekik Changmin, salah satu teman Yoona.

“Idiot!  Kau tak akan mati jika melompat dari sana!  Kakimu yang akan hancur!  Aku tak akan peduli!” Yoona tak akan pernah termakan bualan Lee Donghae, tidak akan!

“Aku akan menghitung!  Di hitungan ke tiga aku akan benar benar melompat!  Satu!” Yoona mulai takut, apa Donghae gila?

“Terima saja, Yoona. Kau akan membunuh Donghae” teman temannya berteriak padanya. Tak banyak juga yang menyalahkannya.

Yoona melirik Jessica yang tampak khawatir.

Kenapa Donghae tidak meminta kembali Jessica saja dengan cara seperti ini?

“Dua!” Donghae tak akan melakukan hal itu! Yoona yakin itu.

Tak akan mungkin untuk menjadi seorang kekasih palsu.

Tapi sepertinya Donghae benar benar akan melompat.

“Tiga!” semua orang yang ada disana berteriak.

“Tunggu!!!”

 

 

 

•••
“Hey!  Tunggu aku!” teriakan Yoona tak diindahkan oleh Donghae. Donghae hanya berjalan cepat dan memasuki restoran yang ia tau adalah tempat favorit Jessica. Menjalankan misi membuat mantan kekasihnya itu cemburu.

“Kau seperti dikejar hantu saja!” gerutu Yoona dan menghempaskan pantatnya ke kursi restoran.

“Ya, kau hantunya” percikan api tak bersahabat mulai membara dimata Yoona. Pantas saja mantan kekasihnya memutuskannya, ia bersikap seperti itu. Pikir Yoona.

Donghae melihat Jessica dan teman temannya memasuki restoran itu.

“Yoona-ya” bisik Donghae memberikan isyarat agar Yoona membuka mulutnya,  menyuapi Yoona makanan yang sudah disajikan beberapa menit yang lalu.

“Apakah enak?  Ughh lihat, pipimu terkena nodanya” Donghae membersihkan pipi Yoona sambil melirik Jessica.

Walaupun Donghae itu mantan kekasihnya, tentu saja Jessica risih melihat Donghae bermesraan dengan pacar barunya didepan Jessica. Terlebih lagi di restoran yang biasa ia kunjungi dengan Donghae.

Jessica membuang nafasnya sedikit kasar, dan mengajak teman temannya untuk keluar dari sana.

Melihat Jessica yang sudah keluar dari restoran itu, ia mendorong wajah Yoona, menjauhkannya dari hadapannya.

“Aghhh!” tidak bisakah Donghae sedikit lembut? Walaupun itu dengan kekasih palsunya.

“Dia cemburu!” tawa Donghae tanpa mengacuhkan gerutuan Yoona.

“Ini, kau yang bayarkan?” Yoona sedikit takut mengingat tak sedikit makanan yang ia pesan. Ia tidak sarapan tadi pagi,  dan cacing didalam perutnya sudah berdemo agar diberi makan.

“Tentu saja tidak! Kau bayar sendiri! Memangnya siapa dirimu?” sebenarnya itu sangat kasar, tapi Yoona mengerti akan hal itu. Lagian benar kata Donghae, mereka hanya palsu kan?

“Kau keparat, tapi mau bagaimana lagi. Aku akan menelopon Yuri” Yoona ingin membentaknya sebenarnya, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutnya hanya suara lembut.

“Baguslah” jawab Donghae sungguh tak tau diri.

 

 

 

•••

“Maaf, Yuri-ssi. Tapi Yoona harus pulang denganku” perintah Donghae tak bisa ditolak, mengingat ia si penguasa sekolah serta kekasih Yoona walaupun palsu.

Yuri memandang Yoona dengan raut memohon, mereka sudah janji kemarin saat pulang sekolah hari ini mereka akan ke toko buku. Dan Yuri sangat tak suka jika kemana mana sendirian, tanpa ditemani.

Yoona yang mengerti maksud Yuri hanya memandang lemah sahabatnya itu, ia tak bisa menolak Donghae.

“Baiklah, aku mengerti” Yuri mengalah dan berpamitan pulang pada Yoona dan Donghae.

“Kau kekasihku kan? Temani aku latihan” Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Mengikuti kemauan kekasih palsunya itu.

Yoona harus bersabar, hanya sampai Jessica meminta Donghae kembali. Itu saja. Sangat simpel.

Dengan ia selalu bersama Donghae maka akan semakin cepat Jessica cemburu dan meminta Donghae kembali. Ia harus kerja keras mulai sekarang.

Agar semuanya berakhir, walaupun jauh didalam hati Yoona ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.

Latihan sudah berakhir, dengan penuh keringat Donghae berjalan kearah Yoona.

Dengan senyuman maut serta iris hazel milik Donghae yang lembut menatap dalam padanya.

Sesaat Yoona terpana menatapnya, sedetik kemudian jantungnya berdetak dengan cepat kala Donghae memeluknya erat.

Seakan akan tak ingin kehilangan Yoona. Apa Donghae berubah pikiran? Kenapa ia tiba tiba memeluknya seperti ini? yoona sangat bingung. Namun yang ia rasakan adalah kehangatan dari pelukan Donghae.

Walaupun ia tau tubuhnya akan bau karena kena keringat lelaki itu.

“Apa Jessica melihatnya?”

“Eoh?” Yoona tersadar dari lamunannya.

“Jessica melihatnya?” tanya Donghae sekali lagi. Yoona melirik ke kanan dam ke kiri, mencari si pemilik nama lengkap Jessica Jung itu. Dan ia mendapati Jessica yang melihatnya dari depan sana tanpa ekspresi apapun dan berlalu pergi dengan teman temannya.

“Dia sudah pergi” dan pelukan itu terlepas. Donghae melirik kebelakang memastikan Jessica dan teman temannya pergi.

“Aku yakin sebentar lagi dia akan memohon kembali padaku” Yoona yang mendengar itu hanya terdiam, jadi itu alasan Donghae memeluknya erat.

Lalu apa yang ia harapkan sih? Yoona tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

“Ayo, aku antar pulang”

 

 

 

•••
Tak ada yang lebih sial ketika kau kedapatan tertidur dikelas oleh Guru Killer. Yoona merutuki mata bodohnya yang tak bersahabat. Karena itu ia harus dimarahi dan disuruh keluar kelas. Padahal hanya tinggal 30 menit lagi untuk waktu pulang sekolah.

Yoona memasuki toilet sekolah, mencuci mukanya agar tidak kusut seperti tadi.

“Hey! Yoona!” empat orang siswi sudah ada didepan Yoona. Menatap Yoona dengan tatapan ingin menerkam.

‘Pluk!’ kotak tissue baru saja mendarat di kepalanya dan terjatuh ke lantai.

“Apa yang kau lakukan!” bentakan Yoona dijawab oleh serbuan keempat gadis itu.

Menjambak rambut Yoona, menarik seragamnya, bahkan ada juga yang memukulinya.

“Hentikan” keluhan Yoona tak didengar oleh keempat pasang telinga mereka.

“Kau tak pantas bersama Donghae!” itu salah satu dari sekian makian mereka pada Yoona.

“Bitch!”

“Matilah”

“Jauhi Donghae kami!”

Dan diakhiri siraman air got yang entah darimana mereka dapatkan ke tubuh Yoona.

“Donghae tak akan mau dekat denganmu jika kau bau seperti itu!” kepergian keempat gadis itu membuat Yoona sedikit lega, namun tak menghentikan air mata yang jatuh dari pipinya.

Yoona segera bangkit dan keluar dari toilet, melewati para siswa siswi yang hendak pulang.

Semua mata tertuju padanya, namun tak ada satupun yang mau mendekati Yoona.

Yoona semakin mempercepat larinya menghindari tatapan iba bahkan tatapan jijik padanya.

‘Bruk!’ tubuh Yoona oleng namun tak sempat jatuh ke lantai, lengan seseorang menahan pinggangnya.

“Yoona?” Yoona menatap Donghae dan melepaskan lengan Donghae dari pinggangnya. Menghindari iris hazel khawatir Donghae.

“Apa kau baik baik saja?” tidak, Yoona sungguh tak baik baik saja.

“Aku baik baik saja. Aku mau pulang” Yoona sudah berusaha mengentikan isakan tangisnya, tapi ia tak bisa.

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri”

“Aku tak akan membiarkan kekasihku seperti ini. Aku akan mengantarmu dan tidak ada bantahan” mendengar hal itu justru membuat Yoona semakin sulit untuk menahan air matanya. Isakan tangis Yoona semakin mengeras, Yoona tak bisa menahannya lagi.

Tanpa aba aba, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya, meredakan tangisan Yoona tanpa peduli bau menyengat yang keluar dari tubuh Yoona.

 

 

•••
Sebenarnya Yoona penasaran dan ingin bertanya pada Donghae, kemana tujuan mereka saat ini.

Setelah bel istirahat berbunyi, Donghae menarik lengan Yoona dan mengatakan akan ada kejutan untuknya.

Langkah kaki mereka membawa Yoona dan Donghae ke lapangan sepak bola sekolah mereka, memasuki kerumunan beberapa siswa dan siswi yang sudah ada disana.

“Hadiah untukmu. Lakukan lah sesukamu pada mereka” Donghae tersenyum manis pada Yoona, menunjukkan kejutan Donghae yang berupa empat orang siswi yang sudah mengerjai Yoona kemarin.

“Katakan yang ingin kalian katakan pada Yoona!” Yoona bisa melihat keempat siswi itu ketakutan akibat bentakan Donghae.

“Maaf, Yoona” ucap salah satu diantara mereka mewakili.

“Siram mereka!” Yoona hanya diam saat Eunhyuk menyuruh Yoona menyiram mereka, membalas perbuatan keempat siswi itu kemarin. Teman teman Donghae sudah menyiapkannya, empat ember air yang Yoona yakini bersumber dari got. Baunya juga lebih menyengat ketimbang air yang mereka siram kemarin pada Yoona.

“Siram saja, Yoona!” siswa siswi yang lain mulai meneriaki Yoona untuk membalas dendam.

Sedikit muncul perasaan kasihan Yoona pada mereka.

“Aku tak akan membuang waktuku untuk hal tak penting seperti ini. Ayo kita pergi” iris madu dan iria hazel Donghae bertemu, senyuman dibalas senyuman.

Tanpa sepatah kata, Donghae menggenggam erat tangan Yoona, dan membawa gadis itu pergi.

Sebelum Donghae dan Yoona benar benar pergi, Donghae membalikkan badannya.

“Jangan pernah menyentuh kekasihku! Kau akan tau akibatnya!” itu peringatan yang tak akan bisa dilanggar. Peringatan dari si penguasa sekolah.

Donghae dan Yoona berlalu meninggalkan lapangan sepak bola.

Tanpa mereka sadari, Jessica sudah memperhatikan mereka berdua. Dengan tatapan yang tak ada satupun orang mengerti.

“Sayangnya, kami bukan Im Yoona!” teriak teman teman Donghae yaitu Eunhyuk, Kyuhyun, Changmin, Tiffany dan Minho lalu menggantikan Yoona untuk membalas perbuatan keempat siswi itu.

 

 

 

•••
Sebulan menjadi kekasih palsu Lee Donghae tampaknya tidak membuahkan hasil untuk menggetarkan hati Jessica kembali.

Entah gadis itu benar benar sudah melupakan Donghae atau tidak, yang pasti Yoona sudah sadar, bahwa ia jatuh kedalam perangkap yang mereka buat sendiri.

Orang orang akan berpikir bahwa kedua insan itu sedang berkencan seperti halnya pasangan muda lain.

Nuansa yang biasanya keluar dari interaksi Yoona dan Donghae tampak bersembunyi.

Mereka hanya duduk berdiam diri dipinggir Sungai Han sore itu.

“Aku ingin berhenti melakukan ini” Yoona berdiri dari duduknya, menatap iris hazel Donghae dalam.

“Aku tak ingin berpura pura lagi, aku takmau menjadi pasangan palsumu lagi” Donghae ikut berdiri didepan Yoona, membalas tatapan Yoona.

“Kenapa kau ingin berhenti? Apa alasanmu? Apa kau tersiksa? Apa yang membuat mu seperti ini?” tentu saja Donghae tidak terima dengan keputusan Yoona yang mendadak.

Tapi sebenarnya, entah ini untuk Jessica atau apa, Donghae tak tau kenapa ia tak ingin berhenti.

“Aku punya alasan, aku tak bisa berpura pura menyukaimu lagi” Yoona memiliki alasan, alasan yang tak mungkin ia ungkapkan pada lelaki itu.

“Hidupmu terlalu banyak alasan!  Katakan saja! Kau terlalu sulit, kau banyak alibi!  Kau keras kepala! Kau… ”

“Karena aku benar benar jatuh cinta padamu!” Donghae terdiam. Yoona memejamkan matanya menahan jantungnya yang berpacu sangat kencang.

Apa yang baru ia katakan?

Alasan yang sungguh ingin ia pendam keluar begitu saja.

“Kau pikir aku tidak?” Yoona mengangkat kepalanya, membuka matanya lalu menatap mata Donghae yang masih menatap padanya dalam.

“Kau pikir aku tidak jatuh Cinta padamu?” Dongahae membuka suaranya lagi, meyakinkan pada Yoona bahwa ia juga jatuh kedalam perangkap yang mereka buat.

Yoona awalnya tidak percaya, tapi saat kalimat kedua yang Donghae ucapkan untuk menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan ucapan pertamanya. Kedua kalimat itu membuat Yoona percaya, bahwa Donghae serius dengan ucapannya.

Satu detik selanjutnya pelupuk mata Yoona menumpahkan setetes liquid bening, dan diikuti oleh tetesan tetesan berikutnya, membasahi pipi gadis itu.

Bersikap gentle, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.

“Aku tak tau kenapa kau menangis, yang kutau kita adalah pasangan yang real sekarang. Tidak ada kekasih palsu, tidak ada berpura pura mesra. Tujuan kita sudah jelas sekarang. Kau dan aku. Kita benar benar sepasang kekasih mulai dari sekarang, Yoona. Aku tak akan memintamu jadi kekasihku, karena aku tidak menerima penolakan atau alasan mu yang lain. Aku mencintaimu” Donghae tak percaya atas apa yang ia ucapkan barusan. Itu bukanlah kata kata yang lebih romantis yang selalu ia ucapkan pada Jessica, tapi yang pasti ini lebih tulus dari pada ucapan yang biasa ia lontarkan pada Jessica.

Donghae sadar betul bahwa saat ini hanya Yoona lah yang ia inginkan. Hanya Yoona lah yang ia butuhkan untuk mengisi hari harinya.

 

 

 

 

Matahari sudah terbit dinegara bagian Eropa, dan sudah saatnya Bulan muncul dinegara gingseng itu.

Angin malam yang sebenarnya tidak sehat itu menerpa wajah Yoona.

Tak ada kata dingin bagi Yoona malam ini, karena jemari serta tangan besar Donghae menggenggam erat tangannya saat ini. Tak ada yang lebih hangat dari itu.

“Bagaimana aku bisa kedinginan jika matahari sudah ada disampingku” celetuk Yoona menjawab pikiran nya sendiri.

“Apa?” Yoona tersadar dan menggeleng menjawab pertanyaan Donghae. Senyuman konyol serta malu sendiri itu tercipta diwajahnya.

“Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang” Yoona mengiyakan ajakan Donghae. Dan mereka bergegas meninggalkan Sungai Han dan pulang.

Sebenarnya Yoona tak ingin membebani Donghae dengan mengantarkannya pulang, karena lelaki itu memaksa dengam alasan bahwa ia adalah lelaki gentle maka ia harus mengantarkan seorang gadis pulang kerumahnya.

Yoona mengiyakan tawaran Donghae yang memaksanya, tentu saja ia tidak menyesal menerima tawaran itu.

“Sudah sampai, aku turun” Yoona keluar dari mobil hitam milik Donghae, dan berjalan menuju pagar rumahnya.

“Tunggu!” Donghae menghentikan Yoona, lelaki itu buru buru keluar dari mobilnya.

“Apa aku melupakan sesuatu?” tanya Yoona bingung dan hanya memerhatikan Donghae yang sibuk keluar dari mobilnya.

Donghae mendekati Yoona dengan senyuman maut miliknya, senyuman khas seorang Casanova.

“Tidak, hanya saja ini akan menjadi kebiasaan baru” Donghae menarik kepala Yoona mendekat dan mencium kening Yoona.

“Selamat malam” Donghae berlalu dari hadapan Yoona dan memasuki mobilnya.

Donghae menginjak pedal gas mobil miliknya dan meninggalkan tempat tinggal Yoona.

Yoona masih terdiam menatap mobil Donghae yang menjauh.

Semburat merah dipipinya terlihat menggemaskan.

“Aku tak tau rasanya seperti ini. Benar benar menyenangkan. Walaupun sedikit sakit saat jantungku berdetak begitu cepat” detakan jantung yang begitu cepat memang menyakitkan, Yoona.

Entah itu karena bahagia ataupun sedih. Jika jantungmu memompa darahmu begitu cepat, memang terasa sedikit sakit.

 

 

 

•••
Entah ini salah siapa, Ibu Yoona,  Ayah Yoona atau bahkan Yoona sendiri. Yang pasti ini adalah hari tersial diantara hari hari sial lainnya bagi Yoona.

Harusnya Yoona bangun lebih awal dan pergi kesekolah dengan senyuman ceria karena ia sudah sah menjadi kekasih Lee Donghae.

Bukan malah berakhir dibelakang sekolah dengan usaha memanjat tembok untuk masuk ke sekolah tersebut.

Yoona sangat malas berurusan dengan satpam sekolah mereka ditambah guru pengawas yang sudah pasti akan menghukum Yoona seperti beberapa waktu lalu karena terlambat.

Yoona mendapatkan ide ini ketika seminggu yang lalu kedapatan Changmin yang masuk ke sekolah mereka melewati tembok ini.

Benar benar ide brilian untuk menghindari hukuman yang tak diinginkan.

“Kau masih ingin berusaha memanjat itu?” Yoona yang masih bersusah payah memanjat tembok itu menoleh kebelakang.

Mendapati Donghae yang sepertinya juga terlambat.

Donghae menarik pinggang Yoona, membantu gadis itu turun dari usahanya memanjat tembok.

Bagaimana ia tidak sulit memanjat jika ia masih menggunakan rok selututnya?  Pikir Donghae

“Terimakasih” Yoona merapikan roknya yang sedikit berantakan.

“Syukur aku yang melihatmu, bagaimana jika laki laki lain?  Kuyakin mereka akan diam saja melihatmu dan mengintip celana dalammu” Yoona hanya menunduk malu, menyadari bodohnya ia memanjat sedangkan ia memakai rok sekolahnya.

“Tidak perlu frontal begitu” balasnya mencibir dan memberikan pukulan kecil di perut Donghae.

Donghae hanya tertawa melihat tingkah konyol Yoona.

“Apa kau tetap mau sekolah? Ayo bolos, kita akan berkencan”

Dan tidak ada penolakan untuk Lee Donghae.

“Aku tak menyangka kau mengajakku berkencan disini. Ku pikir kau akan mengajak menonton atau melakukan hal lain yang biasa diminta oleh anak perempuan lainnya” Yoona tertawa kecil mendengar gumaman Donghae. Bagaimana tidak?

Saat ini mereka sedang berada di Taman anak anak, duduk diayunan.

Donghae tidak bergerak seperti halnya Yoona yang sibuk mengayunkan ayunan yang ia naiki, membiarkan rambutnya yang tergerai sedikit berantakan.

Donghae hanya fokus menatap Yoona, memikirkan banyak hal tentang gadis itu. Donghae tak tau alasan kenapa ia menyukai gadis itu, Yoona tidak sefeminim Jessica, tidak selembut Jessica, bahkan tidak semanja Jessica. Yoona itu tipe gadis yang sedikit tomboy, benar benar bukan tipe ideal Donghae.

Namun faktanya, Donghae jatuh pada pesona gadis itu.

“Kau suka anak kecil ya?” Yoona yang mendengar pertanyaan Donghae dengan cepat menjawab ya.  Ia memang begitu menyukai anak kecil,  melihat tingkah lugu mereka membuat Yoona bahagia.

“Kalau begitu, jika sudah menikah nanti. Ayo punya anak yang banyak. 11 mungkin cukup”

“Apa kau pikir mudah mengeluarkan mereka sebanyak itu?!”

“Kau menyukai anak anak kan? Semakin banyak, semakin kau suka”

“Tapi tidak seperti itu juga”

“Sebelas cuma sedikit Yoona”

“Kalau begitu kau yang mengandung mereka”

“Kalau aku bisa, apa yang tidak untukmu”

“Menyebalkan”

“Aku juga menyukaimu”

“Aku tidak bilang menyukaimu idiot!”

“Aku tau kau sangat menyukai ku”

“Aku akan memakanmu bentar lagi”

“Kau sangat imut”

Yoona yang sedikit kekanakan dan Donghae yang jahil.

Bukankah pasangan yang serasi?

 

 

 

•••
Salah satu hal yang ingin dilakukan Yoona jika memiliki kekasih adalah makan siang diatap sekolah dengan bekal yang ia bawa. Oh, tentu saja itu masakan Yoona sendiri.

Donghae setuju dengan ajakan Yoona untuk memenuhi keinginannya itu, hal hal sederhana yang belum pernah ia lakukan dengan Jessica.

Ahh, maaf. Jangan membahas wanita masa lalu Donghae lagi.

Kotak nasi yang tadinya berisi nasi goreng kimchi itu telah habis tak tersisa. Kotak itu dibiarkan terbuka begitu saja, entah Yoona atau Donghae lupa atau malas menutupnya, atau sekedar membumbuhi suasana romantis mereka.

Syukurlah sinar matahari siang itu tidak terlalu menyengat, jadi bermalas malasan diatap sekolah bukan menjadi ide yang buruk. Menghindari pelajaran olahraga yang sudah pasti materi praktek dilapangan sekolah.

Biasanya Donghae lah yang paling semangat jika sudah mengenai pelajaran yang biasa menguras keringat itu, tapi kali ini ia lebih memilih menyimpan keringatnya dengan bermalas malasan bersama Yoona.

Menyandarkan kepalanya dipaha Yoona, dan tidur selonjoran.

Dari sana, Donghae bisa melihat jelas wajah Yoona. Sederhana namun membuat jantungnya berpacu begitu keras.

“Lubang hidungmu sangat cantik jika dilihat dari sini” mata Yoona membulat lebar mendengar pujian memalukan dari Donghae.

“Kau mau mati?!” amuk Yoona dan mengincar telinga Donghae sebagai pelampiasan kemarahannya.

“Aku serius, kau ini kenapa sensitif sekali?” rintih Donghae memegangi telinganya yang sudah memerah.

“Lubang hidungmu semakin cantik bentuknya jika dilihat dari bawah sini. Aku serius” Donghae benar benar memuji lubang hidung Yoona, tapi sungguh wajah Yoona benar benar memerah menahan malu bukan karena pujian. Apa tidak ada bagian wajah Yoona yang lain yang lebih cantik?

“Kenapa harus lubang hidungku?” Yoona melupakan rasa malunya akibat pujian bodoh dari Donghae.

“Karena hanya aku yang boleh melihat lubang hidungmu dari bawah sini dam sedekat ini” Oh, itu rayuan. Walaupun bukan rayuan khas seorang Casanova, itu rayuan diluar dugaan.

“Ya, hanya kau. Kau membuatku malu, idiot” umpatan yang sudah Yoona tahan akhirnya ia lontarkan kepada Donghae, dan dibalas oleh tawa renyah khas Lee Donghae.

“Kau cantik, semuanya. Bahkan lubang hidungmu. Hatimu, wajahmu, semuanya. Itulah kenapa aku menyukaimu” kali ini bukan karena malu, wajah Yoona memerah karena ucapan Donghae, bahkan untuk kesekian kalinya jantungnya seakan ingin keluar dari sarangnya.

Donghae sudah membuatnya jatuh Cinta berkali kali, setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik.

“Ngomong ngomong, kotoran hidungmu yang juga terlihat dari sini sangat cantik” kau akan benar benar mati, Lee Donghae.

 

 

 

•••
Ini sudah menjadi ke sekian kalinya Yoona melirik arloji hitam yang melilit pergelangan tangannya.

Sudah hampir 5 jam dari perjanjian pertemuannya dengan Donghae.

Yoona tidak salah tempat juga tidak salah jam.

Isi pesan yang dikirim Donghae benar benar menyatakan pukul 2 sore dan bertemu di Tavolo 24.

Bahkan langit yang tadinya masih disinari cahaya matahari kini sudah berganti dengan pancaran sinar Bulan.

Tidak biasanya Donghae telat seperti ini. Kalaupun telat, ia pasti mengirimi pesan untuk Yoona.

Kali ini benar benar tidak ada pesan. Yoona sudah menelponnya beberapa kali, namun Donghae tidak mengangkat panggilan dari Yoona.

Yoona ingin kembali, namun ia rasa 5 jam itu sia sia jika ia pulang tanpa bertemu dengan Donghae. Bagaimana jika setelah ia pulang Donghae akan datang?

Yoona meyakinkan dirinya untuk tetap tinggal dan menunggu sang kekasih.

Namun, batang hidung Donghae tak kunjung terlihat.

“Yoona!” Eunhyuk memasuki restoran bernuansa coklat itu, dan tanpa malunya berteriak memanggil nama Yoona.

“Donghae memintaku menjemput mu” jelas Eunhyuk sembari berdiri didepan Yoona.

“Dimana dia?” Yoona ikut berdiri, apa yang membuat Donghae menyuruh Eunhyuk?

Tak salah kan jika Yoona berharap Donghae memberinya kejutan?

“Rumah sakit” jantung Yoona berdetak tak karuan. Donghae dirumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?  Apa ia kecelakaan? Koma? Atau apa?

“Apa yang terjadi padanya?!” suara Yoona benar benar tidak bisa terkontrol pada saat itu.

 

 

 

 

Elektrokardiografi itu mengeluarkan bunyi yang teratur. ‘Tit, tit, tit’.

Suasana diruangan itu begitu sepi.

Yoona menatap Jessica yang terbaring diranjang rumah sakit itu dengan tatapan iba. Wajah ceria serta senyuman menawan khas Jessica sama sekali tak nampak diwajah gadis itu.

Bahkan surai emas milik Jessica tampak begitu lesu.

Tatapan iba Yoona dibalas oleh senyuman menyedihkan Jessica.

Sudah hampir 20 menit saat Yoona dan Eunhyuk tiba, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Yoona juga Jessica.

“Kanker otak stadium 4” mulai Jessica.

“Sebenarnya, aku masih mencintainya, Yoona” Yoona paham betul siapa ‘nya’ yang dimaksud oleh Jessica.

“Kau tau, aku memutuskan Donghae karena penyakit ini” Yoona sungguh tak ingin mendengar hal ini.

“Aku tak ingin Donghae bersedih ketika aku mati nanti. Jadi aku melepaskannya. Agar ia melupakanku dan bahagia” inilah yang Yoona takutkan. Hal hal yang diluar dugaan Yoona.

“Sebenarnya aku turut senang melihat Donghae yang bahagia bersamamu. Harusnya aku ikut senang karena ia mulai melupakanku dan mencintaimu. Tapi kenapa rasanya sesakit ini?” Jessica mulai terisak, menceritakan segala isi hatinya kepada kekasih mantan kekasihnya.

“Harusnya aku bahagia, karena inilah yang kuinginkan. Tapi kenapa hatiku hancur melihat Donghae yang bahagia bersamamu? Kenapa rasanya begitu sulit? Kenapa harus aku yang memiliki penyakit menyedihkan ini?” Yoona juga mulai ikut terisak. Terhanyut kedalam cerita Jessica membuat ia juga ikut terhanyut dalam kesedihan gadis itu. Yoona juga bisa merasakan perih dari hati Jessica.

“Maafkan aku karena ibuku menghubungi Donghae dan menyuruhnya datang kesini. Maafkan aku yang tidak tau diri mengambil nya lagi darimu. Maafkan aku, Yoona. Aku masih mencintainya” hati Yoona tertusuk lebih dalam daripada hati Jessica. Ini adalah cerita Cinta pertama miliknya, kenapa harus mengalami masalah serumit ini?

Yoona turut sedih dengan apa yang dialami Jessica, namun tak ada yang lebih menyedihkan lagi ketika secara tak langsung Jessica ingin mengambil Donghae kembali darinya. Mengambil kembali Donghae yang sudah berhasil mencuri hatinya.

Yoona memeluk Jessica yang terbaring diranjang, meredakan tangisan gadis malang itu dengan pelukan hangat miliknya.

Dan setelah itu, Yoona beranjak pergi keluar dari ruangan Jessica. Sungguh, ia tak bisa menahan isakan yang sudah tak terbendungkan lagi.

 

 

 

 

 

Donghae menatap kosong pada gelas kaca berisi teh didepannya.

Pikirannya bercampur aduk saat ini.

“Jessica memutuskanmu karena ia tau, hidupnya tak akan lama lagi. Ia tak ingin menyakitimu, nak. Tapi aku tak ingin melihatnya bersedih diakhir hidupnya. Aku tak ingin melihat ia tersakiti karena kau bahagia bersama gadis lain” Donghae tak pernah menyangka alasan Jessica memutuskannya. Disaat ia sudah mencintai Yoona dan melupakan Jessica, kenapa fakta itu baru terkuak sekarang?

“Jadi, ku mohon padamu. Kembalilah bersama Jessica dan buatlah akhir hidupnya menjadi bahagia” Donghae hanya diam, apa yang harus ia lakukan?

Disaat ia tak ingin menyakiti Yoona, disaat ia tak ingin Jessica bersedih, dan disaat hatinya lebih memilih Yoona. Apa yang harus ia lakukan?

Donghae beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Ibu Jessica yang masih duduk dikantin Rumah Sakit Seoul itu.

Tujuan Donghae adalah kamar Jessica, menunggu Yoona dan berbicara baik baik dengan Jessica.

Tapi, pemandangan pahit ia dapatkan didepan ruangan Jessica.

Itu bukan karena Eunhyuk yang memeluk Yoona, tapi karena melihat Yoona menangis tersedu sedu lah yang membuat itu sangat pahit.

“Yoona-ya” Yoona mendengar suara Donghae yang memanggilnya. Tapi tidak kali ini, Yoona sangat tak ingin bertemu dengan Donghae.

Ia sangat bingung akan apa yang harus ia lakukan pada lelaki itu.

Yoona menghindar, pergi meninggalkan Donghae.

Tentu saja Donghae tak akan membiarkan Yoona menjauhi dirinya.

“Yoona-ya!” teriak Donghae lagi dan Yoona benar benar berlari dari koridor itu.

Donghae mengejarnya dan diikuti oleh Eunhyuk.

Sebelum benar benar keluar dari area Rumah Sakit, Donghae menarik pergelangan tangan Yoona tepat saat mereka berada didepan Rumah Sakit itu.

“Ku mohon, jangan lakukan ini” Donghae menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Tak ingin Yoona berlari darinya.

“Kita harus berpisah, Donghae. Inilah jalan untuk kita. Kembalilah pada Jessica” lagi lagi Yoona terisak dalam tangisannya. Merelakan Donghae untuk bersama Jessica.

Donghae melepaskan pelukannya, memaksa Yoona agar menatap wajahnya.

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” pertanyaan itu begitu menusuk Yoona. Bagaimana ia tidak mencintai Donghae lagi ketika cerita cintanya baru saja dimulai?

“Tentu saja aku masih mencintaimu, tapi Jessica lebih membutuhkanmu” jawaban Yoona tak kalah menusuk. Sama sama menusuk hati kedua insan itu.

“Apakah begitu sulit untuk kita bahagia?” untuk pertama kalinya Yoona melihat Donghae menangis didepannya. Bahkan lelaki itu juga terisak menyakitkan didepan Yoona.

“Kau tak boleh egois, kita tidak boleh. Jessica membutuhkanmu dan ia masih mencintaimu. Bukankah kau ingin kembali padanya?” ucapan Yoona seperti katana yang menghunus Donghae tepat di ulu hatinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau, kaulah yang kubutuhkan saat ini” Donghae berusaha keras menahan tangisannya, tapi sang Penguasa sekolah itu kali ini tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

“Seperti yang kukatakan. Kita saling membutuhkan namun tak lebih daripada Jessica membutuhkanmu. Buat ia bahagia diakhir hidupnya. Kali ini ku mohon, ini permintaan pertama dan terakhirku. Kembalilah pada Jessica”

“Selamat tinggal” Yoona memeluk Donghae sebagai salam perpisahan. Donghae juga membalas pelukan Yoona.

Tangisan tak lepas dari keduanya. Bahkan Eunhyuk yang menyaksikan perpisahan mereka juga ikut menangis.

Kenapa cerita Cinta kedua temannya itu begitu menyedihkan?

“Kau tau Yoona, Cinta bersamamu adalah hal yang menakjubkan”

-TAMAT-

Akhirnya selesai 😚😘😍

Ini cerita terinspirasi dari film komedi romancenya Daniel Padilla x Kathryn Bernardo yang berjudul ‘She’s Dating The Gangster’.

Banyak kesamaan alur maupun plotnya.

Author buat remakenya kerna itu film benar benar menyentuh hati author apalagi pas bagian akhirnya.

Dan muncullah niat buat bikin ff YoonHae versinya.

Dan ya,  sengaja gantung.

Ada rencana buat sequel, tapi dibuat juga kalo banyak yang minat hehehe.

Itu aja, maaf kalo banyak kesalahan kata dan typo.

Mahal kita ♥♥

Btw, itu bahasa Filipina hohoho
Salamat po!

Review mu semangatku ↖(^▽^)↗