One More Chance : Don’t Leave Me Like a Rain [Songfict] 

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Angst, AU

Length : Songfict

Rate : T

.

.

.

.

.

Do our distinct features get forgotten too?

Does that time even exist?

Do all the times of happiness get erased too?

Is a love like that even considered love?

Senyuman itu, aku tak ingat kapan terakhir kali aku melihatnya. 

Pelukan itu, aku bahkan lupa seberapa hangatnya itu. 

Kebiasaan yang selalu kita lakukan setiap saat, aku mulai melupakan banyak dari kebiasaan itu. 

Apakah kau juga sudah lupa? 

Bagaimana dirimu memelukku dari belakang disaat aku sedang memasak. Apakah kita juga akan melupakan kebiasaan yang setiap pagi kita lakukan itu? 

Semua terjadi begitu cepat. 

Semua yang kita lalui terjadi secepat hujan yang membasahi tanah. 

Secepat aroma petrikor terhirup lalu pergi entah kemana. 

Aku tak pernah mengira bahwa wajahku pernah begitu cantik dengan senyuman kebahagiaan seperti di album foto yang saat ini sedang ku genggam. 

Aku tak menyangka bahwa senyuman itu pernah menghiasi wajahku. 

Siapa yang harus ku salahkan? Tuhan kah? Atau takdir yang telah menulis setiap paragraf cerita tentang hidupku lalu dengan seenaknya ia menghapusnya. 

Siapa yang berani beraninya menghapus segala kebahagiaan ku? Dengan menyisakan kepedihan ini. 

Mengapa ia tidak menghapus segalanya? Kebahagiaan dan kepedihan sekaligus. 

Bagaimana mungkin ia hanya meninggalkan kepedihan dan membuatku lupa bagaimana rasanya bahagia. 

Aku lupa bagaimana caranya tersenyum bahagia, 

Aku lupa bagaimana rasanya jantungku berdebar karena bahagia, 

Aku lupa segala sesuatu yang indah. 

Ingin sekali aku memukul seseorang yang telah menghapus itu semua. Tapi pada siapa pukulanku harus ku layangkan? 

Kata orang, cinta itu adalah kebahagiaan dan kepedihan. 

Kau memberikan kebahagiaan, ku akui itu. 

Tapi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun yang mampu membuat hatiku hancur saja, kau tidak pernah. 

Harusnya kau menghancurkan hatiku saat kau memutuskan untuk pergi. 

Bukan membuatku melayang terbang ke langit lalu pergi entah kemana, membiarkanku terambang di antara awan sampai aku memutuskan untuk jatuh lalu menghancurkan diriku sendiri. 

Aku tak menyalahkanmu, sungguh. 

Kau tidak berbuat salah padaku. Tidak ada kata kata ataupun perbuatanmu yang membuatku pedih dan terluka. 

Senyuman dan bahagiaku adalah akibat dari setiap perlakuanmu padaku. Air mataku selalu terjatuh dengan bahagia karenamu. 

Kau tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Kau tak pernah menggoreskan luka di hatiku. 

Menyakitiku adalah sebuah larangan untukmu. Itu moto hidupmu. 

Perginya dirimu tanpa membuat hatiku hancur mengakibatkan tanganku sendirilah yang menggoreskan luka pada hatiku sendiri. 

Diriku sendirilah yang membuat luka di hatiku ada dan semakin melebar. 

Aku yang tak pernah berhenti berharap kembalinya dirimu, membuat tanganku menggores hatiku semakin dalam. 

Kau memberikan ku kebahagiaan, tapi kau lupa untuk menyelipkan pedih di dalamnya. 

Apa itu pantas disebut Cinta, Lee Donghae?

•••

Even when I’m alone on the street we walked together

I can’t believe anything, as if it’s all a lie

It was going so well for a moment so I thought it would last forever

Was that thought and mind all selfish of me?

Album foto itu ku biarkan terbuka di atas meja makan. Aku lebih memilih melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan makan. 

Aku tak tau sejak kapan waktu berjalan begitu lambat saat aku melewati sofa di depan TV. 

Tempat kita biasa menghabiskan waktu dan bermesraan. 

Albert Einstein benar, waktu itu bersifat relatif. 

TV itu tak pernah menyala lagi. Entah sejak kapan. Yang pasti disaat kita duduk didepannya lah TV itu terakhir kali menyala. 

Niatku adalah kembali ke kamar, alih-alih aku menjatuhkan tubuhku diatas sofa di depan TV.

Hidungku mengendus endus, mencoba mencari aroma tubuhmu. 

Tapi, kenapa hanya bau debu yang tercium? Sebenarnya, sudah berapa lama sofa ini tidak diduduki? 

Tubuhku tenggelam ke dalam sofa, mencoba mencari kenyamanan seperti saat kau merangkul tubuhku di tempat yang sama ini. 

Mataku terpejam, mencoba merasakan lagi sentuhan jemarimu mengelus suariku. 

Telingaku ikut ku tajamkan, mencari setiap alunan melodi yang keluar dari mulutmu.

Tapi, seakan semua tak pernah kurasakan. 

Aku telah lupa segala kemanisan itu. 

Apakah keberadaan dirimu di masa lalu adalah sebuah kebohongan? 

Apa itu hanyalah delusi ku? 

Tapi aku tak bodoh, kau pernah ada. 

Kisah itu pernah kita lakukan bersama. 

Tapi seakan otak ku telah disabotase, aku lupa bagaimana rasanya. 

Aku tau, setiap detik denganmu adalah segalanya bagiku. 

Segala sesuatu yang kita lakukan adalah kebahagiaan. 

Tak pernah ada yang mengganggu hubungan kita. 

Semua orang tau, bahwa sebuah akhir tidak akan terjadi pada kita. 

Aku masih ingat, di tempat ku sekarang ini. 

Jemari kita saling bertautan, tertawa bersama karena setiap candaan yang terlontar. 

Malam itu hujan deras, listrik juga padam. Kita memutuskan untuk duduk di sofa ini dengan secercah cahaya dari ponsel milikmu. Duduk sambil berpelukan.

Aku tak tau pasti candaan apa yang kau lontarkan, yang pasti adalah tawaku benar benar pecah karena dirimu, mengalahkan suara hujan diluar sana.

Dan hal lainnya adalah kita berakhir panas dengan hanya bermodalkan cahaya senter dari ponsel.

Namun sayangnya, aku lupa bagaimana rasa bahagia saat itu terjadi.

Aku tau dengan sangat jelas, bahwa dirimu tak pernah membuatku terluka.

Dengan dirimu yang tak pernah melukai hatiku, ku sangka kebersamaan kita adalah abadi. 

Kenapa kita bisa berpisah padahal tak pernah saling menggoreskan luka di hati? 

Kini aku menatap kosong, otak kecilku mulai berpikir. 

Kau tak pernah melukaiku, lantas apa alasan mu pergi? 

Jika kau tak pernah bersalah, apa aku telah melakukan kesalahan besar padamu? 

Atau aku yang egois karena masih berharap bahwa kau mencintaiku setelah meninggalkanku? 

Apakah aku egois berharap kau kembali? 

Apakah kepedihan yang ku ciptakan ini adalah bentuk keegoisan? 

Berharap kau menyakitiku saat kau pergi adalah keegoisanku?

Aku tak tau harus melangkah kemana, bertanya pada siapa, dan mengadu dengan siapa. 

Aku hanya bisa berdiam di flat ini, berharap kau pulang. 

Udara kosong di depan ku ini, bisakah kau yang menempatinya sekarang, Sayang? 

Pulanglah, Lee Donghae. 

•••

Now the both of us are more used to being in different times

Even if I cry going back to the moments that you and I met

A sigh that I don’t know when will develop, turns into a song

Without realising myself, I turn to you again

Aku bisa merasakan dinginnya saat salju putih itu jatuh ke telapak tanganku. 

Mencair disana dan lenyap. 

Dua tahun kau pergi tanpa sepatah kata yang mampu menyayat hati, dan satu tahun yang lalu aku melihat pundak kokohmu lagi. 

Senyumanmu masih sama, begitu manis. 

Tapi senyumanmu bukanlah untukku lagi. 

Aku sangat ingin melangkahkan kakiku dan berlari ke pelukan mu. 

Tapi, saat kakiku hendak melangkah, seolah olah ribuan tangan telah menahanku. Aku ingin memaki saat tubuhku tak mampu menggapai pelukmu. Aku sadar, otak dan tubuhku telah berkerja sama untuk membatu. 

Berdiri diam di luar restoran tempat mu bekerja sambil mengamatimu, aku adalah seorang penguntit sekarang. 

Entah aku harus bersyukur atau apa saat takdir membuatku terbang ke Negara Sakura ini. 

Aku tak tau alasanmu menghilang dan ternyata menjadi penghuni baru di Osaka ini. Aku terlalu takut untuk tau. 

Kita sudah dijalan yang berbeda, di waktu yang berbeda, dan di tempat yang berbeda pula. Itulah alasan aku membatu disaat kerinduan akan pelukan mu membuncah di hatiku. 

Biarkan seperti ini, 

Biarkan aku tak tau alasanmu pergi,

Biarkan faktanya bahwa kau tak pernah menyakitiku, 

Biarkan aku terluka oleh diriku sendiri. 

Karena aku tau, kau takkan pernah melukaiku. 

Air mata yang entah keberapa ratus kalinya kembali membasahi pipiku. 

Langkah kakiku membawa ku pergi dari sana, meninggalkanmu yang tak menyadari keberadaanku. 

Aku kembali ke flatku, flat yang ku jadikan tempat tinggal ku di Osaka ini. 

“Tak baik menangis di malam salju pertama, Yoona noona” aku hanya tersenyum membalas ucapan Yuta, saudara jauhku yang merupakan asli orang Jepang. Aku tinggal satu flat dengannya saat aku memutuskan untuk meninggalkan Korea dengan segala kenangannya. 

Memutuskan untuk hidup di dunia baru namun sayangnya aku tak pernah bisa keluar dari sana. Aku bersyukur karena Yuta tau bagaimana sifatku, jadi aku tak perlu khawatir ia akan sakit hati saat aku tak mengeluarkan sepatah katapun dan lebih memilih berdiam diri di kamarku. 

Tangisanku pecah saat tubuhku menyentuh ranjang. 

Hatiku begitu perih saat sesuatu yang ada di depan mataku tak bisa ku genggam. 

Aku tak mengerti dengan diriku yang terdiam membisu ketika seseorang yang dua tahun menghilang muncul di hadapanku. 

Seharusnya aku menghampirimu, alih-alih aku hanya menjadi penguntit dirimu. 

Aku terlalu takut akan hal yang akan terjadi. Bagaimana jika kau memang tidak menginginkan ku dan lebih memilih pergi? 

Aku takut saat aku menunjukkan batang hidungku, maka dirimu akan menghilang lagi. Seperti dulu. 

Erangan pedih tak bisa ku tahan keluar dari mulutku. 

Ini lebih sakit daripada aku yang tak bisa melihatmu saat di Seoul dulu. 

Sejak satu tahun yang lalu, tangisanku sudah menjadi musik pembawa tidur untukku. 

Aku tak tau sudah berapa ribu kali air mata kepedihan ini mengalir. 

Aku menyesal tapi juga tidak saat aku memutuskan untuk menetap di Osaka demi menemani Yuta. 

Ku pikir aku akan melupakanmu dengan pergi ke sini.  

Melupakan segala kepedihan dan mulai mencari bagaimana rasanya bahagia itu lagi. 

Tapi tanpa sadar, aku kembali lagi padamu. 

•••

Don’t leave like the rain

I’m drenched like this again today

I seek for you amongst the wet traces

Will I be able to erase it?

If I could do it just one more time

Just one more chance, so I can see

Sekuat apapun aku menahannya, mencoba melenyapkannya. Itu semua adalah sia sia. 

Aku tak bisa. 

Aku tak bisa menghilangkan rindu yang telah tak terbendung lagi. 

Perasaan itu semakin membuncah dan akhirnya menyakitiku. 

Lagi lagi, sakitku diakibatkan oleh diriku sendiri. 

Lagi lagi, aku melukai diriku sendiri. 

Aku ingin sekali memanggil namamu dan menyuruhmu untuk menghentikanku melukai diriku sendiri. 

Tapi entah kenapa, aku tak mampu. 

Sampai pada batasnya segala pertahanan ku, 

Sampai pada hancurnya semua pion pertahanan ku,

Sampai hancurnya tembok pertahanan ku, 

Aku memutuskan berlari diantara ribuan juta hujan yang membasahi bumi. 

Tak peduli dengan apa yang akan terjadi,

Rinduku harus segara ku lepaskan. 

Aku sampai pada restoran itu dan memasukinya secepat mungkin. 

Mataku tak mendapatkan sosok dirimu, tapi aku tak menyerah. 

“Maaf, dia sudah tidak bekerja lagi disini sejak dua hari yang lalu” bahuku mengendur kala mendengar seorang pelayan yang bekerja di restoran itu menjawab pertanyaan ku akan keberadaan dirimu. 

Aku mengangkat tanganku, membiarkan hujan membasahi telapak tanganku. Lalu mengering, dan lenyap. 

Aku bisa merasakan alisku menukik menahan isakan yang sudah diujung lidahku. 

Lee Donghae, jangan pergi seperti hujan! 

Entah setan darimana yang merasukiku, aku berlari. 

Mencoba mendapatkan takdir yang membawaku kembali bersamamu. 

Apakah aku terlalu menyepelekan takdir yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menemuimu lagi? 

Apa takdir marah padaku? 

Hingga ia mengambilmu lagi dari ku. 

Aku tak peduli dengan hujan yang begitu dingin di akhir musim salju ini. 

Rasa dihatiku yang sudah membeku jauh lebih dingin dari setiap tetesan hujan itu. 

Air mataku kembali memembasahi pipiku. Menggantikan jejak hujan yang sebelum nya membasahi pipiku. 

Kapan pelangi akan muncul kembali di wajahku ini setelah sekian lamanya hanya hujan yang menyapa? 

Aku masih berlari, mencoba mencari jejak langkahmu sekedar untuk mengikutimu. 

Tapi tak kunjung kutemukan. 

Hanya ada genangan air di depan sana. 

Katakan padaku, bagaiman caranya untukku menemukan setiap jejak langkahmu di genangan basah itu? 

Kakiku tersandung pada batu dan aku bisa merasakan sakit yang tak seberapa pada lututku. 

Wajahku benar benar tertutupi oleh air mata mengalahkan air hujan yang membasahinya. 

Aku menatap nanar pada genangan air di depanku. 

Bisakah aku menghapus segala genangan yang menutupi setiap langkah jejakmu? 

Bisakah aku menghapus segala kepedihan hatiku akibat rindu dan bertemu denganmu? 

Brengsek! Aku tak bisa! 

•••

Another tomorrow that I thought it’d be okay

As time passes by, it’s getting deeper

I thought I’d become new as the longing for you passes away,

As if the clock in my heart has broken, it’s always the same time

Aku tau, takdir telah mempermainkan ku. 

Tapi, inilah aku. Im Yoona. 

Aku tak akan kalah dari tadir. 

Jika ia tak membiarkan ku bertemu dengan mu lagi, baiklah. 

Kita tidak akan bertemu. 

Aku akan baik baik saja. 

Seperti tiga tahun terakhir yang ku lewati tanpamu.

Tubuhku masih sempurnah. 

Mataku tidak hilang, telingaku, jariku, lenganku bahkan kakiku. Semuanya masih lengkap. 

Aku bisa melewati segalanya dan tak akan menangisi takdir yang begitu kejam padaku. Tidak lagi. 

Semua sudah berlalu, kerinduanku yang tak bisa kulepas bukankah sudah terlepas dengan tak sengaja? 

Disaat satu tahun aku menjadi penguntit Lee Donghae. Disitulah kerinduanku mulai terbayar.

Waktu itu relatif. Aku bisa melewati segalanya seiring berjalannya waktu, bukan? 

Aku percaya bahwa dengan seiringnya waktu, hatiku ini akan sembuh dengan sendirinya. Seperti luka di lututku yang akan mengering dengan sendirinya. 

Aku yakin, luka di hatiku pun begitu. 

Tapi, sekali lagi aku keliru. 

Dibawah pohon Sakura yang sudah memekar, hujan di wajah ku kembali mengguyur. 

Aku tak tau kapan pelangi akan terbit disana. 

Aku tak tau kenapa wajahku sudah seperti Kota Hujan Tersembunyi yang selalu menumpahkan air dan selalu basah. 

Bahkan aku tak perlu mengeluarkan uangku sekedar membeli pelembab wajah, karena wajahku selalu lembab alami. Oleh air mata. 

Ku pikir aku mampu melawan takdir, mengalahkannya setelah itu mengejek ia dibawah kakiku. 

Aku terlalu berdosa karena hal itu, hingga ia semakin tega membuatku jatuh semakin dalam. Luka di hatiku semakin membesar, rindu di benakku semakin terbentang luas.

Aku tak yakin aku bisa menampung semuanya diatas pundakku. Mengingat sejak kepergianmu, pundakku hanya seperti daun yang begitu kering dan rapuh. 

Aku sadar, ini adalah musim semi kedua sejak dirimu lagi lagi menghilang di musim salju dulu. 

Berarti, sudah empat tahun aku tak mendengar suaramu dan melihat sosok dirimu. 

Setiap aktifitas dan kesibukanku tampaknya tak membuat rindu di hatiku lenyap dimakan oleh waktu. 

Aku mulai berpikir, dan menyimpulkan bahwa waktu bukanlah pemakan rindu. 

Waktu tak akan mampu menghabiskan rindu dan melenyapkannya. 

Tidak, waktu saja tak mampu.

Aku tau, ribuan hari sudah terlewat sejak dirimu meninggalkan ku sendirian di flat kita yang dulu.

Tapi seakan aku masih terjebak di waktu yang sama. 

Aku merasa jarum jam di arloji yang melingkar di tangan ku ini tak pernah berputar. 

Seolah ia telah mati dan masih berdiam di angka yang sama. 

Seperti empat tahun yang lalu. 

Rasa sakit itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. Kerinduan itu semakin membuncah. 

Bahkan aku masih tidak tau bagaimana rasanya kebahagiaan itu. 

Aku terjebak di dalam labirin waktu. Aku tak bisa keluar dari sini selamanya. 

Jam dihidupku sudah rusak. 

Dimana aku harus membeli baterainya agar jarum jam itu kembali berputar? 

•••

I was okay even standing in the rain

Because everything was the traces that you left

Because longing for you is a beautiful pain

I thought that I would be able to endure it

I had a lot of mistakes and a lot of wounds too

TruthfuIIy, I don’t want to be afraid of everything and want to end it too

The rain falls, dries up and disappears

You can’t leave like that alone, please

Katakan aku bodoh atau apapun. 

Yang kubutuhkan hanyalah dirimu. 

Aku tak bisa mengatakan seberapa besarnya penyesalanku saat tak menghampirimu disaat aku tau bahwa kau ada di depanku.

Aku menyesal lebih mendengarkan otakku dan tak memberontak tubuhku yang membatu kala itu. 

Harusnya dulu aku mendengarkan hatiku yang bersorak untuk berlari memelukmu, bukan malah mendengarkan otakku yang menyuruhku menjadi penguntitmu. 

Lagi lagi semua ini adalah kesalahan ku, bukan?

Lagi lagi aku menambah goresan di hatiku. 

Sudah berapa banyak goresan tanganku disana? Aku tak bisa menghitungnya lagi karena sudah terlalu banyak. 

Aku tak ingin kembali menyesal hingga mendatangi restoran tempatmu bekerja dulu adalah rutinitas ku sekarang. 

Aku tak peduli dengan hujan yang terus menerus mengguyur Osaka belakangan ini. 

Aku hanya berharap pundak kokohmu kembali menyapa retina mataku di restoran itu. 

Aku tak berniat membuka payung dan melindungiku dari hujan. 

Aku tak ingin menghindarimu. 

Bukankah kau seperti hujan? 

Kau suka menghilang seperti hujankan? 

Jatuh, mengering, dan lenyap. 

Biarkan tubuhku merasakan dirimu lagi, walaupun sebentar. 

Aku tak peduli dengan tatapan iba orang orang padaku yang semakin menggigil dan tetap berdiri ditengah hujan. 

Aku hanya ingin merasakan sakitnya dirimu, sang Hujan. 

Meninggalkan jejak di tubuhku, mengering lalu lenyap. 

Dirimu sekali, kan? 

Lagi lagi, membiarkan luka itu semakin dalam. 

Dan aku tau, itu adalah murni perbuatan ku. 

Aku tak pernah bosan untuk menambah luka lagi di tempat yang sama. 

Hanya untuk merasakanmu.

Merindukanmu adalah rasa sakit yang indah. 

Biarkan aku terus merasakan keindahan itu dengan cara menambah rasa sakit. 

Karena aku tau, daun kering ini mampu menahan segala sakit itu. 

Bukankah sudah terlalu banyak luka dan pedih yang ku torehkan? Aku sudah kebal dengan segalanya.

Aku tak merasakan rasa sakit itu lagi karena sudah begitu banyak, dan ku rasa aku akan mati rasa setelah ini. 

Aku tak menyangka, aku bisa sedepresi ini. 

Takdir juga akan menghapus rasa pedihku hingga aku akan lupa bagaimana rasanya kepedihan. 

Dan menjadikan ku sebagai makhluk mati rasa. 

Aku sadar betul, hujan masih mengguyur kota Osaka. 

Tapi tubuhku yang sudah basah kuyup tak merasakan tetesan itu lagi di sekujur tubuhku. 

Sepasang Converse putih menyapa manik mataku yang terus menunduk. 

Mataku membulat kala aku mendongakkan kepalaku.

Aku ingin memelukmu, lagi. 

Tapi perasaan takut masih terbenak di hatiku. 

Ingin sekali aku tidak takut pada apa yang akan terjadi, seperti Déjà vu otakku kembali mendominasi hingga tubuhku membatu. 

Aku sangat ingin mengakhiri segala kelakuanku yang membuat luka di hatiku bertambah, tapi percayalah itu sulit. 

Sama seperti biasanya, 

Disaat hujan turun, akan mengering, lalu lenyap. 

Tampaknya kau tak akan membiarkan itu terjadi lagi, pada dirimu. 

Jam dihidupku kembali berputar. 

Kehangatan itu kembali merasuki tubuhku, dan aku bisa merasakan kebahagiaan itu lagi. 

Kala pundak kokohmu memeluk tubuhku yang mengurus. 

Aku tak tau ocehan apa yang kau lontarkan disertai isak tangismu, aku terlalu hanyut dalam perasaan ku. Terlalu sibuk merasakan setiap jengkal pelukan tubuhmu. 

Walaupun begitu, telingaku masih menangkap sedikit ucapan maaf darimu, kau mencariku di Seoul satu tahun yang lalu. 

Aku tersenyum, itulah alasanmu menghilang dari Osaka ini. 

Mataku mulai sayu, rasanya tubuhku memberat.

Aku terlalu rapuh untuk menopang berat tubuhku akibat guyuran hujan yang selalu mengikis pertahanan ku. 

Namun aku tak perlu khawatir, karena kau akan membangun kastil pertahanan ku lagi. 

Kau akan menjadi kekuatanku lagi, seperti dulu.

“Jangan pergi seperti hujan”.

– TAMAT – 


Akhirnya selesai nih ff dalam satu malam hohoho. 

Serius, liat mv dan denger lagunya SJ yang baru rilis kemarin bikin nyesek. 

Apalagi pas liat video yang Donghae blg kalo nyanyi di part ‘Idaero bichorom gaji mayo. Ugh~’

Kata Donghae ugh nya harus sakit gitu 😂😂

Liriknya menyentuh, jadi bepikir apakah YoonHae bener bener udah berpisah di dunia nyata? 

Ngingat itu lagu, Donghae yang nyiptain. 

Yaudah, gitu aja. 

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 😍😍😚😚😘😘

Iklan

That’s What I Want

Hey! Lee Donghae!” 

“Apa?”

“Bolehkah aku memelukmu?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena kau bau”

“A-apa?!”

Title: That’s What I Want
Author : Diva Moniva
Cast :
– Im Yoona
– Lee Donghae
Genre : Comedy, Romance, AU
Length : Oneshot
Rate : PG

‘Karena kau bau’
Tiga kata itu terus saja terngiang dikepala Yoona. Dia bau?
Lee Donghae mengatakan hal sepahit kopi hitam itu pada dirinya, kekasihnya sendiri?
Hell, dia itu kekasih atau bukan sih?
“Ibu, kau harus membelikan ku sabun, body lotion dan parfum yang wangi. Aku tidak mau memakai punyaku yang lama lagi. Aku harus benar benar wangi, Ibu” dahi Ibu Yoona mengernyit, apa maksud putrinya ini? Membuang yang lama? Bukankah itu boros? Bahkan semua barang barangnya itu baru dibeli dua minggu lalu dan dengan seenak jidatnya ia ingin membuangnya?
“Kenapa seperti itu? Kau tak boleh boros, sayang” Yoona hanya mengerucutkan bibirnya dengan masih berlendotan pada tubuh sang Ibu. Benar benar tipe wanita yang manja.
“Donghae mengatakan bahwa aku bau, dan ia tak mau memelukku” Ibu Yoona terkekeh mendengar perkataan polos putrinya. Hanya karena itu?
“Baiklah, sini Ibu yang akan memelukmu”
“Aku maunya dipeluk Donghae, Ibu”
“Hey, aku adalah Ibumu, kau tak mau dipeluk Ibumu ini?”
“Yang satu ini berbeda, Ibu tau itu” lagi lagi Ibu Yoona hanya terkekeh mendengar keluhan putri bungsunya itu.
“Itu hanya alibi, Donghae tidak benar benar serius mengatakan kau bau. Mungkin Ia punya alasan lain” Alasan apapun itu, Yoona tak mengerti. Ia hanya menelan bulat bulat apa yang Sehun katakan.
“Terserah, aku hanya ingin sabun, body lotion, dan parfum baru!” Oh, gadis manja dan juga cerewet. Yoona merajuk, melepaskan pelukannya dari sang Ibu dan berlalu.
“Minta belikan saja pada Donghae!” Yoona tersenyum tipis mendengar teriakan Ibunya, itu bukan ide yang buruk.
Baiklah, jika Ia bau, maka Lee Donghae yang akan membuatnya wangi!
•••

“Donghae-ya” Donghae menoleh kearah Yoona saat mendengar gadis itu memanggil namanya.
Mereka baru saja selesai makan siang diatap sekolah, Yoona membawa bekal untuk Donghae seperti yang biasa Ia lakukan.
“Ada apa? Katakan saja, bukankah biasanya kau langsung berkata tanpa berpikir?” Donghae itu tipikal pria yang terlalu jujur, tak memikirkan perasaan orang.
Tapi itu tak masalah, dalam hubungan mereka memang sering terjadi sesuatu yang sadis.
“Apa aku benar benar bau?” Dan Yoona benar benar tipikal gadis yang polos.
“Bodoh” What? Bodoh katanya? Ugh, kepala Yoona sudah terbakar sekarang.
“Aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu polos, kau tau” tentu saja Yoona tak terima dikatakan bodoh oleh Donghae. Ya walaupun kenyataannya Donghae lebih pintar dari Yoona, tapi tetap saja, peringkat Yoona pas dibawah Donghae yang tak pernah keluar dari 5 besar. Dan itu bukanlah kategori bodoh.
“Polos dan bodoh itu beda tipis, Yoong” Donghae menyubit pipi Yoona. Gadis itu memang sangat polos dan sebagian besarnya bodoh.
“Terserah, aku marah sekarang” Donghae kadang tak mengira, kenapa gadis berparas tomboy itu sangat manja dengannya.
“Baiklah, apa yang kau inginkan?” sebagai kekasih yang baik hati, Donghae mengalah untuk Yoona. Tak ingin gadis itu marah padanya.
“Peluk aku” baiklah, itu tak masalah bagi Donghae. Donghae memeluk Yoona lalu melepaskannya.
“Astaga Lee Donghae! Itu kurang dari 3 detik!” mata Yoona membulat sempurna, Donghae memelukmya hanya dalam waktu kurang dari 3 detik. Niat tidak sih?
“Yang penting sudah ku peluk” jika saja Donghae bukan kekasihnya, sudah pasti saat ini ia sedang menjadi sarapan pagi beruang kutub di Kutub Utara. Yoona sangat ingin menendang bokong Donghae.
“Cepat beresi bekalmu dan kita kembali ke kelas” Donghae itu bunglon, kadang dingin, cerewet, cuek, dan kadang terlalu perhatian. Apa ia akan memanggil Donghae dengan nama Pascal? Seperti nama bunglon milik Rapunzel di film disney land Tangled kesukaan Yoona.
•••

Panas terik itu tak mematahkan semangat Donghae dan teman-temannya untuk bertanding sepak bola. Terik matahari ditambah dengan teriakan supporter dipinggir lapangan sepak bola di sekolahnya.
Hari ini adalah pertandingan antar kelas disekolahnya, memperingati ulang tahun sekolah yang ke 37.
Donghae sesekali melirik kearah penonton, disitu ada Yoona namun kenapa ia enggan berteriak seperti teman-temannya yang seperti kekurangan air. Apa mereka tidak haus berteriak terus?
Apa Yoona sudah haus makanya tidak berteriak? Atau tenggorokannya sakit? Atau memang ia tidak mau mengeluarkan suara indah nan cempreng yang mampu memecahkan jendela kaca disekolah ini. Donghae tak tau kenapa kekasihnya itu hanya diam sambil mengamatinya saja.
Kesampingkan gadis yang terkadang melalukan hal idiot itu, ia harus fokus pada pertandingannya dan memena…
“Donghae awas!”
‘Bugh’
Im Yoona sialan! Ini karena memikirkan gadis bodoh itu terus sampai ia tak sadar bola datang padanya dan dengan indahnya mendarat dikepala berisi berlian miliknya.
“Kau tidak apa apa?” Eunhyuk bertanya pada Donghae, walau bagaimana pun ia yang menendang bola itu dan mengenai Donghae.
“Jika bola membentur kepalamu apa kau baik baik saja? Brengsek!” Donghae itu emosian, asal kau tau. Eunhyuk hanya cengengesan melihat Donghae.
“Maafkan aku, Donghae” Donghae hanya memutar bola matanya malas dan berlalu.
“Akan ku balas kau!” Eunhyuk yang mendengar pekikan Donghae itu hanya tertawa, dasar pendendam. Tapi memang seperti itulah Lee Donghae, sahabatnya.
Pertandingan itu selesai dan dimenangkan oleh tim Donghae.
Yoona yang melihat Donghae berjalan menujunya tentu saja berlari kearahnya, dengan tanpa malunya ia merentangkan tangannya untuk memeluk Donghae. As her wish.
Namun, tubuh Yoona berhenti saat tinggal selangkah lagi ia dapat memeluk Donghae.
Bagaimana tidak? Tangan Donghae menahan kepala Yoona yang hendak memeluknya, tak membiarkan Yoona memeluk tubuhnya.
“Kenapa kau menghalangiku?” cibir Yoona dengan tangan yang berusaha menggapai Donghae, namun apa daya, tangan Donghae menahannya.
“Badanku bau dan basah. Aku tak ingin kau tertular” tck! Apa Donghae pikir itu adalah Human Immunodeficiency Virus yang dapat menularkan kepada orang lain?
“Terserah” jika saja ada semangka didepannya, sudah pasti itu akan hancur hanya dengan tatapan mematikan Yoona. Ia sudah sangat kesal dengan tingkah kekasihnya ini.
“Ayo” Yoona hanya mengikuti Donghae dengan malas, tangannya ditarik oleh Donghae meninggalkan lapangan sepak bola itu.
Yoona menatap tubuh Donghae dari belakang dengan cermat, sebenarnya apasih yang ada didalam kepala dan isi pikiran Donghae itu?
Yoona sangat ingin tau bagaimana perasaan laki-laki itu.
Sering sekali Yoona tak mengerti yang ada pada diri Lee Donghae.
‘Bugh’
Damn! Itu karena Donghae berhenti tiba tiba hingga ia menabrak tubuh Donghae dan menimbulkan makian dalam hati Yoona.
“Jangan melamun, idiot” didalam hubungan mereka, makian lebih romantis daripada kata kata maupun panggilan manis.
•••

“Hei! Kwon Yuri! Kembalikan buku diary ku!” Sahabat memang tempat meceritakan curahan hati, namun diary itu privasi yang sahabatnya juga tak boleh tau.
Dan dengan seenak jidat Yuri, ia mengambil buku diary Yoona dari tasnya dan melarikannya.
Tentu saja Yoona meledak seperti bom atom ‘Little Boy’ yang menghancurkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945.
“Lee Donghae! Bantu aku menangkap tikus bedebah itu!” teriakan Yoona tak memberikan efek apapun pada Donghae, ia hanya diam dan memperhatikan Jinchuriki ekor 9 sedang mengejar Madara dengan keinginan akan membunuhnya.
“Hae! Kau menunggu Yoona?” Donghae menoleh saat Eunhyuk memanggilnya.
“Ya” jawabnya seadanya.
“Baiklah, aku duluan” Donghae hanya menggangguk melihat Eunhyuk yang keluar kelas untuk pulang.
Sedangkan ia harus menunggu Yoona menyelesaikan masalahnya dengan Yuri.
‘Bugh’
Suara itu membuat Donghae refleks menoleh ke sumber suara dan ia mendapati Yoona dengan kondisi mengenaskan.
Tubuh terbaring dilantai, rambut yang berserakan dan juga sepatunya yang copot dan terbang entah kemana.
Ingin sekali rasanya Donghae tertawa mati matian, namun melihat gadis itu tak kunjung bangkit membuatnya enggan untuk melepaskan tawanya.
“Kau baik baik saja?” Yoona hanya menggangguk dengan kepala masih tertunduk, Donghae membantunya untuk bangkit dan duduk. Namun Yoona masih menundukkan kepalanya.
Rasa khawatir mulai menyelimuti Donghae, apa gadis ini menangis?
“Kau… menangis?” Tidak ada jawaban dari Yoona, yang ada tubuhnya sedikit bergetar.
Yuri yang melihatnya mendekat, tanpa berkata apa apa. Apa sesakit itu hingga Yoona menangis?
“Sudahlah, jangan menangis” biasanya kata kata itu akan meredakan seseorang yang menangis, namun tidak untuk Im Yoona.
“Huuuaaaa!!!! Jangan bilang gitu! Aku makin menangis jadinya” tangisannya semakin menjadi, membuat Donghae membuang nafasnya kasar. Apa katanya? Semakin menangis hanya karena Donghae mengucapkan kata kata seperti itu? Dia memang aneh.
Sedangkan Yuri, sudah mati matian menahan tawa melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Apa apaan sih Yoona itu? Sangat idiot, tau!
“Baiklah, aku tak akan mengatakannya” Donghae sungguh tak ingin Yoona menangis, apa sangat sakit ya? Hingga Yoona menangis.
Tak tega melihat Yoona seperti itu, Donghae mengajukan diri memeluk Yoona. Mencoba untuk meredam tangisan Yoona dengan cara memeluk Yoona, hal yang selama ini gadis itu dambakan.
Tunggu, apa katanya? Memeluknya?
Oh, its’s miracle!
Yoona tertegun merasakan pelukan hangat Lee Donghae, senyaman ini. Dan tangisannya tiba tiba berhenti.
Seperti seseorang sedang menggunakan kekuatan ‘Time Pause’ otak Yoona berhenti berpikir. Apa ini? Donghae memeluknya karena ia menangis?
Tunggu, karena Yoona menangis? Sehun memeluknya?
Donghae memeluk Yoona karena Yoona menangis!
Otak tak seberapa Yoona mendapatkan jawabannya!
Jika ia menangis, Sehun akan memeluknya!
“Huaaahhhh!!! Sakit sekali Donghae-ya!” Dan terjadilah Yoona yang mendramatisir dengan memeluk Donghae erat.
“Lee Donghae!!!” Dan Yoona tak akan melepaskan pelukannya.
Kau telah ditipu, Lee Donghae.
•••

“Hari ini kita ke ruang praktikum” Yoona hanya mengangguk mengiyakan perkataan Yuri.
“Kau tau apa yang akan dibedah hari ini?” Yoona hanya menggeleng malas. Minggu lalu ia terlalu badmood untuk mendengar sang ketua kelas mengumumkan korban mana lagi yang akan mereka bunuh.
“Ku harap kau bisa menghadapinya” Yoona sedikit bingung mendengar perkataan Yuri, emangnya apa yang tak bisa ia hadapi dimuka bumi ini? Tyrex pun ia berani menghadapinya.
“Fejervarya cancrivora” Apa? Itu sedikit tak asing ditelinga Yoona.
Tentu saja itu nama latin dari hewan, namun apa?
“Terserah apapun itu, aku bisa. Asal bukan seekor amphibi” Yoona itu anti amphibi terutama spesies katak, kodok, atau semacamnya. Ia sungguh benci hewan berlendir itu.
“Sayangnya itu memang amphibi. Ditambah lagi, ia hidup disawah” hidup disawah? Maksudmu seekor kodok sawah? Yang kulitnya bergerigi, berwarna coklat dan memiliki wajah mengerikan itu?
Itu yang akan mereka bedah?
Terkutuklah 17 tahun hidupmu, Im Yoon Ah!
“Aku akan membolos praktek hari ini!” Teriak Yoona dan sudah siap berdiri ingin melarikan diri dari hukuman matinya yang akan dilaksakan sebentar lagi.
“Tak masalah hewan apa saja, asalkan tidak sejenis amphibi brengsek itu!” Yuri sudah terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Seekor kodok, huh? Seperti mau membedah monster saja.
“Kau tak bisa membolos, Yoon” terkutuklah Gru dan minion minionnya! Jika sudah Lee Donghae, mana bisa ia menolak.
“Tidak untuk kodok, Hae” suara Yoona mencicit pelan. Namun Donghae tetap menatapnya tegas tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Ku mohon” tentu saja tatapan anak anjing yang terlantar ia tunjukkan pada Donghae. Memohon dengan sangat agar tak menghadapi hukuman matinya itu.
“Ini untuk nilai semester, dan kau pikir aku akan membiarkan mu membolos dan tak mendapatkan nilai semester? It’s imposibble, Im YoonA!” Ya, Donghae benar. Ini untuk nilai semesternya.
Namun apa ia akan merelakan nyawanya untuk nilai semester?
“Kau taukan Donghae, aku itu kodokphobia” lagi lagi Yoona memelas. Agar Donghae menuruti permintaannya kali ini.
“Kau tau aku kan Yoona? Sekali tidak tetap tidak. Kau membolos atau aku tak akan pernah mau memelukmu atau menciummu” seperti petir yang menyambar Yoona, apakah Donghae berniat membunuhnya sekalipun ia sudah menjadi seorang arwah?
“Baiklah, mati untuk Lee Donghae” Yoona menyerah jika sudah itu ancaman dari Donghae.
Pernah sekali ia melanggarnya, dan apa? Donghae benar benar melakukannya. Saat itu Donghae mengatakan tak akan menyapanya seminggu, dan benar benar terjadi.
Yoona tak ingin itu terjadi lagi. Hidup tanpa pelukan Donghae?
Yoona tak akan bisa, lebih baik ia menghadapi kodok.
“Ini demimu, Donghae. Setelah itu kau harus memelukku satu harian penuh. Aku akan mengatakan pada Ibu, akhir pekan akan tidur dirumahmu. Dan bersiap saja, aku akan menjadi koala untukmu” Donghae memutar bola matanya malas, mau bagaimana lagi?
Ini demi kebaikan kekasihnya itu.
•••

Satu pekan telah berakhir, dan impian Yoona telah terwujud.
Setelah bangkit dari kematiannya kemarin, giliran janji Donghae yang ia tagih.
Sudah satu hari ini Yoona terus menempeli Donghae, benar benar seperti seekor anak Koala.

Menatap ribuan bintang dilangit adalah salah satu hal yang diimpikan Yoona. Ditambah melakukannya dengan Donghae. Yoona harus berterimakasih dengan kodok. Jika bukan karena kodok menjijikkan itu Yoona tak akan bermanjaan dengan Donghae seperti sekarang ini.
Memeluk Donghae sambil menatap langit yang dihiasi ribuan bintang.
Walaupun angin malam menghembus mereka yang berada dibalkon kamar Donghae, mereka tidak kedingingan karena saling menghangatkan.
Tak perlu ribuan bunga untuk Yoona, melakukan banyak hal dengan Donghae sudah termasuk kategori romantis menurut Yoona.
“Kenapa kau sangat ingin kupeluk?” Tanpa mengalihkan tatapannya dari langit, Donghae bertanya seperti itu pada Yoona. Kenapa Yoona lebih ingin dipeluk sedangkan diluar sana semua perempuan ingin dicium.
“Karena aku merasa sangat terlindungi didalam pelukan, dan itu sangat nyaman apalagi bersamamu Donghae” Donghae hanya mengangguk. Tidak Yoona namanya jika tidak aneh, benar?
“Tapi aku tidak merasakan itu saat memelukmu” Donghae ini terlalu jenius sehingga suatu waktu ia terlihat sangat idiot, seperti sekarang.
“Tentu saja, idiot. Karena yang akan melindungi itu dirimu. Mana mungkin kau merasa terlindungi saat memelukku. Karena tugasmu itu melindungi, bukan dilindungi. Kau benar benar idiot” dengan polosnya Donghae mengangguk mengerti. Yang dikatakan Yoona itu benar. Mana mungkin ia merasakan terlindungi jika ia yang melindungi.
“Tapi aku tidak nyaman” kata kata itu menusuk hati Yoona. Donghae tidak nyaman padanya?
Yoona bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukan Donghae.
Ia menatap Donghae dengan mata yang sudah berkaca kaca.
“Hey? Ada apa denganmu?” Melihat itu Donghae menjadi panik. Kenapa tiba tiba Yoona seperti itu?
“Jadi kau tidak nyaman denganku? Kalau begitu kenapa tidak akhiri saja?” Donghae terkekeh menedengarnya. Jadi ia kira Donghae tak suka dengannya?
“Kau benar benar bodoh. Yang kumaksud aku tak nyaman saat memelukmu itu karena kau terlalu kurus. Tidak enak dipeluk” Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.
“Jadi itu alasannya?” Donghae hanya mengangguk mengiyakan dan mengelus punggung Yoona dengan penuh kasih sayang.
“Jadi, naikkan berat badanmu. Maka aku akan sering memelukmu. Lihat ini? Aku seperti memeluk tengkorak” Yoona menggangguk berkali kali. Baiklah, jika untuk dipeluk Donghae setiap saat ia hanya perlu menaikkan berat badannya.
“Aku akan menaikkannya dan kau harus sering memelukku” itu adalah mutlak.
Hanya suatu masalah yang klise.
Yoona yang terobsesi untuk dipeluk dan alasan Donghae tak ingin memeluk Yoona.
Hanya perlu menaikkan berat badannya, lalu Donghae akan sering memeluknya.
Itu yang diinginkan Yoona.
TAMAT-

Thanks^^
Review mu adalah semangatku untuk menulis ff lagi^^