Diproteksi: Somewhere Only We Know [Chapter 1]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Fake or Real 

By. Vylord

Cast : Im Yoona x Lee Donghae

Genre : Comedy, Romance, School-life, Sad

Length : One-shot 

Rate : T




“Arrggghhh!” puluhan pasang mata dikantin itu menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengejutkan mereka.

“Dimana matamu, idiot?!” pemuda yang dikenal sebagai si pembuat onar di SMA itu berteriak pada gadis yang baru saja menabraknya dan menumpahkan Jjampong panas yang ia bawa diseragam sekolah milik si pembuat onar atau lebih kasarnya si Penguasa SMA mereka itu.

“Matilah kau,  Im Yoona” bukan membantu, Yuri malah menakuti Yoona dengan membisikkan mantra pencabut nyawa ditelinga gadis itu.

“Kau juga tidak melihat aku berjalan kan!  Apa kau bilang?  Idiot?  Kau lebih idiot!” tidak ada yang lebih mengagetkan lagi ketika mendengar Yoona membalas teriakan Donghae. Yoona mencetak sejarah dengan melawan pada si Penguasa sekolah ini.

“Beraninya kau!  Siapa namamu hah?  Oh,  Im Yoona!” Donghae melihatnya di bet nama milik Yoona. Menandai gadis yang telah membuatnya kotor terkena Jjampong.

“Sebagai permintaan maaf, kau harus menjadi kekasihku!” tidak ada yang lebih gila daripada ucapan Donghae yang baru saja ia katakan.

Setelah ia membentak Yoona, ia memintanya untuk menjadi kekasihnya?  Benar benar gila. Itu yang ada didalam pikiran Yoona.

“Menjadi kekasihku,  dan membuat Jessica cemburu. Dengan itu, ia akan kembali padaku”

 

 

•••
“Hey!  Itu Im Yoona! ” Oh tidak, mereka menemukan Yoona. Yoona segera lari dari belakang perpustakaan mereka.

Ia masih ingat saat menolak Donghae kemarin, Donghae mengancam akan mengganggu hidupnya, seperti sekarang.

Berlari dari tempat ke tempat tentu saja membuat Yoona kehabisan tenaganya.

Gadis itu bersembunyi di belakang gudang sekolah mereka. Melihat situasi sepertinya aman, Yoona harus kembali ke kelas karena jam istirahat sudah selesai.

‘Byurrrr!’

Terkutuklah kau, Lee Donghae!

Yoona menatap kesal kearah atas dimana teman teman Donghae dan tentu saja Donghae yang ada di balkon lantai 2, dan baru saja menyiramnya dengan air yang Yoona yakini bekas mengepel lantai toilet sekolah mereka.

“Bagaimana, Yoona?”

“Jawabanku tetap tidak, Idiot!” ini sungguh tak adil, Lee Donghae bersama kru krunya,  akan sulit untuknya membalas perbuatan pemuda nakal namun sayangnya kelewat tampan itu.

 

 

 

“Tugas yang saya berikan kemarin, dikumpulkan sekarang. Kau akan tau akibatnya jika tidak menyelesaikan tugas yang ku berikan” itu seperti pertanda keramat bagi para siswa dan siswi yang tidak mengerjakan tugasnya.

Bagaimana Guru Kang akan menghukum mereka dengan mengutip dedaunan yang gugur dibelakang sekolah dan harus menghitung berapa helai daun itu. Sangat gila.

Jadi, harus wajib untuk menyelesaikannya.

“Ada apa, murid baru?” Yoona memejamkan matanya erat, sungguh ia sudah menyelesaikan tugasnya kemarin. Dan ia juga sangat ingat membawa buku itu. Apa buku itu memiliki kaki dan kabur dari tas Yoona?

Ia sungguh tak mau dihukum dan dicap buruk oleh Guru Kang. Karena ia adalah siswi baru disini.

Lalu, tak sengaja tatapan Yoona bertemu dengan tatapan Donghae yang sialnya teman sekelasnya.

Donghae tersenyum ramah padanya. Sangat teramat ramah. Membuat Yoona benar benar ingin meninju wajah tampan Donghae.

Donghae lah pelaku nya, siapa lagi?

 

 

 

Disaat saat seperti inilah Yoona sangat merindukan ranjang empuknya.

Harusnya ia sudah pulang kerumahnya dua jam yang lalu. Karena harus membersihkan dedaunan kering dibelakang sekolah mereka, ia harus mengurung niatnya untuk beristirahat di ranjang kesayangannya.

Jika Donghae meminta bantuan padanya, kenapa dengan cara seperti ini?

Bukan kah akan lebih baik jika ia memperlakukan Yoona bak Putri di istana olympus?  Bukan malah membuatnya seperti ini. Sangat amat teraniaya.

Yoona itu tipikal orang yang sabar, sungguh. Karena itu ia tidak akan menyerah, untuk menolah Donghae.

Saat ini saja ia sudah diperlakukan seperti ini, apalagi menjadi kekasih palsu Donghae.

Sepasang sepatu beserta kakinya sudah ada didepan Yoona, gadis itu mengadakan kepalanya dan mendapati Donghae yang berdiri didepannya.

“Tidak,  tidak!  Aku ini kuat! Bagaimanapun caranya, aku tidak akan menyerah!  Tidak, untuk preman sekolah itu!” Yoona menyemangati dirinya sendiri, kedatangan Donghae beserta kru nya itu merupakan malapetaka baginya. Akan ada musibah yang menimpa dirinya.

“Kau sungguh sangat keras Yoona. Baiklah jika kau tetap menolak” Donghae berlalu setelah sebelumnya menyapa Yoona dengan senyuman manis miliknya.

Yoona sempat terpesona melihatnya namun itu hilang dalam sekejap setelah teman teman Donghae menumpahkan 3 plastik besar berisi dedaunan kering ke sekelilingnya. Entah darimana dedaunan itu,  Yoona tak tau.

Yang ia tau pasti, ia akan pulang malam hari ini.

“Aku kuat!”

 

 

•••
Yoona harus berakhir di Ruangan Kesehatan hari ini, karena semalam terlalu lelah ditambah ia terlambat tadi pagi dan mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan.

Walaupun ia memiliki fisik yang kuat, ia masih seorang anak perempuan yang tak lebih kuat dari anak lelaki.

Berada di Ruangan Kesehatan bukanlah ide yang buruk, ia bersyukur berada disana karena tak akan ada Lee Donghae.

“Apa kau tidur?” Yoona kenal suara ini,  suara berat milik Donghae. Ia segera memejamkan matanya erat, berpura pura tidur.

“Maafkan aku,  itu akibatnya jika kau menolakku. Istirahat lah dan sembuh. Aku tak ingin kekasih ku sakit” setelah itu Donghae mencium kening Yoona.

Tanpa Donghae sadari, jantung Yoona berdetak begitu cepat. Apa begitu mudahnya untuk pria mencium wanita?  Pikir Yoona.

Namun, tanpa Yoona sadari Donghae sudah tersenyum miring. Tentu saja Donghae tau kalau Yoona itu tidak tidur dan sadar sepenuhnya atas kehadiran Donghae.

 

 

 

•••
“Yoona-ssi!  Kau harus melihat ini!” Victoria menarik paksa lengan Yoona. Tanpa bisa mengelak, Yoona mengikutinya dan didampingi oleh Yuri, sahabat Yoona.

“Donghae!  Turunlah!” hampir seluruh siswa dan siswi sekolah itu berkumpul dilapangan depan sekolah, melihat Donghae yang berada dilantai teratas sekolah mereka yang siap untuk melompat kebawah.

Melihat Yoona sudah hadir diantara ratusan siswa dan siswi dibawah sana, Donghae memulai aksinya.

“Aku akan melompat kebawah jika kau menolakku, Yoona!” teriakan itu membuat semua orang khawatir, dan menyuruh Yoona untuk menerima Donghae.

“Dia tak akan melompat, itu hanya ancamannya saja” Yoona tau Donghae itu seperti apa,  ia tak akan berani melompat kebawah.

“Ini serius, kenapa kau begitu jahat?” pekik Changmin, salah satu teman Yoona.

“Idiot!  Kau tak akan mati jika melompat dari sana!  Kakimu yang akan hancur!  Aku tak akan peduli!” Yoona tak akan pernah termakan bualan Lee Donghae, tidak akan!

“Aku akan menghitung!  Di hitungan ke tiga aku akan benar benar melompat!  Satu!” Yoona mulai takut, apa Donghae gila?

“Terima saja, Yoona. Kau akan membunuh Donghae” teman temannya berteriak padanya. Tak banyak juga yang menyalahkannya.

Yoona melirik Jessica yang tampak khawatir.

Kenapa Donghae tidak meminta kembali Jessica saja dengan cara seperti ini?

“Dua!” Donghae tak akan melakukan hal itu! Yoona yakin itu.

Tak akan mungkin untuk menjadi seorang kekasih palsu.

Tapi sepertinya Donghae benar benar akan melompat.

“Tiga!” semua orang yang ada disana berteriak.

“Tunggu!!!”

 

 

 

•••
“Hey!  Tunggu aku!” teriakan Yoona tak diindahkan oleh Donghae. Donghae hanya berjalan cepat dan memasuki restoran yang ia tau adalah tempat favorit Jessica. Menjalankan misi membuat mantan kekasihnya itu cemburu.

“Kau seperti dikejar hantu saja!” gerutu Yoona dan menghempaskan pantatnya ke kursi restoran.

“Ya, kau hantunya” percikan api tak bersahabat mulai membara dimata Yoona. Pantas saja mantan kekasihnya memutuskannya, ia bersikap seperti itu. Pikir Yoona.

Donghae melihat Jessica dan teman temannya memasuki restoran itu.

“Yoona-ya” bisik Donghae memberikan isyarat agar Yoona membuka mulutnya,  menyuapi Yoona makanan yang sudah disajikan beberapa menit yang lalu.

“Apakah enak?  Ughh lihat, pipimu terkena nodanya” Donghae membersihkan pipi Yoona sambil melirik Jessica.

Walaupun Donghae itu mantan kekasihnya, tentu saja Jessica risih melihat Donghae bermesraan dengan pacar barunya didepan Jessica. Terlebih lagi di restoran yang biasa ia kunjungi dengan Donghae.

Jessica membuang nafasnya sedikit kasar, dan mengajak teman temannya untuk keluar dari sana.

Melihat Jessica yang sudah keluar dari restoran itu, ia mendorong wajah Yoona, menjauhkannya dari hadapannya.

“Aghhh!” tidak bisakah Donghae sedikit lembut? Walaupun itu dengan kekasih palsunya.

“Dia cemburu!” tawa Donghae tanpa mengacuhkan gerutuan Yoona.

“Ini, kau yang bayarkan?” Yoona sedikit takut mengingat tak sedikit makanan yang ia pesan. Ia tidak sarapan tadi pagi,  dan cacing didalam perutnya sudah berdemo agar diberi makan.

“Tentu saja tidak! Kau bayar sendiri! Memangnya siapa dirimu?” sebenarnya itu sangat kasar, tapi Yoona mengerti akan hal itu. Lagian benar kata Donghae, mereka hanya palsu kan?

“Kau keparat, tapi mau bagaimana lagi. Aku akan menelopon Yuri” Yoona ingin membentaknya sebenarnya, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutnya hanya suara lembut.

“Baguslah” jawab Donghae sungguh tak tau diri.

 

 

 

•••

“Maaf, Yuri-ssi. Tapi Yoona harus pulang denganku” perintah Donghae tak bisa ditolak, mengingat ia si penguasa sekolah serta kekasih Yoona walaupun palsu.

Yuri memandang Yoona dengan raut memohon, mereka sudah janji kemarin saat pulang sekolah hari ini mereka akan ke toko buku. Dan Yuri sangat tak suka jika kemana mana sendirian, tanpa ditemani.

Yoona yang mengerti maksud Yuri hanya memandang lemah sahabatnya itu, ia tak bisa menolak Donghae.

“Baiklah, aku mengerti” Yuri mengalah dan berpamitan pulang pada Yoona dan Donghae.

“Kau kekasihku kan? Temani aku latihan” Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Mengikuti kemauan kekasih palsunya itu.

Yoona harus bersabar, hanya sampai Jessica meminta Donghae kembali. Itu saja. Sangat simpel.

Dengan ia selalu bersama Donghae maka akan semakin cepat Jessica cemburu dan meminta Donghae kembali. Ia harus kerja keras mulai sekarang.

Agar semuanya berakhir, walaupun jauh didalam hati Yoona ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.

Latihan sudah berakhir, dengan penuh keringat Donghae berjalan kearah Yoona.

Dengan senyuman maut serta iris hazel milik Donghae yang lembut menatap dalam padanya.

Sesaat Yoona terpana menatapnya, sedetik kemudian jantungnya berdetak dengan cepat kala Donghae memeluknya erat.

Seakan akan tak ingin kehilangan Yoona. Apa Donghae berubah pikiran? Kenapa ia tiba tiba memeluknya seperti ini? yoona sangat bingung. Namun yang ia rasakan adalah kehangatan dari pelukan Donghae.

Walaupun ia tau tubuhnya akan bau karena kena keringat lelaki itu.

“Apa Jessica melihatnya?”

“Eoh?” Yoona tersadar dari lamunannya.

“Jessica melihatnya?” tanya Donghae sekali lagi. Yoona melirik ke kanan dam ke kiri, mencari si pemilik nama lengkap Jessica Jung itu. Dan ia mendapati Jessica yang melihatnya dari depan sana tanpa ekspresi apapun dan berlalu pergi dengan teman temannya.

“Dia sudah pergi” dan pelukan itu terlepas. Donghae melirik kebelakang memastikan Jessica dan teman temannya pergi.

“Aku yakin sebentar lagi dia akan memohon kembali padaku” Yoona yang mendengar itu hanya terdiam, jadi itu alasan Donghae memeluknya erat.

Lalu apa yang ia harapkan sih? Yoona tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

“Ayo, aku antar pulang”

 

 

 

•••
Tak ada yang lebih sial ketika kau kedapatan tertidur dikelas oleh Guru Killer. Yoona merutuki mata bodohnya yang tak bersahabat. Karena itu ia harus dimarahi dan disuruh keluar kelas. Padahal hanya tinggal 30 menit lagi untuk waktu pulang sekolah.

Yoona memasuki toilet sekolah, mencuci mukanya agar tidak kusut seperti tadi.

“Hey! Yoona!” empat orang siswi sudah ada didepan Yoona. Menatap Yoona dengan tatapan ingin menerkam.

‘Pluk!’ kotak tissue baru saja mendarat di kepalanya dan terjatuh ke lantai.

“Apa yang kau lakukan!” bentakan Yoona dijawab oleh serbuan keempat gadis itu.

Menjambak rambut Yoona, menarik seragamnya, bahkan ada juga yang memukulinya.

“Hentikan” keluhan Yoona tak didengar oleh keempat pasang telinga mereka.

“Kau tak pantas bersama Donghae!” itu salah satu dari sekian makian mereka pada Yoona.

“Bitch!”

“Matilah”

“Jauhi Donghae kami!”

Dan diakhiri siraman air got yang entah darimana mereka dapatkan ke tubuh Yoona.

“Donghae tak akan mau dekat denganmu jika kau bau seperti itu!” kepergian keempat gadis itu membuat Yoona sedikit lega, namun tak menghentikan air mata yang jatuh dari pipinya.

Yoona segera bangkit dan keluar dari toilet, melewati para siswa siswi yang hendak pulang.

Semua mata tertuju padanya, namun tak ada satupun yang mau mendekati Yoona.

Yoona semakin mempercepat larinya menghindari tatapan iba bahkan tatapan jijik padanya.

‘Bruk!’ tubuh Yoona oleng namun tak sempat jatuh ke lantai, lengan seseorang menahan pinggangnya.

“Yoona?” Yoona menatap Donghae dan melepaskan lengan Donghae dari pinggangnya. Menghindari iris hazel khawatir Donghae.

“Apa kau baik baik saja?” tidak, Yoona sungguh tak baik baik saja.

“Aku baik baik saja. Aku mau pulang” Yoona sudah berusaha mengentikan isakan tangisnya, tapi ia tak bisa.

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri”

“Aku tak akan membiarkan kekasihku seperti ini. Aku akan mengantarmu dan tidak ada bantahan” mendengar hal itu justru membuat Yoona semakin sulit untuk menahan air matanya. Isakan tangis Yoona semakin mengeras, Yoona tak bisa menahannya lagi.

Tanpa aba aba, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya, meredakan tangisan Yoona tanpa peduli bau menyengat yang keluar dari tubuh Yoona.

 

 

•••
Sebenarnya Yoona penasaran dan ingin bertanya pada Donghae, kemana tujuan mereka saat ini.

Setelah bel istirahat berbunyi, Donghae menarik lengan Yoona dan mengatakan akan ada kejutan untuknya.

Langkah kaki mereka membawa Yoona dan Donghae ke lapangan sepak bola sekolah mereka, memasuki kerumunan beberapa siswa dan siswi yang sudah ada disana.

“Hadiah untukmu. Lakukan lah sesukamu pada mereka” Donghae tersenyum manis pada Yoona, menunjukkan kejutan Donghae yang berupa empat orang siswi yang sudah mengerjai Yoona kemarin.

“Katakan yang ingin kalian katakan pada Yoona!” Yoona bisa melihat keempat siswi itu ketakutan akibat bentakan Donghae.

“Maaf, Yoona” ucap salah satu diantara mereka mewakili.

“Siram mereka!” Yoona hanya diam saat Eunhyuk menyuruh Yoona menyiram mereka, membalas perbuatan keempat siswi itu kemarin. Teman teman Donghae sudah menyiapkannya, empat ember air yang Yoona yakini bersumber dari got. Baunya juga lebih menyengat ketimbang air yang mereka siram kemarin pada Yoona.

“Siram saja, Yoona!” siswa siswi yang lain mulai meneriaki Yoona untuk membalas dendam.

Sedikit muncul perasaan kasihan Yoona pada mereka.

“Aku tak akan membuang waktuku untuk hal tak penting seperti ini. Ayo kita pergi” iris madu dan iria hazel Donghae bertemu, senyuman dibalas senyuman.

Tanpa sepatah kata, Donghae menggenggam erat tangan Yoona, dan membawa gadis itu pergi.

Sebelum Donghae dan Yoona benar benar pergi, Donghae membalikkan badannya.

“Jangan pernah menyentuh kekasihku! Kau akan tau akibatnya!” itu peringatan yang tak akan bisa dilanggar. Peringatan dari si penguasa sekolah.

Donghae dan Yoona berlalu meninggalkan lapangan sepak bola.

Tanpa mereka sadari, Jessica sudah memperhatikan mereka berdua. Dengan tatapan yang tak ada satupun orang mengerti.

“Sayangnya, kami bukan Im Yoona!” teriak teman teman Donghae yaitu Eunhyuk, Kyuhyun, Changmin, Tiffany dan Minho lalu menggantikan Yoona untuk membalas perbuatan keempat siswi itu.

 

 

 

•••
Sebulan menjadi kekasih palsu Lee Donghae tampaknya tidak membuahkan hasil untuk menggetarkan hati Jessica kembali.

Entah gadis itu benar benar sudah melupakan Donghae atau tidak, yang pasti Yoona sudah sadar, bahwa ia jatuh kedalam perangkap yang mereka buat sendiri.

Orang orang akan berpikir bahwa kedua insan itu sedang berkencan seperti halnya pasangan muda lain.

Nuansa yang biasanya keluar dari interaksi Yoona dan Donghae tampak bersembunyi.

Mereka hanya duduk berdiam diri dipinggir Sungai Han sore itu.

“Aku ingin berhenti melakukan ini” Yoona berdiri dari duduknya, menatap iris hazel Donghae dalam.

“Aku tak ingin berpura pura lagi, aku takmau menjadi pasangan palsumu lagi” Donghae ikut berdiri didepan Yoona, membalas tatapan Yoona.

“Kenapa kau ingin berhenti? Apa alasanmu? Apa kau tersiksa? Apa yang membuat mu seperti ini?” tentu saja Donghae tidak terima dengan keputusan Yoona yang mendadak.

Tapi sebenarnya, entah ini untuk Jessica atau apa, Donghae tak tau kenapa ia tak ingin berhenti.

“Aku punya alasan, aku tak bisa berpura pura menyukaimu lagi” Yoona memiliki alasan, alasan yang tak mungkin ia ungkapkan pada lelaki itu.

“Hidupmu terlalu banyak alasan!  Katakan saja! Kau terlalu sulit, kau banyak alibi!  Kau keras kepala! Kau… ”

“Karena aku benar benar jatuh cinta padamu!” Donghae terdiam. Yoona memejamkan matanya menahan jantungnya yang berpacu sangat kencang.

Apa yang baru ia katakan?

Alasan yang sungguh ingin ia pendam keluar begitu saja.

“Kau pikir aku tidak?” Yoona mengangkat kepalanya, membuka matanya lalu menatap mata Donghae yang masih menatap padanya dalam.

“Kau pikir aku tidak jatuh Cinta padamu?” Dongahae membuka suaranya lagi, meyakinkan pada Yoona bahwa ia juga jatuh kedalam perangkap yang mereka buat.

Yoona awalnya tidak percaya, tapi saat kalimat kedua yang Donghae ucapkan untuk menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan ucapan pertamanya. Kedua kalimat itu membuat Yoona percaya, bahwa Donghae serius dengan ucapannya.

Satu detik selanjutnya pelupuk mata Yoona menumpahkan setetes liquid bening, dan diikuti oleh tetesan tetesan berikutnya, membasahi pipi gadis itu.

Bersikap gentle, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.

“Aku tak tau kenapa kau menangis, yang kutau kita adalah pasangan yang real sekarang. Tidak ada kekasih palsu, tidak ada berpura pura mesra. Tujuan kita sudah jelas sekarang. Kau dan aku. Kita benar benar sepasang kekasih mulai dari sekarang, Yoona. Aku tak akan memintamu jadi kekasihku, karena aku tidak menerima penolakan atau alasan mu yang lain. Aku mencintaimu” Donghae tak percaya atas apa yang ia ucapkan barusan. Itu bukanlah kata kata yang lebih romantis yang selalu ia ucapkan pada Jessica, tapi yang pasti ini lebih tulus dari pada ucapan yang biasa ia lontarkan pada Jessica.

Donghae sadar betul bahwa saat ini hanya Yoona lah yang ia inginkan. Hanya Yoona lah yang ia butuhkan untuk mengisi hari harinya.

 

 

 

 

Matahari sudah terbit dinegara bagian Eropa, dan sudah saatnya Bulan muncul dinegara gingseng itu.

Angin malam yang sebenarnya tidak sehat itu menerpa wajah Yoona.

Tak ada kata dingin bagi Yoona malam ini, karena jemari serta tangan besar Donghae menggenggam erat tangannya saat ini. Tak ada yang lebih hangat dari itu.

“Bagaimana aku bisa kedinginan jika matahari sudah ada disampingku” celetuk Yoona menjawab pikiran nya sendiri.

“Apa?” Yoona tersadar dan menggeleng menjawab pertanyaan Donghae. Senyuman konyol serta malu sendiri itu tercipta diwajahnya.

“Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang” Yoona mengiyakan ajakan Donghae. Dan mereka bergegas meninggalkan Sungai Han dan pulang.

Sebenarnya Yoona tak ingin membebani Donghae dengan mengantarkannya pulang, karena lelaki itu memaksa dengam alasan bahwa ia adalah lelaki gentle maka ia harus mengantarkan seorang gadis pulang kerumahnya.

Yoona mengiyakan tawaran Donghae yang memaksanya, tentu saja ia tidak menyesal menerima tawaran itu.

“Sudah sampai, aku turun” Yoona keluar dari mobil hitam milik Donghae, dan berjalan menuju pagar rumahnya.

“Tunggu!” Donghae menghentikan Yoona, lelaki itu buru buru keluar dari mobilnya.

“Apa aku melupakan sesuatu?” tanya Yoona bingung dan hanya memerhatikan Donghae yang sibuk keluar dari mobilnya.

Donghae mendekati Yoona dengan senyuman maut miliknya, senyuman khas seorang Casanova.

“Tidak, hanya saja ini akan menjadi kebiasaan baru” Donghae menarik kepala Yoona mendekat dan mencium kening Yoona.

“Selamat malam” Donghae berlalu dari hadapan Yoona dan memasuki mobilnya.

Donghae menginjak pedal gas mobil miliknya dan meninggalkan tempat tinggal Yoona.

Yoona masih terdiam menatap mobil Donghae yang menjauh.

Semburat merah dipipinya terlihat menggemaskan.

“Aku tak tau rasanya seperti ini. Benar benar menyenangkan. Walaupun sedikit sakit saat jantungku berdetak begitu cepat” detakan jantung yang begitu cepat memang menyakitkan, Yoona.

Entah itu karena bahagia ataupun sedih. Jika jantungmu memompa darahmu begitu cepat, memang terasa sedikit sakit.

 

 

 

•••
Entah ini salah siapa, Ibu Yoona,  Ayah Yoona atau bahkan Yoona sendiri. Yang pasti ini adalah hari tersial diantara hari hari sial lainnya bagi Yoona.

Harusnya Yoona bangun lebih awal dan pergi kesekolah dengan senyuman ceria karena ia sudah sah menjadi kekasih Lee Donghae.

Bukan malah berakhir dibelakang sekolah dengan usaha memanjat tembok untuk masuk ke sekolah tersebut.

Yoona sangat malas berurusan dengan satpam sekolah mereka ditambah guru pengawas yang sudah pasti akan menghukum Yoona seperti beberapa waktu lalu karena terlambat.

Yoona mendapatkan ide ini ketika seminggu yang lalu kedapatan Changmin yang masuk ke sekolah mereka melewati tembok ini.

Benar benar ide brilian untuk menghindari hukuman yang tak diinginkan.

“Kau masih ingin berusaha memanjat itu?” Yoona yang masih bersusah payah memanjat tembok itu menoleh kebelakang.

Mendapati Donghae yang sepertinya juga terlambat.

Donghae menarik pinggang Yoona, membantu gadis itu turun dari usahanya memanjat tembok.

Bagaimana ia tidak sulit memanjat jika ia masih menggunakan rok selututnya?  Pikir Donghae

“Terimakasih” Yoona merapikan roknya yang sedikit berantakan.

“Syukur aku yang melihatmu, bagaimana jika laki laki lain?  Kuyakin mereka akan diam saja melihatmu dan mengintip celana dalammu” Yoona hanya menunduk malu, menyadari bodohnya ia memanjat sedangkan ia memakai rok sekolahnya.

“Tidak perlu frontal begitu” balasnya mencibir dan memberikan pukulan kecil di perut Donghae.

Donghae hanya tertawa melihat tingkah konyol Yoona.

“Apa kau tetap mau sekolah? Ayo bolos, kita akan berkencan”

Dan tidak ada penolakan untuk Lee Donghae.

“Aku tak menyangka kau mengajakku berkencan disini. Ku pikir kau akan mengajak menonton atau melakukan hal lain yang biasa diminta oleh anak perempuan lainnya” Yoona tertawa kecil mendengar gumaman Donghae. Bagaimana tidak?

Saat ini mereka sedang berada di Taman anak anak, duduk diayunan.

Donghae tidak bergerak seperti halnya Yoona yang sibuk mengayunkan ayunan yang ia naiki, membiarkan rambutnya yang tergerai sedikit berantakan.

Donghae hanya fokus menatap Yoona, memikirkan banyak hal tentang gadis itu. Donghae tak tau alasan kenapa ia menyukai gadis itu, Yoona tidak sefeminim Jessica, tidak selembut Jessica, bahkan tidak semanja Jessica. Yoona itu tipe gadis yang sedikit tomboy, benar benar bukan tipe ideal Donghae.

Namun faktanya, Donghae jatuh pada pesona gadis itu.

“Kau suka anak kecil ya?” Yoona yang mendengar pertanyaan Donghae dengan cepat menjawab ya.  Ia memang begitu menyukai anak kecil,  melihat tingkah lugu mereka membuat Yoona bahagia.

“Kalau begitu, jika sudah menikah nanti. Ayo punya anak yang banyak. 11 mungkin cukup”

“Apa kau pikir mudah mengeluarkan mereka sebanyak itu?!”

“Kau menyukai anak anak kan? Semakin banyak, semakin kau suka”

“Tapi tidak seperti itu juga”

“Sebelas cuma sedikit Yoona”

“Kalau begitu kau yang mengandung mereka”

“Kalau aku bisa, apa yang tidak untukmu”

“Menyebalkan”

“Aku juga menyukaimu”

“Aku tidak bilang menyukaimu idiot!”

“Aku tau kau sangat menyukai ku”

“Aku akan memakanmu bentar lagi”

“Kau sangat imut”

Yoona yang sedikit kekanakan dan Donghae yang jahil.

Bukankah pasangan yang serasi?

 

 

 

•••
Salah satu hal yang ingin dilakukan Yoona jika memiliki kekasih adalah makan siang diatap sekolah dengan bekal yang ia bawa. Oh, tentu saja itu masakan Yoona sendiri.

Donghae setuju dengan ajakan Yoona untuk memenuhi keinginannya itu, hal hal sederhana yang belum pernah ia lakukan dengan Jessica.

Ahh, maaf. Jangan membahas wanita masa lalu Donghae lagi.

Kotak nasi yang tadinya berisi nasi goreng kimchi itu telah habis tak tersisa. Kotak itu dibiarkan terbuka begitu saja, entah Yoona atau Donghae lupa atau malas menutupnya, atau sekedar membumbuhi suasana romantis mereka.

Syukurlah sinar matahari siang itu tidak terlalu menyengat, jadi bermalas malasan diatap sekolah bukan menjadi ide yang buruk. Menghindari pelajaran olahraga yang sudah pasti materi praktek dilapangan sekolah.

Biasanya Donghae lah yang paling semangat jika sudah mengenai pelajaran yang biasa menguras keringat itu, tapi kali ini ia lebih memilih menyimpan keringatnya dengan bermalas malasan bersama Yoona.

Menyandarkan kepalanya dipaha Yoona, dan tidur selonjoran.

Dari sana, Donghae bisa melihat jelas wajah Yoona. Sederhana namun membuat jantungnya berpacu begitu keras.

“Lubang hidungmu sangat cantik jika dilihat dari sini” mata Yoona membulat lebar mendengar pujian memalukan dari Donghae.

“Kau mau mati?!” amuk Yoona dan mengincar telinga Donghae sebagai pelampiasan kemarahannya.

“Aku serius, kau ini kenapa sensitif sekali?” rintih Donghae memegangi telinganya yang sudah memerah.

“Lubang hidungmu semakin cantik bentuknya jika dilihat dari bawah sini. Aku serius” Donghae benar benar memuji lubang hidung Yoona, tapi sungguh wajah Yoona benar benar memerah menahan malu bukan karena pujian. Apa tidak ada bagian wajah Yoona yang lain yang lebih cantik?

“Kenapa harus lubang hidungku?” Yoona melupakan rasa malunya akibat pujian bodoh dari Donghae.

“Karena hanya aku yang boleh melihat lubang hidungmu dari bawah sini dam sedekat ini” Oh, itu rayuan. Walaupun bukan rayuan khas seorang Casanova, itu rayuan diluar dugaan.

“Ya, hanya kau. Kau membuatku malu, idiot” umpatan yang sudah Yoona tahan akhirnya ia lontarkan kepada Donghae, dan dibalas oleh tawa renyah khas Lee Donghae.

“Kau cantik, semuanya. Bahkan lubang hidungmu. Hatimu, wajahmu, semuanya. Itulah kenapa aku menyukaimu” kali ini bukan karena malu, wajah Yoona memerah karena ucapan Donghae, bahkan untuk kesekian kalinya jantungnya seakan ingin keluar dari sarangnya.

Donghae sudah membuatnya jatuh Cinta berkali kali, setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik.

“Ngomong ngomong, kotoran hidungmu yang juga terlihat dari sini sangat cantik” kau akan benar benar mati, Lee Donghae.

 

 

 

•••
Ini sudah menjadi ke sekian kalinya Yoona melirik arloji hitam yang melilit pergelangan tangannya.

Sudah hampir 5 jam dari perjanjian pertemuannya dengan Donghae.

Yoona tidak salah tempat juga tidak salah jam.

Isi pesan yang dikirim Donghae benar benar menyatakan pukul 2 sore dan bertemu di Tavolo 24.

Bahkan langit yang tadinya masih disinari cahaya matahari kini sudah berganti dengan pancaran sinar Bulan.

Tidak biasanya Donghae telat seperti ini. Kalaupun telat, ia pasti mengirimi pesan untuk Yoona.

Kali ini benar benar tidak ada pesan. Yoona sudah menelponnya beberapa kali, namun Donghae tidak mengangkat panggilan dari Yoona.

Yoona ingin kembali, namun ia rasa 5 jam itu sia sia jika ia pulang tanpa bertemu dengan Donghae. Bagaimana jika setelah ia pulang Donghae akan datang?

Yoona meyakinkan dirinya untuk tetap tinggal dan menunggu sang kekasih.

Namun, batang hidung Donghae tak kunjung terlihat.

“Yoona!” Eunhyuk memasuki restoran bernuansa coklat itu, dan tanpa malunya berteriak memanggil nama Yoona.

“Donghae memintaku menjemput mu” jelas Eunhyuk sembari berdiri didepan Yoona.

“Dimana dia?” Yoona ikut berdiri, apa yang membuat Donghae menyuruh Eunhyuk?

Tak salah kan jika Yoona berharap Donghae memberinya kejutan?

“Rumah sakit” jantung Yoona berdetak tak karuan. Donghae dirumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?  Apa ia kecelakaan? Koma? Atau apa?

“Apa yang terjadi padanya?!” suara Yoona benar benar tidak bisa terkontrol pada saat itu.

 

 

 

 

Elektrokardiografi itu mengeluarkan bunyi yang teratur. ‘Tit, tit, tit’.

Suasana diruangan itu begitu sepi.

Yoona menatap Jessica yang terbaring diranjang rumah sakit itu dengan tatapan iba. Wajah ceria serta senyuman menawan khas Jessica sama sekali tak nampak diwajah gadis itu.

Bahkan surai emas milik Jessica tampak begitu lesu.

Tatapan iba Yoona dibalas oleh senyuman menyedihkan Jessica.

Sudah hampir 20 menit saat Yoona dan Eunhyuk tiba, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Yoona juga Jessica.

“Kanker otak stadium 4” mulai Jessica.

“Sebenarnya, aku masih mencintainya, Yoona” Yoona paham betul siapa ‘nya’ yang dimaksud oleh Jessica.

“Kau tau, aku memutuskan Donghae karena penyakit ini” Yoona sungguh tak ingin mendengar hal ini.

“Aku tak ingin Donghae bersedih ketika aku mati nanti. Jadi aku melepaskannya. Agar ia melupakanku dan bahagia” inilah yang Yoona takutkan. Hal hal yang diluar dugaan Yoona.

“Sebenarnya aku turut senang melihat Donghae yang bahagia bersamamu. Harusnya aku ikut senang karena ia mulai melupakanku dan mencintaimu. Tapi kenapa rasanya sesakit ini?” Jessica mulai terisak, menceritakan segala isi hatinya kepada kekasih mantan kekasihnya.

“Harusnya aku bahagia, karena inilah yang kuinginkan. Tapi kenapa hatiku hancur melihat Donghae yang bahagia bersamamu? Kenapa rasanya begitu sulit? Kenapa harus aku yang memiliki penyakit menyedihkan ini?” Yoona juga mulai ikut terisak. Terhanyut kedalam cerita Jessica membuat ia juga ikut terhanyut dalam kesedihan gadis itu. Yoona juga bisa merasakan perih dari hati Jessica.

“Maafkan aku karena ibuku menghubungi Donghae dan menyuruhnya datang kesini. Maafkan aku yang tidak tau diri mengambil nya lagi darimu. Maafkan aku, Yoona. Aku masih mencintainya” hati Yoona tertusuk lebih dalam daripada hati Jessica. Ini adalah cerita Cinta pertama miliknya, kenapa harus mengalami masalah serumit ini?

Yoona turut sedih dengan apa yang dialami Jessica, namun tak ada yang lebih menyedihkan lagi ketika secara tak langsung Jessica ingin mengambil Donghae kembali darinya. Mengambil kembali Donghae yang sudah berhasil mencuri hatinya.

Yoona memeluk Jessica yang terbaring diranjang, meredakan tangisan gadis malang itu dengan pelukan hangat miliknya.

Dan setelah itu, Yoona beranjak pergi keluar dari ruangan Jessica. Sungguh, ia tak bisa menahan isakan yang sudah tak terbendungkan lagi.

 

 

 

 

 

Donghae menatap kosong pada gelas kaca berisi teh didepannya.

Pikirannya bercampur aduk saat ini.

“Jessica memutuskanmu karena ia tau, hidupnya tak akan lama lagi. Ia tak ingin menyakitimu, nak. Tapi aku tak ingin melihatnya bersedih diakhir hidupnya. Aku tak ingin melihat ia tersakiti karena kau bahagia bersama gadis lain” Donghae tak pernah menyangka alasan Jessica memutuskannya. Disaat ia sudah mencintai Yoona dan melupakan Jessica, kenapa fakta itu baru terkuak sekarang?

“Jadi, ku mohon padamu. Kembalilah bersama Jessica dan buatlah akhir hidupnya menjadi bahagia” Donghae hanya diam, apa yang harus ia lakukan?

Disaat ia tak ingin menyakiti Yoona, disaat ia tak ingin Jessica bersedih, dan disaat hatinya lebih memilih Yoona. Apa yang harus ia lakukan?

Donghae beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Ibu Jessica yang masih duduk dikantin Rumah Sakit Seoul itu.

Tujuan Donghae adalah kamar Jessica, menunggu Yoona dan berbicara baik baik dengan Jessica.

Tapi, pemandangan pahit ia dapatkan didepan ruangan Jessica.

Itu bukan karena Eunhyuk yang memeluk Yoona, tapi karena melihat Yoona menangis tersedu sedu lah yang membuat itu sangat pahit.

“Yoona-ya” Yoona mendengar suara Donghae yang memanggilnya. Tapi tidak kali ini, Yoona sangat tak ingin bertemu dengan Donghae.

Ia sangat bingung akan apa yang harus ia lakukan pada lelaki itu.

Yoona menghindar, pergi meninggalkan Donghae.

Tentu saja Donghae tak akan membiarkan Yoona menjauhi dirinya.

“Yoona-ya!” teriak Donghae lagi dan Yoona benar benar berlari dari koridor itu.

Donghae mengejarnya dan diikuti oleh Eunhyuk.

Sebelum benar benar keluar dari area Rumah Sakit, Donghae menarik pergelangan tangan Yoona tepat saat mereka berada didepan Rumah Sakit itu.

“Ku mohon, jangan lakukan ini” Donghae menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Tak ingin Yoona berlari darinya.

“Kita harus berpisah, Donghae. Inilah jalan untuk kita. Kembalilah pada Jessica” lagi lagi Yoona terisak dalam tangisannya. Merelakan Donghae untuk bersama Jessica.

Donghae melepaskan pelukannya, memaksa Yoona agar menatap wajahnya.

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” pertanyaan itu begitu menusuk Yoona. Bagaimana ia tidak mencintai Donghae lagi ketika cerita cintanya baru saja dimulai?

“Tentu saja aku masih mencintaimu, tapi Jessica lebih membutuhkanmu” jawaban Yoona tak kalah menusuk. Sama sama menusuk hati kedua insan itu.

“Apakah begitu sulit untuk kita bahagia?” untuk pertama kalinya Yoona melihat Donghae menangis didepannya. Bahkan lelaki itu juga terisak menyakitkan didepan Yoona.

“Kau tak boleh egois, kita tidak boleh. Jessica membutuhkanmu dan ia masih mencintaimu. Bukankah kau ingin kembali padanya?” ucapan Yoona seperti katana yang menghunus Donghae tepat di ulu hatinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau, kaulah yang kubutuhkan saat ini” Donghae berusaha keras menahan tangisannya, tapi sang Penguasa sekolah itu kali ini tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

“Seperti yang kukatakan. Kita saling membutuhkan namun tak lebih daripada Jessica membutuhkanmu. Buat ia bahagia diakhir hidupnya. Kali ini ku mohon, ini permintaan pertama dan terakhirku. Kembalilah pada Jessica”

“Selamat tinggal” Yoona memeluk Donghae sebagai salam perpisahan. Donghae juga membalas pelukan Yoona.

Tangisan tak lepas dari keduanya. Bahkan Eunhyuk yang menyaksikan perpisahan mereka juga ikut menangis.

Kenapa cerita Cinta kedua temannya itu begitu menyedihkan?

“Kau tau Yoona, Cinta bersamamu adalah hal yang menakjubkan”

-TAMAT-

Akhirnya selesai 😚😘😍

Ini cerita terinspirasi dari film komedi romancenya Daniel Padilla x Kathryn Bernardo yang berjudul ‘She’s Dating The Gangster’.

Banyak kesamaan alur maupun plotnya.

Author buat remakenya kerna itu film benar benar menyentuh hati author apalagi pas bagian akhirnya.

Dan muncullah niat buat bikin ff YoonHae versinya.

Dan ya,  sengaja gantung.

Ada rencana buat sequel, tapi dibuat juga kalo banyak yang minat hehehe.

Itu aja, maaf kalo banyak kesalahan kata dan typo.

Mahal kita ♥♥

Btw, itu bahasa Filipina hohoho
Salamat po!

Review mu semangatku ↖(^▽^)↗

That’s What I Want

Hey! Lee Donghae!” 

“Apa?”

“Bolehkah aku memelukmu?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena kau bau”

“A-apa?!”

Title: That’s What I Want
Author : Diva Moniva
Cast :
– Im Yoona
– Lee Donghae
Genre : Comedy, Romance, AU
Length : Oneshot
Rate : PG

‘Karena kau bau’
Tiga kata itu terus saja terngiang dikepala Yoona. Dia bau?
Lee Donghae mengatakan hal sepahit kopi hitam itu pada dirinya, kekasihnya sendiri?
Hell, dia itu kekasih atau bukan sih?
“Ibu, kau harus membelikan ku sabun, body lotion dan parfum yang wangi. Aku tidak mau memakai punyaku yang lama lagi. Aku harus benar benar wangi, Ibu” dahi Ibu Yoona mengernyit, apa maksud putrinya ini? Membuang yang lama? Bukankah itu boros? Bahkan semua barang barangnya itu baru dibeli dua minggu lalu dan dengan seenak jidatnya ia ingin membuangnya?
“Kenapa seperti itu? Kau tak boleh boros, sayang” Yoona hanya mengerucutkan bibirnya dengan masih berlendotan pada tubuh sang Ibu. Benar benar tipe wanita yang manja.
“Donghae mengatakan bahwa aku bau, dan ia tak mau memelukku” Ibu Yoona terkekeh mendengar perkataan polos putrinya. Hanya karena itu?
“Baiklah, sini Ibu yang akan memelukmu”
“Aku maunya dipeluk Donghae, Ibu”
“Hey, aku adalah Ibumu, kau tak mau dipeluk Ibumu ini?”
“Yang satu ini berbeda, Ibu tau itu” lagi lagi Ibu Yoona hanya terkekeh mendengar keluhan putri bungsunya itu.
“Itu hanya alibi, Donghae tidak benar benar serius mengatakan kau bau. Mungkin Ia punya alasan lain” Alasan apapun itu, Yoona tak mengerti. Ia hanya menelan bulat bulat apa yang Sehun katakan.
“Terserah, aku hanya ingin sabun, body lotion, dan parfum baru!” Oh, gadis manja dan juga cerewet. Yoona merajuk, melepaskan pelukannya dari sang Ibu dan berlalu.
“Minta belikan saja pada Donghae!” Yoona tersenyum tipis mendengar teriakan Ibunya, itu bukan ide yang buruk.
Baiklah, jika Ia bau, maka Lee Donghae yang akan membuatnya wangi!
•••

“Donghae-ya” Donghae menoleh kearah Yoona saat mendengar gadis itu memanggil namanya.
Mereka baru saja selesai makan siang diatap sekolah, Yoona membawa bekal untuk Donghae seperti yang biasa Ia lakukan.
“Ada apa? Katakan saja, bukankah biasanya kau langsung berkata tanpa berpikir?” Donghae itu tipikal pria yang terlalu jujur, tak memikirkan perasaan orang.
Tapi itu tak masalah, dalam hubungan mereka memang sering terjadi sesuatu yang sadis.
“Apa aku benar benar bau?” Dan Yoona benar benar tipikal gadis yang polos.
“Bodoh” What? Bodoh katanya? Ugh, kepala Yoona sudah terbakar sekarang.
“Aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu polos, kau tau” tentu saja Yoona tak terima dikatakan bodoh oleh Donghae. Ya walaupun kenyataannya Donghae lebih pintar dari Yoona, tapi tetap saja, peringkat Yoona pas dibawah Donghae yang tak pernah keluar dari 5 besar. Dan itu bukanlah kategori bodoh.
“Polos dan bodoh itu beda tipis, Yoong” Donghae menyubit pipi Yoona. Gadis itu memang sangat polos dan sebagian besarnya bodoh.
“Terserah, aku marah sekarang” Donghae kadang tak mengira, kenapa gadis berparas tomboy itu sangat manja dengannya.
“Baiklah, apa yang kau inginkan?” sebagai kekasih yang baik hati, Donghae mengalah untuk Yoona. Tak ingin gadis itu marah padanya.
“Peluk aku” baiklah, itu tak masalah bagi Donghae. Donghae memeluk Yoona lalu melepaskannya.
“Astaga Lee Donghae! Itu kurang dari 3 detik!” mata Yoona membulat sempurna, Donghae memelukmya hanya dalam waktu kurang dari 3 detik. Niat tidak sih?
“Yang penting sudah ku peluk” jika saja Donghae bukan kekasihnya, sudah pasti saat ini ia sedang menjadi sarapan pagi beruang kutub di Kutub Utara. Yoona sangat ingin menendang bokong Donghae.
“Cepat beresi bekalmu dan kita kembali ke kelas” Donghae itu bunglon, kadang dingin, cerewet, cuek, dan kadang terlalu perhatian. Apa ia akan memanggil Donghae dengan nama Pascal? Seperti nama bunglon milik Rapunzel di film disney land Tangled kesukaan Yoona.
•••

Panas terik itu tak mematahkan semangat Donghae dan teman-temannya untuk bertanding sepak bola. Terik matahari ditambah dengan teriakan supporter dipinggir lapangan sepak bola di sekolahnya.
Hari ini adalah pertandingan antar kelas disekolahnya, memperingati ulang tahun sekolah yang ke 37.
Donghae sesekali melirik kearah penonton, disitu ada Yoona namun kenapa ia enggan berteriak seperti teman-temannya yang seperti kekurangan air. Apa mereka tidak haus berteriak terus?
Apa Yoona sudah haus makanya tidak berteriak? Atau tenggorokannya sakit? Atau memang ia tidak mau mengeluarkan suara indah nan cempreng yang mampu memecahkan jendela kaca disekolah ini. Donghae tak tau kenapa kekasihnya itu hanya diam sambil mengamatinya saja.
Kesampingkan gadis yang terkadang melalukan hal idiot itu, ia harus fokus pada pertandingannya dan memena…
“Donghae awas!”
‘Bugh’
Im Yoona sialan! Ini karena memikirkan gadis bodoh itu terus sampai ia tak sadar bola datang padanya dan dengan indahnya mendarat dikepala berisi berlian miliknya.
“Kau tidak apa apa?” Eunhyuk bertanya pada Donghae, walau bagaimana pun ia yang menendang bola itu dan mengenai Donghae.
“Jika bola membentur kepalamu apa kau baik baik saja? Brengsek!” Donghae itu emosian, asal kau tau. Eunhyuk hanya cengengesan melihat Donghae.
“Maafkan aku, Donghae” Donghae hanya memutar bola matanya malas dan berlalu.
“Akan ku balas kau!” Eunhyuk yang mendengar pekikan Donghae itu hanya tertawa, dasar pendendam. Tapi memang seperti itulah Lee Donghae, sahabatnya.
Pertandingan itu selesai dan dimenangkan oleh tim Donghae.
Yoona yang melihat Donghae berjalan menujunya tentu saja berlari kearahnya, dengan tanpa malunya ia merentangkan tangannya untuk memeluk Donghae. As her wish.
Namun, tubuh Yoona berhenti saat tinggal selangkah lagi ia dapat memeluk Donghae.
Bagaimana tidak? Tangan Donghae menahan kepala Yoona yang hendak memeluknya, tak membiarkan Yoona memeluk tubuhnya.
“Kenapa kau menghalangiku?” cibir Yoona dengan tangan yang berusaha menggapai Donghae, namun apa daya, tangan Donghae menahannya.
“Badanku bau dan basah. Aku tak ingin kau tertular” tck! Apa Donghae pikir itu adalah Human Immunodeficiency Virus yang dapat menularkan kepada orang lain?
“Terserah” jika saja ada semangka didepannya, sudah pasti itu akan hancur hanya dengan tatapan mematikan Yoona. Ia sudah sangat kesal dengan tingkah kekasihnya ini.
“Ayo” Yoona hanya mengikuti Donghae dengan malas, tangannya ditarik oleh Donghae meninggalkan lapangan sepak bola itu.
Yoona menatap tubuh Donghae dari belakang dengan cermat, sebenarnya apasih yang ada didalam kepala dan isi pikiran Donghae itu?
Yoona sangat ingin tau bagaimana perasaan laki-laki itu.
Sering sekali Yoona tak mengerti yang ada pada diri Lee Donghae.
‘Bugh’
Damn! Itu karena Donghae berhenti tiba tiba hingga ia menabrak tubuh Donghae dan menimbulkan makian dalam hati Yoona.
“Jangan melamun, idiot” didalam hubungan mereka, makian lebih romantis daripada kata kata maupun panggilan manis.
•••

“Hei! Kwon Yuri! Kembalikan buku diary ku!” Sahabat memang tempat meceritakan curahan hati, namun diary itu privasi yang sahabatnya juga tak boleh tau.
Dan dengan seenak jidat Yuri, ia mengambil buku diary Yoona dari tasnya dan melarikannya.
Tentu saja Yoona meledak seperti bom atom ‘Little Boy’ yang menghancurkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945.
“Lee Donghae! Bantu aku menangkap tikus bedebah itu!” teriakan Yoona tak memberikan efek apapun pada Donghae, ia hanya diam dan memperhatikan Jinchuriki ekor 9 sedang mengejar Madara dengan keinginan akan membunuhnya.
“Hae! Kau menunggu Yoona?” Donghae menoleh saat Eunhyuk memanggilnya.
“Ya” jawabnya seadanya.
“Baiklah, aku duluan” Donghae hanya menggangguk melihat Eunhyuk yang keluar kelas untuk pulang.
Sedangkan ia harus menunggu Yoona menyelesaikan masalahnya dengan Yuri.
‘Bugh’
Suara itu membuat Donghae refleks menoleh ke sumber suara dan ia mendapati Yoona dengan kondisi mengenaskan.
Tubuh terbaring dilantai, rambut yang berserakan dan juga sepatunya yang copot dan terbang entah kemana.
Ingin sekali rasanya Donghae tertawa mati matian, namun melihat gadis itu tak kunjung bangkit membuatnya enggan untuk melepaskan tawanya.
“Kau baik baik saja?” Yoona hanya menggangguk dengan kepala masih tertunduk, Donghae membantunya untuk bangkit dan duduk. Namun Yoona masih menundukkan kepalanya.
Rasa khawatir mulai menyelimuti Donghae, apa gadis ini menangis?
“Kau… menangis?” Tidak ada jawaban dari Yoona, yang ada tubuhnya sedikit bergetar.
Yuri yang melihatnya mendekat, tanpa berkata apa apa. Apa sesakit itu hingga Yoona menangis?
“Sudahlah, jangan menangis” biasanya kata kata itu akan meredakan seseorang yang menangis, namun tidak untuk Im Yoona.
“Huuuaaaa!!!! Jangan bilang gitu! Aku makin menangis jadinya” tangisannya semakin menjadi, membuat Donghae membuang nafasnya kasar. Apa katanya? Semakin menangis hanya karena Donghae mengucapkan kata kata seperti itu? Dia memang aneh.
Sedangkan Yuri, sudah mati matian menahan tawa melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Apa apaan sih Yoona itu? Sangat idiot, tau!
“Baiklah, aku tak akan mengatakannya” Donghae sungguh tak ingin Yoona menangis, apa sangat sakit ya? Hingga Yoona menangis.
Tak tega melihat Yoona seperti itu, Donghae mengajukan diri memeluk Yoona. Mencoba untuk meredam tangisan Yoona dengan cara memeluk Yoona, hal yang selama ini gadis itu dambakan.
Tunggu, apa katanya? Memeluknya?
Oh, its’s miracle!
Yoona tertegun merasakan pelukan hangat Lee Donghae, senyaman ini. Dan tangisannya tiba tiba berhenti.
Seperti seseorang sedang menggunakan kekuatan ‘Time Pause’ otak Yoona berhenti berpikir. Apa ini? Donghae memeluknya karena ia menangis?
Tunggu, karena Yoona menangis? Sehun memeluknya?
Donghae memeluk Yoona karena Yoona menangis!
Otak tak seberapa Yoona mendapatkan jawabannya!
Jika ia menangis, Sehun akan memeluknya!
“Huaaahhhh!!! Sakit sekali Donghae-ya!” Dan terjadilah Yoona yang mendramatisir dengan memeluk Donghae erat.
“Lee Donghae!!!” Dan Yoona tak akan melepaskan pelukannya.
Kau telah ditipu, Lee Donghae.
•••

“Hari ini kita ke ruang praktikum” Yoona hanya mengangguk mengiyakan perkataan Yuri.
“Kau tau apa yang akan dibedah hari ini?” Yoona hanya menggeleng malas. Minggu lalu ia terlalu badmood untuk mendengar sang ketua kelas mengumumkan korban mana lagi yang akan mereka bunuh.
“Ku harap kau bisa menghadapinya” Yoona sedikit bingung mendengar perkataan Yuri, emangnya apa yang tak bisa ia hadapi dimuka bumi ini? Tyrex pun ia berani menghadapinya.
“Fejervarya cancrivora” Apa? Itu sedikit tak asing ditelinga Yoona.
Tentu saja itu nama latin dari hewan, namun apa?
“Terserah apapun itu, aku bisa. Asal bukan seekor amphibi” Yoona itu anti amphibi terutama spesies katak, kodok, atau semacamnya. Ia sungguh benci hewan berlendir itu.
“Sayangnya itu memang amphibi. Ditambah lagi, ia hidup disawah” hidup disawah? Maksudmu seekor kodok sawah? Yang kulitnya bergerigi, berwarna coklat dan memiliki wajah mengerikan itu?
Itu yang akan mereka bedah?
Terkutuklah 17 tahun hidupmu, Im Yoon Ah!
“Aku akan membolos praktek hari ini!” Teriak Yoona dan sudah siap berdiri ingin melarikan diri dari hukuman matinya yang akan dilaksakan sebentar lagi.
“Tak masalah hewan apa saja, asalkan tidak sejenis amphibi brengsek itu!” Yuri sudah terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Seekor kodok, huh? Seperti mau membedah monster saja.
“Kau tak bisa membolos, Yoon” terkutuklah Gru dan minion minionnya! Jika sudah Lee Donghae, mana bisa ia menolak.
“Tidak untuk kodok, Hae” suara Yoona mencicit pelan. Namun Donghae tetap menatapnya tegas tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Ku mohon” tentu saja tatapan anak anjing yang terlantar ia tunjukkan pada Donghae. Memohon dengan sangat agar tak menghadapi hukuman matinya itu.
“Ini untuk nilai semester, dan kau pikir aku akan membiarkan mu membolos dan tak mendapatkan nilai semester? It’s imposibble, Im YoonA!” Ya, Donghae benar. Ini untuk nilai semesternya.
Namun apa ia akan merelakan nyawanya untuk nilai semester?
“Kau taukan Donghae, aku itu kodokphobia” lagi lagi Yoona memelas. Agar Donghae menuruti permintaannya kali ini.
“Kau tau aku kan Yoona? Sekali tidak tetap tidak. Kau membolos atau aku tak akan pernah mau memelukmu atau menciummu” seperti petir yang menyambar Yoona, apakah Donghae berniat membunuhnya sekalipun ia sudah menjadi seorang arwah?
“Baiklah, mati untuk Lee Donghae” Yoona menyerah jika sudah itu ancaman dari Donghae.
Pernah sekali ia melanggarnya, dan apa? Donghae benar benar melakukannya. Saat itu Donghae mengatakan tak akan menyapanya seminggu, dan benar benar terjadi.
Yoona tak ingin itu terjadi lagi. Hidup tanpa pelukan Donghae?
Yoona tak akan bisa, lebih baik ia menghadapi kodok.
“Ini demimu, Donghae. Setelah itu kau harus memelukku satu harian penuh. Aku akan mengatakan pada Ibu, akhir pekan akan tidur dirumahmu. Dan bersiap saja, aku akan menjadi koala untukmu” Donghae memutar bola matanya malas, mau bagaimana lagi?
Ini demi kebaikan kekasihnya itu.
•••

Satu pekan telah berakhir, dan impian Yoona telah terwujud.
Setelah bangkit dari kematiannya kemarin, giliran janji Donghae yang ia tagih.
Sudah satu hari ini Yoona terus menempeli Donghae, benar benar seperti seekor anak Koala.

Menatap ribuan bintang dilangit adalah salah satu hal yang diimpikan Yoona. Ditambah melakukannya dengan Donghae. Yoona harus berterimakasih dengan kodok. Jika bukan karena kodok menjijikkan itu Yoona tak akan bermanjaan dengan Donghae seperti sekarang ini.
Memeluk Donghae sambil menatap langit yang dihiasi ribuan bintang.
Walaupun angin malam menghembus mereka yang berada dibalkon kamar Donghae, mereka tidak kedingingan karena saling menghangatkan.
Tak perlu ribuan bunga untuk Yoona, melakukan banyak hal dengan Donghae sudah termasuk kategori romantis menurut Yoona.
“Kenapa kau sangat ingin kupeluk?” Tanpa mengalihkan tatapannya dari langit, Donghae bertanya seperti itu pada Yoona. Kenapa Yoona lebih ingin dipeluk sedangkan diluar sana semua perempuan ingin dicium.
“Karena aku merasa sangat terlindungi didalam pelukan, dan itu sangat nyaman apalagi bersamamu Donghae” Donghae hanya mengangguk. Tidak Yoona namanya jika tidak aneh, benar?
“Tapi aku tidak merasakan itu saat memelukmu” Donghae ini terlalu jenius sehingga suatu waktu ia terlihat sangat idiot, seperti sekarang.
“Tentu saja, idiot. Karena yang akan melindungi itu dirimu. Mana mungkin kau merasa terlindungi saat memelukku. Karena tugasmu itu melindungi, bukan dilindungi. Kau benar benar idiot” dengan polosnya Donghae mengangguk mengerti. Yang dikatakan Yoona itu benar. Mana mungkin ia merasakan terlindungi jika ia yang melindungi.
“Tapi aku tidak nyaman” kata kata itu menusuk hati Yoona. Donghae tidak nyaman padanya?
Yoona bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukan Donghae.
Ia menatap Donghae dengan mata yang sudah berkaca kaca.
“Hey? Ada apa denganmu?” Melihat itu Donghae menjadi panik. Kenapa tiba tiba Yoona seperti itu?
“Jadi kau tidak nyaman denganku? Kalau begitu kenapa tidak akhiri saja?” Donghae terkekeh menedengarnya. Jadi ia kira Donghae tak suka dengannya?
“Kau benar benar bodoh. Yang kumaksud aku tak nyaman saat memelukmu itu karena kau terlalu kurus. Tidak enak dipeluk” Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.
“Jadi itu alasannya?” Donghae hanya mengangguk mengiyakan dan mengelus punggung Yoona dengan penuh kasih sayang.
“Jadi, naikkan berat badanmu. Maka aku akan sering memelukmu. Lihat ini? Aku seperti memeluk tengkorak” Yoona menggangguk berkali kali. Baiklah, jika untuk dipeluk Donghae setiap saat ia hanya perlu menaikkan berat badannya.
“Aku akan menaikkannya dan kau harus sering memelukku” itu adalah mutlak.
Hanya suatu masalah yang klise.
Yoona yang terobsesi untuk dipeluk dan alasan Donghae tak ingin memeluk Yoona.
Hanya perlu menaikkan berat badannya, lalu Donghae akan sering memeluknya.
Itu yang diinginkan Yoona.
TAMAT-

Thanks^^
Review mu adalah semangatku untuk menulis ff lagi^^