Hey! Lee Donghae!” 

“Apa?”

“Bolehkah aku memelukmu?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena kau bau”

“A-apa?!”

Title: That’s What I Want
Author : Diva Moniva
Cast :
– Im Yoona
– Lee Donghae
Genre : Comedy, Romance, AU
Length : Oneshot
Rate : PG

‘Karena kau bau’
Tiga kata itu terus saja terngiang dikepala Yoona. Dia bau?
Lee Donghae mengatakan hal sepahit kopi hitam itu pada dirinya, kekasihnya sendiri?
Hell, dia itu kekasih atau bukan sih?
“Ibu, kau harus membelikan ku sabun, body lotion dan parfum yang wangi. Aku tidak mau memakai punyaku yang lama lagi. Aku harus benar benar wangi, Ibu” dahi Ibu Yoona mengernyit, apa maksud putrinya ini? Membuang yang lama? Bukankah itu boros? Bahkan semua barang barangnya itu baru dibeli dua minggu lalu dan dengan seenak jidatnya ia ingin membuangnya?
“Kenapa seperti itu? Kau tak boleh boros, sayang” Yoona hanya mengerucutkan bibirnya dengan masih berlendotan pada tubuh sang Ibu. Benar benar tipe wanita yang manja.
“Donghae mengatakan bahwa aku bau, dan ia tak mau memelukku” Ibu Yoona terkekeh mendengar perkataan polos putrinya. Hanya karena itu?
“Baiklah, sini Ibu yang akan memelukmu”
“Aku maunya dipeluk Donghae, Ibu”
“Hey, aku adalah Ibumu, kau tak mau dipeluk Ibumu ini?”
“Yang satu ini berbeda, Ibu tau itu” lagi lagi Ibu Yoona hanya terkekeh mendengar keluhan putri bungsunya itu.
“Itu hanya alibi, Donghae tidak benar benar serius mengatakan kau bau. Mungkin Ia punya alasan lain” Alasan apapun itu, Yoona tak mengerti. Ia hanya menelan bulat bulat apa yang Sehun katakan.
“Terserah, aku hanya ingin sabun, body lotion, dan parfum baru!” Oh, gadis manja dan juga cerewet. Yoona merajuk, melepaskan pelukannya dari sang Ibu dan berlalu.
“Minta belikan saja pada Donghae!” Yoona tersenyum tipis mendengar teriakan Ibunya, itu bukan ide yang buruk.
Baiklah, jika Ia bau, maka Lee Donghae yang akan membuatnya wangi!
•••

“Donghae-ya” Donghae menoleh kearah Yoona saat mendengar gadis itu memanggil namanya.
Mereka baru saja selesai makan siang diatap sekolah, Yoona membawa bekal untuk Donghae seperti yang biasa Ia lakukan.
“Ada apa? Katakan saja, bukankah biasanya kau langsung berkata tanpa berpikir?” Donghae itu tipikal pria yang terlalu jujur, tak memikirkan perasaan orang.
Tapi itu tak masalah, dalam hubungan mereka memang sering terjadi sesuatu yang sadis.
“Apa aku benar benar bau?” Dan Yoona benar benar tipikal gadis yang polos.
“Bodoh” What? Bodoh katanya? Ugh, kepala Yoona sudah terbakar sekarang.
“Aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu polos, kau tau” tentu saja Yoona tak terima dikatakan bodoh oleh Donghae. Ya walaupun kenyataannya Donghae lebih pintar dari Yoona, tapi tetap saja, peringkat Yoona pas dibawah Donghae yang tak pernah keluar dari 5 besar. Dan itu bukanlah kategori bodoh.
“Polos dan bodoh itu beda tipis, Yoong” Donghae menyubit pipi Yoona. Gadis itu memang sangat polos dan sebagian besarnya bodoh.
“Terserah, aku marah sekarang” Donghae kadang tak mengira, kenapa gadis berparas tomboy itu sangat manja dengannya.
“Baiklah, apa yang kau inginkan?” sebagai kekasih yang baik hati, Donghae mengalah untuk Yoona. Tak ingin gadis itu marah padanya.
“Peluk aku” baiklah, itu tak masalah bagi Donghae. Donghae memeluk Yoona lalu melepaskannya.
“Astaga Lee Donghae! Itu kurang dari 3 detik!” mata Yoona membulat sempurna, Donghae memelukmya hanya dalam waktu kurang dari 3 detik. Niat tidak sih?
“Yang penting sudah ku peluk” jika saja Donghae bukan kekasihnya, sudah pasti saat ini ia sedang menjadi sarapan pagi beruang kutub di Kutub Utara. Yoona sangat ingin menendang bokong Donghae.
“Cepat beresi bekalmu dan kita kembali ke kelas” Donghae itu bunglon, kadang dingin, cerewet, cuek, dan kadang terlalu perhatian. Apa ia akan memanggil Donghae dengan nama Pascal? Seperti nama bunglon milik Rapunzel di film disney land Tangled kesukaan Yoona.
•••

Panas terik itu tak mematahkan semangat Donghae dan teman-temannya untuk bertanding sepak bola. Terik matahari ditambah dengan teriakan supporter dipinggir lapangan sepak bola di sekolahnya.
Hari ini adalah pertandingan antar kelas disekolahnya, memperingati ulang tahun sekolah yang ke 37.
Donghae sesekali melirik kearah penonton, disitu ada Yoona namun kenapa ia enggan berteriak seperti teman-temannya yang seperti kekurangan air. Apa mereka tidak haus berteriak terus?
Apa Yoona sudah haus makanya tidak berteriak? Atau tenggorokannya sakit? Atau memang ia tidak mau mengeluarkan suara indah nan cempreng yang mampu memecahkan jendela kaca disekolah ini. Donghae tak tau kenapa kekasihnya itu hanya diam sambil mengamatinya saja.
Kesampingkan gadis yang terkadang melalukan hal idiot itu, ia harus fokus pada pertandingannya dan memena…
“Donghae awas!”
‘Bugh’
Im Yoona sialan! Ini karena memikirkan gadis bodoh itu terus sampai ia tak sadar bola datang padanya dan dengan indahnya mendarat dikepala berisi berlian miliknya.
“Kau tidak apa apa?” Eunhyuk bertanya pada Donghae, walau bagaimana pun ia yang menendang bola itu dan mengenai Donghae.
“Jika bola membentur kepalamu apa kau baik baik saja? Brengsek!” Donghae itu emosian, asal kau tau. Eunhyuk hanya cengengesan melihat Donghae.
“Maafkan aku, Donghae” Donghae hanya memutar bola matanya malas dan berlalu.
“Akan ku balas kau!” Eunhyuk yang mendengar pekikan Donghae itu hanya tertawa, dasar pendendam. Tapi memang seperti itulah Lee Donghae, sahabatnya.
Pertandingan itu selesai dan dimenangkan oleh tim Donghae.
Yoona yang melihat Donghae berjalan menujunya tentu saja berlari kearahnya, dengan tanpa malunya ia merentangkan tangannya untuk memeluk Donghae. As her wish.
Namun, tubuh Yoona berhenti saat tinggal selangkah lagi ia dapat memeluk Donghae.
Bagaimana tidak? Tangan Donghae menahan kepala Yoona yang hendak memeluknya, tak membiarkan Yoona memeluk tubuhnya.
“Kenapa kau menghalangiku?” cibir Yoona dengan tangan yang berusaha menggapai Donghae, namun apa daya, tangan Donghae menahannya.
“Badanku bau dan basah. Aku tak ingin kau tertular” tck! Apa Donghae pikir itu adalah Human Immunodeficiency Virus yang dapat menularkan kepada orang lain?
“Terserah” jika saja ada semangka didepannya, sudah pasti itu akan hancur hanya dengan tatapan mematikan Yoona. Ia sudah sangat kesal dengan tingkah kekasihnya ini.
“Ayo” Yoona hanya mengikuti Donghae dengan malas, tangannya ditarik oleh Donghae meninggalkan lapangan sepak bola itu.
Yoona menatap tubuh Donghae dari belakang dengan cermat, sebenarnya apasih yang ada didalam kepala dan isi pikiran Donghae itu?
Yoona sangat ingin tau bagaimana perasaan laki-laki itu.
Sering sekali Yoona tak mengerti yang ada pada diri Lee Donghae.
‘Bugh’
Damn! Itu karena Donghae berhenti tiba tiba hingga ia menabrak tubuh Donghae dan menimbulkan makian dalam hati Yoona.
“Jangan melamun, idiot” didalam hubungan mereka, makian lebih romantis daripada kata kata maupun panggilan manis.
•••

“Hei! Kwon Yuri! Kembalikan buku diary ku!” Sahabat memang tempat meceritakan curahan hati, namun diary itu privasi yang sahabatnya juga tak boleh tau.
Dan dengan seenak jidat Yuri, ia mengambil buku diary Yoona dari tasnya dan melarikannya.
Tentu saja Yoona meledak seperti bom atom ‘Little Boy’ yang menghancurkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945.
“Lee Donghae! Bantu aku menangkap tikus bedebah itu!” teriakan Yoona tak memberikan efek apapun pada Donghae, ia hanya diam dan memperhatikan Jinchuriki ekor 9 sedang mengejar Madara dengan keinginan akan membunuhnya.
“Hae! Kau menunggu Yoona?” Donghae menoleh saat Eunhyuk memanggilnya.
“Ya” jawabnya seadanya.
“Baiklah, aku duluan” Donghae hanya menggangguk melihat Eunhyuk yang keluar kelas untuk pulang.
Sedangkan ia harus menunggu Yoona menyelesaikan masalahnya dengan Yuri.
‘Bugh’
Suara itu membuat Donghae refleks menoleh ke sumber suara dan ia mendapati Yoona dengan kondisi mengenaskan.
Tubuh terbaring dilantai, rambut yang berserakan dan juga sepatunya yang copot dan terbang entah kemana.
Ingin sekali rasanya Donghae tertawa mati matian, namun melihat gadis itu tak kunjung bangkit membuatnya enggan untuk melepaskan tawanya.
“Kau baik baik saja?” Yoona hanya menggangguk dengan kepala masih tertunduk, Donghae membantunya untuk bangkit dan duduk. Namun Yoona masih menundukkan kepalanya.
Rasa khawatir mulai menyelimuti Donghae, apa gadis ini menangis?
“Kau… menangis?” Tidak ada jawaban dari Yoona, yang ada tubuhnya sedikit bergetar.
Yuri yang melihatnya mendekat, tanpa berkata apa apa. Apa sesakit itu hingga Yoona menangis?
“Sudahlah, jangan menangis” biasanya kata kata itu akan meredakan seseorang yang menangis, namun tidak untuk Im Yoona.
“Huuuaaaa!!!! Jangan bilang gitu! Aku makin menangis jadinya” tangisannya semakin menjadi, membuat Donghae membuang nafasnya kasar. Apa katanya? Semakin menangis hanya karena Donghae mengucapkan kata kata seperti itu? Dia memang aneh.
Sedangkan Yuri, sudah mati matian menahan tawa melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Apa apaan sih Yoona itu? Sangat idiot, tau!
“Baiklah, aku tak akan mengatakannya” Donghae sungguh tak ingin Yoona menangis, apa sangat sakit ya? Hingga Yoona menangis.
Tak tega melihat Yoona seperti itu, Donghae mengajukan diri memeluk Yoona. Mencoba untuk meredam tangisan Yoona dengan cara memeluk Yoona, hal yang selama ini gadis itu dambakan.
Tunggu, apa katanya? Memeluknya?
Oh, its’s miracle!
Yoona tertegun merasakan pelukan hangat Lee Donghae, senyaman ini. Dan tangisannya tiba tiba berhenti.
Seperti seseorang sedang menggunakan kekuatan ‘Time Pause’ otak Yoona berhenti berpikir. Apa ini? Donghae memeluknya karena ia menangis?
Tunggu, karena Yoona menangis? Sehun memeluknya?
Donghae memeluk Yoona karena Yoona menangis!
Otak tak seberapa Yoona mendapatkan jawabannya!
Jika ia menangis, Sehun akan memeluknya!
“Huaaahhhh!!! Sakit sekali Donghae-ya!” Dan terjadilah Yoona yang mendramatisir dengan memeluk Donghae erat.
“Lee Donghae!!!” Dan Yoona tak akan melepaskan pelukannya.
Kau telah ditipu, Lee Donghae.
•••

“Hari ini kita ke ruang praktikum” Yoona hanya mengangguk mengiyakan perkataan Yuri.
“Kau tau apa yang akan dibedah hari ini?” Yoona hanya menggeleng malas. Minggu lalu ia terlalu badmood untuk mendengar sang ketua kelas mengumumkan korban mana lagi yang akan mereka bunuh.
“Ku harap kau bisa menghadapinya” Yoona sedikit bingung mendengar perkataan Yuri, emangnya apa yang tak bisa ia hadapi dimuka bumi ini? Tyrex pun ia berani menghadapinya.
“Fejervarya cancrivora” Apa? Itu sedikit tak asing ditelinga Yoona.
Tentu saja itu nama latin dari hewan, namun apa?
“Terserah apapun itu, aku bisa. Asal bukan seekor amphibi” Yoona itu anti amphibi terutama spesies katak, kodok, atau semacamnya. Ia sungguh benci hewan berlendir itu.
“Sayangnya itu memang amphibi. Ditambah lagi, ia hidup disawah” hidup disawah? Maksudmu seekor kodok sawah? Yang kulitnya bergerigi, berwarna coklat dan memiliki wajah mengerikan itu?
Itu yang akan mereka bedah?
Terkutuklah 17 tahun hidupmu, Im Yoon Ah!
“Aku akan membolos praktek hari ini!” Teriak Yoona dan sudah siap berdiri ingin melarikan diri dari hukuman matinya yang akan dilaksakan sebentar lagi.
“Tak masalah hewan apa saja, asalkan tidak sejenis amphibi brengsek itu!” Yuri sudah terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Seekor kodok, huh? Seperti mau membedah monster saja.
“Kau tak bisa membolos, Yoon” terkutuklah Gru dan minion minionnya! Jika sudah Lee Donghae, mana bisa ia menolak.
“Tidak untuk kodok, Hae” suara Yoona mencicit pelan. Namun Donghae tetap menatapnya tegas tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Ku mohon” tentu saja tatapan anak anjing yang terlantar ia tunjukkan pada Donghae. Memohon dengan sangat agar tak menghadapi hukuman matinya itu.
“Ini untuk nilai semester, dan kau pikir aku akan membiarkan mu membolos dan tak mendapatkan nilai semester? It’s imposibble, Im YoonA!” Ya, Donghae benar. Ini untuk nilai semesternya.
Namun apa ia akan merelakan nyawanya untuk nilai semester?
“Kau taukan Donghae, aku itu kodokphobia” lagi lagi Yoona memelas. Agar Donghae menuruti permintaannya kali ini.
“Kau tau aku kan Yoona? Sekali tidak tetap tidak. Kau membolos atau aku tak akan pernah mau memelukmu atau menciummu” seperti petir yang menyambar Yoona, apakah Donghae berniat membunuhnya sekalipun ia sudah menjadi seorang arwah?
“Baiklah, mati untuk Lee Donghae” Yoona menyerah jika sudah itu ancaman dari Donghae.
Pernah sekali ia melanggarnya, dan apa? Donghae benar benar melakukannya. Saat itu Donghae mengatakan tak akan menyapanya seminggu, dan benar benar terjadi.
Yoona tak ingin itu terjadi lagi. Hidup tanpa pelukan Donghae?
Yoona tak akan bisa, lebih baik ia menghadapi kodok.
“Ini demimu, Donghae. Setelah itu kau harus memelukku satu harian penuh. Aku akan mengatakan pada Ibu, akhir pekan akan tidur dirumahmu. Dan bersiap saja, aku akan menjadi koala untukmu” Donghae memutar bola matanya malas, mau bagaimana lagi?
Ini demi kebaikan kekasihnya itu.
•••

Satu pekan telah berakhir, dan impian Yoona telah terwujud.
Setelah bangkit dari kematiannya kemarin, giliran janji Donghae yang ia tagih.
Sudah satu hari ini Yoona terus menempeli Donghae, benar benar seperti seekor anak Koala.

Menatap ribuan bintang dilangit adalah salah satu hal yang diimpikan Yoona. Ditambah melakukannya dengan Donghae. Yoona harus berterimakasih dengan kodok. Jika bukan karena kodok menjijikkan itu Yoona tak akan bermanjaan dengan Donghae seperti sekarang ini.
Memeluk Donghae sambil menatap langit yang dihiasi ribuan bintang.
Walaupun angin malam menghembus mereka yang berada dibalkon kamar Donghae, mereka tidak kedingingan karena saling menghangatkan.
Tak perlu ribuan bunga untuk Yoona, melakukan banyak hal dengan Donghae sudah termasuk kategori romantis menurut Yoona.
“Kenapa kau sangat ingin kupeluk?” Tanpa mengalihkan tatapannya dari langit, Donghae bertanya seperti itu pada Yoona. Kenapa Yoona lebih ingin dipeluk sedangkan diluar sana semua perempuan ingin dicium.
“Karena aku merasa sangat terlindungi didalam pelukan, dan itu sangat nyaman apalagi bersamamu Donghae” Donghae hanya mengangguk. Tidak Yoona namanya jika tidak aneh, benar?
“Tapi aku tidak merasakan itu saat memelukmu” Donghae ini terlalu jenius sehingga suatu waktu ia terlihat sangat idiot, seperti sekarang.
“Tentu saja, idiot. Karena yang akan melindungi itu dirimu. Mana mungkin kau merasa terlindungi saat memelukku. Karena tugasmu itu melindungi, bukan dilindungi. Kau benar benar idiot” dengan polosnya Donghae mengangguk mengerti. Yang dikatakan Yoona itu benar. Mana mungkin ia merasakan terlindungi jika ia yang melindungi.
“Tapi aku tidak nyaman” kata kata itu menusuk hati Yoona. Donghae tidak nyaman padanya?
Yoona bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukan Donghae.
Ia menatap Donghae dengan mata yang sudah berkaca kaca.
“Hey? Ada apa denganmu?” Melihat itu Donghae menjadi panik. Kenapa tiba tiba Yoona seperti itu?
“Jadi kau tidak nyaman denganku? Kalau begitu kenapa tidak akhiri saja?” Donghae terkekeh menedengarnya. Jadi ia kira Donghae tak suka dengannya?
“Kau benar benar bodoh. Yang kumaksud aku tak nyaman saat memelukmu itu karena kau terlalu kurus. Tidak enak dipeluk” Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.
“Jadi itu alasannya?” Donghae hanya mengangguk mengiyakan dan mengelus punggung Yoona dengan penuh kasih sayang.
“Jadi, naikkan berat badanmu. Maka aku akan sering memelukmu. Lihat ini? Aku seperti memeluk tengkorak” Yoona menggangguk berkali kali. Baiklah, jika untuk dipeluk Donghae setiap saat ia hanya perlu menaikkan berat badannya.
“Aku akan menaikkannya dan kau harus sering memelukku” itu adalah mutlak.
Hanya suatu masalah yang klise.
Yoona yang terobsesi untuk dipeluk dan alasan Donghae tak ingin memeluk Yoona.
Hanya perlu menaikkan berat badannya, lalu Donghae akan sering memeluknya.
Itu yang diinginkan Yoona.
TAMAT-

Thanks^^
Review mu adalah semangatku untuk menulis ff lagi^^

Iklan

3 thoughts on “That’s What I Want

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s