Diproteksi: Somewhere Only We Know [Chapter 1]

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan

Home

By. Vylord 

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Romance

Length : Fluff

Rate : T

Cover by. BubbleBaek27 Art 

.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil hitam itu melaju tidak terlalu cepat membelah jalanan. 

Tidak peduli dengan langit yang semakin menghitam, jalanan di Ibukota Korea Selatan itu tampak masih ramai dengan mobil mobil yang masih berlalu lalang. 

Pukul 2.41 dini hari, Yoona semakin mempercepat mobilnya. 

Yang ia inginkan hanya sampai ke apartment miliknya dan istirahat. Itu saja. 

Taeyeon sudah mencegah nya pulang tadi, mengingat ini sudah hampir pagi. 

Tapi Yoona bersikeras untuk kembali ke apartementnya, bukan karena ia tidak nyaman bermalaman di dorm girlgroup asal SM Entertainment itu, ia hanya merindukan ranjangnya dan suasan kamarnya. 

Yoona rasa hanya kamar dan ranjang miliknya itulah yang mampu menghilangkan segala penat tubuhnya, dan hatinya? Mungkin. 

Maka dari itu Yoona rela mengemudi sendirian saat hari sudah tidak lagi tengah malam. 

Mengalahkan rasa takutnya karena sendirian berkemudi dimalam menjelang pagi itu.

Yoona berhenti ketika melihat lampu merah menyala. 

Pikirannya melalang buana ke 2,5 tahun yang lalu. 

Dirinya pernah bersikeras juga ingin pulang dijam yang hampir sama. 

Ia bersikeras pulang ke apartmennnya, setelah sebelumnya lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin bicara saat itu juga. 

Mendengar suara penuh keputus-asaan lelaki itu, tanpa pikir panjang Yoona pergi meninggalkan para member Soshi yang mencegahnya mengingat hari sudah sangat larut. 

Yoona sampai diapartment miliknya, dan mendapatkan lelaki itu dengan keadaan yang mengenaskan. Berantakan. 

Beberapa botol minuman alkohol tergeletak mengenaskan dilantai, padahal Yoona tau bahwa laki laki itu sama sekali tidak bisa minum. 

Bau tubuhnya menyengat, kantung matanya terlihat jelas, bahkan pakaian lelaki itu sangat berantakan. 

Tapi lelaki itu masih bisa bangkit, menarik keras bahu Yoona. 

Menatap dalam kemata Yoona dengan tatapan penuh kesakitan dan kecewa. 

“Hentikan sandiwara kalian atau kita benar benar berakhir?” hati Yoona hancur saat itu juga. 

Yoona juga tak ingin melakukan sandiwara itu, tapi itu semua demi membernya dan grupnya. 

Agensi memberikan perintah, ia tak bisa apa apa.

“Kupikir kau mengerti” Yoona kira ia akan mengerti. Ternyata tidak. 

“Aku sudah sampai pada garis batasku. Kukira aku bisa bertahan, tapi seakan akan kau mengiyakan perkataan mereka. Yoona, bahkan satu teman mu pun tak tau hubungan kita. Baik saja jika itu dirimu, tapi tidak denganku. Aku tau, kau menikmati sandiwara mu” seketika badan Yoona menegang. 

Ia ketauan. Bahwa dirinya sudah jatuh pada permainan agensi, bahwa ia sudah jatuh pada peran yang ia lakukan dengan lelaki lain. 

Yoona mencintai lelaki yang ada dihadapannya itu, namun hatinya tak bisa berbohong bahwa ia mulai suka pada lelaki yang menjadi lawan sandiwaranya. 

Yoona tak mau kehilangan keduanya. 

“Aku atau Lee Seung Gi?” Yoona memejamkan matanya erat. 

Sudah saatnya ia menerima resiko yang ia lakukan. 

Resiko dari dirinya yang menikmati sandiwaranya dengan Lee Seung Gi. 

Resiko ia telah berselingkuh dengan kekasih publik nya.

Lelaki itu meninggalkan Yoona tanpa sepatah katapun. Dan sejak saat itu ia tak pernah berbicara pada lelaki itu, bahkan tak ada kata perpisahan. 

Dan saat lelaki itu berangkat militer pun Yoona tak mengatakan apapun. 

Yoona kembali melajukan mobilnya ketika warna hijau menyala dilampu lalu lintas. 

Setelah kejadian itu, Yoona sadar bahwa sandiwara tetaplah sandiwara. 

Yang Yoona sesali hanya kenapa sandiwara itu berakhir ketika lelaki yang terpenting didalam hidupnya sudah mengaku kalah dan pergi. 

Mobil hitam Yoona memasuki gedung mewah dimana apartment nya berada, ia sudah sampai. 

Tak perlu waktu sangat lama, Yoona sudah sampai didepan apartment miliknya. 

Apartment yang menurutnya sangat nyaman karena semua kenangan indah maupun buruk ada didalamnya. 

Yoona membuka pintunya, dan memasukinya begitu saja. 

Tujuannya adalah pulang dan beristirahat. Apalagi?

Yoona memasuki kamarnya namun langkahnya terhenti diambang pintu. 

Jantungnya berdegup kuat membuat tubuhnya sedikit bergetar. 

Kerinduan itu tak bisa ia tahan agar tidak meledak. 

Harusnya lelaki itu bangun dan bertanya ‘Ahh kau sudah pulang?’ seperti didrama drama yang biasa ia tonton. Tapi tidak, lelaki itu benar benar seperti idiot. 

Tanpa menunggu apa apa,  Yoona berlari dan melompat keatas ranjangnya, menimpahi lelaki yang tidur diatas ranjangnya itu. 

Air mata berbagai ekspresi itu tak bisa Yoona bendung, wajahnya sudah basah akibat air matanya. 

Lelaki itu tentu saja terbangun dari mimpi indahnya karena tiba tiba merasa sesuatu yang berat menimpah tubuhnya. 

Senyuman di bibirnya terukir, senyuman yang semua orang tau akan membuat wanita mana saja yang melihatnya akan pingsan. 

Lelaki itu membalas pelukan Yoona, mengelus rambut selembut sutra milik Yoona penuh kasih sayang. 

Membiarkan kaos putihnya basah akibat tangisan Yoona yang tak kunjung berhenti. 

“Aku pulang. Maaf jika aku sangat terlambat”

“Kau benar benar brengsek, Lee Donghae!”

-SELESAI-

Aku kembali dengan sepotong ff ku. 

Cuma berisi satu scene dengan kegajean seperti biasa. 

Author cuma pengen nulis ff tanpa modal idel apapun 😂

Dan terciptalah ff ini yang selesai dalam kurang satu jam. 

Maaf karena banyak typo atau alur cerita yang ngebosenin, ga tentu arah, dan ga seru. 

Thanks uda baca, thanks buat review. 

I love you 😚😘

Great Love 

By. Vylord
 Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Family, Brothership, Romance 

Length : Sequel 

Rate : T

Cover by. BubbleBaek27 Art 



Before Story : Fake or Real

Kembali ke tempat asal setelah 17 tahun membuat kenangan lama kembali kembali terputar. 

Seperti sebuah kaset yang menceritakan awal kisah sampai tamat. 

Menghirup udara, melihat pemandangan awan di langit Seoul membuat wanita yang berkepala tiga itu bernostalgia ke 17 tahun yang lalu. 

Saat terakhir kali dirinya pindah dari Negeri Gingseng itu ke Negeri Paman Sam. 

Senyumannya tersungging mengingat kenangan manis namun menyakitkan itu. 

Langkah yang sempat terhenti itu ia lanjutkan, memasuki kembali era 17 tahun yang lalu. Tidak, wanita itu tidak kembali ke masa lalu, hanya saja kembali ke Seoul serasa bahwa ia kembali ke 17 tahun yang lalu. 

Yoona tak bisa mengelak bahwa Donghae lah yang pertama kali ia pikirkan saat ia kembali menginjak tanah Korea Selatan itu. 

Bagaimana kabar pria itu?  Apa ia sudah menikah? Apa Jessica adalah istrinya? Lalu bagaimana anaknya?  Apakah Donghae bahagia?  

Pertanyaan pertanyaan itu menumpuk di pikiran Yoona. Sungguh, Yoona sangat ingin menyingkirkan pikiran itu. Namun, pertanyaan pertanyaan itu tak bisa musnah dari pikiran Yoona. 

Ia kembali ke Seoul bukan untuk Lee Donghae. 

Hanya merindukan Seoul dan setelah itu kembali ke Amerika. Itu saja. 

‘Brugh’ tubuh Yoona sedikit oleng namun kakinya masih bisa menahan walaupun tubuhnya mundur satu langkah. 

“Anak zaman sekarang memang tidak tau sopan santun” cibir Yoona menatap anak lelaki yang menabraknya tadi tanpa mengucapkan kata maaf sedikitpun dan berlalu begitu saja, seperti tidak terjadi apa apa. 

Jika Yoona memiliki anak, ia pasti akan mengajarkan anaknya sopan santun. Tentu saja. 

•••

“Hey!  Sehun hyung!  Kenapa baru mengangkat telepon ku? Aku sudah ada di Incheon, dan sialnya foto yang kau kirim itu hilang!” Jeno menggerutu kesal pada ponselnya, berbicara dengan seseorang disebrang telepon genggamnya. 

“Kau ceroboh, itu sudah aku kirim. Lihatlah. Penerbangannya sudah mendarat di sana” Sehun membalas gerutuan Jeno. Ini bukan salah Sehun yang lama mengangkat telepon Jeno, ini adalah salah Jeno karena kecerobohan Jeno yang menghilangkan foto seseorang yang sangat sulit Sehun cari. 

“Hyung!” ugh, Sehun sungguh sangat ingin menendang bokong Jeno karena berteriak padahal teleponnya masih tersambung. 

“Bisakah kau lebih tenang dan tidak berteriak?” Sehun seperti sedang kena karma. Karena dulu ialah yang suka membuat orang lain kesal, dan sekarang ini ia dibuat kesal oleh adik sepupu temannya. 

“Hyung!  Aku melihat wanita ini tadi!  Aku menabrak tubuhnya tadi! Sial!” Jeno memutar tubuhnya dan berlari kembali ketempat ia menabrak seorang wanita. 

Jeno merutuki dirinya yang tak mengenal wanita itu. 

Pandangan Jeno mengelilingi Bandara Incheon itu, tapi apa yang ia cari tak kunjung ia temukan. 

Jeno berlari keluar dari Bandara Incheon tanpa peduli ponselnya yang masih terhubung dengan Sehun. 

Jeno semakin merutuki dirinya karena ia juga juga tak mendapati wanita itu diluar Bandara Incheon. 

Sial! Ia sudah menunggu dua tahun untuk bertemu dengan wanita itu. 

Dan dengan mudahnya wanita itu lolos padahal tinggal selangkah lagi untuk Jeno bertemu dengannya. Nyaris! 

Jeno mendekatkan ponsel miliknya ke telinganya, ia sudah kehilangan wanita itu. 

“Hyung, aku kehilangan dia” 

•••

“Yoona, kau tak perlu membantuku. Istirahatlah, kau baru saja sampai disini” Yoona tidak mengacuhkan ucapan Bibinya dan bersikeras untuk membantu bibinya membuat kimchi. Melihat sang Bibi yang sudah berumur lebih dari 50 Tahun, mana tega ia membiarkan wanita tua itu bekerja sendirian. 

“Aku bukan anak muda lagi, Bibi. Jangan memanjakan aku” mendengar hal itu membuat Bibi Yoona dan Yoona tertawa. 

“Kau belum menikah diumur mu yang sudah menginjak 35 tahun, itu yang membuatku merasa kau masih anak muda. Ditambah wajahmu yang masih sama seperti kau berusia 25 tahun, Yoona” Yoona tertawa kecil mendengar ucapan Bibinya yang sepenuhnya benar. 

“Apa kau tak ingin menikah?” pertanyaan Bibi Yoona membuat ia tersenyum tanpa arti. Yoona rasa menikah bukanlah hal yang penting. Dan entah kenapa, sesuatu didalam hati Yoona tak menginginkan sebuah pernihakan. Padahal ia menyukai anak kecil. 

“Tidak bibi” jawaban Yoona membuat Sang Bibi sedikit bingung. Disaat semua perempuan dimuka Bumi ini memimpikan pernikahan dan hidup dengan lelaki yang ia cintai, kenapa keponakan perempuannya itu tak ingin menikah? 

“Apa ada seseorang yang kau tunggu?” Yoona tertegun mendengar pertanyaan Bibinya. 

Hanya menjawab ada atau tidak, Yoona sedikit ragu. 

Benarkah ia menunggu seseorang?  

“Kau tau Yoona, kau tidak boleh terus menunggu seseorang. Waktu terus berjalan, kau tak seharusnya berdiam ditempat dan menunggu orang itu datang. Bagaimana jika dia tidak mencarimu?  Bagaimana jika dia sudah menemukan tempat untuk ia pulang?  Aku tau banyak sekali lelaki di Amerika yang mengejar dirimu. Kau itu cantik, awet muda dan tentu saja pintar. Bahkan jika kau mengedipkan matamu sekali saja, ribuan lelaki akan jatuh pada pesonamu” perkataan Bibi Yoona berhasil mengetuk pintu hatinya, walaupun tidak terbuka, ada secuil pikirannya yang mengarah kesana.

Yoona juga bingung, apa yang ia tunggu? 

Padahal saat ia masih duduk di bangku SMA dulu mimpinya adalah menikah dan hidup bahagia serta memiliki anak yang banyak. 

Yoona sudah lupa kapan terakhir kali ia memimpikan hal hal seperti itu. 

“Ku harap kau tidak menunggu Donghae. Karena yang ku tau, ia sudah menikah. Bahkan sudah memiliki anak” lagi lagi Yoona terdiam. Tangannya berhenti bekerja membuat kimchi. 

“Siapa yang menunggunya? Kau ada ada saja Bibi” elak Yoona tertawa canggung. Ia tak menunggu Dongahe, sangkal Yoona pada dirinya sendiri. 

“Bisa sajakan? Mengingat cerita Cinta kalian yang berakhir tidak baik” tentu saja Bibi Yoona tau bagaimana kisah antara Yoona dan Donghae. 

Karena kepada Bibinyalah dulu ia selalu menceritakan si Preman Sekolah mereka itu. 

“Kami berakhir dengan baik, bibi” menurut Yoona perpisahan saat itu baik baik saja. Ia tidak bertengkar dengan Donghae kan?  Bahkan sekata makian pun tidak ada saat mereka berpisah dulu. 

“Apakah berpisah karena orang lain itu disebut berakhir dengan baik?” Yoona menelan ludahnya dengan susah payah. Ayolah, ia sudah menua. Jangan buat ia patah hati seperti anak anak muda. 

“Sudahlah Bibi, itu hanya masa lalu. Kita tak perlu membahasnya” Yoona mengelak dan kembali menyibuki dirinya membuat kimchi. 

“Jelas sekali bahwa kau masih menunggunya” 

Benarkah itu, Bibi? 

••• 

Yoona masih menyangkal bahwa ia tidak merindukan Donghae, namun apa yang ia lakukan sangat berbanding terbalik dengan sangkalannya. 

Jika ia tidak merindukan Donghae, kenapa ia ia berkunjung ke Sekolah Menengah Atas lama nya? 

Alasan apa lagi yang ia lontarkan?  

Benar benar tidak merindukan Donghae? 

Yoona menatap bangunan sekolah dimana tempat ia belajar bahkan mengukir kenangan indah 17 tahun yang lalu. 

Sangat berubah. 

Dulu tidak ada tiang lampu disetiap sudut lapangan sepak bola dimana ia pernah menunggu Donghae berlatih. 

Bahkan pohon pohon tinggi tempat ia membaca buku sudah tidak ada lagi. 

Sangat berubah dari terakhir kali ia berada disana. 

Yoona ingat saat ia lebih memilih pindah sekolah lagi dan mengikuti ayahnya ke Amerika. Saat itu orang tua mereka bertengkar besar dan memilih berpisah. 

Ayah Yoona yang memutuskan pergi ke Amerika dan Ibu Yoona menetap di Seoul. 

Yoona mengadakan kepalanya menatap langit, teringat tentang ibunya yang sudah pergi 5 tahun yang lalu. 

“Apa kau sedih karena aku lebih memilih tak menikah, Ibu?” Yoona teringat saat Ibu Yoona menyusul mereka ke Amerika dengan menyatakan bahwa ia mengidap Kanker Rahim. Meminta bantuan padanya dan Ayah Yoona. 

Yoona ingat permintaan terakhir Ibu Yoona agar ia segera menikah dan memiliki keluarga, agar ia tidak sendiri. 

“Yoona?” Yoona menoleh dan pikirannya akan masa lalu buyar seketika. 

“Oh, Guru Kang!” 

•••

“Hyung, apa kau yakin dia kesini?” Sehun mengangguk mantap menjawab pertanyaan Jeno. Sehun mengadakan kepala nya menatap bangunan sekolah itu. 

“Ayo cepat” Jeno menarik tangan Sehun dan memasuki area  sekolah itu. 

“Apa yang akan kita lakukan disini?” 

“Bertanya, tentu saja” 

Langit sudah menjingga dan Sehun Jeno masih belum menemukan apa apa. 

Apa mereka salah sekolah?  Atau memang yang mereka cari tidak ada disana. 

“Hey!  Anak muda!  Apa yang kalian lakukan disini?” seorang lelaki paruh baya memanggil Sehun dan Jeno. Mereka tidak mengenakan seragam sekolah disana, lalu apa yang mereka lakukan disini? 

Apa mereka akan mendaftar sekolah disini? 

“Ahh kami hanya mencari seseorang, paman” 

“Apa kau anak Lee Donghae?” Jeno sedikit kaget mendengar pertanyaan lelaki yang lebih dikenal dengan Guru Kang itu. 

“Kau sangat mirip dengannya” Guru Kang menjawab pertanyaan yang tidak Jeno tanyakan. Raut wajah Jeno sangat terlihat menanyakan itu. 

“Ya aku anaknya, paman” 

“Kalian mencari siapa?” Ohh, Sehun menyukai Guru Kang ini, tepat sasaran tanpa banyak basa basi. 

“Im Yoona” Guru Kang terlihat sedikit kaget, untuk apa anak itu mencari ibunya sendiri? 

“Tadi dia kesini, tadi pagi. Kau mencari ibumu, ya?” tidak. Jeno bukan anak yang hilang, sungguh. Pertanyaan Guru Kang itu membuat Jeno merasa seperti anak hilang yang mencari ibunya.

“Ibuku Jessica Jung, paman” jawab Jeno sedikit malas, sedangkan Sehun menahan tawanya mati matian. 

“Ahh benarkah? Padahal dulu Donghae Cinta mati pada Yoona, hinggal ia rela melompat dari atap agar Yoona mau menerinya” Guru Kang teringat kejadian saat Donghae nekat bunuh diri agar Yoona menerimanya, cerita Cinta yang melegenda disekolah mereka. 

“Ya aku tau itu, Ayah sudah bercerita. Tapi dia tidak jadi lompatkan? Ayah itu penakut. Jadi, apa Bibi Yoona benar benar kesini?” 

“Ya, tadi. Dan ia baru saja kembali. Apa kalian tidak selisih digerbang?” lagi lagi Jeno nyaris bertemu Yoona. 

Jeno segera berlari meninggalkan Sehun dan Guru Kang.

Jeno sungguh ingin bertemu dengan Yoona. 

Bertemu dengan Cinta sejati ayahnya. 

Mengenal wanita bernama Im Yoona itu. 

Jeno sangat penasaran dengan Yoona. 

Pesona apa yang ia miliki hingga Ayahnya masih mencintainya bahkan ketika Ayahnya sudah menikah dengan Ibunya yang sangat cantik. 

Apa yang dimiliki Yoona dan tidak dimiliki Ibunya hingga Ayahnya masih mencintainya, hingga detik ini. 

“Im Yoona-ssi!  Kumohon!”

•••

“Aku akan kembali lusa, Bibi” Yoona meneguk minumnya dan hanya menyisakan segelas kosong. Ia meletakkan gelas itu kemeja makan milik Bibinya. 

“Cepat sekali” Yoona baru saja datang dan ia akan pulang. Apa Yoona tidak merindukan kota kelahirannya itu? 

“Aku sudah sebulan disini jika kau lupa, Bibi” 30 hari bukan waktu yang sebentar untuk liburan, benar?

Yoona kesini hanya melepas rindu, bukan untuk kembali selamanya ke tanah Korea Selatan itu.

Ia masih akan kembali ke Amerika dimana Ayahnya sudah menunggu kepulangan dirinya. 

Bahkan pekerjaannya juga menunggu dia di Amerika sana.

“Kau sudah bertemu dengan Donghae?” Bibi Yoona mengenal bagaimana keponakannya itu. 

Sudah pasti Donghae lah menjadi alasan kenapa Yoona kembali ke Seoul setelah 17 tahun lamanya ia merantau keluar negeri. 

Hanya Cinta yang membuat seseorang kembali, bukan? 

“Aku tidak bertemu dengannya” Yoona sudah mengaku, ia sudah mengalah pada dirinya sendiri. Bahwa karena Donghae lah ia kembali. 

Bahwa karena ia merindukan pria itulah ia rela kembali ke Seoul, kembali merasakan perih hatinya akan Cinta mereka yang dipaksa berhenti. 

Pahit manisnya cerita mereka. 

Yoona rela merasakan itu lagi karena ribuan juta sel didalam tubuhnya merindukan Donghae. 

Yoona sengaja mengunjungi tempat tempat yang dulu sering ia kunjungi dengan Donghae.

Hanya untuk sebuah keajaiban bertemu dengan mantan kekasihnya itu. 

Tapi harapannya adalah sebuah kekosongan. Ia tidak bertemu dengan Donghae.

Yoona semakin merasa bahwa Donghae sudah benar benar bahagia. 

Lalu apa yang Yoona harapkan? Tidak ada.

Tidak ada alasan untuk ia bertahan di Korea Selatan. 

Yoona sudah memutuskan mengubur dalam dalam Cinta nya yang sudah ia biarkan bertahan dihatinya selama 17 tahun. 

Jika Donghae bahagia, maka Yoona juga bahagia. 

Bukankah begitu yang dikatakan para Pujangga Cinta?  

“Yoona?” Yoona menoleh menatap Bibinya yang terlihat khawatir. 

Yoona hanya diam dan tersenyum kecil, lalu ia bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya. 

Yoona janji, ini adalah patah hati yang terakhir karena Lee Donghae. 

•••

Jeno menatap jam dinding yang tergantung didinding rumah sakit itu.

30 menit sudah ia menunggu panggilan namanya untuk masuk ke ruang periksa. 

Jika bukan karena Ayahnya, Jeno tak akan ke rumah sakit. 

Ia hanya mimisan karena kelelahan dan Ayahnya memaksanya untuk memeriksa kesehatannya ke rumah sakit. 

Dan lebih menjengkelkan lagi, Ayahnya hanya mengantarkannya sampai depan rumah sakit dan menyuruhnya untuk menghubungi Ayahnya jika Jeno sudah selesai. 

Harusnya Ayahnya menunggunya, bukan malah meninggalkannya. 

Jeno merindukan Ibunya. Jika saja Ibunya ada disini, Jeno tak akan merasa hampir mati karena kebosanan menunggu. 

“Nona Im Yoona” Jeno tertegun mendengar nama yang dipanggil, dan ia melihat seorang wanita melewatinya dam memasuki ruang kesehatan. 

Benarkah itu adalah Im Yoona yang ia cari? 

“Yoona-ssi?” 

“Jadi kau anaknya Donghae?” Jeno mengangguk mengiyakan pertanyaan Yoona pada dirinya. 

Yoona menatap Jeno intens. Hidung, mata, alis bahkan bibir milik Jeno benar benar seperti milik Donghae. 

Jadi benar, bahwa Donghae sudah menikah dan memiliki anak. 

Benar bahwa Donghae sudah bahagia, benar bahwa Donghae sudah melupakan dirinya. 

“Bagaimana kabarnya? Ahh ia pasti baik baik saja” Yoona salah kata. Sudah jelas Donghae baik baik saja, kenapa ia bertanya?  Berharap bahwa Donghae tidak baik baik saja karena tidak bersamanya?  Stupid, Im Yoona. 

“Ya, dia baik baik saja, Bibi. Kalau kau melihatnya dia baik baik saja. Tapi aku tidak tau dengan hatinya” Jeno menjawab mantap, ia tau Ayahnya baik baik saja. Tapi mata Ayahnya mengatakan lainnya. Walaupun sudah memiliki anak dan sudah berumur, Jeno tau Ayahnya butuh seorang wanita disampingnya. Khususnya wanita yang Ayahnya cintai. 

“Hatinya?” Jika Donghae sudah menikah, sudah pasti hatinya baik baik saja. Ia pasti bahagia dengan istrinya, bukan begitu? 

“Ibuku meninggal, saat umurku baru 5 tahun” jelas Jeno. Mengingat kembali ke masa dimana ia kehilangan Ibunya, walaupun ia lupa bagaimana Ibunya memperlakukan ia, Jeno tau Ibunya adalah seorang wanita yang baik dan lembut. 

“Ibumu?” Yoona kaget, jadi Donghae adalah seorang duda? 

Yoona tau bagaimana perasaan Donghae ketika kehilangan seseorang yang dicintai. 

Jadi itulah mengapa Jeno berkata hati Donghae tidak baik baik saja. 

“Kanker otak stadium 4. Sebuah keajaiban Ibuku bertahan selama 6 tahun dan bisa melahirkan aku” Jeno ingat sekali apa penyebab Ibunya meninggalkan dia, penyakit menyedihkan. 

“Jessica?” kanker otak stadium 4, sudah pasti itu Jessica kan?  

Yoona tersenyum miris, Donghae benar benar menikah dengan Jessica. 

“Kau mengenalnya, Ayahku menceritakan tentang kisah kalian, tentang Ibuku, dan semuanya” Jeno mengiyakan pertanyaan Yoona. 

Ibunya dan Yoona memang saling mengenal, walaupun mereka tidak berteman, mereka memiliki satu pria yang dicintai. 

Jeno ingat keseluruhan cerita Donghae tentang kisah cintanya yang tragis bersama dengan kekasihnya dulu, kekasihnya yang hingga saat ini Jeno yakin Ayahnya masih cintai. 

Bukan Ibunya, itu adalah Yoona. Ya, Im Yoona.

“Maaf, sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau sudah menikah?” pertanyaan itu menusuk hati Yoona, ia belum menikah. Bahkan jauh didalam lubuk hatinya ia menunggu Ayah anak itu. 

“Aku belum” memang seperti itu kenyataan nya kan?  Yoona belum menikah. 

“Kau menunggu Ayahku?” tidak. Tentu saja Yoona akan mengatakan tidak, meskipun itu adalah kebohongan.

Tak mungkin ia menjawab ‘Aku belum menikah. Pria yang ingin kunikahi menikah dengan Ibumu, dan aku masih menunggunya’ kan? 

Yoona senang mendengar bahwa Donghae sudah memiliki keluarga, pasti Donghae sudah bahagia walaupun disisi lain ia sedih karena harus benar benar merelakan Donghae. 

Yoona juga sedih mendengar istri Donghae meninggal, namun disisi lainnya ia juga senang karena memiliki kesempatan bersama dengan Donghae kembali. 

Katakan ia tak tau diri, katakan ia jahat, katakan ia kejam. Faktanya, tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi Cinta Yoona untuk Donghae.

Terlalu besar setelah 17 tahun lamanya. 

Donghae itu Cinta pertamanya, sekaligus Cinta terakhir yang Yoona miliki. 

“Tidak bisa dikatakan seperti itu” Yoona tak ingin menyakiti perasaan Jeno. Mengatakan bahwa ia menunggu Ayah bocah laki laki itu sama saja dengan mendoakan agar orang tua mereka berpisah walaupun kenyataan nya Jessica sudah tiada. 

Karena kau tau, suatu kesalahan besar jika seorang wanita jatuh Cinta pada suami wanita lain. 

“Ayahku masih menunggumu. Walaupun dia berkata bahwa dia sudah melupakanmu, aku tau itu hanya untuk menjaga perasaanku, karena aku sangat menyayangi Ibuku. Awalnya aku tak mengerti kenapa Ibuku menginginkan ini, tapi saat mendengar cerita Ayahku, aku mulai mengerti. Walaupun aku masih berumur 16 tahun, aku tau kalian saling mencintai hingga detik ini dan kalian berhak bahagia bersama” semua orang butuh pasangan hidup. Dan yang Jeno tau, hanya wanita bernama Im Yoona lah yang benar benar ayahnya butuhkan. 

Jeno mengerti bahwa Cinta tak bisa dipaksakan, bahwa ia tak bisa melarang Ayahnya mencintai Yoona. 

Bahwa Jeno tak berhak menghalangi Ayahnya untuk bahagia yang hanya Ayahnya dapatkan dari Yoona. 

“Kau belum menikah, aku tau bahwa kau masih mencintai Ayahku” Yoona tertegun mendengar ucapan Jeno. Anak itu benar benar memiliki pemikiran yang dewasa. 

Disaat seharusnya ia marah karena secara tak langsung Ayahnya mengkhianati Ibunya, Jeno malah mencarinya dan Yoona yakin memintanya kembali pada Donghae.

“Kembalilah pada Ayahku” aku tidak salah, kan? •••

“Ayah!” Jeno begitu bahagia melihat Ayahnya pulang kerumah setelah hampir 5 jam ia menunggu Ayahnya. 

Jeno menyambut kepulangan Donghae dengan sebuah pelukan hangat miliknya serta kebahagiaan yang luar biasa Jeno rasakan. 

“Kau tampak bahagia, nak. Apa kau sudah mendapatkan Lami untuk menjadi kekasihmu?” jarang sekali Donghae mendapatkan putranya itu antusias seperti ini, dan Donghae ingat betapa antusiasnya Jeno bercerita tentang Lami, teman sekelasnya yang ia sukai. 

“Bukan Lami, aku mendapatkan kekasih lain” Jeno menjawabnya mantap. Tak apa jika Lami menolaknya sekarang, karena kekasih untuk Ayahnya lah yang ia cari, bukan untuknya. 

“Oh, jadi kau sudah berpaling dari Lami?” Donghae berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Putra tunggalnya itu. 

Jeno sangat senang, membuat ia seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. 

“Dan kau akan cemburu jika bertemu dengan kekasih ku ini” Donghae tertawa mendengar hal itu. Ia cemburu? Pada kekasih anaknya? 

Ayolah, Donghae bukan tipe paman penyuka anak remaja. 

“Selera ku bukan anak SMA, nak” Jeno mengangguk pasti. Duduk diranjang berukuran King Size milik Ayahnya. Memperhatikan Ayahnya yang sibuk membuka pakaian. 

“Aku mengencani wanita berumur 35 tahun, Ayah!” seru Jeno. 

“Kau gila?!” Ayah mana yang tidak kaget mendengar Putra berumur 16 tahunnya berkencan dengan seorang Bibi berumur 35 tahun?  Seumuran dengannya. Astaga!

“Jika kau bertemu dengannya kau juga akan melupakan umurmu, Ayah” Jeno tetap bersikukuh mantap pada wanita pilihannya. 

“Siapa gadis itu? Temukan Ayah dengannya!  Dan Ayah akan memintanya menjauhi mu!  Jadilah anak yang normal, Jeno! Jangan membuatku mati muda!” sejujurnya, Donghae sangat ingin memukul anaknya itu. Tak ada yang lebih gila jika seorang anak remaja berkencan dengan gadis berkepala 3.

“Kau harus bertemu dengannya kalau begitu! Besok malam datanglah dan minta ia menjauhi ku!  Selamat malam Ayah!  Aku mencintaimu!” Jeno tertawa lebar melihat ekspresi Ayahnya, sangat siap menerkam dirinya. 

Donghae yang melihat anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Betapa kasihannya dirinya. 

“Jess, anakmu terlalu gila!” Donghae menggerutu, mencoba curhat pada Jessica. 

Donghae melirik bingkai foto yang ada di nakas disamping ranjangnya, menatap foto pernikahannya dengan Jessica. 

“Maafkan aku yang hingga saat ini masih menganggap mu sebagai seorang teman” Donghae masih menyimpan foto pernikahannya dengan Jessica, karena menurutnya itu adalah sebuah permintaan maaf darinya untuk Jessica. 

Permintaan maaf karena ia tidak bisa mencintai wanita itu lagi seperti sebelum ia mengenal Yoona. 

Permintaan maaf karena hingga detik ini cintanya masih milik Im Yoona. 

Donghae merasa bersalah, kepada Yoona, kepada Jessica, bahkan kepada anaknya sendiri. 

Donghae merasa bahwa ia bukanlah Ayah yang baik. 

Disaat istrinya sekarat, putranya masih berumur 5 tahun, ia begitu merindukan Yoona. Pergi dari rumah dan tidak pulang selama 3 hari. 

Donghae masih ingat, saat ia pulang kerumah dan mendapati rumahnya ramai dipenuhi keluarga bahkan kerabat lainnya, mereka mengatakan bahwa Jessica sudah meninggal.

Hari itu adalah hari yang paling Donghae sesali selain dimana ia dan Yoona berpisah.

Lagi lagi ia merasa bahwa ia adalah seorang pengecut. 

“Aku sunggu minta maaf, Jess” dan karena kesalahannya itulah Donghae tak berani untuk mencari cintanya lagi. Donghae tau, saat inilah waktu yang tepat untuk ia mencari Yoona kembali. 

Berharap bahwa Yoona sudah bercerai atau apapun yang penting ia bertemu dengan Yoona. 

Namun, perasaan bersalah itu membuatnya berhenti mencari Yoona. 

Donghae takut, disaat ia mencari Yoona maka Donghae akan kehilangan yang lain. Seperti insiden waktu itu.

•••

“Kita ingin bertemu dengan kekasihmu kan? Kenapa menyuruhku memakai setelan anak muda? Kau tau nak, aku ingin memakai setelan gangster tadinya, agar wanita itu benar benar menjauhi dirimu” Donghae sedikit pusing melihat putranya yang satu itu. Untuk bertemu kekasihnya saja Donghae harus mengenakan kemeja merah kotak kotaknya serta jeans biru dongker miliknya. Itu adalah setelan anak muda jaman sekarang. 

Dan Donghae bukanlah salah satu dari jutaan anak muda itu. Ia sudah berumur hampir 40 tahun, jas lah yang cocok untuknya mengingat ia juga seorang Presdir di perusahannya. 

“Kau akan bergabung dengan anak muda Ayah, jadi bersikaplah seperti anak muda. Wajahmu juga tidak terlalu tua, kau masih pantas menjadi anak muda. Dan Ayah tau, aku masih cocok jika memanggil mu Hyung” ya, Jeno benar. Donghae sudah memiliki anak di umurnya yang masih 20 tahun. Itu karena Jessica. 

Permintaan terakhirnya adalah menikah dan memiliki keluarga.

Mengingat penyakit yang diderita Jessica, Donghae menyetujuinya.

Bahkan mereka menikah diumur mereka yang masih 19 tahun. 

Itulah sebabnya Donghae memiliki Putra berumur 16 tahun disaat ia berumur 35 tahun. 

Orang orang mengira bahwa mereka adalah adik kakak. Selain wajah mereka yang kelewat mirip, Donghae juga berumur tidak terlalu tua.

“Aku bertaruh, kau kan kembali ke 17 tahun yang lalu, Ayah!” ya, terserah apa yang Jeno katakan. Sudah sebaiknya jika Donghae mengikuti alur yang anaknya buat itu. 

“Ya, kita akan kembali kesana. Dengan bantuan mesin waktu milik Doraemon” itu yang diinginkan Jeno kan?  

“Dia sudah datang!” Donghae menoleh mengikuti pandangan Jeno. 

Mengikuti pandangan Jeno yang tertuju pada seorang wanita yang anaknya sebut adalah kekasihnya. 

Mengikuti pandangan Jeno yang tertuju pada seorang wanita yang membuatnya seperti memasuki mesin waktu dan kembali ke 17 tahun yang lalu. 

Donghae berdiri dari duduknya. 

Jeno sangat pintar memilih tempat makan malam di restoran yang memiliki balkon serta cuaca yang sangat mendukung dengan ribuan bintangnya di langit. 

Sangat mendukung suasana yang sekarang terjadi. 

Pure hazel milik Donghae tak berkedip satu detik pun. 

Wajah itu masih sama, hidung itu, senyuman itu, bahkan rambut itu. 

Semuanya sama seperti 17 tahun yang lalu. 

Seketika Donghae melupakan segalanya. Umurnya, sekitarnya, bahkan ia melupakan alam ini. 

Semua teralihkan oleh seorang wanita didepan sana. 

Wanita yang sudah mencuri hatinya dari 17 tahun yang lalu sampai detik ini juga. 

Dan Donghae yakin, ia tak akan pernah mengembalikan hati Donghae yang telah ia curi. 

Itu adalah Im Yoona. 

Yang berdiri didepan sana adalah Im Yoona. 

Si pencuri hatinya adalah Im Yoona. 

Wanita yang hingga detik ini dan seterusnya ia cintai adalah Im Yoona. 

Dan Im Yoona itulah yang membuat tubuhnya bergerak diluar kendali dan menabrak tubuh Yoona kedalam pelukan Donghae. 

Menyusun kembali pecahan serpihan masa lalu dengan satu pelukan penuh kerinduan. 

“Dialah kekasihku Ayah!  Karena sepertinya kau menyukainya, aku merelakannya untukmu!” Donghae menoleh menatap Jeno yang berkata seperti itu. 

Senyuman ke gembiraan terpancar dari wajah putranya. 

Donghae tak menyangka bahwa Jeno akan melakukan ini. 

Ia pikir Jeno akan marah mendengar cerita cintanya.

Namun semua bertolak belakang dari pikiran Donghae. 

Jeno mencari Yoona untuk dirinya. 

Jeno mengembalikan kebahagiaannya. 

Betapa ia menyayangi putranya itu. 

“Aku menyukai Bibi Yoona. Aku setuju jika kalian menikah. Kau beruntung Ayah, Bibi Yoona bahkan belum menikah karena menunggumu! Aku yakin Ibu akan bahagia jika melihat kalian bersatu kembali. Miliki waktu berdua, aku tak ingin mengganggu kalian” Donghae kini beralih memeluk Jeno. 

Air matanya tak sanggup ia tahan. 

‘Sica-ya, terimakasih telah memberikan cupid untukku dan Yoona’ jika saja Jeno dan Yoona mendengar ucapan hati Donghae itu, sudah pasti mereka akan tertawa dan mengejek kekonyolan Donghae itu. Sangat kekanakan. 

Ini sudah 15 menit setelah Jeno meninggalkan Donghae dan Yoona dimeja makan malam mereka. 

Tapi tak sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya.

Entah itu karena canggung, terlalu rindu, atau bahkan lainnya. 

“Apa kabar?” Yoona mengalah, dan pertanyaan aneh itu keluar dari bibirnya. 

“Kau masih lucu” dan itulah jawaban Donghae atas pertanyaan Yoona. Membuat Yoona mengerucutkan bibirnya karena kesal. 

“Berhenti melakukan itu, kau sudah 35!” wajah Yoona memerah menahan malu sedangkan Donghae tertawa puas karenanya. 

Mereka benar benar melupakan umur sepertinya. 

“Sebelum semua pertanyaan yang akan ku lontarkan, apa benar kau belum menikah?” Yoona memejamkan matanya dan memaki didalam hati. Sial. Kenapa dari sekian pertanyaan itulah yang ditanyakan Donghae padanya? 

“Jadi kau benar benar menungguku?” Donghae itu memang terlalu percaya diri. Sama sekali tidak berubah. 

“Aku berterimakasih bahwa kau setia menungguku, Yoona. Maafkan aku yang tidak mencarimu. Aku punya alasan dan kuharap kau mengerti” Donghae sangat berterimakasih karena dengan setianya Yoona menunggu dirinya selama 17 tahun.

Dengan Cinta yang masih sama. 

Donghae sangat beruntung memiliki wanita yang ia cintai seperti Yoona. 

“Kita sudah disini sekarang. Masa lalu adalah masa lalu. Kau memaafkan ku kan?” Donghae masih takut jika Yoona belum memaafkannya atas apa yang ia lakukan dulu. 

Membiarkan Yoona pergi adalah kesalahan terbesar didalam hidup Donghae.

“Aku selalu memaafkan mu. Seperti yang kau katakan. Masa lalu adalah masa lalu” Yoona memang tak pernah menyalahkan Donghae atas apa yang terjadi. 

Yoona juga tidak menyalahkan Jessica. 

Karena Yoona tau, hal hal seperti itulah yang akan membuatnya bahagia kelak nanti. 

Dan ini adalah kebahagiaan itu.

“Bertemu denganmu saat ini membuatku lupa bahwa kita pernah berpisah selama 17 tahun. Aku lupa dengan semua kesakitan yang ku lalui, Yoona. Banyak yang ingin kutanyakan sungguh. Tapi itu hilang kandas saat aku sudah bersamamu” mereka melupakan 17 tahun saat mereka berpisah. 

Seperti tidak ada 17 tahun itu, seperti mereka terus bersama dan tak pernah berpisah. 

Apalagi yang Donghae pikirkan jika Yoona sudah ada dengannya sekarang? 

Tak akan ada lagi kesakitan. 

“Aku juga merasa seperti itu. Seperti aku tak pernah pergi dari sini. Seperti aku selalu bersamamu. Apakah ini waktunya untuk kita?” mungkin waktu untuk Donghae dan Yoona bukanlah 17 tahun yang lalu, maka sekarang lah waktu mereka. 

Mulai saat ini hingga abadilah waktu yang sesungguhnya untuk Lee Donghae dan Im Yoona. 

“Bukankah Jeno membawamu kemari untuk itu? Anak itu sudah mengerjai ku dengan mengatakan kau adalah kekasihnya. Wanita berumur 35 tahun adalah kekasihnya. Aku hampir gila, Yoona” Donghae sedikit curhat pada Yoona. Akan kegilaan anaknya itu. 

“Jadi, apakah kita bisa mengulangnya dari awal?” cerita ini ada untuk mereka kembali bersama bukan? Jeno sudah menyusunnya, dan inikah yang Jeno inginkan. 

Kebahagiaan untuk Ayah tercintanya. 

“Ya, kita bisa” keinginan Jeno akan benar benar terwujud. Jeno sudah menyetujui nya. Dan Donghae tak ingin mengulur waktu. 

Ini adalah takdir. 

Bukan saatnya untuk Donghae takut kembali pada Yoona. 

Seperti yang dikatakan Jeno, Jessica pasti senang melihatnya kembali pada Yoona. 

Jessica pasti mengerti akan apa yang saat ini terjadi. 

Untuk kali ini saja, biarkan mereka egois untuk kebahagiaan mereka sendiri. 

“Im Yoona, maukah kau menikah denganku?” tanpa cincin, Donghae berlutut disamping kursi yang Yoona duduki. 

Melontarkan pertanyaan yang dulu tak sempat ia lontarkan pada Yoona. 

“Ya, aku mau” dan Yoona menjawab pertanyaan yang dulu tak sempat Yoona jawab. 

Donghae berdiri, dan menarik Yoona kedalam pelukannya.

Donghae berjanji bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Yoona lagi.

Ia berjanji tidak akan membiarkan Yoona meninggalkannya lagi.

Yoona adalah miliknya, siapapun tak berhak memisahkan mereka lagi. 

Sekalipun itu ajal mereka, Donghae tetap akan bersama Yoona. 

Ke nereka sekalipun, Donghae akan mengikuti Yoona. 

Karena Donghae tau bahwa dirinya tercipta hanya untuk Im Yoona. 

-TAMAT-
-Epilog-

“Jeno-ya, kenapa kau sangat ingin menyatukan Paman Donghae dengan Bibi Yoona?”

“Selain karena cerita Ayah, aku mendapatkan misi dari Ibuku. Sebuah misi dari surat diulang tahunku ke 14, yaitu menyatukan kembali yang seharusnya bersatu”

“Ibumu sangat baik”

“Tentu saja, Sehun hyung!”

“Jeno-ya, kemarin aku bertemu dengan Lami. Dan ia bilang, hari sabtu di Sungai Han”

“Benarkah? God! Aku akan mendapatkan Lami!!”

-SELESAI- 
Akhirnya selesai juga ini sequel hohoho

Satu Bulan juga buat nyelesaikan ini wkwkkwk

Karena authornya lagi sibuk buat persiapan masuk kuliah, makanya ini sequel kelamaan di post dan bikin reader nya lupa sama cerita sebelumnya 😂😂

Dan maapkeun autbor kalo sequelnya ga sesuai fantasi kalian. 

Author sibuk dan pikiran jadi kacauuuu 😭😭

Tapi semoga kalian suka sama sequel ini. 

I try to do the best. Eaakkkk. 

Terima Kasih sudah menunggu, Terima Kasih sudah membuang waktu berharga kalian untuk membaca karya ku. 

Karena respon kalian, baik itu kritik saran maupun pujian, adalah semangat author untuk selalu menulis. 

Respon kalian adalah hal yang menjadi alasan author tetap menulis. 

Terimkasih banyak readers ku tercintaaa 😊😚😘

Fake or Real 

By. Vylord

Cast : Im Yoona x Lee Donghae

Genre : Comedy, Romance, School-life, Sad

Length : One-shot 

Rate : T




“Arrggghhh!” puluhan pasang mata dikantin itu menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengejutkan mereka.

“Dimana matamu, idiot?!” pemuda yang dikenal sebagai si pembuat onar di SMA itu berteriak pada gadis yang baru saja menabraknya dan menumpahkan Jjampong panas yang ia bawa diseragam sekolah milik si pembuat onar atau lebih kasarnya si Penguasa SMA mereka itu.

“Matilah kau,  Im Yoona” bukan membantu, Yuri malah menakuti Yoona dengan membisikkan mantra pencabut nyawa ditelinga gadis itu.

“Kau juga tidak melihat aku berjalan kan!  Apa kau bilang?  Idiot?  Kau lebih idiot!” tidak ada yang lebih mengagetkan lagi ketika mendengar Yoona membalas teriakan Donghae. Yoona mencetak sejarah dengan melawan pada si Penguasa sekolah ini.

“Beraninya kau!  Siapa namamu hah?  Oh,  Im Yoona!” Donghae melihatnya di bet nama milik Yoona. Menandai gadis yang telah membuatnya kotor terkena Jjampong.

“Sebagai permintaan maaf, kau harus menjadi kekasihku!” tidak ada yang lebih gila daripada ucapan Donghae yang baru saja ia katakan.

Setelah ia membentak Yoona, ia memintanya untuk menjadi kekasihnya?  Benar benar gila. Itu yang ada didalam pikiran Yoona.

“Menjadi kekasihku,  dan membuat Jessica cemburu. Dengan itu, ia akan kembali padaku”

 

 

•••
“Hey!  Itu Im Yoona! ” Oh tidak, mereka menemukan Yoona. Yoona segera lari dari belakang perpustakaan mereka.

Ia masih ingat saat menolak Donghae kemarin, Donghae mengancam akan mengganggu hidupnya, seperti sekarang.

Berlari dari tempat ke tempat tentu saja membuat Yoona kehabisan tenaganya.

Gadis itu bersembunyi di belakang gudang sekolah mereka. Melihat situasi sepertinya aman, Yoona harus kembali ke kelas karena jam istirahat sudah selesai.

‘Byurrrr!’

Terkutuklah kau, Lee Donghae!

Yoona menatap kesal kearah atas dimana teman teman Donghae dan tentu saja Donghae yang ada di balkon lantai 2, dan baru saja menyiramnya dengan air yang Yoona yakini bekas mengepel lantai toilet sekolah mereka.

“Bagaimana, Yoona?”

“Jawabanku tetap tidak, Idiot!” ini sungguh tak adil, Lee Donghae bersama kru krunya,  akan sulit untuknya membalas perbuatan pemuda nakal namun sayangnya kelewat tampan itu.

 

 

 

“Tugas yang saya berikan kemarin, dikumpulkan sekarang. Kau akan tau akibatnya jika tidak menyelesaikan tugas yang ku berikan” itu seperti pertanda keramat bagi para siswa dan siswi yang tidak mengerjakan tugasnya.

Bagaimana Guru Kang akan menghukum mereka dengan mengutip dedaunan yang gugur dibelakang sekolah dan harus menghitung berapa helai daun itu. Sangat gila.

Jadi, harus wajib untuk menyelesaikannya.

“Ada apa, murid baru?” Yoona memejamkan matanya erat, sungguh ia sudah menyelesaikan tugasnya kemarin. Dan ia juga sangat ingat membawa buku itu. Apa buku itu memiliki kaki dan kabur dari tas Yoona?

Ia sungguh tak mau dihukum dan dicap buruk oleh Guru Kang. Karena ia adalah siswi baru disini.

Lalu, tak sengaja tatapan Yoona bertemu dengan tatapan Donghae yang sialnya teman sekelasnya.

Donghae tersenyum ramah padanya. Sangat teramat ramah. Membuat Yoona benar benar ingin meninju wajah tampan Donghae.

Donghae lah pelaku nya, siapa lagi?

 

 

 

Disaat saat seperti inilah Yoona sangat merindukan ranjang empuknya.

Harusnya ia sudah pulang kerumahnya dua jam yang lalu. Karena harus membersihkan dedaunan kering dibelakang sekolah mereka, ia harus mengurung niatnya untuk beristirahat di ranjang kesayangannya.

Jika Donghae meminta bantuan padanya, kenapa dengan cara seperti ini?

Bukan kah akan lebih baik jika ia memperlakukan Yoona bak Putri di istana olympus?  Bukan malah membuatnya seperti ini. Sangat amat teraniaya.

Yoona itu tipikal orang yang sabar, sungguh. Karena itu ia tidak akan menyerah, untuk menolah Donghae.

Saat ini saja ia sudah diperlakukan seperti ini, apalagi menjadi kekasih palsu Donghae.

Sepasang sepatu beserta kakinya sudah ada didepan Yoona, gadis itu mengadakan kepalanya dan mendapati Donghae yang berdiri didepannya.

“Tidak,  tidak!  Aku ini kuat! Bagaimanapun caranya, aku tidak akan menyerah!  Tidak, untuk preman sekolah itu!” Yoona menyemangati dirinya sendiri, kedatangan Donghae beserta kru nya itu merupakan malapetaka baginya. Akan ada musibah yang menimpa dirinya.

“Kau sungguh sangat keras Yoona. Baiklah jika kau tetap menolak” Donghae berlalu setelah sebelumnya menyapa Yoona dengan senyuman manis miliknya.

Yoona sempat terpesona melihatnya namun itu hilang dalam sekejap setelah teman teman Donghae menumpahkan 3 plastik besar berisi dedaunan kering ke sekelilingnya. Entah darimana dedaunan itu,  Yoona tak tau.

Yang ia tau pasti, ia akan pulang malam hari ini.

“Aku kuat!”

 

 

•••
Yoona harus berakhir di Ruangan Kesehatan hari ini, karena semalam terlalu lelah ditambah ia terlambat tadi pagi dan mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan.

Walaupun ia memiliki fisik yang kuat, ia masih seorang anak perempuan yang tak lebih kuat dari anak lelaki.

Berada di Ruangan Kesehatan bukanlah ide yang buruk, ia bersyukur berada disana karena tak akan ada Lee Donghae.

“Apa kau tidur?” Yoona kenal suara ini,  suara berat milik Donghae. Ia segera memejamkan matanya erat, berpura pura tidur.

“Maafkan aku,  itu akibatnya jika kau menolakku. Istirahat lah dan sembuh. Aku tak ingin kekasih ku sakit” setelah itu Donghae mencium kening Yoona.

Tanpa Donghae sadari, jantung Yoona berdetak begitu cepat. Apa begitu mudahnya untuk pria mencium wanita?  Pikir Yoona.

Namun, tanpa Yoona sadari Donghae sudah tersenyum miring. Tentu saja Donghae tau kalau Yoona itu tidak tidur dan sadar sepenuhnya atas kehadiran Donghae.

 

 

 

•••
“Yoona-ssi!  Kau harus melihat ini!” Victoria menarik paksa lengan Yoona. Tanpa bisa mengelak, Yoona mengikutinya dan didampingi oleh Yuri, sahabat Yoona.

“Donghae!  Turunlah!” hampir seluruh siswa dan siswi sekolah itu berkumpul dilapangan depan sekolah, melihat Donghae yang berada dilantai teratas sekolah mereka yang siap untuk melompat kebawah.

Melihat Yoona sudah hadir diantara ratusan siswa dan siswi dibawah sana, Donghae memulai aksinya.

“Aku akan melompat kebawah jika kau menolakku, Yoona!” teriakan itu membuat semua orang khawatir, dan menyuruh Yoona untuk menerima Donghae.

“Dia tak akan melompat, itu hanya ancamannya saja” Yoona tau Donghae itu seperti apa,  ia tak akan berani melompat kebawah.

“Ini serius, kenapa kau begitu jahat?” pekik Changmin, salah satu teman Yoona.

“Idiot!  Kau tak akan mati jika melompat dari sana!  Kakimu yang akan hancur!  Aku tak akan peduli!” Yoona tak akan pernah termakan bualan Lee Donghae, tidak akan!

“Aku akan menghitung!  Di hitungan ke tiga aku akan benar benar melompat!  Satu!” Yoona mulai takut, apa Donghae gila?

“Terima saja, Yoona. Kau akan membunuh Donghae” teman temannya berteriak padanya. Tak banyak juga yang menyalahkannya.

Yoona melirik Jessica yang tampak khawatir.

Kenapa Donghae tidak meminta kembali Jessica saja dengan cara seperti ini?

“Dua!” Donghae tak akan melakukan hal itu! Yoona yakin itu.

Tak akan mungkin untuk menjadi seorang kekasih palsu.

Tapi sepertinya Donghae benar benar akan melompat.

“Tiga!” semua orang yang ada disana berteriak.

“Tunggu!!!”

 

 

 

•••
“Hey!  Tunggu aku!” teriakan Yoona tak diindahkan oleh Donghae. Donghae hanya berjalan cepat dan memasuki restoran yang ia tau adalah tempat favorit Jessica. Menjalankan misi membuat mantan kekasihnya itu cemburu.

“Kau seperti dikejar hantu saja!” gerutu Yoona dan menghempaskan pantatnya ke kursi restoran.

“Ya, kau hantunya” percikan api tak bersahabat mulai membara dimata Yoona. Pantas saja mantan kekasihnya memutuskannya, ia bersikap seperti itu. Pikir Yoona.

Donghae melihat Jessica dan teman temannya memasuki restoran itu.

“Yoona-ya” bisik Donghae memberikan isyarat agar Yoona membuka mulutnya,  menyuapi Yoona makanan yang sudah disajikan beberapa menit yang lalu.

“Apakah enak?  Ughh lihat, pipimu terkena nodanya” Donghae membersihkan pipi Yoona sambil melirik Jessica.

Walaupun Donghae itu mantan kekasihnya, tentu saja Jessica risih melihat Donghae bermesraan dengan pacar barunya didepan Jessica. Terlebih lagi di restoran yang biasa ia kunjungi dengan Donghae.

Jessica membuang nafasnya sedikit kasar, dan mengajak teman temannya untuk keluar dari sana.

Melihat Jessica yang sudah keluar dari restoran itu, ia mendorong wajah Yoona, menjauhkannya dari hadapannya.

“Aghhh!” tidak bisakah Donghae sedikit lembut? Walaupun itu dengan kekasih palsunya.

“Dia cemburu!” tawa Donghae tanpa mengacuhkan gerutuan Yoona.

“Ini, kau yang bayarkan?” Yoona sedikit takut mengingat tak sedikit makanan yang ia pesan. Ia tidak sarapan tadi pagi,  dan cacing didalam perutnya sudah berdemo agar diberi makan.

“Tentu saja tidak! Kau bayar sendiri! Memangnya siapa dirimu?” sebenarnya itu sangat kasar, tapi Yoona mengerti akan hal itu. Lagian benar kata Donghae, mereka hanya palsu kan?

“Kau keparat, tapi mau bagaimana lagi. Aku akan menelopon Yuri” Yoona ingin membentaknya sebenarnya, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutnya hanya suara lembut.

“Baguslah” jawab Donghae sungguh tak tau diri.

 

 

 

•••

“Maaf, Yuri-ssi. Tapi Yoona harus pulang denganku” perintah Donghae tak bisa ditolak, mengingat ia si penguasa sekolah serta kekasih Yoona walaupun palsu.

Yuri memandang Yoona dengan raut memohon, mereka sudah janji kemarin saat pulang sekolah hari ini mereka akan ke toko buku. Dan Yuri sangat tak suka jika kemana mana sendirian, tanpa ditemani.

Yoona yang mengerti maksud Yuri hanya memandang lemah sahabatnya itu, ia tak bisa menolak Donghae.

“Baiklah, aku mengerti” Yuri mengalah dan berpamitan pulang pada Yoona dan Donghae.

“Kau kekasihku kan? Temani aku latihan” Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Mengikuti kemauan kekasih palsunya itu.

Yoona harus bersabar, hanya sampai Jessica meminta Donghae kembali. Itu saja. Sangat simpel.

Dengan ia selalu bersama Donghae maka akan semakin cepat Jessica cemburu dan meminta Donghae kembali. Ia harus kerja keras mulai sekarang.

Agar semuanya berakhir, walaupun jauh didalam hati Yoona ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.

Latihan sudah berakhir, dengan penuh keringat Donghae berjalan kearah Yoona.

Dengan senyuman maut serta iris hazel milik Donghae yang lembut menatap dalam padanya.

Sesaat Yoona terpana menatapnya, sedetik kemudian jantungnya berdetak dengan cepat kala Donghae memeluknya erat.

Seakan akan tak ingin kehilangan Yoona. Apa Donghae berubah pikiran? Kenapa ia tiba tiba memeluknya seperti ini? yoona sangat bingung. Namun yang ia rasakan adalah kehangatan dari pelukan Donghae.

Walaupun ia tau tubuhnya akan bau karena kena keringat lelaki itu.

“Apa Jessica melihatnya?”

“Eoh?” Yoona tersadar dari lamunannya.

“Jessica melihatnya?” tanya Donghae sekali lagi. Yoona melirik ke kanan dam ke kiri, mencari si pemilik nama lengkap Jessica Jung itu. Dan ia mendapati Jessica yang melihatnya dari depan sana tanpa ekspresi apapun dan berlalu pergi dengan teman temannya.

“Dia sudah pergi” dan pelukan itu terlepas. Donghae melirik kebelakang memastikan Jessica dan teman temannya pergi.

“Aku yakin sebentar lagi dia akan memohon kembali padaku” Yoona yang mendengar itu hanya terdiam, jadi itu alasan Donghae memeluknya erat.

Lalu apa yang ia harapkan sih? Yoona tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

“Ayo, aku antar pulang”

 

 

 

•••
Tak ada yang lebih sial ketika kau kedapatan tertidur dikelas oleh Guru Killer. Yoona merutuki mata bodohnya yang tak bersahabat. Karena itu ia harus dimarahi dan disuruh keluar kelas. Padahal hanya tinggal 30 menit lagi untuk waktu pulang sekolah.

Yoona memasuki toilet sekolah, mencuci mukanya agar tidak kusut seperti tadi.

“Hey! Yoona!” empat orang siswi sudah ada didepan Yoona. Menatap Yoona dengan tatapan ingin menerkam.

‘Pluk!’ kotak tissue baru saja mendarat di kepalanya dan terjatuh ke lantai.

“Apa yang kau lakukan!” bentakan Yoona dijawab oleh serbuan keempat gadis itu.

Menjambak rambut Yoona, menarik seragamnya, bahkan ada juga yang memukulinya.

“Hentikan” keluhan Yoona tak didengar oleh keempat pasang telinga mereka.

“Kau tak pantas bersama Donghae!” itu salah satu dari sekian makian mereka pada Yoona.

“Bitch!”

“Matilah”

“Jauhi Donghae kami!”

Dan diakhiri siraman air got yang entah darimana mereka dapatkan ke tubuh Yoona.

“Donghae tak akan mau dekat denganmu jika kau bau seperti itu!” kepergian keempat gadis itu membuat Yoona sedikit lega, namun tak menghentikan air mata yang jatuh dari pipinya.

Yoona segera bangkit dan keluar dari toilet, melewati para siswa siswi yang hendak pulang.

Semua mata tertuju padanya, namun tak ada satupun yang mau mendekati Yoona.

Yoona semakin mempercepat larinya menghindari tatapan iba bahkan tatapan jijik padanya.

‘Bruk!’ tubuh Yoona oleng namun tak sempat jatuh ke lantai, lengan seseorang menahan pinggangnya.

“Yoona?” Yoona menatap Donghae dan melepaskan lengan Donghae dari pinggangnya. Menghindari iris hazel khawatir Donghae.

“Apa kau baik baik saja?” tidak, Yoona sungguh tak baik baik saja.

“Aku baik baik saja. Aku mau pulang” Yoona sudah berusaha mengentikan isakan tangisnya, tapi ia tak bisa.

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri”

“Aku tak akan membiarkan kekasihku seperti ini. Aku akan mengantarmu dan tidak ada bantahan” mendengar hal itu justru membuat Yoona semakin sulit untuk menahan air matanya. Isakan tangis Yoona semakin mengeras, Yoona tak bisa menahannya lagi.

Tanpa aba aba, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya, meredakan tangisan Yoona tanpa peduli bau menyengat yang keluar dari tubuh Yoona.

 

 

•••
Sebenarnya Yoona penasaran dan ingin bertanya pada Donghae, kemana tujuan mereka saat ini.

Setelah bel istirahat berbunyi, Donghae menarik lengan Yoona dan mengatakan akan ada kejutan untuknya.

Langkah kaki mereka membawa Yoona dan Donghae ke lapangan sepak bola sekolah mereka, memasuki kerumunan beberapa siswa dan siswi yang sudah ada disana.

“Hadiah untukmu. Lakukan lah sesukamu pada mereka” Donghae tersenyum manis pada Yoona, menunjukkan kejutan Donghae yang berupa empat orang siswi yang sudah mengerjai Yoona kemarin.

“Katakan yang ingin kalian katakan pada Yoona!” Yoona bisa melihat keempat siswi itu ketakutan akibat bentakan Donghae.

“Maaf, Yoona” ucap salah satu diantara mereka mewakili.

“Siram mereka!” Yoona hanya diam saat Eunhyuk menyuruh Yoona menyiram mereka, membalas perbuatan keempat siswi itu kemarin. Teman teman Donghae sudah menyiapkannya, empat ember air yang Yoona yakini bersumber dari got. Baunya juga lebih menyengat ketimbang air yang mereka siram kemarin pada Yoona.

“Siram saja, Yoona!” siswa siswi yang lain mulai meneriaki Yoona untuk membalas dendam.

Sedikit muncul perasaan kasihan Yoona pada mereka.

“Aku tak akan membuang waktuku untuk hal tak penting seperti ini. Ayo kita pergi” iris madu dan iria hazel Donghae bertemu, senyuman dibalas senyuman.

Tanpa sepatah kata, Donghae menggenggam erat tangan Yoona, dan membawa gadis itu pergi.

Sebelum Donghae dan Yoona benar benar pergi, Donghae membalikkan badannya.

“Jangan pernah menyentuh kekasihku! Kau akan tau akibatnya!” itu peringatan yang tak akan bisa dilanggar. Peringatan dari si penguasa sekolah.

Donghae dan Yoona berlalu meninggalkan lapangan sepak bola.

Tanpa mereka sadari, Jessica sudah memperhatikan mereka berdua. Dengan tatapan yang tak ada satupun orang mengerti.

“Sayangnya, kami bukan Im Yoona!” teriak teman teman Donghae yaitu Eunhyuk, Kyuhyun, Changmin, Tiffany dan Minho lalu menggantikan Yoona untuk membalas perbuatan keempat siswi itu.

 

 

 

•••
Sebulan menjadi kekasih palsu Lee Donghae tampaknya tidak membuahkan hasil untuk menggetarkan hati Jessica kembali.

Entah gadis itu benar benar sudah melupakan Donghae atau tidak, yang pasti Yoona sudah sadar, bahwa ia jatuh kedalam perangkap yang mereka buat sendiri.

Orang orang akan berpikir bahwa kedua insan itu sedang berkencan seperti halnya pasangan muda lain.

Nuansa yang biasanya keluar dari interaksi Yoona dan Donghae tampak bersembunyi.

Mereka hanya duduk berdiam diri dipinggir Sungai Han sore itu.

“Aku ingin berhenti melakukan ini” Yoona berdiri dari duduknya, menatap iris hazel Donghae dalam.

“Aku tak ingin berpura pura lagi, aku takmau menjadi pasangan palsumu lagi” Donghae ikut berdiri didepan Yoona, membalas tatapan Yoona.

“Kenapa kau ingin berhenti? Apa alasanmu? Apa kau tersiksa? Apa yang membuat mu seperti ini?” tentu saja Donghae tidak terima dengan keputusan Yoona yang mendadak.

Tapi sebenarnya, entah ini untuk Jessica atau apa, Donghae tak tau kenapa ia tak ingin berhenti.

“Aku punya alasan, aku tak bisa berpura pura menyukaimu lagi” Yoona memiliki alasan, alasan yang tak mungkin ia ungkapkan pada lelaki itu.

“Hidupmu terlalu banyak alasan!  Katakan saja! Kau terlalu sulit, kau banyak alibi!  Kau keras kepala! Kau… ”

“Karena aku benar benar jatuh cinta padamu!” Donghae terdiam. Yoona memejamkan matanya menahan jantungnya yang berpacu sangat kencang.

Apa yang baru ia katakan?

Alasan yang sungguh ingin ia pendam keluar begitu saja.

“Kau pikir aku tidak?” Yoona mengangkat kepalanya, membuka matanya lalu menatap mata Donghae yang masih menatap padanya dalam.

“Kau pikir aku tidak jatuh Cinta padamu?” Dongahae membuka suaranya lagi, meyakinkan pada Yoona bahwa ia juga jatuh kedalam perangkap yang mereka buat.

Yoona awalnya tidak percaya, tapi saat kalimat kedua yang Donghae ucapkan untuk menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan ucapan pertamanya. Kedua kalimat itu membuat Yoona percaya, bahwa Donghae serius dengan ucapannya.

Satu detik selanjutnya pelupuk mata Yoona menumpahkan setetes liquid bening, dan diikuti oleh tetesan tetesan berikutnya, membasahi pipi gadis itu.

Bersikap gentle, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.

“Aku tak tau kenapa kau menangis, yang kutau kita adalah pasangan yang real sekarang. Tidak ada kekasih palsu, tidak ada berpura pura mesra. Tujuan kita sudah jelas sekarang. Kau dan aku. Kita benar benar sepasang kekasih mulai dari sekarang, Yoona. Aku tak akan memintamu jadi kekasihku, karena aku tidak menerima penolakan atau alasan mu yang lain. Aku mencintaimu” Donghae tak percaya atas apa yang ia ucapkan barusan. Itu bukanlah kata kata yang lebih romantis yang selalu ia ucapkan pada Jessica, tapi yang pasti ini lebih tulus dari pada ucapan yang biasa ia lontarkan pada Jessica.

Donghae sadar betul bahwa saat ini hanya Yoona lah yang ia inginkan. Hanya Yoona lah yang ia butuhkan untuk mengisi hari harinya.

 

 

 

 

Matahari sudah terbit dinegara bagian Eropa, dan sudah saatnya Bulan muncul dinegara gingseng itu.

Angin malam yang sebenarnya tidak sehat itu menerpa wajah Yoona.

Tak ada kata dingin bagi Yoona malam ini, karena jemari serta tangan besar Donghae menggenggam erat tangannya saat ini. Tak ada yang lebih hangat dari itu.

“Bagaimana aku bisa kedinginan jika matahari sudah ada disampingku” celetuk Yoona menjawab pikiran nya sendiri.

“Apa?” Yoona tersadar dan menggeleng menjawab pertanyaan Donghae. Senyuman konyol serta malu sendiri itu tercipta diwajahnya.

“Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang” Yoona mengiyakan ajakan Donghae. Dan mereka bergegas meninggalkan Sungai Han dan pulang.

Sebenarnya Yoona tak ingin membebani Donghae dengan mengantarkannya pulang, karena lelaki itu memaksa dengam alasan bahwa ia adalah lelaki gentle maka ia harus mengantarkan seorang gadis pulang kerumahnya.

Yoona mengiyakan tawaran Donghae yang memaksanya, tentu saja ia tidak menyesal menerima tawaran itu.

“Sudah sampai, aku turun” Yoona keluar dari mobil hitam milik Donghae, dan berjalan menuju pagar rumahnya.

“Tunggu!” Donghae menghentikan Yoona, lelaki itu buru buru keluar dari mobilnya.

“Apa aku melupakan sesuatu?” tanya Yoona bingung dan hanya memerhatikan Donghae yang sibuk keluar dari mobilnya.

Donghae mendekati Yoona dengan senyuman maut miliknya, senyuman khas seorang Casanova.

“Tidak, hanya saja ini akan menjadi kebiasaan baru” Donghae menarik kepala Yoona mendekat dan mencium kening Yoona.

“Selamat malam” Donghae berlalu dari hadapan Yoona dan memasuki mobilnya.

Donghae menginjak pedal gas mobil miliknya dan meninggalkan tempat tinggal Yoona.

Yoona masih terdiam menatap mobil Donghae yang menjauh.

Semburat merah dipipinya terlihat menggemaskan.

“Aku tak tau rasanya seperti ini. Benar benar menyenangkan. Walaupun sedikit sakit saat jantungku berdetak begitu cepat” detakan jantung yang begitu cepat memang menyakitkan, Yoona.

Entah itu karena bahagia ataupun sedih. Jika jantungmu memompa darahmu begitu cepat, memang terasa sedikit sakit.

 

 

 

•••
Entah ini salah siapa, Ibu Yoona,  Ayah Yoona atau bahkan Yoona sendiri. Yang pasti ini adalah hari tersial diantara hari hari sial lainnya bagi Yoona.

Harusnya Yoona bangun lebih awal dan pergi kesekolah dengan senyuman ceria karena ia sudah sah menjadi kekasih Lee Donghae.

Bukan malah berakhir dibelakang sekolah dengan usaha memanjat tembok untuk masuk ke sekolah tersebut.

Yoona sangat malas berurusan dengan satpam sekolah mereka ditambah guru pengawas yang sudah pasti akan menghukum Yoona seperti beberapa waktu lalu karena terlambat.

Yoona mendapatkan ide ini ketika seminggu yang lalu kedapatan Changmin yang masuk ke sekolah mereka melewati tembok ini.

Benar benar ide brilian untuk menghindari hukuman yang tak diinginkan.

“Kau masih ingin berusaha memanjat itu?” Yoona yang masih bersusah payah memanjat tembok itu menoleh kebelakang.

Mendapati Donghae yang sepertinya juga terlambat.

Donghae menarik pinggang Yoona, membantu gadis itu turun dari usahanya memanjat tembok.

Bagaimana ia tidak sulit memanjat jika ia masih menggunakan rok selututnya?  Pikir Donghae

“Terimakasih” Yoona merapikan roknya yang sedikit berantakan.

“Syukur aku yang melihatmu, bagaimana jika laki laki lain?  Kuyakin mereka akan diam saja melihatmu dan mengintip celana dalammu” Yoona hanya menunduk malu, menyadari bodohnya ia memanjat sedangkan ia memakai rok sekolahnya.

“Tidak perlu frontal begitu” balasnya mencibir dan memberikan pukulan kecil di perut Donghae.

Donghae hanya tertawa melihat tingkah konyol Yoona.

“Apa kau tetap mau sekolah? Ayo bolos, kita akan berkencan”

Dan tidak ada penolakan untuk Lee Donghae.

“Aku tak menyangka kau mengajakku berkencan disini. Ku pikir kau akan mengajak menonton atau melakukan hal lain yang biasa diminta oleh anak perempuan lainnya” Yoona tertawa kecil mendengar gumaman Donghae. Bagaimana tidak?

Saat ini mereka sedang berada di Taman anak anak, duduk diayunan.

Donghae tidak bergerak seperti halnya Yoona yang sibuk mengayunkan ayunan yang ia naiki, membiarkan rambutnya yang tergerai sedikit berantakan.

Donghae hanya fokus menatap Yoona, memikirkan banyak hal tentang gadis itu. Donghae tak tau alasan kenapa ia menyukai gadis itu, Yoona tidak sefeminim Jessica, tidak selembut Jessica, bahkan tidak semanja Jessica. Yoona itu tipe gadis yang sedikit tomboy, benar benar bukan tipe ideal Donghae.

Namun faktanya, Donghae jatuh pada pesona gadis itu.

“Kau suka anak kecil ya?” Yoona yang mendengar pertanyaan Donghae dengan cepat menjawab ya.  Ia memang begitu menyukai anak kecil,  melihat tingkah lugu mereka membuat Yoona bahagia.

“Kalau begitu, jika sudah menikah nanti. Ayo punya anak yang banyak. 11 mungkin cukup”

“Apa kau pikir mudah mengeluarkan mereka sebanyak itu?!”

“Kau menyukai anak anak kan? Semakin banyak, semakin kau suka”

“Tapi tidak seperti itu juga”

“Sebelas cuma sedikit Yoona”

“Kalau begitu kau yang mengandung mereka”

“Kalau aku bisa, apa yang tidak untukmu”

“Menyebalkan”

“Aku juga menyukaimu”

“Aku tidak bilang menyukaimu idiot!”

“Aku tau kau sangat menyukai ku”

“Aku akan memakanmu bentar lagi”

“Kau sangat imut”

Yoona yang sedikit kekanakan dan Donghae yang jahil.

Bukankah pasangan yang serasi?

 

 

 

•••
Salah satu hal yang ingin dilakukan Yoona jika memiliki kekasih adalah makan siang diatap sekolah dengan bekal yang ia bawa. Oh, tentu saja itu masakan Yoona sendiri.

Donghae setuju dengan ajakan Yoona untuk memenuhi keinginannya itu, hal hal sederhana yang belum pernah ia lakukan dengan Jessica.

Ahh, maaf. Jangan membahas wanita masa lalu Donghae lagi.

Kotak nasi yang tadinya berisi nasi goreng kimchi itu telah habis tak tersisa. Kotak itu dibiarkan terbuka begitu saja, entah Yoona atau Donghae lupa atau malas menutupnya, atau sekedar membumbuhi suasana romantis mereka.

Syukurlah sinar matahari siang itu tidak terlalu menyengat, jadi bermalas malasan diatap sekolah bukan menjadi ide yang buruk. Menghindari pelajaran olahraga yang sudah pasti materi praktek dilapangan sekolah.

Biasanya Donghae lah yang paling semangat jika sudah mengenai pelajaran yang biasa menguras keringat itu, tapi kali ini ia lebih memilih menyimpan keringatnya dengan bermalas malasan bersama Yoona.

Menyandarkan kepalanya dipaha Yoona, dan tidur selonjoran.

Dari sana, Donghae bisa melihat jelas wajah Yoona. Sederhana namun membuat jantungnya berpacu begitu keras.

“Lubang hidungmu sangat cantik jika dilihat dari sini” mata Yoona membulat lebar mendengar pujian memalukan dari Donghae.

“Kau mau mati?!” amuk Yoona dan mengincar telinga Donghae sebagai pelampiasan kemarahannya.

“Aku serius, kau ini kenapa sensitif sekali?” rintih Donghae memegangi telinganya yang sudah memerah.

“Lubang hidungmu semakin cantik bentuknya jika dilihat dari bawah sini. Aku serius” Donghae benar benar memuji lubang hidung Yoona, tapi sungguh wajah Yoona benar benar memerah menahan malu bukan karena pujian. Apa tidak ada bagian wajah Yoona yang lain yang lebih cantik?

“Kenapa harus lubang hidungku?” Yoona melupakan rasa malunya akibat pujian bodoh dari Donghae.

“Karena hanya aku yang boleh melihat lubang hidungmu dari bawah sini dam sedekat ini” Oh, itu rayuan. Walaupun bukan rayuan khas seorang Casanova, itu rayuan diluar dugaan.

“Ya, hanya kau. Kau membuatku malu, idiot” umpatan yang sudah Yoona tahan akhirnya ia lontarkan kepada Donghae, dan dibalas oleh tawa renyah khas Lee Donghae.

“Kau cantik, semuanya. Bahkan lubang hidungmu. Hatimu, wajahmu, semuanya. Itulah kenapa aku menyukaimu” kali ini bukan karena malu, wajah Yoona memerah karena ucapan Donghae, bahkan untuk kesekian kalinya jantungnya seakan ingin keluar dari sarangnya.

Donghae sudah membuatnya jatuh Cinta berkali kali, setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik.

“Ngomong ngomong, kotoran hidungmu yang juga terlihat dari sini sangat cantik” kau akan benar benar mati, Lee Donghae.

 

 

 

•••
Ini sudah menjadi ke sekian kalinya Yoona melirik arloji hitam yang melilit pergelangan tangannya.

Sudah hampir 5 jam dari perjanjian pertemuannya dengan Donghae.

Yoona tidak salah tempat juga tidak salah jam.

Isi pesan yang dikirim Donghae benar benar menyatakan pukul 2 sore dan bertemu di Tavolo 24.

Bahkan langit yang tadinya masih disinari cahaya matahari kini sudah berganti dengan pancaran sinar Bulan.

Tidak biasanya Donghae telat seperti ini. Kalaupun telat, ia pasti mengirimi pesan untuk Yoona.

Kali ini benar benar tidak ada pesan. Yoona sudah menelponnya beberapa kali, namun Donghae tidak mengangkat panggilan dari Yoona.

Yoona ingin kembali, namun ia rasa 5 jam itu sia sia jika ia pulang tanpa bertemu dengan Donghae. Bagaimana jika setelah ia pulang Donghae akan datang?

Yoona meyakinkan dirinya untuk tetap tinggal dan menunggu sang kekasih.

Namun, batang hidung Donghae tak kunjung terlihat.

“Yoona!” Eunhyuk memasuki restoran bernuansa coklat itu, dan tanpa malunya berteriak memanggil nama Yoona.

“Donghae memintaku menjemput mu” jelas Eunhyuk sembari berdiri didepan Yoona.

“Dimana dia?” Yoona ikut berdiri, apa yang membuat Donghae menyuruh Eunhyuk?

Tak salah kan jika Yoona berharap Donghae memberinya kejutan?

“Rumah sakit” jantung Yoona berdetak tak karuan. Donghae dirumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?  Apa ia kecelakaan? Koma? Atau apa?

“Apa yang terjadi padanya?!” suara Yoona benar benar tidak bisa terkontrol pada saat itu.

 

 

 

 

Elektrokardiografi itu mengeluarkan bunyi yang teratur. ‘Tit, tit, tit’.

Suasana diruangan itu begitu sepi.

Yoona menatap Jessica yang terbaring diranjang rumah sakit itu dengan tatapan iba. Wajah ceria serta senyuman menawan khas Jessica sama sekali tak nampak diwajah gadis itu.

Bahkan surai emas milik Jessica tampak begitu lesu.

Tatapan iba Yoona dibalas oleh senyuman menyedihkan Jessica.

Sudah hampir 20 menit saat Yoona dan Eunhyuk tiba, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Yoona juga Jessica.

“Kanker otak stadium 4” mulai Jessica.

“Sebenarnya, aku masih mencintainya, Yoona” Yoona paham betul siapa ‘nya’ yang dimaksud oleh Jessica.

“Kau tau, aku memutuskan Donghae karena penyakit ini” Yoona sungguh tak ingin mendengar hal ini.

“Aku tak ingin Donghae bersedih ketika aku mati nanti. Jadi aku melepaskannya. Agar ia melupakanku dan bahagia” inilah yang Yoona takutkan. Hal hal yang diluar dugaan Yoona.

“Sebenarnya aku turut senang melihat Donghae yang bahagia bersamamu. Harusnya aku ikut senang karena ia mulai melupakanku dan mencintaimu. Tapi kenapa rasanya sesakit ini?” Jessica mulai terisak, menceritakan segala isi hatinya kepada kekasih mantan kekasihnya.

“Harusnya aku bahagia, karena inilah yang kuinginkan. Tapi kenapa hatiku hancur melihat Donghae yang bahagia bersamamu? Kenapa rasanya begitu sulit? Kenapa harus aku yang memiliki penyakit menyedihkan ini?” Yoona juga mulai ikut terisak. Terhanyut kedalam cerita Jessica membuat ia juga ikut terhanyut dalam kesedihan gadis itu. Yoona juga bisa merasakan perih dari hati Jessica.

“Maafkan aku karena ibuku menghubungi Donghae dan menyuruhnya datang kesini. Maafkan aku yang tidak tau diri mengambil nya lagi darimu. Maafkan aku, Yoona. Aku masih mencintainya” hati Yoona tertusuk lebih dalam daripada hati Jessica. Ini adalah cerita Cinta pertama miliknya, kenapa harus mengalami masalah serumit ini?

Yoona turut sedih dengan apa yang dialami Jessica, namun tak ada yang lebih menyedihkan lagi ketika secara tak langsung Jessica ingin mengambil Donghae kembali darinya. Mengambil kembali Donghae yang sudah berhasil mencuri hatinya.

Yoona memeluk Jessica yang terbaring diranjang, meredakan tangisan gadis malang itu dengan pelukan hangat miliknya.

Dan setelah itu, Yoona beranjak pergi keluar dari ruangan Jessica. Sungguh, ia tak bisa menahan isakan yang sudah tak terbendungkan lagi.

 

 

 

 

 

Donghae menatap kosong pada gelas kaca berisi teh didepannya.

Pikirannya bercampur aduk saat ini.

“Jessica memutuskanmu karena ia tau, hidupnya tak akan lama lagi. Ia tak ingin menyakitimu, nak. Tapi aku tak ingin melihatnya bersedih diakhir hidupnya. Aku tak ingin melihat ia tersakiti karena kau bahagia bersama gadis lain” Donghae tak pernah menyangka alasan Jessica memutuskannya. Disaat ia sudah mencintai Yoona dan melupakan Jessica, kenapa fakta itu baru terkuak sekarang?

“Jadi, ku mohon padamu. Kembalilah bersama Jessica dan buatlah akhir hidupnya menjadi bahagia” Donghae hanya diam, apa yang harus ia lakukan?

Disaat ia tak ingin menyakiti Yoona, disaat ia tak ingin Jessica bersedih, dan disaat hatinya lebih memilih Yoona. Apa yang harus ia lakukan?

Donghae beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Ibu Jessica yang masih duduk dikantin Rumah Sakit Seoul itu.

Tujuan Donghae adalah kamar Jessica, menunggu Yoona dan berbicara baik baik dengan Jessica.

Tapi, pemandangan pahit ia dapatkan didepan ruangan Jessica.

Itu bukan karena Eunhyuk yang memeluk Yoona, tapi karena melihat Yoona menangis tersedu sedu lah yang membuat itu sangat pahit.

“Yoona-ya” Yoona mendengar suara Donghae yang memanggilnya. Tapi tidak kali ini, Yoona sangat tak ingin bertemu dengan Donghae.

Ia sangat bingung akan apa yang harus ia lakukan pada lelaki itu.

Yoona menghindar, pergi meninggalkan Donghae.

Tentu saja Donghae tak akan membiarkan Yoona menjauhi dirinya.

“Yoona-ya!” teriak Donghae lagi dan Yoona benar benar berlari dari koridor itu.

Donghae mengejarnya dan diikuti oleh Eunhyuk.

Sebelum benar benar keluar dari area Rumah Sakit, Donghae menarik pergelangan tangan Yoona tepat saat mereka berada didepan Rumah Sakit itu.

“Ku mohon, jangan lakukan ini” Donghae menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Tak ingin Yoona berlari darinya.

“Kita harus berpisah, Donghae. Inilah jalan untuk kita. Kembalilah pada Jessica” lagi lagi Yoona terisak dalam tangisannya. Merelakan Donghae untuk bersama Jessica.

Donghae melepaskan pelukannya, memaksa Yoona agar menatap wajahnya.

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” pertanyaan itu begitu menusuk Yoona. Bagaimana ia tidak mencintai Donghae lagi ketika cerita cintanya baru saja dimulai?

“Tentu saja aku masih mencintaimu, tapi Jessica lebih membutuhkanmu” jawaban Yoona tak kalah menusuk. Sama sama menusuk hati kedua insan itu.

“Apakah begitu sulit untuk kita bahagia?” untuk pertama kalinya Yoona melihat Donghae menangis didepannya. Bahkan lelaki itu juga terisak menyakitkan didepan Yoona.

“Kau tak boleh egois, kita tidak boleh. Jessica membutuhkanmu dan ia masih mencintaimu. Bukankah kau ingin kembali padanya?” ucapan Yoona seperti katana yang menghunus Donghae tepat di ulu hatinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau, kaulah yang kubutuhkan saat ini” Donghae berusaha keras menahan tangisannya, tapi sang Penguasa sekolah itu kali ini tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

“Seperti yang kukatakan. Kita saling membutuhkan namun tak lebih daripada Jessica membutuhkanmu. Buat ia bahagia diakhir hidupnya. Kali ini ku mohon, ini permintaan pertama dan terakhirku. Kembalilah pada Jessica”

“Selamat tinggal” Yoona memeluk Donghae sebagai salam perpisahan. Donghae juga membalas pelukan Yoona.

Tangisan tak lepas dari keduanya. Bahkan Eunhyuk yang menyaksikan perpisahan mereka juga ikut menangis.

Kenapa cerita Cinta kedua temannya itu begitu menyedihkan?

“Kau tau Yoona, Cinta bersamamu adalah hal yang menakjubkan”

-TAMAT-

Akhirnya selesai 😚😘😍

Ini cerita terinspirasi dari film komedi romancenya Daniel Padilla x Kathryn Bernardo yang berjudul ‘She’s Dating The Gangster’.

Banyak kesamaan alur maupun plotnya.

Author buat remakenya kerna itu film benar benar menyentuh hati author apalagi pas bagian akhirnya.

Dan muncullah niat buat bikin ff YoonHae versinya.

Dan ya,  sengaja gantung.

Ada rencana buat sequel, tapi dibuat juga kalo banyak yang minat hehehe.

Itu aja, maaf kalo banyak kesalahan kata dan typo.

Mahal kita ♥♥

Btw, itu bahasa Filipina hohoho
Salamat po!

Review mu semangatku ↖(^▽^)↗

Passive 

By. Vylord

Im YoonA – Lee Donghae 

Genre : School-life, AU, Comedy, Romance

Length : Drabble

Rate : G

 
Akan sangat menyenangkan jika menyukai seseorang yang juga menyukaimu,  bukan?

Itulah yang dirasakan Yoona.

Setelah memendam perasaan sukanya pada seorang siswa laki laki yang merupakan kakak kelasnya, akhirnya ia mendengar bahwa pemuda itu juga menyukainya.

Yoona menjadi seorang pemenang dari sekian siswi yang mengaku penggemar si Ketua OSIS itu ketika ialah seseorang yang disukai si Ketua.

Ditambah dengan gosip bahwa Sang Ketua OSIS itu belum pernah berkencan dengan siapapun, jackpot untuk seorang Im Yoona.

Double Jackpot saat si Ketua OSIS itu memasuki kelasnya saat jam kosong.

Mengerjainya ah lebih tepat menggodanya bukanlah ide yang buruk.

Dengan isyarat Yoona dan gengnya, salah satu temannya menutup pintu kelas mereka.

Menghalangi Donghae si Ketua OSIS untuk keluar dari kelas itu.

“Hey!  Kakak kelas!  Aku juga menyukaimu!” seisi kelas itu terdiam,  dan Yoona yang baru saja mengatakan itu menjadi perhatian puluhan pasang mata yang berada didalam kelas itu.

Bukankah sangat tidak tahu malu si Yoona itu?  Atau kelewat polos?

Donghae yang mendengarnya hanya tertegun diam, menatap Yoona yang berdiri dibelakang mejanya dalam.

Jika siswa/i lain tidak berisik menyoraki Yoona, sudah pasti mereka akan mendengar suara dentuman jantung Donghae yang begitu cepat.

Apa gadis ini gila?  Menyatakan perasaannya didepan orang banyak?  Pikir Donghae.

Ia bukan tipe seorang pemuda yang biasa mendengar hal hal Cinta didepannya.

Karena terlalu memikirkan pelajarannya,  hingga ia tak peduli akan hal itu.

Ia juga seseorang yang pernah nakal, bolos sekolah maupun tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Namun sungguh, Cinta masih sangat tabu untuk seorang Lee Donghae si Ketua OSIS.

Darahnya berdesir kencang saat Yoona berjalan mendekatinya.

Dengan ponsel yang ada ditangannya,  Yoona mengarahkan kameranya kearah wajah Donghae.

Tentu saja Donghae menghindari wajahnya yang sudah memerah menahan malu.

Namun,  lagi lagi dengan jahilnya serta ambisi mengambil foto Donghae,  Yoona mendekatkan kameranya ke wajah Donghae.

Dan berhasil mengambil fotonya.

‘Brugh’

Tubuh Donghae jatuh begitu saja ke lantai.

“Eh? Pingsan?” itu suara si jahil Yoona.

°°°
Yoona sudah melakukan banyak hal hanya untuk mendengar pernyataan Cinta dari Donghae, bahkan sudah 2 bulan sejak ia bergabung menjadi anggota di organisasi yang diketuai Donghae tak kunjung membuat Donghae menyatakan perasaannya pada Yoona.

Tidak hanya masuk sebagai anggota OSIS,  Yoona juga sering melewati kelas Donghae sekedar menyapa pemuda itu.

Sebelum menjadi anggota OSIS, Yoona rela menjadi panitia kegiatan jika ada acara di sekolah mereka.

Karena Yoona tau, Donghae itu pasif.

Jadi ia hanya perlu memancingnya.

Namun, umpan Yoona tak kunjung membuat Donghae memakannya.

Pemuda itu masih saja memendamnya,  benar benar tipe yang polos dalam hal Cinta.

Lusa akan diselenggarakan acara pelepasan kakak kelas SMA mereka, demi bersama Donghae, Yoona rela memasukkan obat pencuci perut ke minuman temannya yang akan menemaninya membeli alat dan bahan untuk acara pelepasan. Membuat si Malang Irene harus berkali kali memasuki toilet.

Sudah rencana Yoona, melihat si Ketua lah yang tidak ada kerjaan kecuali memandori anggota lain.

Seperti rencana busuk gadis itu,  akhirnya Donghae yang akan menemani Yoona membeli alat dan bahan yang dibutuhkan.

“Aku sudah lelah, Kak.  Bisa kita istirahat sebentar?” itu hanya dusta, si kuat Yoona mana mungkin kelelahan karena berjalan di swalayan selama 2 jam. 7 jam pun ia tahan.

Donghae mengiyakan ajakan Yoona.  Walaupun masih ada bahan yang harus dibeli, mana tega ia membiarkan seorang perempuan kelelahan,  terlebih lagi ia menyukai gadis itu.

Donghae sudah terbiasa berada didekat Yoona selama gadis itu tidak malukan hal hal gila seperti kejadian 4 bulan silam.

Itu sangat teramat diluar dugaan Donghae. Walaupun awalnya ia senang karena Guru Jung menyuruhnya memberikan mereka materi dikarenakan Guru Jung tidak dapat masuk karena sibuk, ia harus berakhir ditempat tidur ruang kesehatan sekolah mereka.

“Kak, aku tau kau handal bernyanyi. Ku harap kau melakukan pertunjukan menyanyi diacara pelepasan nanti”

“Kak, apa kau suka buah stroberi?”

“Aku sangat lelah”

“Kak,  aku tau kau menyukai warna biru”

“Kak, kau memang belum pernah berkencan kan?”

“Selamat!  Ini adalah kencan pertamamu!  Denganku!”

Yoona itu berisik, ceria, sedikit nakal, genit, dan tidak tau malu. Namun itulah mengapa Lee Donghae menyukainya.

Yoona itu apa adanya. Ia benar benar hidup sebagai Im Yoona tanpa menghiraukan komentar iri orang lain terhadapnya.

Sudah banyak beredar rumor bahwa mereka berpacaran. Selama rumornya bersama Yoona,  tak akan menjadi masalah untuk Donghae.

“Kak! Kenapa kau hanya melamun dari tadi?” gerutuan Yoona membuat Donghae tersadar dari dirinya yang berlayar dipikirannya akan gadis itu.

“Aku tidak melamun” elak Donghae setelah tertangkap basah oleh Yoona.

“Cepat habiskan minumanmu!  Setelah ini kita akan menonton!” mata Donghae membulat mendengar perintah Yoona.

“Bagaimana dengan bahan yang belum kita beli?” bahannya masih belum lengkap, tapi Yoona sudah seenaknya mengajaknya menonton bioskop.

Bahkan mereka harus cepat kembali dan membantu anggota lain untuk menyiapkan tempatnya.

“Kita bisa membelinya setelah selesai menonton. Kau tak harus selalu menurut. Kau itu Ketua OSIS,  tak akan ada yang memarahimu,  kak” yang dikatakan Yoona itu benar, siapa yang akan berani menegur Sang Ketua?

“Tapi sebelumnya,  ada yang ingin ku katakan!” apapun itu, Donghae tau, Im Yoona ini selalu penuh kejutan.

“Katakan saja” Donghae sudah penasaran karena gadis itu masih belum melanjutkan perkataannya.

“Karena kau seorang pasif, aku yang akan mengambil langkah!” Donghae sibuk menebak apa yang akan dikatakan Yoona. Ia pasif? Mengambil langkah apa?

“Maukah kau berkencan dengan ku? Dan menjadi kekasihku?” itu sungguh diluar dugaan.

Iris hazel milik Donghae refleks membesar.

Donghae memang berencana akan menyatakan perasaannya pada Yoona, namun nyalinya tidak ada untuk yang satu itu.

Gadis ini benar benar diluar dugaan. Itu yang dipikirkan Donghae.

Ia menyukai Yoona,  dan Yoona menawarkannya menjadi kekasihnya. Itu tentu saja keinginan Donghae.

“Hey!  Kau mendengarku?”

“Ayo berkencan!  Dan menjadi sepasang kekasih! ”
-TAMAT-
Epilog

“Kalian kemana saja? Kenapa membeli bahannya bisa sampai 5 jam?” Donghae dan Yoona hanya memberikan cengiran mereka dan menggaruk belakang kepala mereka serempak.

“Jika ingin berkencan, bukan disaat tugas kalian membeli alat dan bahan untuk acara” itu memang mutlak salah mereka berdua. Tapi, Yoona lebih dominan.

“Bahkan kalian tidak membeli bahannya yang lengkap! Kalian harus kembali ke swalayan dan beli segala keperluan. Dan kau,  Im Yoona. Biarkan saja Ketua Donghae yang pergi, ia akan ditemani Kris ke swalayan. Aku tau, kau yang membuat kalian lama kembali!”

•••
Akhirnya selesai juga ini ff. Ceritanya terinspirasi dari dua adik sepupu author yang masih 4 tahun, dijodoh jodohin gitu. Trus ada suatu waktu, adik cwe gw mau ambil foto si adik cwo, nahh si cwo ngehindar trus ehh dengan polosnya si cwe trus trusan ngarahi kameranya ke muka si cwo, setelah diambil gambarnya dengan suara yang khas si cwo langsung nangis kejer:”v sambil mukulin emaknya yang ketawa liat tingkahnya 😂😂
Itu aja, seperti biasa.

Review mu, semangatku^^

Who is He? 

By. Vylord

Im YoonA – Lee Donghae 

Genre : Fluff

Length : Short-fic

Rate : G

” Apa kau memiliki impian yang masih belum tercapai setelah sukses di dunia Entertaiment ini?” aku melihat Siwan sejenak, ku akui aku sudah sukses,  impianku untuk membahagiakan Ayahku juga sudah tercapai. Semuanya sudah bisa kugapai. Tapi, ada satu impian ku yang belum ku capai,  imipian semua wanita.

“Aku punya” Jonghyun yang baru saja bergabung mengernyitkan dahinya. Menatapku penasaran.

Sebelum mereka bertanya tentang apa impian ku itu,  aku terlebih dahulu menjawabnya.

“Menikah”

•••

Mengikuti apa yang dikatakan Jonghyun itu sebenarnya adalah hal bodoh.

Bertanya kepada peramal akan jodohku?

Ugh, itu menggelikan. Namun, tidak kalah menggelikan lagi aku yang dengan idiotnya mengikuti sarannya itu.

Aku sampai disuatu tempat terpencil disudut kota Gwangju.

Berkendaraan sendirian tanpa sepengetahuan manager dan member soshi yang lain.

Akan sangat memalukan jika mereka mengetahuinya.

Aku memasuki tempat itu setelah sebelumnya permisi untuk masuk.

“Hay anak muda, kau bisa perkenalkan dirimu dan bertanya apa yang ingin kau ketahui” aku menatap wanita paruh baya itu dalam, apa ia tak mengenaliku? Seorang Public Figure yang kepopulerannya tak perlu ditanyakan lagi?

“Aku, Im Yoona” jawabku mantap.

“So Nyeo Shi Dae? ” aku lagi lagi mengangguk mantap. Siapa yang tak tau itu?

“Aku juga menyukai Jang Saebyuk itu,  tapi kau tak perlu kurang percaya diri hingga mengaku bahwa kau adalah Yoona-ssi” rahangku jatuh ketanah begitu saja. Apa mustahil bagi seorang Idol untuk melakukan hal konyol ini?

“Aku memang Yoona,  bibi. Kau bisa melihat wajahku dengan jelas” aku sedikit kesal,  apa ia kira aku seorang pembohong?  Mengaku jadi orang lain?

“Kau memang sangat mirip dengannya. Tapi aku tak percaya Yoona-ssi bisa datang ke tempat seperti ini”

“Sepertinya itu memang benar kau, nona” aku sedikit terkekeh. Mengapa banyak orang yang tak percaya jika aku mengunjungi daerah daerah sederhana?

“Aku ingin menanyakan sesuatu, Bibi” melupakan hal tadi,  aku kembali pada tujuan utamaku datang kesini.

“Tanyakan saja. Nasibmu maupun takdirmu, aku bisa sedikit membacanya, sayang” Bibi itu meyakinkanku akan keahliannya. Aku hanya sedang kurang kerjaan saja dan mencoba kesini. Aku tidak percaya pada hal berbau ramalan, tapi aku hanya mencoba saja.

“Bisakah kau melihat dari diriku seperti apa pria yang akan menikah denganku?  Atau kisah cintaku?” aku bertanya padanya, apapun jawabannya itu hanya sebuah lelucon untukku. Seperti hiburan.

“Kau belum memiliki kekasih sampai sekarang setelah putus dengan seorang pria dua tahun silam” semua orang tau hal itu. Tapi, aku memang tidak berkencan dengan siapapun sejak putus dengan Lee Seung Gi.

“Kau bisa dekat dengan siapa saja, sifat ceriamu itu membuat orang nyaman denganmu. Itu menyebabkan banyak orang yang mencintaimu” siapa yang tak tau sifatku yang mudah bergaul? Sebenarnya,  Bibi ini terlalu berbelit.

“Bagaimana dengan pria itu,  Bibi?” aku menunggu jawaban darinya. Bagaimana seseorang yang akan menikah denganku kelak. Walaupun aku tak akan percaya,  namun apa salahnya mencoba?  Sebagai hiburan,  dan mana tau jika sebuah kebetulan pria itu seperti seseorang yang ku kenal.

“Aku tak tau pasti siapa pria itu. Tapi kau akan segera bertemu dengannya”

“Hanya itu saja?”

“Ya,  hanya itu yang bisa ku beritahu,  sayang”

•••
Aku keluar dari rumah Bibi itu dengan perasaan kesal. Jika itu jawabannya, aku sudah tau. Cepat atau lambat pasti akan bertemu dengan seorang pria yang akan menikahi ku.

Tentu saja,  semua orang juga akan segera bertemu dengan pria yang akan menikahinya. Kalau tidak bertemu, maka tidak akan menikah.

Semua yang ia katakan, orang lain juga tau itu.

Dia bisa berbohong untuk menghiburku, bukan malah membuatku kesal seperti ini.

Aku berjalan kesal kearah mobilku, aku masih sangat kesal.

Kaleng minuman itu harus menghilangkan kekesalanku, ya harus.

Aku menendangnya sekuat tenaga sebagai pelampiasan dari kekesalanku.

“Awww” aku mendongak kedepan melihat sumber suara itu, sepertinya pria itu terkena kaleng minuman yang ku tendang.

“Hey kau harus hati hati!  Kau sudah…  Yoona-ssi?”

“Oh!  Donghae Oppa!”

-TAMAT-
Epilog

Harusnya Bibi itu mengatakan bahwa pria yang akan menikah denganku itu seorang pria dari masa laluku!

•••
Ini tercipta kerna emang lagi pengen nulis ff, tapi gaada ide buat tema apa,  plot apa, gimana jalan ceritanya.

Jadilah ini seonggok ff yang siapnya ga sampe satu malam dan ending begitu saja.

Tanpa konflik, tanpa jalan cerita yang seru.

Sebuah ff sederhana yang lahir dari keisengan semata hoho

Ya walaupun hanya sesuatu yang sederhana, jangan lupa untuk meninggalkan jejak yaa^^
‘Jejakmu,  Semangatku’ ↖(^▽^)↗

That’s What I Want

Hey! Lee Donghae!” 

“Apa?”

“Bolehkah aku memelukmu?”

“Tidak”

“Kenapa?”

“Karena kau bau”

“A-apa?!”

Title: That’s What I Want
Author : Diva Moniva
Cast :
– Im Yoona
– Lee Donghae
Genre : Comedy, Romance, AU
Length : Oneshot
Rate : PG

‘Karena kau bau’
Tiga kata itu terus saja terngiang dikepala Yoona. Dia bau?
Lee Donghae mengatakan hal sepahit kopi hitam itu pada dirinya, kekasihnya sendiri?
Hell, dia itu kekasih atau bukan sih?
“Ibu, kau harus membelikan ku sabun, body lotion dan parfum yang wangi. Aku tidak mau memakai punyaku yang lama lagi. Aku harus benar benar wangi, Ibu” dahi Ibu Yoona mengernyit, apa maksud putrinya ini? Membuang yang lama? Bukankah itu boros? Bahkan semua barang barangnya itu baru dibeli dua minggu lalu dan dengan seenak jidatnya ia ingin membuangnya?
“Kenapa seperti itu? Kau tak boleh boros, sayang” Yoona hanya mengerucutkan bibirnya dengan masih berlendotan pada tubuh sang Ibu. Benar benar tipe wanita yang manja.
“Donghae mengatakan bahwa aku bau, dan ia tak mau memelukku” Ibu Yoona terkekeh mendengar perkataan polos putrinya. Hanya karena itu?
“Baiklah, sini Ibu yang akan memelukmu”
“Aku maunya dipeluk Donghae, Ibu”
“Hey, aku adalah Ibumu, kau tak mau dipeluk Ibumu ini?”
“Yang satu ini berbeda, Ibu tau itu” lagi lagi Ibu Yoona hanya terkekeh mendengar keluhan putri bungsunya itu.
“Itu hanya alibi, Donghae tidak benar benar serius mengatakan kau bau. Mungkin Ia punya alasan lain” Alasan apapun itu, Yoona tak mengerti. Ia hanya menelan bulat bulat apa yang Sehun katakan.
“Terserah, aku hanya ingin sabun, body lotion, dan parfum baru!” Oh, gadis manja dan juga cerewet. Yoona merajuk, melepaskan pelukannya dari sang Ibu dan berlalu.
“Minta belikan saja pada Donghae!” Yoona tersenyum tipis mendengar teriakan Ibunya, itu bukan ide yang buruk.
Baiklah, jika Ia bau, maka Lee Donghae yang akan membuatnya wangi!
•••

“Donghae-ya” Donghae menoleh kearah Yoona saat mendengar gadis itu memanggil namanya.
Mereka baru saja selesai makan siang diatap sekolah, Yoona membawa bekal untuk Donghae seperti yang biasa Ia lakukan.
“Ada apa? Katakan saja, bukankah biasanya kau langsung berkata tanpa berpikir?” Donghae itu tipikal pria yang terlalu jujur, tak memikirkan perasaan orang.
Tapi itu tak masalah, dalam hubungan mereka memang sering terjadi sesuatu yang sadis.
“Apa aku benar benar bau?” Dan Yoona benar benar tipikal gadis yang polos.
“Bodoh” What? Bodoh katanya? Ugh, kepala Yoona sudah terbakar sekarang.
“Aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu polos, kau tau” tentu saja Yoona tak terima dikatakan bodoh oleh Donghae. Ya walaupun kenyataannya Donghae lebih pintar dari Yoona, tapi tetap saja, peringkat Yoona pas dibawah Donghae yang tak pernah keluar dari 5 besar. Dan itu bukanlah kategori bodoh.
“Polos dan bodoh itu beda tipis, Yoong” Donghae menyubit pipi Yoona. Gadis itu memang sangat polos dan sebagian besarnya bodoh.
“Terserah, aku marah sekarang” Donghae kadang tak mengira, kenapa gadis berparas tomboy itu sangat manja dengannya.
“Baiklah, apa yang kau inginkan?” sebagai kekasih yang baik hati, Donghae mengalah untuk Yoona. Tak ingin gadis itu marah padanya.
“Peluk aku” baiklah, itu tak masalah bagi Donghae. Donghae memeluk Yoona lalu melepaskannya.
“Astaga Lee Donghae! Itu kurang dari 3 detik!” mata Yoona membulat sempurna, Donghae memelukmya hanya dalam waktu kurang dari 3 detik. Niat tidak sih?
“Yang penting sudah ku peluk” jika saja Donghae bukan kekasihnya, sudah pasti saat ini ia sedang menjadi sarapan pagi beruang kutub di Kutub Utara. Yoona sangat ingin menendang bokong Donghae.
“Cepat beresi bekalmu dan kita kembali ke kelas” Donghae itu bunglon, kadang dingin, cerewet, cuek, dan kadang terlalu perhatian. Apa ia akan memanggil Donghae dengan nama Pascal? Seperti nama bunglon milik Rapunzel di film disney land Tangled kesukaan Yoona.
•••

Panas terik itu tak mematahkan semangat Donghae dan teman-temannya untuk bertanding sepak bola. Terik matahari ditambah dengan teriakan supporter dipinggir lapangan sepak bola di sekolahnya.
Hari ini adalah pertandingan antar kelas disekolahnya, memperingati ulang tahun sekolah yang ke 37.
Donghae sesekali melirik kearah penonton, disitu ada Yoona namun kenapa ia enggan berteriak seperti teman-temannya yang seperti kekurangan air. Apa mereka tidak haus berteriak terus?
Apa Yoona sudah haus makanya tidak berteriak? Atau tenggorokannya sakit? Atau memang ia tidak mau mengeluarkan suara indah nan cempreng yang mampu memecahkan jendela kaca disekolah ini. Donghae tak tau kenapa kekasihnya itu hanya diam sambil mengamatinya saja.
Kesampingkan gadis yang terkadang melalukan hal idiot itu, ia harus fokus pada pertandingannya dan memena…
“Donghae awas!”
‘Bugh’
Im Yoona sialan! Ini karena memikirkan gadis bodoh itu terus sampai ia tak sadar bola datang padanya dan dengan indahnya mendarat dikepala berisi berlian miliknya.
“Kau tidak apa apa?” Eunhyuk bertanya pada Donghae, walau bagaimana pun ia yang menendang bola itu dan mengenai Donghae.
“Jika bola membentur kepalamu apa kau baik baik saja? Brengsek!” Donghae itu emosian, asal kau tau. Eunhyuk hanya cengengesan melihat Donghae.
“Maafkan aku, Donghae” Donghae hanya memutar bola matanya malas dan berlalu.
“Akan ku balas kau!” Eunhyuk yang mendengar pekikan Donghae itu hanya tertawa, dasar pendendam. Tapi memang seperti itulah Lee Donghae, sahabatnya.
Pertandingan itu selesai dan dimenangkan oleh tim Donghae.
Yoona yang melihat Donghae berjalan menujunya tentu saja berlari kearahnya, dengan tanpa malunya ia merentangkan tangannya untuk memeluk Donghae. As her wish.
Namun, tubuh Yoona berhenti saat tinggal selangkah lagi ia dapat memeluk Donghae.
Bagaimana tidak? Tangan Donghae menahan kepala Yoona yang hendak memeluknya, tak membiarkan Yoona memeluk tubuhnya.
“Kenapa kau menghalangiku?” cibir Yoona dengan tangan yang berusaha menggapai Donghae, namun apa daya, tangan Donghae menahannya.
“Badanku bau dan basah. Aku tak ingin kau tertular” tck! Apa Donghae pikir itu adalah Human Immunodeficiency Virus yang dapat menularkan kepada orang lain?
“Terserah” jika saja ada semangka didepannya, sudah pasti itu akan hancur hanya dengan tatapan mematikan Yoona. Ia sudah sangat kesal dengan tingkah kekasihnya ini.
“Ayo” Yoona hanya mengikuti Donghae dengan malas, tangannya ditarik oleh Donghae meninggalkan lapangan sepak bola itu.
Yoona menatap tubuh Donghae dari belakang dengan cermat, sebenarnya apasih yang ada didalam kepala dan isi pikiran Donghae itu?
Yoona sangat ingin tau bagaimana perasaan laki-laki itu.
Sering sekali Yoona tak mengerti yang ada pada diri Lee Donghae.
‘Bugh’
Damn! Itu karena Donghae berhenti tiba tiba hingga ia menabrak tubuh Donghae dan menimbulkan makian dalam hati Yoona.
“Jangan melamun, idiot” didalam hubungan mereka, makian lebih romantis daripada kata kata maupun panggilan manis.
•••

“Hei! Kwon Yuri! Kembalikan buku diary ku!” Sahabat memang tempat meceritakan curahan hati, namun diary itu privasi yang sahabatnya juga tak boleh tau.
Dan dengan seenak jidat Yuri, ia mengambil buku diary Yoona dari tasnya dan melarikannya.
Tentu saja Yoona meledak seperti bom atom ‘Little Boy’ yang menghancurkan Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945.
“Lee Donghae! Bantu aku menangkap tikus bedebah itu!” teriakan Yoona tak memberikan efek apapun pada Donghae, ia hanya diam dan memperhatikan Jinchuriki ekor 9 sedang mengejar Madara dengan keinginan akan membunuhnya.
“Hae! Kau menunggu Yoona?” Donghae menoleh saat Eunhyuk memanggilnya.
“Ya” jawabnya seadanya.
“Baiklah, aku duluan” Donghae hanya menggangguk melihat Eunhyuk yang keluar kelas untuk pulang.
Sedangkan ia harus menunggu Yoona menyelesaikan masalahnya dengan Yuri.
‘Bugh’
Suara itu membuat Donghae refleks menoleh ke sumber suara dan ia mendapati Yoona dengan kondisi mengenaskan.
Tubuh terbaring dilantai, rambut yang berserakan dan juga sepatunya yang copot dan terbang entah kemana.
Ingin sekali rasanya Donghae tertawa mati matian, namun melihat gadis itu tak kunjung bangkit membuatnya enggan untuk melepaskan tawanya.
“Kau baik baik saja?” Yoona hanya menggangguk dengan kepala masih tertunduk, Donghae membantunya untuk bangkit dan duduk. Namun Yoona masih menundukkan kepalanya.
Rasa khawatir mulai menyelimuti Donghae, apa gadis ini menangis?
“Kau… menangis?” Tidak ada jawaban dari Yoona, yang ada tubuhnya sedikit bergetar.
Yuri yang melihatnya mendekat, tanpa berkata apa apa. Apa sesakit itu hingga Yoona menangis?
“Sudahlah, jangan menangis” biasanya kata kata itu akan meredakan seseorang yang menangis, namun tidak untuk Im Yoona.
“Huuuaaaa!!!! Jangan bilang gitu! Aku makin menangis jadinya” tangisannya semakin menjadi, membuat Donghae membuang nafasnya kasar. Apa katanya? Semakin menangis hanya karena Donghae mengucapkan kata kata seperti itu? Dia memang aneh.
Sedangkan Yuri, sudah mati matian menahan tawa melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Apa apaan sih Yoona itu? Sangat idiot, tau!
“Baiklah, aku tak akan mengatakannya” Donghae sungguh tak ingin Yoona menangis, apa sangat sakit ya? Hingga Yoona menangis.
Tak tega melihat Yoona seperti itu, Donghae mengajukan diri memeluk Yoona. Mencoba untuk meredam tangisan Yoona dengan cara memeluk Yoona, hal yang selama ini gadis itu dambakan.
Tunggu, apa katanya? Memeluknya?
Oh, its’s miracle!
Yoona tertegun merasakan pelukan hangat Lee Donghae, senyaman ini. Dan tangisannya tiba tiba berhenti.
Seperti seseorang sedang menggunakan kekuatan ‘Time Pause’ otak Yoona berhenti berpikir. Apa ini? Donghae memeluknya karena ia menangis?
Tunggu, karena Yoona menangis? Sehun memeluknya?
Donghae memeluk Yoona karena Yoona menangis!
Otak tak seberapa Yoona mendapatkan jawabannya!
Jika ia menangis, Sehun akan memeluknya!
“Huaaahhhh!!! Sakit sekali Donghae-ya!” Dan terjadilah Yoona yang mendramatisir dengan memeluk Donghae erat.
“Lee Donghae!!!” Dan Yoona tak akan melepaskan pelukannya.
Kau telah ditipu, Lee Donghae.
•••

“Hari ini kita ke ruang praktikum” Yoona hanya mengangguk mengiyakan perkataan Yuri.
“Kau tau apa yang akan dibedah hari ini?” Yoona hanya menggeleng malas. Minggu lalu ia terlalu badmood untuk mendengar sang ketua kelas mengumumkan korban mana lagi yang akan mereka bunuh.
“Ku harap kau bisa menghadapinya” Yoona sedikit bingung mendengar perkataan Yuri, emangnya apa yang tak bisa ia hadapi dimuka bumi ini? Tyrex pun ia berani menghadapinya.
“Fejervarya cancrivora” Apa? Itu sedikit tak asing ditelinga Yoona.
Tentu saja itu nama latin dari hewan, namun apa?
“Terserah apapun itu, aku bisa. Asal bukan seekor amphibi” Yoona itu anti amphibi terutama spesies katak, kodok, atau semacamnya. Ia sungguh benci hewan berlendir itu.
“Sayangnya itu memang amphibi. Ditambah lagi, ia hidup disawah” hidup disawah? Maksudmu seekor kodok sawah? Yang kulitnya bergerigi, berwarna coklat dan memiliki wajah mengerikan itu?
Itu yang akan mereka bedah?
Terkutuklah 17 tahun hidupmu, Im Yoon Ah!
“Aku akan membolos praktek hari ini!” Teriak Yoona dan sudah siap berdiri ingin melarikan diri dari hukuman matinya yang akan dilaksakan sebentar lagi.
“Tak masalah hewan apa saja, asalkan tidak sejenis amphibi brengsek itu!” Yuri sudah terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Seekor kodok, huh? Seperti mau membedah monster saja.
“Kau tak bisa membolos, Yoon” terkutuklah Gru dan minion minionnya! Jika sudah Lee Donghae, mana bisa ia menolak.
“Tidak untuk kodok, Hae” suara Yoona mencicit pelan. Namun Donghae tetap menatapnya tegas tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Ku mohon” tentu saja tatapan anak anjing yang terlantar ia tunjukkan pada Donghae. Memohon dengan sangat agar tak menghadapi hukuman matinya itu.
“Ini untuk nilai semester, dan kau pikir aku akan membiarkan mu membolos dan tak mendapatkan nilai semester? It’s imposibble, Im YoonA!” Ya, Donghae benar. Ini untuk nilai semesternya.
Namun apa ia akan merelakan nyawanya untuk nilai semester?
“Kau taukan Donghae, aku itu kodokphobia” lagi lagi Yoona memelas. Agar Donghae menuruti permintaannya kali ini.
“Kau tau aku kan Yoona? Sekali tidak tetap tidak. Kau membolos atau aku tak akan pernah mau memelukmu atau menciummu” seperti petir yang menyambar Yoona, apakah Donghae berniat membunuhnya sekalipun ia sudah menjadi seorang arwah?
“Baiklah, mati untuk Lee Donghae” Yoona menyerah jika sudah itu ancaman dari Donghae.
Pernah sekali ia melanggarnya, dan apa? Donghae benar benar melakukannya. Saat itu Donghae mengatakan tak akan menyapanya seminggu, dan benar benar terjadi.
Yoona tak ingin itu terjadi lagi. Hidup tanpa pelukan Donghae?
Yoona tak akan bisa, lebih baik ia menghadapi kodok.
“Ini demimu, Donghae. Setelah itu kau harus memelukku satu harian penuh. Aku akan mengatakan pada Ibu, akhir pekan akan tidur dirumahmu. Dan bersiap saja, aku akan menjadi koala untukmu” Donghae memutar bola matanya malas, mau bagaimana lagi?
Ini demi kebaikan kekasihnya itu.
•••

Satu pekan telah berakhir, dan impian Yoona telah terwujud.
Setelah bangkit dari kematiannya kemarin, giliran janji Donghae yang ia tagih.
Sudah satu hari ini Yoona terus menempeli Donghae, benar benar seperti seekor anak Koala.

Menatap ribuan bintang dilangit adalah salah satu hal yang diimpikan Yoona. Ditambah melakukannya dengan Donghae. Yoona harus berterimakasih dengan kodok. Jika bukan karena kodok menjijikkan itu Yoona tak akan bermanjaan dengan Donghae seperti sekarang ini.
Memeluk Donghae sambil menatap langit yang dihiasi ribuan bintang.
Walaupun angin malam menghembus mereka yang berada dibalkon kamar Donghae, mereka tidak kedingingan karena saling menghangatkan.
Tak perlu ribuan bunga untuk Yoona, melakukan banyak hal dengan Donghae sudah termasuk kategori romantis menurut Yoona.
“Kenapa kau sangat ingin kupeluk?” Tanpa mengalihkan tatapannya dari langit, Donghae bertanya seperti itu pada Yoona. Kenapa Yoona lebih ingin dipeluk sedangkan diluar sana semua perempuan ingin dicium.
“Karena aku merasa sangat terlindungi didalam pelukan, dan itu sangat nyaman apalagi bersamamu Donghae” Donghae hanya mengangguk. Tidak Yoona namanya jika tidak aneh, benar?
“Tapi aku tidak merasakan itu saat memelukmu” Donghae ini terlalu jenius sehingga suatu waktu ia terlihat sangat idiot, seperti sekarang.
“Tentu saja, idiot. Karena yang akan melindungi itu dirimu. Mana mungkin kau merasa terlindungi saat memelukku. Karena tugasmu itu melindungi, bukan dilindungi. Kau benar benar idiot” dengan polosnya Donghae mengangguk mengerti. Yang dikatakan Yoona itu benar. Mana mungkin ia merasakan terlindungi jika ia yang melindungi.
“Tapi aku tidak nyaman” kata kata itu menusuk hati Yoona. Donghae tidak nyaman padanya?
Yoona bangkit dari tidurnya dan melepaskan pelukan Donghae.
Ia menatap Donghae dengan mata yang sudah berkaca kaca.
“Hey? Ada apa denganmu?” Melihat itu Donghae menjadi panik. Kenapa tiba tiba Yoona seperti itu?
“Jadi kau tidak nyaman denganku? Kalau begitu kenapa tidak akhiri saja?” Donghae terkekeh menedengarnya. Jadi ia kira Donghae tak suka dengannya?
“Kau benar benar bodoh. Yang kumaksud aku tak nyaman saat memelukmu itu karena kau terlalu kurus. Tidak enak dipeluk” Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.
“Jadi itu alasannya?” Donghae hanya mengangguk mengiyakan dan mengelus punggung Yoona dengan penuh kasih sayang.
“Jadi, naikkan berat badanmu. Maka aku akan sering memelukmu. Lihat ini? Aku seperti memeluk tengkorak” Yoona menggangguk berkali kali. Baiklah, jika untuk dipeluk Donghae setiap saat ia hanya perlu menaikkan berat badannya.
“Aku akan menaikkannya dan kau harus sering memelukku” itu adalah mutlak.
Hanya suatu masalah yang klise.
Yoona yang terobsesi untuk dipeluk dan alasan Donghae tak ingin memeluk Yoona.
Hanya perlu menaikkan berat badannya, lalu Donghae akan sering memeluknya.
Itu yang diinginkan Yoona.
TAMAT-

Thanks^^
Review mu adalah semangatku untuk menulis ff lagi^^