Somewhere Only We Know [Chapter 5]


By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Romance, Family 

Length : Chapter

Rate : T

.

.

.

.

.

Yoona terdiam. Mulutnya ia bungkam, ia tidak bisa berkata apapun saat ini. 

Tak ada yang bisa menahan Tiffany, Sooyoung dan Seohyun. 

Tak ada yang bisa menahan mereka karena sebuah mimpi adalah alasan mereka untuk tidak memperpanjang kontrak dengan agensi. 

Keputusan Tiffany untuk kembali ke Los Angeles sudah bulat, ia akan sekolah akting disana. 

Begitu juga dengan Sooyoung dan Seohyun. Mereka benar benar memutuskan untuk hengkang dari agensi.

Demi mencapai mimpi untuk menjadi seorang Aktris. 

Bahkan seorang Taeyeon pun tak mampu mengeluarkan pendapatnya untuk menahan membernya. 

Mana mungkin Taeyeon menahan mereka untuk mengejar mimpi, kan? 

Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun punya hidup sendiri. Mereka punya jalan cerita sendiri, dan Taeyeon maupun member lainnya tak ber hak untuk bercampur tangan. 

Yoona menahan rahangnya kuat, berbagai emosi kini bersarang di lubuk hatinya. 

Apa menjadi Girls’ Generation sudah tidak menjadi mimpi lagi? 

Yoona sungguh ingin memaki, ia juga ingin menangis disaat yang bersamaan. 

Tidakkan Jessica saja cukup untuk hengkang? 

10 tahun memang bukanlah waktu yang sebentar, tetapi Yoona kira mereka akan berpisah minimal saat umur Girls’ Generation menginjak 15 tahun. 

Super Junior saja bisa bertahan hingga 12 tahun dan masih berlanjut, kenapa grupnya tidak bisa? 

Yoona juga ingin menjadi aktris, bermain drama, bermain film, dan melakukan akting yang ia sukai. 

Namun untuk pergi dari agensi bukanlah salah satu keputusan yang tepat. 

Mereka memang tidak hengkang dari grup, hanya dari agensi. 

Tapi, bukankah sama saja? 

Yoona bahkan tidak bisa membayangkan Girls’ Generation tampil hanya dengan 5 member. 

Hilang sudah semua harapannya untuk bertahan selama lebih dari 15 tahun. 

Mana mungkin mereka mengadakan konser berlima, comeback album berlima, promosi berlima, dan hal hal lainnya hanya berlima. 

Grupnya sudah mati, grupnya sudah bubar, Girls’ Generation sudah berakhir. 

Yoona sangat ingin berteriak didepan membernya, mengatakan mereka bisa melakukan apa saja tapi tetap berada di agensi dan tetap berada di Girls’ Generation. 

Tapi dirinya tidak bisa. 

Yoona tak punya hak. 

Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun punya mimpi sendiri. 

“Maafkan aku” Seohyunlah yang paling keras menangis saat ini. Member lainnya hanya memeluk si bungsu dengan ikut terisak. 

Yoona memandang sendu ke tujuh temannya yang berpelukan sambil menangis. 

Yoona masih tidak bisa menerima keputusan Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. 

Dirinya terlalu kecewa. 

Yoona kira mereka bisa menahannya, tapi nyatanya tidak. 

Yoona kira berpikir beberapa hari mampu mengubah pikiran Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun untuk membatalkan hengkang. 

Nyatanya mereka akan hengkang. 

Saat Yoona berdiri hendak meninggalkan ruang tamu dorm mereka, Yuri menarik lengannya. 

Mau tak mau Yoona ikut pada pelukan mereka. 

Tepat saat dirinya berhambur, air mata yang sudah Yoona bendung pecah begitu saja. 

Ia marah, sedih, kecewa, bingung, dan lelah. Dan air mata yang turun dari pipi Yoona adalah bentuk segala rasa di dalam hatinya. 

Kenapa waktu begitu cepat berlalu?

“Maafkan aku tidak bisa mempertahankan ini. Maafkan aku tidak bisa menjadi leader yang baik” Taeyeon terisak saat pelukan mereka terlepas. Seohyun terus saja menggandeng Taeyeon, memeluknya dari samping.

Begitu juga dengan Tiffany yang memeluk Taeyeon dari arah yang berlawanan dengan Seohyun. 

Kali ini saja, biarkan Yoona marah, “Ini bukan salahmu, kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah, Taeyeon!” Yoona menghapus air matanya kasar. 

Tiffany tau Yoona marah, adiknya itu kesal akan keputusan yang ia ambil. Tapi jika dirinya bertahan di agensi, ia tidak akan pernah bisa untuk menggapai mimpinya menjadi seorang aktris terkenal. 

“Maafkan aku yang egois, ku harap kita bisa baik baik saja ke depannya” Tiffany akhirnya berbicara, dan dirinya juga tak ingin berpisah. Walau bagaimanapun, Tiffany ingin mimpinya bisa ia raih. 

“Aku tidak bisa memaksa kalian untuk tetap menjadi Girls’ Generation karena alasan kalian untuk menggapai mimpi. Tapi, aku benar benar penasaran saat ini. Apakah Girls’ Generation sudah tidak menjadi impian kalian lagi? Aku juga ingin jadi aktris, aku juga suka berakting. Tapi tidak jika aku harus keluar karena mimpi kita adalah menjadi Girls’ Generation selamanya. Memberku, grupku, dan penggemarku, aku tidak bisa mengkhianati mereka. Apa yang harus kulakukan? Aku juga punya mimpi yang lain, sama seperti kalian” semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam mendengar sederetan kalimat dari Yoona.

Terkejut akan yang Yoona ucapkan juga sebagian menyetujui ucapan Yoona. 

Dan yang membuat mereka terkejut adalah bagaimana mungkin Im Yoona yang berbicara akan memikirkan hati lawannya kini berbicara sepedas itu. 

Sebuah sindiran keras. 

Tak ada yang bisa menjawab Yoona, begitupun Taeyeon. 

Taeyeon membenarkan ucapan Yoona. 

Taeyeon tau, menjadi aktris adalah impian Yoona. 

Dan Taeyeon juga tau Yoona mati matian menyembunyikan hubungannya demi kebaikan grup dan karir mereka. Tapi pengorbanannya dibalas dengan hengkangnya ketiga member dengan alasan sebuah impian. 

Taeyeon pun begitu, ia juga punya mimpi. Namun ia tak mungkin meninggalkan membernya demi mimpi yang ingin ia capai.

Memiliki mimpi bersama member dan mencapainya bersama sama akan lebih menyenangkan bagi Taeyeon. 

Bersusah bersama dan bahagia bersama. 

Seperti yang biasa mereka lakukan. 

Tapi kini, apa yang bisa ia katakan? 

Impian seseorang yang menjadi kelangsungan hidupnya juga. 

Taeyeon tak ber hak akan itu. 

Dan beberapa menit ruangan itu senyap yang hanya diiringi suara detak jarum jam. 

Im Yoona memecahkan keheningan itu, “Girls’ Generation bukanlah impian kalian lagi!”.

Pintu dorm tertutup rapat setelah menelan punggung Yoona. 

•••

Yoona terdiam di dalam mobilnya, tak berniat untuk keluar dari sana padahal ia sudah sampai di depan gedung SM Entertainment. 

Pikiran Yoona melayang ke dua hari yang lalu, dimana dirinya murka dan menyindir keras Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. 

Hari ini ada pertemuan untuk ke delapan member Girls’ Generation, dan tinggal Yoona lah yang belum hadir. 

Yoona terlalu takut bertatap muka dengan Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. Ia merasa begitu bersalah setelah mengucapkan kalimat itu. 

Harusnya saat itu dirinya hanya diam, dan berpikir lagi. Tapi egonya mengalahkan segalanya. 

Sekarang hanyalah tertinggal penyesalan, Yoona tak bisa menarik kata katanya lagi. 

Tepat saat Yoona pergi dari dorm, ia menemui Donghae.

Menceritakan segala keluh kesah pada kekasihnya.

Donghae menenangkan Yoona dengan memeluknya, mencoba meredam tangisan Yoona. Menenangkan segala emosi Yoona.

Yoona ingat, kalimat Donghae yang membuatnya menyesal telah melemparkan sindirannya. 

“Mereka punya mimpi, dan mereka punya jalan mereka sendiri. Yoona, mereka hengkang bukan berarti mereka egois. Mereka punya hidup sendiri, dan mereka tau jalan mana yang tepat bagi mereka untuk menggapai mimpi. Kau tak bisa melarangnya, kau tak bisa menahannya. Karena demi apapun, ini tidak hanya tentang dirimu. Jujur Yoona, kau mudah mencapai impianmu karena kau adalah center di grupmu. Kau adalah visual. Agensi lebih memerhatikanmu. Sedangkan mereka? Apakah 10 tahun tidak cukup bagi agensi mengirim member lain untuk fokus ke dunia akting sepertimu? Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun sudah sampai pada kekuatan maksimumnya, dan member yang bertahan masih memiliki kekuatan yang lebih untuk bertahan. Ini seperti saat kau berada di kelas, semua orang bisa memahami pelajaran. Tapi itu tergantung masing masing siswa membutuhkan waktu yang berbeda untuk mengerti. Kau salah, Yoona. Pergilah untuk meminta maaf”

Yoona lagi lagi memejamkan matanya lalu membuang kasar napasnya. Ia keluar dari mobilnya dan memasuki gedung agensi. 

Jemarinya sedikit bergetar kala dirinya hendak membuka pintu ruangan yang sudah dijanjikan. 

Yoona masih terlalu takut untuk menerima respon Tiffany saat melihatnya. 

Demi apapun, Yoona rela mendapatkan tamparan di pipinya dari Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. 

Pintu itu terbuka, memperlihatkan sosok Yoona di ambang pintu. 

Puluhan pasang mata kini tertuju pada Yoona, namun dirinya lebih tertarik menatap sepasang mata yang biasanya menampakkan eye smile yang indah. 

Tanpa aba aba, Yoona berlari ke arah Tiffany dan memeluknya erat. 

Isakan dari mulut Yoona begitu jelas terdengar, “Maafkan aku, Tiff”

Tiffany mengangguk, membalas pelukan Yoona serta mengelus punggung Yoona lembut. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa hati Tiffany sakit saat mendengar sindiran Yoona, namun sebagai yang lebih tua ia mengalah. Mencoba mengerti perasaan adiknya yang Tiffany tau sangat ingin Girls’ Generation untuk bertahan lama. 

Tiffany tau Yoona hanya ingin mereka bersama selamanya, maka dari itu ia mencoba mengerti. 

Begitu juga dengan Sooyoung dan Seohyun, walaupun hati mereka terluka, mereka tidak marah dengan Yoona. Mereka bertiga memaafkan Yoona sebelum gadis itu memintanya. 

Kini ke delapan member Girls’ Generation itu duduk di kursi masing masing, mendengarkan setiap kata dari manager dan pemegang kontrak mereka. 

Dan diakhiri dengan ketukan ujung penda di meja. Tiga ketukan. 

“Terimakasih atas kerjasamanya, Tiffany Hwang, Choi Sooyoung, dan Seo Joo Hyun. Dan selamat datang lagi di SM Entertainment Kim Tae Yeon, Lee Sun Kyu, Kim Hyo Yeon, Kwon Yu Ri, dan Im Yoon Ah” Yoona tidak terlalu mendengarkan lagi apa yang dikatakan pemegang kontrak maupun manager mereka, dirinya lebih memilih diam dan larut pada lamunannya. 

Yoona belum siap untuk keluar dari gedung dengan berita yang sudah pasti menyebar tentang selesainya kontrak Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. 

Yoona belum siap untuk melihat air mata penggemarnya. 

Yoona berdiri dari duduknya, keluar dari ruangan itu dan meninggalkan ke tujuh member yang lain.

Yoona sudah permisi sebelumnya pada Taeyeon, yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah menenangkan pikiran. 

Yoona mengambil ponsel dari sakunya, mengetik beberapa digit angka dan menyalurkan sambungan. 

“Temui aku. Aku membutuhkanmu” 

•••

Yoona merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk miliknya. 

Mencoba membuang segala penat yang ia tampung di pundaknya. 

Hari masih pagi, pukul 9.47.

Ia baru saja mengantarkan Tiffany ke bandara, bersama member yang lain. 

Tiffany akan kembali ke Los Angeles, untuk mengejar impiannya. 

Berita tentang Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun yang tidak memperpanjang kontrak telah tersebar tiga hari yang lalu. 

Dan tadi malam mereka menghabiskan malam bersama untuk berkumpul sebagai salam perpisahan. 

Mengingat Tiffany yang akan pulang ke kampung halamannya tentu akan sulit bertemu dengannya. 

Jadilah mereka mengadakan pertemuan terakhir, bercerita, melupakan kesedihan, bercanda, dan hal lainnya. 

Hingga lupa waktu dan melewatkan satu malam untuk istirahat. 

Setelah pesawat Tiffany lepas landas, Yoona kembali ke apartmentnya. 

Istirahat tanpa gangguan apapun, itulah yang ia butuhkan saat ini. 

Yoona begitu malas untuk keluar bahkan kembali ke dorm, karena ia tau akan banyak penggemar disana. 

Dan Yoona sungguh tak ingin melihat kesedihan penggemarnya akan tiga member yang pergi sekaligus. 

Sudah cukup untuk kepedihan berita itu. 

Yoona harap berita menyakitkan itu ikut terbang pergi entah kemana seperti Tiffany yang baru saja pergi ke Los Angeles. 

Yoona yakin sepenuhnya, akan sulit bagi mereka yang menetap di Korea Selatan untuk kembali berhubungan dengan Tiffany. 

Kesibukan berbeda, Negara berbeda, benua berbeda, serta waktu setempat yang berbanding terbalik pula. 

Mana sempat mereka berkomunikasi. 

Jadi sekarang, biarlah dirinya beristirahat. 

Mencoba lari dari dunia ini dan berkelana di dunia mimpi.

Yoona memejamkan matanya. 

Mulai terhanyut dalam mimpinya. 

Namun, sial. 

Ponselnya berbunyi memenuhi setiap sudut ruang kamarnya.

Mau tak mau Yoona mengambil ponsel yang ia letak di atas meja lampu tidur. 

Keningnya berkerut melihat nama Taeyeon tertera di layar ponselnya. 

Ada masalah apa lagi? 

Bukankah Taeyeon sudah menyetujuinya tadi saat ia bilang akan ke apartemen nya saja?

Untuk apa ia meneleponnya sekarang?

Taeyeon tau kan jika dirinya butuh istirahat saat ini. 

Yoona mendekatkan ponsel itu ke telinganya. 

Belum sempat ia mengatakan ‘Hallo’, Taeyeon sudah terlebih dahulu berteriak, “Buka ponselmu dan lihat Breaking News! Manager sedang dalam perjalanan ke apartemen mu dan segera ke dorm. Sekarang!” 

Bahkan Yoona tak sempat membuka mulutnya untuk bertanya ada apa pada Taeyeon, panggilan itu diputus secara sepihak oleh Taeyeon. 

Membuat Yoona mendengus kasar. 

Yoona tau Taeyeon itu ‘Leader’,  tapi bisakah ia berlaku sopan pada dirinya yang sekarang adalah seorang ‘Maknae’? 

Huhh mengingat kata itu Yoona jadi merindukan Seohyun. 

Yoona teringat dengan perintah Taeyeon, segera ia membuka Breaking News di ponselnya. 

Mata Yoona melebar, jantungnya seperti dihantam batuan. Darahnya seketika berdesir tak karuan. 

Dirinya tertangkap basah.

Yoona ingat itu, kejadian itu. 

Tepat 3 hari yang lalu saat mereka membicarakan pemberhentian kontrak Tiffany, Sooyoung, dan Seohyun. 

Saat dirinya bertemu dengan lelaki itu. 

Di dorm Super Junior, dan setelah itu berkencan ke pantai biasa mereka. 

Dan foto itu, Yoona tau itu diambil saat mereka berada di basement dorm Super Junior. 

Wajah Yoona sudah pucat pasi. 

Lagi lagi dirinya membaca dengan teliti judul besar Breaking News di ponselnya, dan matanya tidak salah membaca. 

Foto itu benar dirinya, dan Lee Donghae. 

SUPER JUNIOR LEE DONGHAE DAN GIRLS’ GENERATION IM YOONA BERKENCAN! 

BERSAMBUNG-

Ini fast update lohh yaa 😂😂😂

Thanks masih Setia baca ffku yang ga seberapa ini 😂😂

Hope you like it hehe 

Maaf kalo banyak typonya yaa emang ga author edit lagi, langsung update aja ahahahah 😂😂

Tinggalkan jejak sayanggg 😚😘

Iklan

Somewhere Only We Know [Chapter 4]

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Romance, Family 

Length : Chapter

Rate : T

.

.

.

.

.

.

GIRLS’ GENERATION YOONA MENOLAK BERGABUNG ‘WE GOT MARRIED’, BERKENCAN?

Yoona melemparkan koran yang ada ditangannya begitu saja setelah membaca judul besar di sampul koran itu.

Jadi, kalau ia menolak tawaran di acara itu berarti ia berkencan, begitu?

Ya, itu benar. Dia memang berkencan. Tapi tidak adakah asupan lain selain berkencan?

Jika saja aktris atau aktor lain maupun idol yang menolak itu, apakah langsung di cap seperti itu? Tidak kan?

Sial. Lagi lagi kesialan menimpah dirinya.

Ini yang tak Yoona suka dari para netizen, asal bicara. Jika sudah seperti, akan banyak pertanyaan ini dan itu padanya.

Yoona sungguh tak mau menambah dosanya dengan berbohong kepada ribuan orang.

Sooyoung yang melihat tingkah laku Yoona, langsung mengutip koranyang tercecer di lantai itu. Mendudukkan pantatnya disamping Yoona, “Ini salahmu, kau menolaknya. Acara ini kan tidak untuk yang sedang berkencan, mereka jadi berpikiran kau sedang berkencan. Apa susahnya sih tinggal menerima tawaran itu? Kau pandai akting kan? Ditambah, tak ada yang marah jika kau bermesraan dengan pria lain” mata Sooyoung tak berhenti membaca setiap kalimat di koran itu yang membicarakan tentang sahabat sohibnya.

Yoona memutar bola matanya malas.

Yoona menolaknya untuk menjaga perasaan Donghae. Sudah cukup sandiwaranya bersama Lee Seung Gi yang berakhir menghancurkan hubungannya dengan Donghae. Yoona tak ingin itu terjadi lagi.

Yoona tak ingin berpisah lagi dengan Donghae.

Sudah cukup dua tahun dirinya dilanda rasa bersalah, sudah cukup untuk dirinya merindukan pemuda itu. Tidak akan lagi, tidak akan ada sandiwara bodoh yang melibatkan suatu hubungan palsu.

Itu alasan Yoona menolaknya, tidak ada yang lain.

Yoona benci berita tentang suatu perkencanan, karena setelah itu akan banyak pertanyaan serta kebohongan lagi.

Ia tak takut karena tak ada yang mengetahui hubungannya dengan Donghae. Ia hanya terlalu lelah untuk berbohong, dan sudah pastilah dirinya harus lebih berhati hati. Karena setelah berita itu, akan semakin banyak paparazi yang mengikutinya. Yoona sangat tidak suka diuntit.

“Aku hanya tak suka dengan apa yang datang setelah berita itu. Paparazi kurang kerjaan” Sooyoung terkekeh mendengar keluhan Yoona. Sudah resikon dirinya kan? Mengingat ia adalah seorang Public Figure.

Sudah pastilah akan banyak paparazi mengikuti dirinya, sekedar mencari info tentang seleberitis ternama seperti Yoona.

Apalagi dengan topik ‘Dating’, berita seperti itu sangat laris dan menghibur.

Dan disaat berita seperti ini, sudah waktunya para paparazi menunjukkan aksinya.

Menggali informasi pribadi dari si Public Figure. Menyebarkannya. Dan duar! Informasi darinya akan laris.

“Kau hanya mempersulit dirimu sendiri, Yoona” Taeyeon yang mendengar perbincangan kedua adiknya itu ikut menyahut.

Bukankah Yoona memang mempersulit dirinya?

Berkata saja jujur pada dunia, dia tidak akan tertekan walaupun komentar negatif selalu mengikuti.

Lebih baik daripada terus terusan berbohong.

Taeyeon terkadang tidak habis pikir, apa yang harus ia lakukan agar adiknya itu jujur padanya? Bercerita padanya? Membagi beban yang ditanggungnya pada dirinya?

Taeyeon tak akan menolak untuk membantu, ia sungguh akan menarik tangan Yoona dan membantu Yoona untuk menutupi hubungannya dengan pemuda itu.

Ingin rasanya Taeyeon berteriak di depan Yoona, memaksa gadis itu untuk jujur.

Apasih yang Yoona takutkan?

Yoona sungguh kalah sebelum berperang.

Taeyeon jadi gemas sendiri.

Ia tak marah jika Yoona menyembunyikan hubungannya dengan Donghae darinya.

Dirinya hanya kesal dengan tingkah laku Yoona. Menutupi suatu hubungan sendiri itu sulit, Taeyeon tau rasanya.

“Im Yoona, ku dengar kau menolak untuk ikut We Got Married. Apa kau sudah berkencan?” Taeyeon melirik Yoona dari sudut tempatnya duduk, melihat bagaimana mimik wajah Yoona menjawab tidak pada reporter dengan wajah yang sangat santai. Gadis itu benar benar pintar akting.

“Bukankah dulu kau sangat ingin bergabung?” dan pertanyaan selanjutnya sungguh membuat Taeyeon mati matian menahan tawanya.

Taeyeon ingat, siapa yang selalu berkoar mengatakan ingin mengikuti acara pernikahan virtual itu saat Seohyun lah yang ikut dulu. Dan sekarang, Yoona sungguh menjilat ludahnya sendiri.

Tapi lagi lagi Yoona bisa mengatasinya, dan Taeyeon sadar saat dahi Yoona berkerut dan keringatnya mulai menetes.

Taeyeon berani bertaruh bahwa jantung gadis itu sedang berdetak tak karuan saat ini.

“Ahh ya, dulu aku ingin. Tapi mengingat aku sudah semakin dewasa, sepertinya aku harus menjalani hubungan yang langsung serius saja hahaha” Yoona merutuki reporter itu dalam hati. Tidak bisakah ia bertanya yang tidak membuatnya berdosa?

Astaga Im Yoona, sudah berapa banyak dosa mu?

Yoona tersenyum, mencoba menutupi kegugupannya serta jantungnya yang berpacu tak karuan.

Yoona terus terusan melirik arlojinya, berharap acara fan meeting hari ini berlangsung dengan cepat.

Tak sengaja anak mata Yoona melihat Taeyeon, dahi Yoona mengernyit melihat Taeyeon.

Taeyeon tersenyum aneh padanya, apakah ada yang salah dari dirinya?

•••

 

 
Eunhyuk menjatuhkan dirinya disamping Donghae yang sibuk bermain gitar diatas ranjang milik mereka. Sedikit banyaknya, ia takut untuk menjahili Donghae setelah kejadian beberapa hari yang lalu saat ia ingin membeberkan pada yang lain bahwa Donghae sedang berkencan dengan Yoona.

Kekuatan Donghae itu tidak main main, dan hubungan tertutup mereka tak kalah main.

Eunhyuk masih ingat bagaimana sakitnya lehernya saat Donghae membelitnya, bagaimana tinjuan Donghae pada perutnya.

Mengerikan.

Donghae benar benar melupakan status persahabatan mereka dan berniat membunuhnya.

Tapi apapun itu, sesakit apapun pukulan Donghae. Tidak bisa membunuh rasa penasaran di dalam hati Eunhyuk.

Satu pertanyaan sejak 8 tahun yang lalu ingin ia tanyakan.

Kenapa Donghae dan Yoona menutupi hubungan mereka?

Eunhyuk ingin sekali bertanya, tapi selalu ia pendam.

Saat mengetahui bahwa mereka kembali bersama, seperti Edo Tensei no Jutsu, pertanyaan yang sempat mati itu kini hidup lagi.

Bukankah hubungan terlalu ditutup itu juga memiliki resiko?

Seperti menimbulkan berita yang lain, misalnya.

Eunhyuk saja kalau berkencan ingin membeberkannya pada dunia.

Seperti kejadian dirinya dengan IU beberapa tahun lalu.

Percayalah, Eunhyuk yang menyuruh gadis kecil itu untuk menguploadnya di Sosial Media lalu menghapusnya dalam sepersekian detik.

Untuk apa? Ia ingin melihat bagaimana reaksi orang orang yang melihatnya.

Ingin membuktikan bahwa seorang Public Figure pun juga manusia. Berkencan, melakukan ini dan itu, dan hal-hal gila yang orang katakan buruk tapi sering terjadi di masyarakat biasa.

Eunhyuk puas melihat reaksinya, tapi terkena sial juga untuk karier IU dan hubungan mereka.

Tapi, jika Donghae dan Yoona melakukan sesuatu yang lebih normal untuk memublikkan hubungan mereka, itu akan lebih baik dari yang ia lakukan.

Eunhyuk percaya, tidak sedikit yang mendukung hubungan keduanya.

Eunhyuk menatap Donghae dalam diam, “Kenapa kalian menutupinya?” pertanyaan itu kini lepas dari lidahnya setelah 8 tahun ia simpan dibaliknya.

Jemari Donghae berhenti memetik gitarnya, ie menoleh kepada Eunhyuk, “Maksudmu?”

“Kau dan Yoona” Eunhyuk bangkit dari tidurnya, beralih menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

Donghae menoleh, menatap sebentar wajah sahabatnya lalu kembali berkutat pada gitar kesayangannya.

“Aku sedang bertanya, Idiot!” Eunhyuk kesal, maka dari itu ia menarik paksa gitar Donghae dan meletakkanya dilantai dengan sedikit hati hati. Ayolah, Eunhyuk tak ingin melihat Ikan mengamuk hari ini.

Donghae diam saja, masa bodo dengan gitarnya dan pertanyaan Eunhyuk. Ia diam seakan akan ucapan dari bibir Eunhyuk tak pernah terlontar.

Baiklah, Eunhyuk mengalah. Melupakan harga dirinya, “Aku berani menanyakan hal ini baru sekarang setelah 8 tahun lamanya” suara Eunhyuk lebih terdengar seperti cicitan, membuat Donghae kaget dan tak kuasa menahan tawa.

“Jadi, kau menahannya selama 8 tahun? Kau luar biasa, Dude! Hormon keingin tahuanmu yang luar biasa itu berhasil kau tahan!” inilah yang tidak Eunhyuk suka, ditertawai itu menyakitkan.

“Aku serius!”

Donghae berhenti tertawa walaupun masih terdengar kekehan kecil dari mulutnya. Ia sedikit merasa kasihan pada Eunhyuk. Segitu penasarannya kah ia?

“Kami menyembunyikannya karena kami tak ingin ada yang terluka. Dia tak ingin menyusahkan Taeyeon, dan aku tak ingin menyusahkan Leeteuk. Semakin kami membeberkan hubungan kami, kau tau, semakin besar peluang kami untuk berpisah. Kami menyembunyikannya dan itu bertahan selama 6 tahun, jika saja agensi tidak meminta hubungan palsu Yoona dengan Seung Gi, 2 tahun berpisah itu tidak akan pernah ada. Aku sering jenuh, begitu juga dengan Yoona. Kami lelah untuk bersembunyi tapi terlalu takut untuk mengoarkan. Kami takut akan hal yang akan terjadi. Bagaimana jika ini? Bagaimana jika itu? Aku tak ingin ad-”

“Lalu sampai kapan kalian bersembunyi? Selamanya?” Eunhyuk memotong puluhan deret kalimat dari Donghae, dan pertanyaan Eunhyuk cukup membungkam mulutnya.

Eunhyuk menepuk bahu Donghae, “Untuk mendapatkan kebahagiaan, kau harus bersedih dulu. Untuk megobati, kau harus terluka dulu. Untuk mengetahui lubang, kau harus terjatuh dulu. Kau sudah pernah melewatinya, kau tak bisa jika bersembunyi untuk kedua kalinya. Bagaimana orang orang akan setuju dan mendukung hubungan kalian jika mereka saja tak tau bahwa kalian saling mencintai. Aku yakin, Leeteuk dan Taeyeon akan rela untuk jatuh demi kalian” Eunhyuk iba, bagaimana mungkin Donghae berpekirian seperti itu?

Menyusahkan katanya? Jangan anggap dirinya dan member lain keluarga jika tak bisa membagi kesusahan.

Mau sampai kapan mereka bersembunyi?

Jika dulu ada Lee Seung Gi, bagaimna nantinya jika orang baru datang lagi?  Dan akhirnya mereka benar benar terpisah.

Eunhyuk menyayangi Yoona, ia tau bagaimana sifat wanita itu.

Dan dirinya sangat bersyukur mengetahui bahwa sahabatnya, Donghae berkencan dengan Yoona yang merupakan seorang gadis yang benar benar baik.

Apalagi yang ia harapkan untuk kebaikan sahabatnya?

Tapi jalan mereka salah, bersembunyi bukanlah suatu hal yang tepat.

Pintu kamar Donghae dan Eunhyuk tertutup, meninggalkan Donghae yang terduduk diam di atas ranjangnya.

Yang Eunhyuk katakan sepenuhnya benar.

Hanya seorang pengecut yang menyembunyikan tangannya dibalik punggung.

•••

 

 

 

 
Pemandangan indah itu masih sama walaupun tak ada bintang yang tergantung di langit karena saat itu mataharilah yang masih tergantung.

Mau itu malam hari ataupun siang hari, pemandangan laut tetaplah yang terbaik.

Kaki Yoona membawanya berlari menuju bibir pantai setelah sebelumnya ia melemparkan sepatu ketsnya pada Donghae, menyuruh pemuda itu untuk menenteng sepatunya.

Yoona terkekeh geli mengingat beberapa saat yang lalu marah marah pada Donghae karena pemuda itu membawanya berkencan ke tempat yang tidak jelas.

Pada akhirnya tempat ini menjadi tempat favoritnya.

“Kau sudah 29, jika kau lupa!” Donghae berteriak sekedar mengingatkan Yoona akan umurnya melihat gadis itu berlari lari tidak jelas di bibir pantai seperti bocah ingusan yang baru dibelikan coklat oleh Ibunya.

Yoona mendengar itu tetap saja  berlarian, mengabaikan sindirian Donghae lantas membalas, “Aku tak peduli! Yang penting kau mencintaiku!”

Sontak Donghae tertawa mendengar jawaban Yoona. Kekanakan.

Donghae membuka sepatunya dan meletakkan sepasang sepatunya begitu saja di pasir pantai beserta sepatu kets milik Yoona.

Donghae tak akan menyianyiakan waktu senggang mereka hanya untuk melihat kegembiraan Yoona, ia harus bergabung.

“Arrgghhh!!!” teriakan Yoona pecah saat Donghae tiba tiba mengangkat tubuhnya dan sedetik kemudian menyebutkannya ke pantai. Tawa Donghae begitu lepas mengabaikan wajah masam milik Yoona.

“Kau bosan hidup ya?!” Yoona keluar dari air, mengejar Donghae yang sudah duluan lari menghindari amukan Yoona.

“Berhenti kau, Lee Donghae!” Donghae terus saja berlari menjauhi Yoona. Demi apapun gadis itu sangat mengerikan ketika mengamuk.

Bak film Bollywood, mereka berlari diselingi canda tada di bibir pantai.

Bersyukurlah pantai itu hanya mereka yang tau, tak seorang pun datang berkunjung selain mereka berdua.

‘PUK!’

Suara gaduh serta erangan keluar dari Donghae, satu detik yang lalu kepala Donghae didarati oleh sepatu kets milik Yoona.

Gadis itu benar benar kejam.

“Rasakan itu!” Yoona mendekati Donghae yang sudah berhenti berlari. Merasa sedikit bersalah juga karena ia melempar sepatunya pada Donghae.

“Ini sakit! Kau harus menciumnya!” Donghae itu tukang modus, Yoona jadi geram sendiri.

Tapi kerena ini memang ulahnya, Yoona menarik wajah Donghae dan mencium dahi Donghae.

Melihat pakaian Donghae yang belum basah, berbanding terbalik dengan pakaian Yoona yang sudah basah kuyup, Yoona tersenyum miring. Memeluk erat tubuh Donghae, “Rasakan ini! Kau harus basah juga, Idiot!”

Tentu saja Donghae rela pakaiannya ikut basah asal mendapatkan pelukan erat dari Yoona.

Donghae membalas memeluk Yoona, mencium pucuk kepala Yoona dengan lembut, “Ya ya ya, aku juga basah”

Pemandangan sore hari di pinggir pantai adalah yang terbaik. Terlebih itu bersama orang terkasih mu.

Donghae dan Yoona duduk berselonjoran dipinggir pantai, mengabaikan pakaian basah keduanya setelah sebelumnya berperang air di pantai.

Yoona menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Donghae, menikmati setiap detik yang terlewat.

Tidak bisakah waktu berhenti saat ini juga?

Yoona begitu malas untuk kembali ke dunianya.

Dunia entertaiment.

Dia tidak bisa melakukan apapun sesukanya, bahkan dengan orang yang ia cintai.

Begitu salahkah bagi Public Figure seperti mereka untuk jatuh Cinta?

“Kau tak lelah bersembunyi?” Donghae membuka suaranya. Bertanya pada Yoona sebab ucapan Eunhyuk beberapa waktu yang lalu masih terngiang di benaknya.

Jujur, Donghae lelah untuk terus menerus bersembunyi.

Apakah Yoona juga?

Yoona menatap Donghae tanpa menjauhkan tubuhnya yang besandar di bahu pemuda itu. Menatapnya dari bahwa dan saat itu ia sadar, betapa tampan kekasihnya itu.

Sadar dilihati oleh Yoona, Donghae justru menyahut, “Aku tau aku tampan. Kau hanya perlu menjawab pertanyaanku”

“Percaya diri sekali” Yoona mengalihkan perhatiannya. Kini anak matanya jatuh pada hamparan laut serta langit yang mulai menjingga.

Yoona membuang napasnya kasar, ia mengaku, “Aku lelah. Aku ingin berhenti. Tapi itu sulit, kau tau”

Dirinya lelah, ingin bebas dari segala sesuatu yang membuatnya begitu berat.

Yoona ingin bebas, melakukan apa saja tanpa ada larangan.

Namun, mana bisa ia seperti itu.

Dirinya tak boleh egois.

Yoona punya grup dan teman temannya, jutaan penggemar, serta ribuan pembenci dirinya.

Mana boleh ia sesukanya. Yang ada hanya menambah pembenci dan menyusahkan orang lain.

Yoona tak boleh egois.

“Maksudku, tidak memublikkannya. Setidaknya beritahu member yang lain. Kita juga egois karena menyembunyikan ini untuk kita berdua, Yoona. Biarkan mereka tau, dan biarkan mereka membantu kita untuk menutupinya. Mereka keluarga kita kan?” Yoona menjauh dari tubuh Donghae, beralih menatap Donghae setelah mendengar penuturan Donghae. Menatap Donghae dalam.

Beberapa saat kemudian tatapan Yoona melemah, “Aku juga ingin memberitahu mereka. Aku takut mereka tidak menerimanya. Aku merasa begitu bersalah karena membohongi mereka 8 tahun lamanya. Aku takut mereka marah. Aku takut dicap pengkhianat karena bagaimanapun juga aku telah merebut kekasih Jessica. Aku tak bisa jika aku harus dibenci”

Jemari Donghae mengelus pipi Yoona lembut, ia cium bibir tipis Yoona sejenak.

Donghae menatap Yoona tak kalah dalam, memberikan setiap kekuatannya pada Yoona.

Memberikan segala keberanian pada kekasihnya itu.

“Kau salah. Bagaimana mungkin mereka membenci keluarga mereka sendiri, hah? Lagi pula, coba pikirkan. Mau sampai kapan kita bersembunyi, Im Yoona? Semakin lama kita menutupinya maka akan semakin besar salah kita pada mereka. Ayo kita hentikan permainan konyol kita ini. Ayo berhenti untuk bersembunyi. Setidaknya pada keluarga kita. Aku tau, kau tak ingin menyakiti mereka. Tapi dengan kita bersembunyi, tidakkah kau rasa mereka semakin tersakiti?” Yoona menunduk, membenarkan setiap perkataan Donghae.

Tapi, ini bukan waktu yang tepat.

Demi apapun, jujur pada membernya disaat seperti ini hanya akan menambah masalah.

Yoona kembali menatap Donghae, “Tidak, tidak sekarang. Ini bukan waktu yang tepat”

Donghae muak mendengar jawaban dari Yoona. Selalu saja seperti itu. Emosinya sedikit tersulut karena Yoona. Alisnya sudah menukik bertanda ia kesal, “Lalu kapan? Sampai kita tertangkap basah? Ide yang bagus, Yoona”

Tertangkap basah akan semakin memperkeruh masalah, Donghae yakin itu.

Sebelum mereka benar benar tertangkap basah, Donghae rasa mereka harus jujur.

Ia tak ingin membernya terlebih Leeteuk yang shock jantung karena kedapatan berita yang tiba tiba tentang dirinya dan Yoona. Donghae tak ingin Leader mereka itu mati muda.

Yoona tau Donghae marah, lantas ia menyentuh pipi Donghae dan meyakinkan Donghae bahwa ini benar benar bukan saat yang tepat bagi mereka untuk membeberkan hubungan mereka kepada member.

“Kenapa ini bukan waktu yang tepat?”

Yoona memejamkan matanya menahan segala kesakitan di benaknya.

Donghae sadar hal itu, Yoona sedang sedih. Sesuatu mengganggu pikiran dan mengusik hatinya.

Lantas apa?

Apa yang membuat Yoona begitu sedih?

Dan jawaban dari Yoona membuat Donghae ikut terhenyak.

Adik adiknya itu,

Bagaimana karier Girls’ Generation kedepannya?

“Tiffany, Sooyoung,  dan Seohyun. Mereka tidak memperpanjang kontrak”.
BERSAMBUNG-
Review juseyo.

Tinggalkan jejak yaa 😂😂

Responmu semangatku 😚😘😍

Somewhere Only We Know [Chapter 3]


By. Aphrodiv



Cast : Im Yoona – Lee Donghae


Genre : Sad, Romance, Family 


Length : Chapter


Rate : T

Cover by. BubbleBaek27 Art

.

.

.

.

Maafkan author yang lama update 😭😭😭

Langsung aja, gausah banyak cuap cuap yakk. 

Happy reading! 

.

.

.

Yoona melirik arloji yang melingkar ditangannya, meringis sedikit menyadari bahwa ia telah telat selama 30 menit. 

Ayolah, 1 menit itu sangat sayang jika dibiarkan sia sia disaat ia memiliki kesempatan berduaan dengan Donghae. 

Salahkan Sooyoung yang menawarinya berbagai macam hidangan Snack hingga ia lupa waktu. 

Yoona turun dari taksi yang ia tumpangi setelah sebelumnya membayarnya. 

Gadis itu berjalan cepat dengan syal yang menutupi sebagian wajahnya serta wig sepinggang yang ia kenakan. Ia sungguh tak ingin orang orang mengenalinya saat ini. 

“Kau membuang 30 menit kita” Yoona hanya mendengus saat dirinya disambut dengan nada merajuk Donghae. 

“Setidaknya sambut aku dengan ciuman” Yoona baru saja kembali ke Korea tadi siang setelah seminggu lamanya ia berada di Jepang, untuk promosi album Jepang terbaru mereka. 

Dan disaat pertama kali bertemu setelah seminggu, ia dihadiahi wajah kesal Lee Donghae. 

Yoona tau ia yang salah disini, tapi bisakah pemuda itu sedikit lebih romantis seperti yang orang tau bahwa ia adalah pemuda yang romantis. 

Romantis darimananya?! Donghae itu sangat kekanakan! 

“Ini pertemuan pertama kita setelah seminggu, dan kau terlambat. Itu sangat menyebalkan, Yoona” wajar Donghae marah kan? Ia sudah menunggu selama seminggu, dan disaat ada kesempatan mereka Yoona malah terlambat. Yoona tau kan kesempatan untuk mereka berkencan seperti sekarang itu sangat langka. Mengingat Donghae maupun Yoona sangat sibuk dengan aktivitas mereka masing masing.

Yoona memutar bola matanya malas. Yoona akui dia salah, tapi tidak perlu diperpanjang seperti ini kan? 

Dengan ide cemerlangnya, Yoona memajukan wajahnya, mencium sekilas pipi Donghae. 

Mata Donghae membulat, refleks pemuda itu menoleh dan mendapati Yoona dengan senyuman andalannya. Yoona tau kelemahannya. “Baiklah, kau menang. Mari kita menjalankan Midnight Date kita”

Dan jawaban Donghae itu membuat Yoona tertawa puas. 

Bisa apa Donghae jika melihat wajah seperti anjing kelaparan Yoona? 

Mana tega ia merajuk berlama lama jika Yoona sudah memasang wajah seperti itu. 

“Kita akan kemana?” pertanyaan Yoona hanya dijawab senyum misterius dari Donghae. 

“Kau tak akan menyesal, Sayang!” 

Yoona menatap kesal pada Donghae. Mengingat ucapan Donghae satu jam lalu yang begitu antusias mengatakan tidak akan menyesal dengan tempat berkencan mereka saat ini. Tak akan menyesal katanya? 

Bagaimana mungkin Lee Donghae membawanya kesudut seperti hutan di jam tengah malam seperti ini?

Terlebih lagi mereka harus memanjat pagar yang tingginya lebih dari satu meter. 

“Tidak ada tempat lain?” Donghae hanya menggeleng dan mengangkat bahunya. 

“Jangan memintaku tinggal disana nantinya” dan jawaban Donghae semakin membuat Yoona kesal. 

“Setidaknya mari kita cari jalan yang lebih normal, Sayang” panggilan itu. Donghae tau Yoona teramat sangat kesal saat ini. Mendengar kata ‘Sayang’ yang begitu ditekan sekedar menyindir Donghae. 

“Aku hanya tau jalan dari sini. Mobilku tidak akan kelihatan oleh orang orang karena ku parkirkan di Villa Donghwa hyung yang sudah lama tidak dipakai. Dan ini juga satu satunya jalan yang jarang dilewati orang. Orang tak akan melihat kita berkencan disini” Donghae benar. Siapa yang akan mendapati mereka di Villa terbilang angker yang ada di tengah hutan. Saudara laki laki Donghae itu mungkin memang sedikit gila, membangun villa ditengah hutan seperti ini. 

“Donghwa hyung suka melukis, jadi dia mencari tempat untuk menyendiri” jawab Donghae saat mendengar segala gerutuan Yoona. 

“Angkat aku. Mau sampai kapan kita bercerita disini? Kita mau berkencan kan? Menangkap hantu di dalam hutan” Donghae hanya terkekeh mendengar cibiran Yoona. Dan mulai membantu Yoona untuk memanjat pagar yang memgahalangi jalan mereka. 

Sebenarnya Donghae juga tak habis pikir, kenapa sih jalan ke tempat tujuannya itu harus dipagari dari ujung ke ujung mata memandang? Begitu penting kah tempat itu dulunya hingga mereka memagarnya? Membuat Donghae sulit saja. 

.

Mata Yoona menatap takjub pemandangan didepannya. 

Setelah 15 menit mereka berjalan memasuki hutan yang ternyata tak terlalu dalam akhirnya mereka keluar dari hutan. 

Dan apa yang Yoona dapatkan? Hamparan laut dengan ribuan bintang di langit. 

“Masih ingin mencari tempat lain?” Yoona menoleh pada Donghae dengan senyuman mengejek pemuda itu. Alis terangkat serta tangan yang dilipat didepan dada sungguh membuat Yoona malu sekaligus ingin mendendang bokong Donghae. 

“Hampir 8 tahun dan baru kali ini kau membawaku kesini?” Donghae menarik tangan Yoona, dan membawa gadis itu duduk ditepi pantai. 

Yoona menyandarkan kepalanya dibahu milik Donghae, menikmati angin pantai yang menampar wajahnya, “Jawab aku” bisik Yoona karena Donghae tak kunjung menjawab pertanyaannya. 

Donghae begitu malas menjawabnya, tapi apa boleh buat? Daripada Yoona mengamuk dan merajuk maka jatuhnya gadis itu akan mengeluarkan aegyo yang sangat menyebalkan. 

Tangan Donghae memeluk Yoona dari samping, semakin mempersempit jarak mereka serta akhirnya ia menjawab “Aku ingin menunjukkannya padamu 2 tahun yang lalu, sebelum kita berakhir. Kau tau, aku ingin melamarmu saat itu. Kau ingat kan saat aku sering mengajakmu berkencan? Tapi kau selalu sibuk. Aku mulai menyadari ada yang tidak beres denganmu, Yoona. Kau tak punya waktu untukku lagi, dan perasaanku benar. Kau telah bermain di belakang ku. Malam itu, saat kau menolak untuk berkencan tengah malam padahal aku ingin membawamu kesini dan melamarmu, lagi lagi kau menolak. Aku menyerah malam itu dan mengikuti apa maumu. Aku ingat kau tak menjawab pertanyaan ku, jadi ku anggap itu sebagai ya untuk perpisahan kita”

Yoona terdiam mendengar setiap kalimat dari Donghae. 

Yoona ingat saat itu jam 12 malam, Donghae menghubunginya dan mengajaknya berkencan. Yoona menolak ajakan pemuda itu.

Rasa bersalah dihatinya membuat ia menolak ajakan Donghae. Ya, Yoona sudah menikmati sandiwaranya dengan Lee Seung Gi. Dan Yoona sangat tak ingin menatap wajah Donghae malam itu. 

Melihat Donghae hanya membuatnya merasa bersalah dan terluka. 

Tapi pada akhirnya Yoona mau tak mau harus menemui Donghae, di apartemen miliknya. Donghae menghubunginya lagi sekitar pukul 3 dini hari dengan suara luar biasa parau. Yoona tau, Donghae tak baik baik saja saat itu. 

Dan sejak malam itulah, ia berakhir dengan Donghae. Di apartemen miliknya. 

Yoona menutup matanya menahan air mata yang mendesak ingin keluar, “Maafkan aku” suara itu terdengar begitu lirih. 

Yoona menangis, dan Donghae sadar itu. 

Donghae menarik wajah Yoona, memaksa gadis itu untuk bertatap muka dengannya. 

Ibu jari Donghae menghapus lelehan air mata yang membasahi pipi Yoona. Tidak. Yoona tidak boleh bersedih lagi. 

“Dengarkan aku, itu hanya masa lalu. Kau tak perlu minta maaf karena aku juga salah. Jadi, biarkan semua itu berada di tempatnya. Aku tak ingin membahas hal itu karena yang terpenting, kau ada disini. Bersamaku. Salahku karena meninggalkan mu, maka dari itu aku kembali padamu. Aku sadar, bahwa kemanapun aku berlari, hatiku sudah menjadi milikmu. Jangan bersedih, kita akan selalu bersama” Yoona semakin terisak mendengar setiap kalimat yang meluncur dari bibir Donghae. Ia tidak sedih, sungguh. Yoona terlalu bahagia karena akhirnya benar benar tidak ada lagi yang mengganjal di hatinya tentang kesalahan masa lalu.

Lee Donghae benar benar memaafkannya dan dirinya pun benar benar ingin kembali dengan Donghae. 

Yoona menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukan Donghae. Bersandar nyaman di dada bidang milik Donghae. 

Yoona tidak ingin memikirkan apapun saat ini, yang ia inginkan hanyalah agar waktu berhenti saat itu juga. 

Membiarkan Yoona dan Donghae dalam keadaan saling berpelukan nyaman. 

“Jangan paksa aku untuk meninggalkan tempat ini. Aku ingin tinggal disini” Yoona benar benar memakan kata katanya sendiri. 

•••

Yoona memasuki dorm Girls’ Generation dengan sedikit terburu buru. Taeyeon menghubunginya tadi pagi, menyuruhnya datang ke dorm saat itu juga untuk mempersiapkan kejutan untuk kesuksesan drama Seohyun. Yoona lupa dengan janjinya dengan para member. 

Yoona menyesali perbuatannya semalam yang berpikir ingin melupakan segalanya. Dan ya, dia melakukannya. Yoona melupakan adik kecilnya, Seohyun. 

Ini semua karena Lee Donghae, mereka lupa waktu. 

Yoona dan Donghae baru beranjak dari pantai saat jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ayolah, dari pantai itu ke Seoul memakan waktu 1 jam. 

Apa alasannya nanti pada Taeyeon? Kesiangan? Sudah terlalu basi, Im Yoona. 

“Maaf, aku terlambat” semua member (kecuali Seohyun, karena maknae mereka sedang syuting) yang ada di dorm hanya menatap Yoona dengan puluhan pertanyaan. 

“Apa yang salah?” Yoona sadar, tatapan mereka bukan hanya karena Yoona terlambat. Tapi, sesuatu yang lain.

Yoona menatap kebawah, memastikan bahwa ia berpakaian dengan benar dan tidak aneh.

Tidak ada yang salah dengan pakaian Yoona, dirinya masih memakai celana Lee miliknya, bukan celana Donghae.

“Rambutmu, apa kau ke salon dan memyambung rambutmu tadi malam?” -Oh! Stupid Im Yoona! 

Yoona lupa melepas wignya! Benar benar bodoh! Apa yan harus ia katakan sekarang? 

“Ti-tidak. Ini hanya wig” Yoona mengaku, yang dipakainya memang wig. 

Tangan Yoona mulai membuka wig itu dari kepalanya. Kenapa ia harus lupa dengan wig itu? 

Lagi-lagi, Yoona menyalahkan Lee Donghae. 

“Kau pulang ke dorm mu sendiri dengan wig? Menyamar?” terkutuklah mulut laknat Choi Sooyoung. Apa gadis itu belum makan hingga mulutnya berkoar ingin dilempar makanan? 

Yoona semakin resah, apa yang harus ia jawab? Otaknya benar benar blank saat ini. 

Menyamar saat pulang ke dorm sendiri adalah alasan yang begitu konyol dan bodoh. Lalu ia harus menjawab apa? 

Berkata bahwa ia berkencan dengan Donghae dan tidak pulang semalaman? Mamakai wig agar orang orang tidak mengenalinya. Haruskah Yoona menjawab seperti itu? 

Tamat sudah riwayatmu, Im Yoona. 

“Sudah, jangan bercerita terus. Kau Yoona, mulai hias ruang tengah. Kau sudah terlambat, kita tidak punya banyak waktu untuk mengurus wig mu itu. Kau Sooyoung, selesaikan pekerjaan mu!” dalam hati, Yoona sungguh berterimakasih dengan Taeyeon. 

Leadernya itu telah menyelamatkan Yoona dari kematiannya. 

Yoona harus mentraktir Taeyeon makan enak lain kali, harus. 

Yoona mulai menghias ruang tengah dorm mereka, bersama dengan Tiffany. 

Sebentar lagi ruangan itu akan berubah menjadi lautan pink sepertinya. Mengingat semua aksesoris ruangan berwarna pink. 

Itu adalah ulah Tiffany, siapa lagi? Dia benar benar Pink Monster. 

“Apakah tidak ada warna lain? Kuning sepertinya” Yoona memegang malas balon berwarna pink. Itu adalah balon ke 37 yang Yoona pompa dengan alat pemompa balon, semua balon itu berwarna pink. 

“Ada, Yoona. Warna putih” benar, selain pink, hanya ada warna putih. Yoona sungguh muak dengan dua warna itu. 

Ayolah, Yoona tidak begitu suka warna pink. Yoona menyukai kuning dan biru. 

“Ini bukan perayaan untukmu, Tiff” cibiran Yoona hanya dibalas tawa dari Tiffany. 

Gadis dengan Eye Smile itu lantas menjawab, “Siapa suruh menjadikanku pendekor ruangan. Terlebih aku juga yang membeli bahan bahannya” 

Tiffany benar, dan tawa gadis itu menulari Yoona, membuat Yoona juga ikut tertawa. 

“Baiklah, lain kali harus aku yang menjadi pendekor dan membeli bahan. Kupastikan tidak ada satupun barang barang berwarna pink disini!” 

“Jangan lakukan itu, aku tidak bisa bernapas jika tidak ada warna pink!” 

Apakah ruangan itu akan selesai tepat waktu dengan Yoona dan Tiffany yang saling lempar canda? 

Ku harap itu selesai. Walaupun suara Taeyeon itu begitu merdu, tetap saja akan memekakan telinga jika sudah berteriak dengan api dikepalanya. 

Yoona melirik Taeyeon memasuki ruangan itu, sedikit merinding karena baru saja ia berpikiran yang tidak tidak dengan suara gadis itu. 

“Kalian memang tidak bisa dipercaya” Yoona dan Tiffany tertawa kecil mendengar ucapan Taeyeon. Dan akhirnya, Taeyeon ikut membantu mereka berdua. 

Beberapa menit berlalu, mereka bertiga hanya diam dan berkutat dengan kegiatan masing masing. 

Hingga akhirnya Taeyeon mendekati Yoona, membisikkan dua kalimat yang membuat Yoona bingung dengan makna dari kalimatnya. 

“Kau harus lebih berhati-hati. Jangan ceroboh”

•••

Donghae memasuki dorm Super Junior perlahan, mecoba tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Donghae berharap banyak para member masih  setia di alam mimpi mereka walaupun ini sudah pukul 7 pagi. 

Semoga saja Leeteuk belum bangun jam segini. Ya, semoga saja. 

Dan harapan hanyalah menjadi harapan. Semua member sudah bangun, dan sedang serapan di meja makan. 

“Kau tidur dimana tadi malam? Kau tidak pulang” Donghae mengangguk menjawab pertanyaan Yesung. Donghae mendudukkan dirinya disamping pemuda itu, bersiap untuk sarapan. 

“Aku tidur di-“

“Kau jadi berkencan dengannya?” Eunhyuk, mulut mu benar benar ya. 

“Berkencan? Kau? Dengan siapa?” Donghae sangat ingin memukul Eunhyuk saat ini juga. Kenapa sahabatnya itu sangat tidak bisa menjaga mulutnya?

“Dengan Yoo-“

“Auww!” Siwon sedikit merasa ngeri saat melihat piring melayang diudara dan mengenai dahi Eunhyuk. Untung saja itu bukan piring kaca. Kalau saja terbuat dari kaca, akan semakin hancur wajah jelek Eunhyuk. 

“Aku tidak berkencan dengan siapapun, jangan percaya padanya. Dia yang sedang berkencan dengan Ji Eun. Kalian tau hyung? Eunhyuk kembali bersama dengan IU!” Eunhyuk tentu saja kaget dengan pernyataan Donghae. Apa pemuda itu sedang curhat tentang dirinya sendiri dengan cara mengorbankan diri Eunhyuk? 

Demi apapun, Eunhyuk sudah meminta Ji Eun kembali, tetapi gadis itu tetap menolak nya. Andaikan ucapan Donghae benar adanya. 

“Bukan kah kau yang kembali dengan mantanmu?” Eunhyuk memang minta diberi pelajaran sepertinya, pikir Donghae. 

Dengan kesal, segera Donghae menarik Eunhyuk dari saja. 

Menarik manusia spesies Macaca fascicularis itu dengan paksa. 

Eunhyuk meronta, menyumpah serapah Donghae sebisa mungkin karena mulutnya terutup tangan Donghae dengan disengaja Donghae tentu saja. 

Member yang lain melihat mereka hanya terdiam penuh tanya. 

Donghae dan Eunhyuk terlalu aneh untuk memulai hari hari mereka yang melelahkan. 

“Apa Eunhyuk benar benar kembali dengan Ji Eun?” Leeteuk menatap Shindong, lalu mengidikan bahunya bertanda ia tidak tahu menahu soal itu. 

“Bukankah ia ditolak Ji Eun kemarin?” 

“Aku tidak tau”

“Waahh Eunhyuk sangat beruntung kembali dengan adik kecil itu”

“Dia terlalu tua untuk Ji Eun, jujur saja” 

“Aku kasian dengan Ji Eun”

“Eunhyuk pasti memaksa Ji Eun”

“Adikku yang malang”

“Tapi, siapa mantan Donghae yang Eunhyuk katakan tadi?” kini semua pandangan member Super Junior (kecuali Eunhyuk dan Donghae) beralih menatap Ryeowook yang bertanya dengan polos. 

Mereka mulai berpikir, mencerna perkataan Eunhyuk tadi. 

Mantan Donghae?

Donghae tak pernah berpacaran, semua member tau hal itu. 

Walaupun orang orang mengatakan bahwa Donghae adalah seorang Playboy, tapi member Super Junior tahu jika Donghae hanyalah anak yang polos dalam hal Cinta. 

Donghae tak akan begitu mudahnya menyakiti hati seorang wanita. 

Bahkan mereka sangat tau, bahwa Donghae belum pernah berkencan selama ini.

Kecuali dulu, 

sebelum debut,

saat mereka masih menjadi trainee. 

“Donghae kembali dengan Jessica?”

BERSAMBUNG-

Gimana? Ga seru ya? Ngebosenin? Kependekan? 

Maafkan author yaa, jangan bosan bacanya hehe. 

Author usahain gabakal lama update lagi huhuhu. 

Hope you like it. 

Thanks, jangan lupa tinggalkan jejak. 

Love you all 😍😚😘

One More Chance : Don’t Leave Me Like a Rain [Songfict] 

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Angst, AU

Length : Songfict

Rate : T

.

.

.

.

.

Do our distinct features get forgotten too?

Does that time even exist?

Do all the times of happiness get erased too?

Is a love like that even considered love?

Senyuman itu, aku tak ingat kapan terakhir kali aku melihatnya. 

Pelukan itu, aku bahkan lupa seberapa hangatnya itu. 

Kebiasaan yang selalu kita lakukan setiap saat, aku mulai melupakan banyak dari kebiasaan itu. 

Apakah kau juga sudah lupa? 

Bagaimana dirimu memelukku dari belakang disaat aku sedang memasak. Apakah kita juga akan melupakan kebiasaan yang setiap pagi kita lakukan itu? 

Semua terjadi begitu cepat. 

Semua yang kita lalui terjadi secepat hujan yang membasahi tanah. 

Secepat aroma petrikor terhirup lalu pergi entah kemana. 

Aku tak pernah mengira bahwa wajahku pernah begitu cantik dengan senyuman kebahagiaan seperti di album foto yang saat ini sedang ku genggam. 

Aku tak menyangka bahwa senyuman itu pernah menghiasi wajahku. 

Siapa yang harus ku salahkan? Tuhan kah? Atau takdir yang telah menulis setiap paragraf cerita tentang hidupku lalu dengan seenaknya ia menghapusnya. 

Siapa yang berani beraninya menghapus segala kebahagiaan ku? Dengan menyisakan kepedihan ini. 

Mengapa ia tidak menghapus segalanya? Kebahagiaan dan kepedihan sekaligus. 

Bagaimana mungkin ia hanya meninggalkan kepedihan dan membuatku lupa bagaimana rasanya bahagia. 

Aku lupa bagaimana caranya tersenyum bahagia, 

Aku lupa bagaimana rasanya jantungku berdebar karena bahagia, 

Aku lupa segala sesuatu yang indah. 

Ingin sekali aku memukul seseorang yang telah menghapus itu semua. Tapi pada siapa pukulanku harus ku layangkan? 

Kata orang, cinta itu adalah kebahagiaan dan kepedihan. 

Kau memberikan kebahagiaan, ku akui itu. 

Tapi meninggalkanku tanpa sepatah kata pun yang mampu membuat hatiku hancur saja, kau tidak pernah. 

Harusnya kau menghancurkan hatiku saat kau memutuskan untuk pergi. 

Bukan membuatku melayang terbang ke langit lalu pergi entah kemana, membiarkanku terambang di antara awan sampai aku memutuskan untuk jatuh lalu menghancurkan diriku sendiri. 

Aku tak menyalahkanmu, sungguh. 

Kau tidak berbuat salah padaku. Tidak ada kata kata ataupun perbuatanmu yang membuatku pedih dan terluka. 

Senyuman dan bahagiaku adalah akibat dari setiap perlakuanmu padaku. Air mataku selalu terjatuh dengan bahagia karenamu. 

Kau tak pernah memperlakukanku dengan buruk. Kau tak pernah menggoreskan luka di hatiku. 

Menyakitiku adalah sebuah larangan untukmu. Itu moto hidupmu. 

Perginya dirimu tanpa membuat hatiku hancur mengakibatkan tanganku sendirilah yang menggoreskan luka pada hatiku sendiri. 

Diriku sendirilah yang membuat luka di hatiku ada dan semakin melebar. 

Aku yang tak pernah berhenti berharap kembalinya dirimu, membuat tanganku menggores hatiku semakin dalam. 

Kau memberikan ku kebahagiaan, tapi kau lupa untuk menyelipkan pedih di dalamnya. 

Apa itu pantas disebut Cinta, Lee Donghae?

•••

Even when I’m alone on the street we walked together

I can’t believe anything, as if it’s all a lie

It was going so well for a moment so I thought it would last forever

Was that thought and mind all selfish of me?

Album foto itu ku biarkan terbuka di atas meja makan. Aku lebih memilih melangkahkan kakiku meninggalkan ruangan makan. 

Aku tak tau sejak kapan waktu berjalan begitu lambat saat aku melewati sofa di depan TV. 

Tempat kita biasa menghabiskan waktu dan bermesraan. 

Albert Einstein benar, waktu itu bersifat relatif. 

TV itu tak pernah menyala lagi. Entah sejak kapan. Yang pasti disaat kita duduk didepannya lah TV itu terakhir kali menyala. 

Niatku adalah kembali ke kamar, alih-alih aku menjatuhkan tubuhku diatas sofa di depan TV.

Hidungku mengendus endus, mencoba mencari aroma tubuhmu. 

Tapi, kenapa hanya bau debu yang tercium? Sebenarnya, sudah berapa lama sofa ini tidak diduduki? 

Tubuhku tenggelam ke dalam sofa, mencoba mencari kenyamanan seperti saat kau merangkul tubuhku di tempat yang sama ini. 

Mataku terpejam, mencoba merasakan lagi sentuhan jemarimu mengelus suariku. 

Telingaku ikut ku tajamkan, mencari setiap alunan melodi yang keluar dari mulutmu.

Tapi, seakan semua tak pernah kurasakan. 

Aku telah lupa segala kemanisan itu. 

Apakah keberadaan dirimu di masa lalu adalah sebuah kebohongan? 

Apa itu hanyalah delusi ku? 

Tapi aku tak bodoh, kau pernah ada. 

Kisah itu pernah kita lakukan bersama. 

Tapi seakan otak ku telah disabotase, aku lupa bagaimana rasanya. 

Aku tau, setiap detik denganmu adalah segalanya bagiku. 

Segala sesuatu yang kita lakukan adalah kebahagiaan. 

Tak pernah ada yang mengganggu hubungan kita. 

Semua orang tau, bahwa sebuah akhir tidak akan terjadi pada kita. 

Aku masih ingat, di tempat ku sekarang ini. 

Jemari kita saling bertautan, tertawa bersama karena setiap candaan yang terlontar. 

Malam itu hujan deras, listrik juga padam. Kita memutuskan untuk duduk di sofa ini dengan secercah cahaya dari ponsel milikmu. Duduk sambil berpelukan.

Aku tak tau pasti candaan apa yang kau lontarkan, yang pasti adalah tawaku benar benar pecah karena dirimu, mengalahkan suara hujan diluar sana.

Dan hal lainnya adalah kita berakhir panas dengan hanya bermodalkan cahaya senter dari ponsel.

Namun sayangnya, aku lupa bagaimana rasa bahagia saat itu terjadi.

Aku tau dengan sangat jelas, bahwa dirimu tak pernah membuatku terluka.

Dengan dirimu yang tak pernah melukai hatiku, ku sangka kebersamaan kita adalah abadi. 

Kenapa kita bisa berpisah padahal tak pernah saling menggoreskan luka di hati? 

Kini aku menatap kosong, otak kecilku mulai berpikir. 

Kau tak pernah melukaiku, lantas apa alasan mu pergi? 

Jika kau tak pernah bersalah, apa aku telah melakukan kesalahan besar padamu? 

Atau aku yang egois karena masih berharap bahwa kau mencintaiku setelah meninggalkanku? 

Apakah aku egois berharap kau kembali? 

Apakah kepedihan yang ku ciptakan ini adalah bentuk keegoisan? 

Berharap kau menyakitiku saat kau pergi adalah keegoisanku?

Aku tak tau harus melangkah kemana, bertanya pada siapa, dan mengadu dengan siapa. 

Aku hanya bisa berdiam di flat ini, berharap kau pulang. 

Udara kosong di depan ku ini, bisakah kau yang menempatinya sekarang, Sayang? 

Pulanglah, Lee Donghae. 

•••

Now the both of us are more used to being in different times

Even if I cry going back to the moments that you and I met

A sigh that I don’t know when will develop, turns into a song

Without realising myself, I turn to you again

Aku bisa merasakan dinginnya saat salju putih itu jatuh ke telapak tanganku. 

Mencair disana dan lenyap. 

Dua tahun kau pergi tanpa sepatah kata yang mampu menyayat hati, dan satu tahun yang lalu aku melihat pundak kokohmu lagi. 

Senyumanmu masih sama, begitu manis. 

Tapi senyumanmu bukanlah untukku lagi. 

Aku sangat ingin melangkahkan kakiku dan berlari ke pelukan mu. 

Tapi, saat kakiku hendak melangkah, seolah olah ribuan tangan telah menahanku. Aku ingin memaki saat tubuhku tak mampu menggapai pelukmu. Aku sadar, otak dan tubuhku telah berkerja sama untuk membatu. 

Berdiri diam di luar restoran tempat mu bekerja sambil mengamatimu, aku adalah seorang penguntit sekarang. 

Entah aku harus bersyukur atau apa saat takdir membuatku terbang ke Negara Sakura ini. 

Aku tak tau alasanmu menghilang dan ternyata menjadi penghuni baru di Osaka ini. Aku terlalu takut untuk tau. 

Kita sudah dijalan yang berbeda, di waktu yang berbeda, dan di tempat yang berbeda pula. Itulah alasan aku membatu disaat kerinduan akan pelukan mu membuncah di hatiku. 

Biarkan seperti ini, 

Biarkan aku tak tau alasanmu pergi,

Biarkan faktanya bahwa kau tak pernah menyakitiku, 

Biarkan aku terluka oleh diriku sendiri. 

Karena aku tau, kau takkan pernah melukaiku. 

Air mata yang entah keberapa ratus kalinya kembali membasahi pipiku. 

Langkah kakiku membawa ku pergi dari sana, meninggalkanmu yang tak menyadari keberadaanku. 

Aku kembali ke flatku, flat yang ku jadikan tempat tinggal ku di Osaka ini. 

“Tak baik menangis di malam salju pertama, Yoona noona” aku hanya tersenyum membalas ucapan Yuta, saudara jauhku yang merupakan asli orang Jepang. Aku tinggal satu flat dengannya saat aku memutuskan untuk meninggalkan Korea dengan segala kenangannya. 

Memutuskan untuk hidup di dunia baru namun sayangnya aku tak pernah bisa keluar dari sana. Aku bersyukur karena Yuta tau bagaimana sifatku, jadi aku tak perlu khawatir ia akan sakit hati saat aku tak mengeluarkan sepatah katapun dan lebih memilih berdiam diri di kamarku. 

Tangisanku pecah saat tubuhku menyentuh ranjang. 

Hatiku begitu perih saat sesuatu yang ada di depan mataku tak bisa ku genggam. 

Aku tak mengerti dengan diriku yang terdiam membisu ketika seseorang yang dua tahun menghilang muncul di hadapanku. 

Seharusnya aku menghampirimu, alih-alih aku hanya menjadi penguntit dirimu. 

Aku terlalu takut akan hal yang akan terjadi. Bagaimana jika kau memang tidak menginginkan ku dan lebih memilih pergi? 

Aku takut saat aku menunjukkan batang hidungku, maka dirimu akan menghilang lagi. Seperti dulu. 

Erangan pedih tak bisa ku tahan keluar dari mulutku. 

Ini lebih sakit daripada aku yang tak bisa melihatmu saat di Seoul dulu. 

Sejak satu tahun yang lalu, tangisanku sudah menjadi musik pembawa tidur untukku. 

Aku tak tau sudah berapa ribu kali air mata kepedihan ini mengalir. 

Aku menyesal tapi juga tidak saat aku memutuskan untuk menetap di Osaka demi menemani Yuta. 

Ku pikir aku akan melupakanmu dengan pergi ke sini.  

Melupakan segala kepedihan dan mulai mencari bagaimana rasanya bahagia itu lagi. 

Tapi tanpa sadar, aku kembali lagi padamu. 

•••

Don’t leave like the rain

I’m drenched like this again today

I seek for you amongst the wet traces

Will I be able to erase it?

If I could do it just one more time

Just one more chance, so I can see

Sekuat apapun aku menahannya, mencoba melenyapkannya. Itu semua adalah sia sia. 

Aku tak bisa. 

Aku tak bisa menghilangkan rindu yang telah tak terbendung lagi. 

Perasaan itu semakin membuncah dan akhirnya menyakitiku. 

Lagi lagi, sakitku diakibatkan oleh diriku sendiri. 

Lagi lagi, aku melukai diriku sendiri. 

Aku ingin sekali memanggil namamu dan menyuruhmu untuk menghentikanku melukai diriku sendiri. 

Tapi entah kenapa, aku tak mampu. 

Sampai pada batasnya segala pertahanan ku, 

Sampai pada hancurnya semua pion pertahanan ku,

Sampai hancurnya tembok pertahanan ku, 

Aku memutuskan berlari diantara ribuan juta hujan yang membasahi bumi. 

Tak peduli dengan apa yang akan terjadi,

Rinduku harus segara ku lepaskan. 

Aku sampai pada restoran itu dan memasukinya secepat mungkin. 

Mataku tak mendapatkan sosok dirimu, tapi aku tak menyerah. 

“Maaf, dia sudah tidak bekerja lagi disini sejak dua hari yang lalu” bahuku mengendur kala mendengar seorang pelayan yang bekerja di restoran itu menjawab pertanyaan ku akan keberadaan dirimu. 

Aku mengangkat tanganku, membiarkan hujan membasahi telapak tanganku. Lalu mengering, dan lenyap. 

Aku bisa merasakan alisku menukik menahan isakan yang sudah diujung lidahku. 

Lee Donghae, jangan pergi seperti hujan! 

Entah setan darimana yang merasukiku, aku berlari. 

Mencoba mendapatkan takdir yang membawaku kembali bersamamu. 

Apakah aku terlalu menyepelekan takdir yang telah memberikan kesempatan padaku untuk menemuimu lagi? 

Apa takdir marah padaku? 

Hingga ia mengambilmu lagi dari ku. 

Aku tak peduli dengan hujan yang begitu dingin di akhir musim salju ini. 

Rasa dihatiku yang sudah membeku jauh lebih dingin dari setiap tetesan hujan itu. 

Air mataku kembali memembasahi pipiku. Menggantikan jejak hujan yang sebelum nya membasahi pipiku. 

Kapan pelangi akan muncul kembali di wajahku ini setelah sekian lamanya hanya hujan yang menyapa? 

Aku masih berlari, mencoba mencari jejak langkahmu sekedar untuk mengikutimu. 

Tapi tak kunjung kutemukan. 

Hanya ada genangan air di depan sana. 

Katakan padaku, bagaiman caranya untukku menemukan setiap jejak langkahmu di genangan basah itu? 

Kakiku tersandung pada batu dan aku bisa merasakan sakit yang tak seberapa pada lututku. 

Wajahku benar benar tertutupi oleh air mata mengalahkan air hujan yang membasahinya. 

Aku menatap nanar pada genangan air di depanku. 

Bisakah aku menghapus segala genangan yang menutupi setiap langkah jejakmu? 

Bisakah aku menghapus segala kepedihan hatiku akibat rindu dan bertemu denganmu? 

Brengsek! Aku tak bisa! 

•••

Another tomorrow that I thought it’d be okay

As time passes by, it’s getting deeper

I thought I’d become new as the longing for you passes away,

As if the clock in my heart has broken, it’s always the same time

Aku tau, takdir telah mempermainkan ku. 

Tapi, inilah aku. Im Yoona. 

Aku tak akan kalah dari tadir. 

Jika ia tak membiarkan ku bertemu dengan mu lagi, baiklah. 

Kita tidak akan bertemu. 

Aku akan baik baik saja. 

Seperti tiga tahun terakhir yang ku lewati tanpamu.

Tubuhku masih sempurnah. 

Mataku tidak hilang, telingaku, jariku, lenganku bahkan kakiku. Semuanya masih lengkap. 

Aku bisa melewati segalanya dan tak akan menangisi takdir yang begitu kejam padaku. Tidak lagi. 

Semua sudah berlalu, kerinduanku yang tak bisa kulepas bukankah sudah terlepas dengan tak sengaja? 

Disaat satu tahun aku menjadi penguntit Lee Donghae. Disitulah kerinduanku mulai terbayar.

Waktu itu relatif. Aku bisa melewati segalanya seiring berjalannya waktu, bukan? 

Aku percaya bahwa dengan seiringnya waktu, hatiku ini akan sembuh dengan sendirinya. Seperti luka di lututku yang akan mengering dengan sendirinya. 

Aku yakin, luka di hatiku pun begitu. 

Tapi, sekali lagi aku keliru. 

Dibawah pohon Sakura yang sudah memekar, hujan di wajah ku kembali mengguyur. 

Aku tak tau kapan pelangi akan terbit disana. 

Aku tak tau kenapa wajahku sudah seperti Kota Hujan Tersembunyi yang selalu menumpahkan air dan selalu basah. 

Bahkan aku tak perlu mengeluarkan uangku sekedar membeli pelembab wajah, karena wajahku selalu lembab alami. Oleh air mata. 

Ku pikir aku mampu melawan takdir, mengalahkannya setelah itu mengejek ia dibawah kakiku. 

Aku terlalu berdosa karena hal itu, hingga ia semakin tega membuatku jatuh semakin dalam. Luka di hatiku semakin membesar, rindu di benakku semakin terbentang luas.

Aku tak yakin aku bisa menampung semuanya diatas pundakku. Mengingat sejak kepergianmu, pundakku hanya seperti daun yang begitu kering dan rapuh. 

Aku sadar, ini adalah musim semi kedua sejak dirimu lagi lagi menghilang di musim salju dulu. 

Berarti, sudah empat tahun aku tak mendengar suaramu dan melihat sosok dirimu. 

Setiap aktifitas dan kesibukanku tampaknya tak membuat rindu di hatiku lenyap dimakan oleh waktu. 

Aku mulai berpikir, dan menyimpulkan bahwa waktu bukanlah pemakan rindu. 

Waktu tak akan mampu menghabiskan rindu dan melenyapkannya. 

Tidak, waktu saja tak mampu.

Aku tau, ribuan hari sudah terlewat sejak dirimu meninggalkan ku sendirian di flat kita yang dulu.

Tapi seakan aku masih terjebak di waktu yang sama. 

Aku merasa jarum jam di arloji yang melingkar di tangan ku ini tak pernah berputar. 

Seolah ia telah mati dan masih berdiam di angka yang sama. 

Seperti empat tahun yang lalu. 

Rasa sakit itu masih sama seperti empat tahun yang lalu. Kerinduan itu semakin membuncah. 

Bahkan aku masih tidak tau bagaimana rasanya kebahagiaan itu. 

Aku terjebak di dalam labirin waktu. Aku tak bisa keluar dari sini selamanya. 

Jam dihidupku sudah rusak. 

Dimana aku harus membeli baterainya agar jarum jam itu kembali berputar? 

•••

I was okay even standing in the rain

Because everything was the traces that you left

Because longing for you is a beautiful pain

I thought that I would be able to endure it

I had a lot of mistakes and a lot of wounds too

TruthfuIIy, I don’t want to be afraid of everything and want to end it too

The rain falls, dries up and disappears

You can’t leave like that alone, please

Katakan aku bodoh atau apapun. 

Yang kubutuhkan hanyalah dirimu. 

Aku tak bisa mengatakan seberapa besarnya penyesalanku saat tak menghampirimu disaat aku tau bahwa kau ada di depanku.

Aku menyesal lebih mendengarkan otakku dan tak memberontak tubuhku yang membatu kala itu. 

Harusnya dulu aku mendengarkan hatiku yang bersorak untuk berlari memelukmu, bukan malah mendengarkan otakku yang menyuruhku menjadi penguntitmu. 

Lagi lagi semua ini adalah kesalahan ku, bukan?

Lagi lagi aku menambah goresan di hatiku. 

Sudah berapa banyak goresan tanganku disana? Aku tak bisa menghitungnya lagi karena sudah terlalu banyak. 

Aku tak ingin kembali menyesal hingga mendatangi restoran tempatmu bekerja dulu adalah rutinitas ku sekarang. 

Aku tak peduli dengan hujan yang terus menerus mengguyur Osaka belakangan ini. 

Aku hanya berharap pundak kokohmu kembali menyapa retina mataku di restoran itu. 

Aku tak berniat membuka payung dan melindungiku dari hujan. 

Aku tak ingin menghindarimu. 

Bukankah kau seperti hujan? 

Kau suka menghilang seperti hujankan? 

Jatuh, mengering, dan lenyap. 

Biarkan tubuhku merasakan dirimu lagi, walaupun sebentar. 

Aku tak peduli dengan tatapan iba orang orang padaku yang semakin menggigil dan tetap berdiri ditengah hujan. 

Aku hanya ingin merasakan sakitnya dirimu, sang Hujan. 

Meninggalkan jejak di tubuhku, mengering lalu lenyap. 

Dirimu sekali, kan? 

Lagi lagi, membiarkan luka itu semakin dalam. 

Dan aku tau, itu adalah murni perbuatan ku. 

Aku tak pernah bosan untuk menambah luka lagi di tempat yang sama. 

Hanya untuk merasakanmu.

Merindukanmu adalah rasa sakit yang indah. 

Biarkan aku terus merasakan keindahan itu dengan cara menambah rasa sakit. 

Karena aku tau, daun kering ini mampu menahan segala sakit itu. 

Bukankah sudah terlalu banyak luka dan pedih yang ku torehkan? Aku sudah kebal dengan segalanya.

Aku tak merasakan rasa sakit itu lagi karena sudah begitu banyak, dan ku rasa aku akan mati rasa setelah ini. 

Aku tak menyangka, aku bisa sedepresi ini. 

Takdir juga akan menghapus rasa pedihku hingga aku akan lupa bagaimana rasanya kepedihan. 

Dan menjadikan ku sebagai makhluk mati rasa. 

Aku sadar betul, hujan masih mengguyur kota Osaka. 

Tapi tubuhku yang sudah basah kuyup tak merasakan tetesan itu lagi di sekujur tubuhku. 

Sepasang Converse putih menyapa manik mataku yang terus menunduk. 

Mataku membulat kala aku mendongakkan kepalaku.

Aku ingin memelukmu, lagi. 

Tapi perasaan takut masih terbenak di hatiku. 

Ingin sekali aku tidak takut pada apa yang akan terjadi, seperti Déjà vu otakku kembali mendominasi hingga tubuhku membatu. 

Aku sangat ingin mengakhiri segala kelakuanku yang membuat luka di hatiku bertambah, tapi percayalah itu sulit. 

Sama seperti biasanya, 

Disaat hujan turun, akan mengering, lalu lenyap. 

Tampaknya kau tak akan membiarkan itu terjadi lagi, pada dirimu. 

Jam dihidupku kembali berputar. 

Kehangatan itu kembali merasuki tubuhku, dan aku bisa merasakan kebahagiaan itu lagi. 

Kala pundak kokohmu memeluk tubuhku yang mengurus. 

Aku tak tau ocehan apa yang kau lontarkan disertai isak tangismu, aku terlalu hanyut dalam perasaan ku. Terlalu sibuk merasakan setiap jengkal pelukan tubuhmu. 

Walaupun begitu, telingaku masih menangkap sedikit ucapan maaf darimu, kau mencariku di Seoul satu tahun yang lalu. 

Aku tersenyum, itulah alasanmu menghilang dari Osaka ini. 

Mataku mulai sayu, rasanya tubuhku memberat.

Aku terlalu rapuh untuk menopang berat tubuhku akibat guyuran hujan yang selalu mengikis pertahanan ku. 

Namun aku tak perlu khawatir, karena kau akan membangun kastil pertahanan ku lagi. 

Kau akan menjadi kekuatanku lagi, seperti dulu.

“Jangan pergi seperti hujan”.

– TAMAT – 


Akhirnya selesai nih ff dalam satu malam hohoho. 

Serius, liat mv dan denger lagunya SJ yang baru rilis kemarin bikin nyesek. 

Apalagi pas liat video yang Donghae blg kalo nyanyi di part ‘Idaero bichorom gaji mayo. Ugh~’

Kata Donghae ugh nya harus sakit gitu 😂😂

Liriknya menyentuh, jadi bepikir apakah YoonHae bener bener udah berpisah di dunia nyata? 

Ngingat itu lagu, Donghae yang nyiptain. 

Yaudah, gitu aja. 

Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa 😍😍😚😚😘😘

Somewhere Only We Know [Chapter 2]

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Romance, Family 

Length : Chapter

Rate : T


Cover by. BubbleBaek27 Art

.

.

.

Hay! Aku kembali dengan ff chap 2 nya hahaha 😂😂😂

Maaf kalo ngaret sangatttt karena tugas kuliah author menumpuk 😭😭 wajar aja karena author adalah maba yang masih taat aturan hehe 😂😂

Dan di sela sela kesibukan, author nyempetin buat ngelanjutin nihh cerita, dan semoga hasilnya menyenangkan. 

Terimkasih untuk kalian yang Setia menunggu chap 2 nya, terima Kasih untuk setiap dukungan kalian. 

Author sayang readernim 😘😘😘😍

.

.

.

.

“Eun Kyo-ya! Kau dipanggil Kepala Staff! Cepat kesana, sepertinya dia sangat marah padamu!” Donghae maupun Yoona bernapas lega saat mendengar pintu ruangan itu ditutup kembali  setelah sebelumnya suara langkah seseorang menjauhi celah yang mereka tempati. 

Bahu yang tadinya begitu menegang kini jatuh lemah, semua nyawanya kembali. 

Yoona menaikkan kepalanya menatap Donghae penuh kesal “Ini salahmu! Bagaimana jika tadi mereka tau kalau kita ada disini?! Argh! Pastinya  aku akan mati konyol disini!”

Mendengar gerutuan kekasihnya itu membuat Donghae terkekeh pelan. Toh sekarang mereka tidak ketahuan kan? Apa yang perlu dipermasalahkan lagi? 

 “Eumh, jadi. Sampai dimana tadi?” senyuman aneh itu tercetak jelas di wajah Donghae. Entah sejak kapan pemuda itu memiliki senyum aneh yang lebih terkesan mesum itu. Bahkan Donghae semakin menyudutkan tubuh Yoona ke dinding di belakang Yoona dengan tubuhnya. 

Yoona sadar senyuman itu, membuat wajahnya memerah entah karena malu ataupun kesal. “Sampai mana apanya? Kau pikir kita sedang apa?” tangan Yoona mendorong tubuh Donghae agar pemuda itu menjauh. Dan Yoona menggunakan kesempatan itu untuk berlari dari Donghae. 

Yoona sangat tak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Yoona sungguh tak ingin tertangkap basah sedang berkencan di celah sempit ruang kostum pulak. Sangat konyol. Dan itu bukan tipe Yoona. 

Yoona pergi meninggalkan Donghae tak peduli dengan pemuda itu yang memanggilnya diiringi tawa renyah Donghae. Menyebalkan. 

“Yoona noona?” Sial. Langkah Yoona terhenti beberapa meter dari pintu. Menatap dengan wajah idiot sosok polos di depannya ini. 

“Jisung?” bocah itu tersenyum kecil dan memasuki ruangan kostum itu dengan senyum andalannya. Senyuman senang bercampur dengan segan. 

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoona penasaran.

Hey, Yoona tampak bodoh sendiri mendengar kalimat pertanyaannya. Apa yang Jisung lakukan disini? Hell, lalu apa yang Yoona lakukan disini? 

“Aku sedang mencari Donghyuck hyung, dia melarikan coklatku. Ku pikir dia kesini. Apa Yoona noona juga mencari seseorang disini?” Yoona memejamkan matanya erat. Sungguh, ia menyesal bertanya seperti itu pada Jisung. 

“Ahh itu, aku…  Tidak, uhhh seperti itulah” Yoona semakin merutuki kegugupannya itu. Dia hanyalah seorang Jisung, yang umurnya masih ilegal. Lalu untuk apa Yoona gugup? Yang dihadapinya hanyalah bocah ingusan dengan pemikiran polosnya. 

“Sepertinya Donghyuck hyung tidak ada disini. Kalau begitu aku permisi, Noona” Yoona membalas senyuman Jisung dengan tulus. Jika saja ia tidak di dalam situasi baru saja bebas dari kematian, ia sudah pasti menyapa Jisung dengan lebih ramah dan mungkin saja membawa anak itu bermain entah kemana. 

“Sampai jumpa, Noona” 

“Emm….. Sampai jumpa, Donghae hyung” What?!  Yoona langsung melirik ke belakang dan mendapati Donghae dengan senyuman indahnya di belakang sana. Yoona pikir Donghae bersembunyi karena seseorang memasuki ruangan itu, ya walaupun hanya seorang Jisung. Yoona tak ingin ada orang yang melihat mereka dan berpikiran aneh tentang mereka, walaupun itu hanyalah seorang bocah berumur 15 tahun. Harusnya Donghae tetap diam di tempatnya dan keluar setelah benar benar memastikan tidak ada orang lagi di ruangan itu, bukan dengan bodohnya keluar dari celah itu lalu menunjukkan batang hidungnya dengan bangga di hadapan Jisung. 

“Sampai jumpa Jisung-ah” pintu itu tertutup setelah Jisung keluar dari ruangan itu. 

Donghae mendekati Yoona dengan aura hitamnya, menepuk kepala gadis itu pelan, “Tenanglah, dia hanya anak anak. Dia tidak akan mengadu. Aku pergi. Dan rambutmu, ya walaupun kau tampak jelek. Tapi kau semakin seksi dengan rambut pendek mu itu” 

Rahang Yoona terkatup rapat saat punggung Donghae akhirnya tertelan pintu. Menyisakan dirinya yang masih berdiri diam di dalam ruangan kostum itu. 

Yoona menarik napasnya dalam. Wajahnya memerah menahan segala amarahnya. 

Seksi ya? 

•••

Surai pendek Yoona basah karena keringat. Wajahnya juga tak kalah basah. Buliran keringat masih menetesi wajahnya. 

Cuaca di Korea tidak terlalu panas, bahkan AC ruangan latihan mereka tidak mati. 

Wajar saja sih, mengingat Yoona dan member Girls’ Generation lainnya sedang berlatih dari jam 1 siang sampai jam 11 malam. Walaupun diselingi istirahat, tetap saja tubuh mereka basah karena keringat. 

Yoona mendudukkan tubuhnya disudut ruangan, bergabung bersama Yuri, Seohyun, Sunny dan Hyoyeon. 

Yoona merampas botol minuman dari tangan Sunny, meneguknya hingga habis “Aku haus sekali” kalimat yang diiringi tawa polos Im Yoona membuat Sunny mengurungkan makiannya. 

“Kau memang handal untuk tak membuat orang lain marah” langsung saja gelak tawa di ruangan itu terdengar. 

“Ini jika kalian kurang” Taeyeon meletakkan lima botol air putih di tengah tengah sekumpulan perempuan itu. Menjadi pahlawan saat adik adiknya kelelahan dan dehidrasi. 

“Kau memang yang terbaik!” Taeyeon hanya tersenyum tipis dan ikut bergabung bersama mereka. Menikmati waktu istirahat yang sangat ia nantikan. 

“Aku membawa makanan ringan” Sooyoung dan Tiffany ikut bergabung dengan makanan ringan yang mereka bawa. Sungguh sangat berguna, pikir Yoona. 

Latihan sudah berakhir, tapi kedelapan gadis itu masih tak ingin beranjak dari istirahatnya. 

Segitu lelahnya hingga membangkitkan badan saja begitu malas.

“Aku sangat ingin pulang dan tidur. Yuri-ya, gendong aku dan bawa pulang. Aku tak sanggup untuk berdiri” ugh, Tiffany! Yang lain juga malas untuk beranjak karena lelah. Dan kau dengan seenaknya meminta Yuri menggendongmu, begitu? Tega sekali. 

“Telepon saja pacarmu dan suruh dia menggeretmu dari sini” Tiffany hanya mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban dari Yuri. Sungguh sangat tidak romantis dan menyakitkan hati. Mengingat ia sedang menyandang status single saat ini. Tidak bisakah Yuri sedikit romantis dengan mengatakan hal lain? Pikir Tiffany. 

“Apa aku harus menelpon Nickhun?” 

“Hey!!!” pekikan Tiffany terdengar disertei oleh tawa Hyoyeon yang tak bertahan lama karena Tiffany langsung saja memberikan ciuman sayang di dahi Hyoyeon. Tapi Hyoyeon sungguh tak menyesal setelah meledeki Tiffany dan membuat Pink Monster itu kesal. 

“Aku jadi ingin berkencan. Bermesraan bersama, berkencan di tengah malam, membeli barang couple, dan menelponnya disaat seperti ini. Bahkan akan kusuruh dia masuk ke sini dan menggendongku lalu membawaku ke mobil. Pasti sangat menyenangkan” 

“Berhentilah bermimpi, Sunny! Kau tau kita tidak bisa” dan argumen dari Taeyeon membuat tawa Yoona berhenti. 

“Jadi hanya aku yang beruntung?” tatapan ke tujuh member lainnya beralih pada Sooyoung. Dan sedetik kemudian mereka mengangguk setuju. 

Sooyoung kan yang beruntung? Kekasihnya itu dewasa, dan mereka saling mencintai. Para penggemar maupun dari kalangan netizen menyutujui hubungan mereka. Bahkan Sooyoung bilang mereka akan menikah dua tahun lagi. 

Beruntung kan mengingat umur semua member Girls’ Generation itu sudah hampir menginjak kepala tiga? 

“Untuk saat ini mungkin hanya kau. Tunggu saja berita tentangku!” Yoona bersuara, menantang pada keberuntungan Sooyoung. Gadis itu sedikit banyaknya berharap seperti Sooyoung. Didukung dari berbagai kalangan. Apakah ia juga akan seperti Sooyoung saat hubungannya diketahui oleh publik? Atau seperti Sungmin yang dibenci oleh fansnya sendiri. Bahkan disuruh keluar dari grupnya sendiri. Yoona sangat tak ingin itu terjadi pada dirinya, maupun pada diri Donghae. Bisakah keberuntungan itu akan memihak padanya kelak? 

“Ya, saat Lee Seung Gi kembali dari militernya?” dan tantangan balik Sooyoung itu membuat ruangan itu dipenuhi oleh tawa, membuat Yoona sadar dari lamunannya. Lalu, Yoona hanya menatap kecut pada member lain. Berpura pura merajuk karena ejekan Sooyoung padanya. 

Yoona sadar, ia kalah dari Sooyoung.

“Yoong! Ponselmu bergetar, ada yang menelpon! Dong…” Yoona merampas ponselnya dari tangan Yuri secepat mungkin. Tak membiarkan gadis Tan itu membaca nama seseorang yang menghubunginya. Hatinya merutuki Donghae yang dengan bodohnya menelponnya disaat seperti ini. Bagaimana jika ia lengah dan Yuri melihat namanya disana? Sudah pasti rahasia mereka akan terbongkar! 

“Hey! Kau tidak perlu sekasar itu” Yuri sedikit kesal dengan respon sahabatnya itu. Apa apaan dia? Begitu kasar hanya karena sebuah ponsel. 

“Memangnya dari siapa? Dong apa? Donghae?” Seohyun sempat mendengar ucapan Yuri yang terpotong tadi. Dia juga sedikit heran dengan respon tiba tiba kakaknya itu. Jika Donghae yang menelpon, kenapa responnya seperti itu? 

“Enghhh, itu, bukan Donghae!  Tapi Dong…  Donghyuck! Ya, dia yang menelpon” tawa Yoona memang terdengar biasa saja. Yoona bisa akting kan? Tapi raut khawatir terlihat jelas di wajahnya, dan Taeyeon menyadari hal itu. Yoona menyembunyikan sesuatu. 

Lagian hanya seorang Donghyuck kan? Tidak perlu respon seperti itulah yang Yoona berikan. 

“Haechan? Untuk apa?” ya, ditambah untuk apa Haechan menelpon Yoona? Malam malam begini pula. Dan pertanyaan Seohyun membuat Yoona ingin menendang bokong adiknya itu ke Kutub Utara. Kemana Seohyun yang tidak suka ikut campur urusan orang itu? 

“Kemarin Jisung mencari Haechan, dan dia bertemu denganku. Jisung mencari Haechan karena dia melarikan coklat Jisung. Jadi aku membelikan Jisung coklat. Dan mungkin, Jisung memamerkannya pada Haechan, dan kalian tau akhirnya. Haechan menghubungiku untuk dibelikan coklat juga” Yoona bangga pada dirinya karena dulu ia rajin saat mata pelajaran sastra. Dan lihat hasilnya? Sangat lihai dalam mengarang. 95 untuk nilai sastra Yoona saat ia duduk di bangku SMA dulu, jika kau ingin tau. 

“Dari mana Haechan mendapatkan nomor ponselmu?” siapa saja, tolong selamatkan Seohyun sekarang juga! 

•••
Yoona berjalan santai memasuki kamarnya, tidak peduli dengan ruangan tanpa cahaya itu, Yoona sudah hapal dimana semua posisi barang barangnya di kamar apartment nya itu. Dan dengan santainya ia tertidur diatas gundukan selimut di ranjangnya. 

Sengaja menimpah Donghae yang sudah terlelap di ranjang empuk miliknya. Dan itulah salah satu cara sayang Yoona untuk membanguni Donghae. 

“Aku tak tau kau pulang selarut ini, kenapa tidak menginap di dorm saja? Bahaya jika kau pulang tengah malam seperti ini” Yoona hanya mengabaikan ocehan pemuda itu, ia lebih memilik memasuki selimut yang dipakai Donghae dan memeluk pemuda itu senyaman mungkin. 

Tak terima telah diabaikan kekasihnya, Donghae menyentil dahi Yoona, “Jika aku bertanya itu dijawab” kesal Donghae. 

Cengiran tercetak di wajah Yoona saat ia menatap Donghae. Bukan maksud mengabaikan, ia hanya terlalu malas berpikir. Tapi tampaknya, Donghae memaksanya, “Aku hanya ingin pulang saat mendapat pesan darimu bahwa kau disini. Taeyeon sudah mencegahku tadi, tapi aku bersikeras untuk pulang kesini. Demi pelukan hangat ini” tubuh Yoona semakin tenggelam ke dada bidang Donghae. Tak lagi menatap iris hazel Donghae, Yoona lebih memilih tenggelam dalam kenyamanan pelukan Donghae.

Donghae mengerti dengan sifat manja Yoona yang satu ini. Lelaki itu tau bahwa gadisnya sedang lelah. Karena itu, ia lupakan kantuknya dan mulai mengelus surai pendek Yoona, membantu gadis itu memasuki dunia mimpinya. 

“Sooyoung begitu beruntung ya” seruan tiba tiba Yoona membuat Donghae menaikkan alisnya bertanda bahwa ia tak mengerti dengan ucapan Yoona. 

“Saat kami selesai latihan tadi, kami sedikit bercerita. Dan cerita kami membawa pada status kepemilikan yang kami sandang. Sooyoung yang paling beruntung, penggemarnya maupun penggemar Jung Kyung Ho memberikan dukungan pada hubungan mereka. Bahkan yang bukan penggemar juga mendukungnya” Donghae melirik Yoona yang bercerita masih dalam keadaan kepalanya tenggelam di dada bidang Donghae. Bercerita dengan mata tertutup seakan akan bukan ia yang mengeluarkan suara. 

Donghae tau hubungan teman Yoona itu dengan kekasihnya dan bagaimana respon publik terhadapnya, tapi bukankah sebagai teman yang baik Yoona juga harusnya bahagia?, “Kau tak suka temanmu beruntung seperti itu?” jika memang pertanyaan Donghae adalah fakta, sepertinya Donghae harus mengajari anak itu bagaimana caranya bersyukur. 

Mendengar tuduhan Donghae membuat Yoona mengangkat kepalanya dan menatap Donghae sedikit marah, “Hey! Aku bukanlah teman yang jahat seperti itu! Aku senang dengan hubungan Sooyoung! Aku sepenuhnya bahagia, tapi rasa iri juga ada di hatiku!”.

“Tapi kau tampak sedih menceritakannya” yang dikatakan Donghae itu tidaklah salah. Intonasi Yoona saat bercerita tadi seakan akan gadis itu sedang putus asa dengan keberuntungan temannya. Jika yang dikatakan Donghae tidaklah benar, lalu apa? 

Tatapan Yoona meneduh menatap Donghae, “Aku hanya takut. Bagaimana jika aku tidak seberuntung Sooyoung? Bagaimana jika akhirnya kita seperti Sungmin dan Sa Eun? Aku tak mau dibenci oleh penggemar ku, dan aku juga tak mau jika kau tersakiti karena penggemar mu. Itu sungguh menakutkan. Aku sungguh ingin hubungan kita seperti hubungan Sooyoung dengan Kyung Ho. Tapi itu tidak mungkin, aku pasti tidak akan seberuntung Sooyoung” ya, seperti itulah adanya. Yoona hanya takut dengan apa yang terjadi jika dunia tau bahwa dirinya dan Donghae sedang berkencan. 

Mengingat lebih banyaknya orang orang yang mendukung hubungannya dengan Lee Seung Gi. Yoona sungguh takut akan banyaknya orang yang akan membencinya dan Donghae, ia juga takut akan menyakiti hati para penggemar nya. 

Jemari Donghae menyingkirkan anak rambut yang turun menutupi mata Yoona. Tatapan teduh Donghae jatuh pada manik mata gadis itu, “Seperti yang kau katakan, kita tidak akan seberuntung hubungan Sooyoung. Tapi yang perlu kau ingat adalah kita juga tidak akan sesial hubungan Sungmin”

Pernyataan Donghae membuat Yoona terhenyak. Donghae benar, tapi tetap saja itu tidak membuat perasaan takut Yoona menghilang.

“Bagaimana jika lebih sial dari hubungan Sungmin?” Donghae memejamkan matanya erat menahan geram. Yoona sungguh mengemaskan hingga jatuhnya Donghae sangat ingin menarik telinganya hingga lebar seperti telinga Chanyeol. 

“Aku hanya akan bahagia jika itu dirimu. Kau tau, mereka tidak punya hak menentukan siapa pasangan hidupku. Jika bahagia ku adalah kau, mereka bisa apa? Memisahkan kita sama saja artinya dengan membunuhku. Jika mereka semua tidak setuju, kita masih punya keluarga yang melindungi kita, kan? Seperti kami yang masih melindungi Sungmin dan Saeun, dan masih menyayangi mereka. Itu saja sudah cukup. Walaupun aku tau Super Junior bisa sehebat sekarang karena ELF, aku tau mereka juga akan melindungi kita, karena ELF dan aku adalah keluarga. Sungmin hanya sedang sial makanya penggemar seperti itu padanya” Yoona mengangguk mengiyakan segala ucapan Donghae. Yoona sadar, ia memiliki banyak pion dan kastil yang melindunginya. Dan saat ini ia hanya perlu berpikir bagaimana kedepannya dan apa yang harus ia lakukan. 

“Kau siap untuk publik? Kau tau, kita akan menikah saat umurku 35. Itu artinya, 3 tahun lagi. Di waktu seperti inilah saat yang tepat untuk mengatakan pada dunia bahwa kita saling memiliki. Aku tak mau skenario mu bersama si brengsek itu terulang lagi. Dan aku tak mau jika kita berpisah lagi karena kebodohan bersama. Maka dari itu, ayo kita katakan pada dunia, terutama pada Lee Seung Gi, bahwa Im Yoona hanya milik Lee Donghae seorang!” tawaran Donghae membuat Yoona mendelik dam mencubit pinggang Donghae. Publik katanya? Disaat yang pas? Disaat Yoona sedang dilema dan dilanda takut seperti ini adalah saat yang tepat? Hell, Donghae!  Kau membunuh Yoona jika seperti itu! 

“Tunggu disaat aku sudah siap, tak perlu kau yang menawarinya. Aku akan mencium bibirmu tepat di hadapan kamera dan ribuan penggemar nantinya. Di saat ending SM Town World Tour, misalnya” 

“Hey! Benarkah?!  Aku akan menunggu saat itu tiba!” 

•••

Awan di luar jendela menjadi lebih menarik bagi Yoona daripada tawaran Pizza dari Taeyeon. Yoona bukanlah tipe gadis yang suka menolak makanan, namun kali ini, ia lebih memilih menyumbangkan Pizza itu seluruhnya kepada Sooyoung, rivalnya dalam hal makanan. Pikirannya masih tertanggung oleh kondisi hubungannya dengan Donghae. 

Walalupun ia baru beberapa minggu kembali ke pelukan pemuda itu, Yoona sangat tak ingin terjebak ke dalam lubang yang sama seperti di masa lalu. 

Bersembunyi, lalu menutupi hubungannya dengan hubungan palsu dan berakhir menyakitkan. Cukup sudah itu terjadi sekali di dalam hidupnya, ia tak ingin kehilangan lagi. 

Yoona sangat ingin mengatakan pada dunia bahwa ia sudah memiliki dan dimiliki seseorang. Hidup layaknya sepasang kekasih diluaran sana tanpa harus memikirkan hati yang lain. 

Yoona ingin sekali egois, tapi ia tau, itu bukanlah dirinya. 

Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk berterus terang, tapi dirinya juga tak tahan dengan terus bersembunyi. 

Kadang ia berpikir, bagaimana jika dunia tau bahwa dirinya sudah bersama dengan Donghae sejak lama? Sejak tahun 2009?

Bagaimana respon teman teman segrupnya? Bagaimana respon penggemarnya? 

Apakah ia di cap wanita jalang karena berkencan dengan Lee Seung Gi disaat ia bersama Donghae? Jelas saja itu akan terjadi. 

Lalu, bagaimana perasaan teman temannya saat tau ia telah berbohong pada mereka dan menyembunyikan hubungannya hampir 8 tahun? 

Dan bagaimana respon mereka saat mengetahui bahwa Yoona berkencan dengan mantan salah satu saudara mereka. 

Lee Donghae adalah mantan kekasih Jessica Jung, siapa yang tak tau akan hal itu? 

Yoona terlalu menikmati kesenangannya bersama dengan Donghae, membuatnya lupa dengan waktu yang terus berputar hingga 8 tahun lamanya. Membuatnya lupa bahwa ia sedang berbohong pada semua teman bahkan sudah seperti saudaranya sendiri. 

Taeyeon hingga Seohyun tau, bahwa prioritas Im Yoona adalah keluarga dan sahabatnya. Masalahnya, mereka tidak tau bahwa Cinta mampu menghancurkan prioritas Yoona itu. 

Yoona akui, ia egois saat ia menerima Donghae 8 tahun yang lalu dengan alasan Cinta. Ia mencintai lelaki itu, persetan dengannya yang adalah mantan kekasih Jessica. Selama tidak ada yang tau, keluarga dan sahabat adalah prioritas Im Yoona itulah yang masih ada di pikiran teman teman sekaligus keluarganya itu. “Kau terlihat tertekan” Yoona menoleh dan mendapati Taeyeon yang duduk disampingnya. Taeyeon adalah member yang sangat ia hindari. Karena Yoona tau, gadis itulah yang paling sensitif dengan suasana hati semua member Girls’ Generation. 

Yoona tersenyum menutupi segala kegelisahannya, lagi lagi ia harus berakting didepan kakakknya itu, “Aku hanya lelah. Dan awan itu mampu menghilang kan lelahku” yang dikatakan Yoona memang benar, awan itu sedikit membantunya. 

Taeyeon hanya mengisikan bahunya, “Tapi kau menatap awan itu seolah kau ingin memakan mereka dan mencabiknya” jangan menyalahkan Taeyeon, karena itulah pendapat dari kacamata Taeyeon. 

Melihat Yoona yang tak mengeluarkan suaranya lagi, Taeyeon membuang napasnya sedikit kasar, “Aku adalah leader, jika kau lupa. Dan kau adalah bagian dari Girls’ Generation jika kau amnesia mendadak. Dan juga kau memiliki 7 saudara lagi, agar kau sadar. Katakan padaku masalahmu, jika kau khawatir akan membebaniku maka dari itu, bagi bebanmu ke 7 member lainnya termasuk aku. Kita adalah keluarga, jika kau menganggap nya”.

Yoona menoleh tak percaya pada Taeyeon. Kata kata Taeyeon menamparnya begitu telak. Seegois itukah dirinya yang melupakan keluarganya? 

“Aku tau kau adalah member terkuat, tapi ku mohon padamu. Jangan menyimpannya sendiri. Jangan sampai aku yanh merobek topeng sok kuat mu itu. Aku tak suka topengmu, memuakkan” dan Yoona tak kalah terkejut mendengar lanjutan perkataan Taeyeon. 

Taeyeon bukanlah seorang pemimpin yang suka mengeluarkan kata kata kasar pada membernya, kecuali ketika ia sangat kesal. Dan itulah yang terjadi saat ini. 

Taeyeon marah, Yoona sadar itu. 

Punggung kecil Taeyeon semakin mengecil menjauhi jarak pandang Yoona, dan akhirnya tenggelam ke bangku penumpang paling depan, di bangku milik Seohyun. Meninggalkannya sendiri di sudut bangku penumpang. 

Iris madu Yoona kembali melemah, senyuman miris terpatri di wajahnya. 

Taeyeon hanya tak tau masalah apa yang ia beban saat ini.

Apa yang Taeyeon katakan jika Yoona mengaku telah berbohong padanya setelah 8 tahun lamanya? 

Berkencan dengan Donghae, menuruti perintah konyol agensi yang menyuruhnya berhubungan dengan Lee Seung Gi, dan akhirnya kembali lagi kepada Donghae. 

Yoona tak ingin hati Taeyeon semakin terluka, pikiran Taeyeon semakin menumpuk, dan segala cacian kembali ia tanggung karena melindungi mereka. Sudah cukup segala luka yang di lontarkan untuk Taeyeon, Yoona tak ingin menambahnya hanya karena masalah hatinya. 

Yoona bukan tidak menganggap mereka sebagai sandarannya, ia terlalu malu untuk membebankan masalahnya pada ke tujuh member lainnya. Karena bagi Yoona, ialah tempat teman temannya besandar. Membantu Taeyeon untuk menanggungnya. 

Dan sungguh, Yoona tak yakin Taeyeon akan membantunya untuk masalah yang satu ini. 

Apa yang akan Taeyeon bantu untuknya disaat ia membohongi semua teman temannya sampai 8 tahun? 

Yoona sadar diri, bahwa ia tidak layak mendapatkan bantuan dari Kid Leader mereka itu. 

BERSAMBUNG – 


Maaf kalo terdapat typo dimana mana, maaf juga kalo lanjutannya ini pendek 😭😂😂

Dan untuk chapter selanjutnya, author usahain di post ga lama lama hehe. 

Aishiteruyo!! ♡♡♡

Home

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Sad, Romance

Length : Fluff

Rate : T

Cover by. BubbleBaek27 Art 

.

.

.

.

.

.

.

.

Mobil hitam itu melaju tidak terlalu cepat membelah jalanan. 

Tidak peduli dengan langit yang semakin menghitam, jalanan di Ibukota Korea Selatan itu tampak masih ramai dengan mobil mobil yang masih berlalu lalang. 

Pukul 2.41 dini hari, Yoona semakin mempercepat mobilnya. 

Yang ia inginkan hanya sampai ke apartment miliknya dan istirahat. Itu saja. 

Taeyeon sudah mencegah nya pulang tadi, mengingat ini sudah hampir pagi. 

Tapi Yoona bersikeras untuk kembali ke apartementnya, bukan karena ia tidak nyaman bermalaman di dorm girlgroup asal SM Entertainment itu, ia hanya merindukan ranjangnya dan suasan kamarnya. 

Yoona rasa hanya kamar dan ranjang miliknya itulah yang mampu menghilangkan segala penat tubuhnya, dan hatinya? Mungkin. 

Maka dari itu Yoona rela mengemudi sendirian saat hari sudah tidak lagi tengah malam. 

Mengalahkan rasa takutnya karena sendirian berkemudi dimalam menjelang pagi itu.

Yoona berhenti ketika melihat lampu merah menyala. 

Pikirannya melalang buana ke 2,5 tahun yang lalu. 

Dirinya pernah bersikeras juga ingin pulang dijam yang hampir sama. 

Ia bersikeras pulang ke apartmennnya, setelah sebelumnya lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin bicara saat itu juga. 

Mendengar suara penuh keputus-asaan lelaki itu, tanpa pikir panjang Yoona pergi meninggalkan para member Soshi yang mencegahnya mengingat hari sudah sangat larut. 

Yoona sampai diapartment miliknya, dan mendapatkan lelaki itu dengan keadaan yang mengenaskan. Berantakan. 

Beberapa botol minuman alkohol tergeletak mengenaskan dilantai, padahal Yoona tau bahwa laki laki itu sama sekali tidak bisa minum. 

Bau tubuhnya menyengat, kantung matanya terlihat jelas, bahkan pakaian lelaki itu sangat berantakan. 

Tapi lelaki itu masih bisa bangkit, menarik keras bahu Yoona. 

Menatap dalam kemata Yoona dengan tatapan penuh kesakitan dan kecewa. 

“Hentikan sandiwara kalian atau kita benar benar berakhir?” hati Yoona hancur saat itu juga. 

Yoona juga tak ingin melakukan sandiwara itu, tapi itu semua demi membernya dan grupnya. 

Agensi memberikan perintah, ia tak bisa apa apa.

“Kupikir kau mengerti” Yoona kira ia akan mengerti. Ternyata tidak. 

“Aku sudah sampai pada garis batasku. Kukira aku bisa bertahan, tapi seakan akan kau mengiyakan perkataan mereka. Yoona, bahkan satu teman mu pun tak tau hubungan kita. Baik saja jika itu dirimu, tapi tidak denganku. Aku tau, kau menikmati sandiwara mu” seketika badan Yoona menegang. 

Ia ketauan. Bahwa dirinya sudah jatuh pada permainan agensi, bahwa ia sudah jatuh pada peran yang ia lakukan dengan lelaki lain. 

Yoona mencintai lelaki yang ada dihadapannya itu, namun hatinya tak bisa berbohong bahwa ia mulai suka pada lelaki yang menjadi lawan sandiwaranya. 

Yoona tak mau kehilangan keduanya. 

“Aku atau Lee Seung Gi?” Yoona memejamkan matanya erat. 

Sudah saatnya ia menerima resiko yang ia lakukan. 

Resiko dari dirinya yang menikmati sandiwaranya dengan Lee Seung Gi. 

Resiko ia telah berselingkuh dengan kekasih publik nya.

Lelaki itu meninggalkan Yoona tanpa sepatah katapun. Dan sejak saat itu ia tak pernah berbicara pada lelaki itu, bahkan tak ada kata perpisahan. 

Dan saat lelaki itu berangkat militer pun Yoona tak mengatakan apapun. 

Yoona kembali melajukan mobilnya ketika warna hijau menyala dilampu lalu lintas. 

Setelah kejadian itu, Yoona sadar bahwa sandiwara tetaplah sandiwara. 

Yang Yoona sesali hanya kenapa sandiwara itu berakhir ketika lelaki yang terpenting didalam hidupnya sudah mengaku kalah dan pergi. 

Mobil hitam Yoona memasuki gedung mewah dimana apartment nya berada, ia sudah sampai. 

Tak perlu waktu sangat lama, Yoona sudah sampai didepan apartment miliknya. 

Apartment yang menurutnya sangat nyaman karena semua kenangan indah maupun buruk ada didalamnya. 

Yoona membuka pintunya, dan memasukinya begitu saja. 

Tujuannya adalah pulang dan beristirahat. Apalagi?

Yoona memasuki kamarnya namun langkahnya terhenti diambang pintu. 

Jantungnya berdegup kuat membuat tubuhnya sedikit bergetar. 

Kerinduan itu tak bisa ia tahan agar tidak meledak. 

Harusnya lelaki itu bangun dan bertanya ‘Ahh kau sudah pulang?’ seperti didrama drama yang biasa ia tonton. Tapi tidak, lelaki itu benar benar seperti idiot. 

Tanpa menunggu apa apa,  Yoona berlari dan melompat keatas ranjangnya, menimpahi lelaki yang tidur diatas ranjangnya itu. 

Air mata berbagai ekspresi itu tak bisa Yoona bendung, wajahnya sudah basah akibat air matanya. 

Lelaki itu tentu saja terbangun dari mimpi indahnya karena tiba tiba merasa sesuatu yang berat menimpah tubuhnya. 

Senyuman di bibirnya terukir, senyuman yang semua orang tau akan membuat wanita mana saja yang melihatnya akan pingsan. 

Lelaki itu membalas pelukan Yoona, mengelus rambut selembut sutra milik Yoona penuh kasih sayang. 

Membiarkan kaos putihnya basah akibat tangisan Yoona yang tak kunjung berhenti. 

“Aku pulang. Maaf jika aku sangat terlambat”

“Kau benar benar brengsek, Lee Donghae!”

-SELESAI-

Aku kembali dengan sepotong ff ku. 

Cuma berisi satu scene dengan kegajean seperti biasa. 

Author cuma pengen nulis ff tanpa modal idel apapun 😂

Dan terciptalah ff ini yang selesai dalam kurang satu jam. 

Maaf karena banyak typo atau alur cerita yang ngebosenin, ga tentu arah, dan ga seru. 

Thanks uda baca, thanks buat review. 

I love you 😚😘

Great Love 

By. Aphrodiv
 Im Yoona – Lee Donghae

Genre : Family, Brothership, Romance 

Length : Sequel 

Rate : T

Cover by. BubbleBaek27 Art 



Before Story : Fake or Real

Kembali ke tempat asal setelah 17 tahun membuat kenangan lama kembali kembali terputar. 

Seperti sebuah kaset yang menceritakan awal kisah sampai tamat. 

Menghirup udara, melihat pemandangan awan di langit Seoul membuat wanita yang berkepala tiga itu bernostalgia ke 17 tahun yang lalu. 

Saat terakhir kali dirinya pindah dari Negeri Gingseng itu ke Negeri Paman Sam. 

Senyumannya tersungging mengingat kenangan manis namun menyakitkan itu. 

Langkah yang sempat terhenti itu ia lanjutkan, memasuki kembali era 17 tahun yang lalu. Tidak, wanita itu tidak kembali ke masa lalu, hanya saja kembali ke Seoul serasa bahwa ia kembali ke 17 tahun yang lalu. 

Yoona tak bisa mengelak bahwa Donghae lah yang pertama kali ia pikirkan saat ia kembali menginjak tanah Korea Selatan itu. 

Bagaimana kabar pria itu?  Apa ia sudah menikah? Apa Jessica adalah istrinya? Lalu bagaimana anaknya?  Apakah Donghae bahagia?  

Pertanyaan pertanyaan itu menumpuk di pikiran Yoona. Sungguh, Yoona sangat ingin menyingkirkan pikiran itu. Namun, pertanyaan pertanyaan itu tak bisa musnah dari pikiran Yoona. 

Ia kembali ke Seoul bukan untuk Lee Donghae. 

Hanya merindukan Seoul dan setelah itu kembali ke Amerika. Itu saja. 

‘Brugh’ tubuh Yoona sedikit oleng namun kakinya masih bisa menahan walaupun tubuhnya mundur satu langkah. 

“Anak zaman sekarang memang tidak tau sopan santun” cibir Yoona menatap anak lelaki yang menabraknya tadi tanpa mengucapkan kata maaf sedikitpun dan berlalu begitu saja, seperti tidak terjadi apa apa. 

Jika Yoona memiliki anak, ia pasti akan mengajarkan anaknya sopan santun. Tentu saja. 

•••

“Hey!  Sehun hyung!  Kenapa baru mengangkat telepon ku? Aku sudah ada di Incheon, dan sialnya foto yang kau kirim itu hilang!” Jeno menggerutu kesal pada ponselnya, berbicara dengan seseorang disebrang telepon genggamnya. 

“Kau ceroboh, itu sudah aku kirim. Lihatlah. Penerbangannya sudah mendarat di sana” Sehun membalas gerutuan Jeno. Ini bukan salah Sehun yang lama mengangkat telepon Jeno, ini adalah salah Jeno karena kecerobohan Jeno yang menghilangkan foto seseorang yang sangat sulit Sehun cari. 

“Hyung!” ugh, Sehun sungguh sangat ingin menendang bokong Jeno karena berteriak padahal teleponnya masih tersambung. 

“Bisakah kau lebih tenang dan tidak berteriak?” Sehun seperti sedang kena karma. Karena dulu ialah yang suka membuat orang lain kesal, dan sekarang ini ia dibuat kesal oleh adik sepupu temannya. 

“Hyung!  Aku melihat wanita ini tadi!  Aku menabrak tubuhnya tadi! Sial!” Jeno memutar tubuhnya dan berlari kembali ketempat ia menabrak seorang wanita. 

Jeno merutuki dirinya yang tak mengenal wanita itu. 

Pandangan Jeno mengelilingi Bandara Incheon itu, tapi apa yang ia cari tak kunjung ia temukan. 

Jeno berlari keluar dari Bandara Incheon tanpa peduli ponselnya yang masih terhubung dengan Sehun. 

Jeno semakin merutuki dirinya karena ia juga juga tak mendapati wanita itu diluar Bandara Incheon. 

Sial! Ia sudah menunggu dua tahun untuk bertemu dengan wanita itu. 

Dan dengan mudahnya wanita itu lolos padahal tinggal selangkah lagi untuk Jeno bertemu dengannya. Nyaris! 

Jeno mendekatkan ponsel miliknya ke telinganya, ia sudah kehilangan wanita itu. 

“Hyung, aku kehilangan dia” 

•••

“Yoona, kau tak perlu membantuku. Istirahatlah, kau baru saja sampai disini” Yoona tidak mengacuhkan ucapan Bibinya dan bersikeras untuk membantu bibinya membuat kimchi. Melihat sang Bibi yang sudah berumur lebih dari 50 Tahun, mana tega ia membiarkan wanita tua itu bekerja sendirian. 

“Aku bukan anak muda lagi, Bibi. Jangan memanjakan aku” mendengar hal itu membuat Bibi Yoona dan Yoona tertawa. 

“Kau belum menikah diumur mu yang sudah menginjak 35 tahun, itu yang membuatku merasa kau masih anak muda. Ditambah wajahmu yang masih sama seperti kau berusia 25 tahun, Yoona” Yoona tertawa kecil mendengar ucapan Bibinya yang sepenuhnya benar. 

“Apa kau tak ingin menikah?” pertanyaan Bibi Yoona membuat ia tersenyum tanpa arti. Yoona rasa menikah bukanlah hal yang penting. Dan entah kenapa, sesuatu didalam hati Yoona tak menginginkan sebuah pernihakan. Padahal ia menyukai anak kecil. 

“Tidak bibi” jawaban Yoona membuat Sang Bibi sedikit bingung. Disaat semua perempuan dimuka Bumi ini memimpikan pernikahan dan hidup dengan lelaki yang ia cintai, kenapa keponakan perempuannya itu tak ingin menikah? 

“Apa ada seseorang yang kau tunggu?” Yoona tertegun mendengar pertanyaan Bibinya. 

Hanya menjawab ada atau tidak, Yoona sedikit ragu. 

Benarkah ia menunggu seseorang?  

“Kau tau Yoona, kau tidak boleh terus menunggu seseorang. Waktu terus berjalan, kau tak seharusnya berdiam ditempat dan menunggu orang itu datang. Bagaimana jika dia tidak mencarimu?  Bagaimana jika dia sudah menemukan tempat untuk ia pulang?  Aku tau banyak sekali lelaki di Amerika yang mengejar dirimu. Kau itu cantik, awet muda dan tentu saja pintar. Bahkan jika kau mengedipkan matamu sekali saja, ribuan lelaki akan jatuh pada pesonamu” perkataan Bibi Yoona berhasil mengetuk pintu hatinya, walaupun tidak terbuka, ada secuil pikirannya yang mengarah kesana.

Yoona juga bingung, apa yang ia tunggu? 

Padahal saat ia masih duduk di bangku SMA dulu mimpinya adalah menikah dan hidup bahagia serta memiliki anak yang banyak. 

Yoona sudah lupa kapan terakhir kali ia memimpikan hal hal seperti itu. 

“Ku harap kau tidak menunggu Donghae. Karena yang ku tau, ia sudah menikah. Bahkan sudah memiliki anak” lagi lagi Yoona terdiam. Tangannya berhenti bekerja membuat kimchi. 

“Siapa yang menunggunya? Kau ada ada saja Bibi” elak Yoona tertawa canggung. Ia tak menunggu Dongahe, sangkal Yoona pada dirinya sendiri. 

“Bisa sajakan? Mengingat cerita Cinta kalian yang berakhir tidak baik” tentu saja Bibi Yoona tau bagaimana kisah antara Yoona dan Donghae. 

Karena kepada Bibinyalah dulu ia selalu menceritakan si Preman Sekolah mereka itu. 

“Kami berakhir dengan baik, bibi” menurut Yoona perpisahan saat itu baik baik saja. Ia tidak bertengkar dengan Donghae kan?  Bahkan sekata makian pun tidak ada saat mereka berpisah dulu. 

“Apakah berpisah karena orang lain itu disebut berakhir dengan baik?” Yoona menelan ludahnya dengan susah payah. Ayolah, ia sudah menua. Jangan buat ia patah hati seperti anak anak muda. 

“Sudahlah Bibi, itu hanya masa lalu. Kita tak perlu membahasnya” Yoona mengelak dan kembali menyibuki dirinya membuat kimchi. 

“Jelas sekali bahwa kau masih menunggunya” 

Benarkah itu, Bibi? 

••• 

Yoona masih menyangkal bahwa ia tidak merindukan Donghae, namun apa yang ia lakukan sangat berbanding terbalik dengan sangkalannya. 

Jika ia tidak merindukan Donghae, kenapa ia ia berkunjung ke Sekolah Menengah Atas lama nya? 

Alasan apa lagi yang ia lontarkan?  

Benar benar tidak merindukan Donghae? 

Yoona menatap bangunan sekolah dimana tempat ia belajar bahkan mengukir kenangan indah 17 tahun yang lalu. 

Sangat berubah. 

Dulu tidak ada tiang lampu disetiap sudut lapangan sepak bola dimana ia pernah menunggu Donghae berlatih. 

Bahkan pohon pohon tinggi tempat ia membaca buku sudah tidak ada lagi. 

Sangat berubah dari terakhir kali ia berada disana. 

Yoona ingat saat ia lebih memilih pindah sekolah lagi dan mengikuti ayahnya ke Amerika. Saat itu orang tua mereka bertengkar besar dan memilih berpisah. 

Ayah Yoona yang memutuskan pergi ke Amerika dan Ibu Yoona menetap di Seoul. 

Yoona mengadakan kepalanya menatap langit, teringat tentang ibunya yang sudah pergi 5 tahun yang lalu. 

“Apa kau sedih karena aku lebih memilih tak menikah, Ibu?” Yoona teringat saat Ibu Yoona menyusul mereka ke Amerika dengan menyatakan bahwa ia mengidap Kanker Rahim. Meminta bantuan padanya dan Ayah Yoona. 

Yoona ingat permintaan terakhir Ibu Yoona agar ia segera menikah dan memiliki keluarga, agar ia tidak sendiri. 

“Yoona?” Yoona menoleh dan pikirannya akan masa lalu buyar seketika. 

“Oh, Guru Kang!” 

•••

“Hyung, apa kau yakin dia kesini?” Sehun mengangguk mantap menjawab pertanyaan Jeno. Sehun mengadakan kepala nya menatap bangunan sekolah itu. 

“Ayo cepat” Jeno menarik tangan Sehun dan memasuki area  sekolah itu. 

“Apa yang akan kita lakukan disini?” 

“Bertanya, tentu saja” 

Langit sudah menjingga dan Sehun Jeno masih belum menemukan apa apa. 

Apa mereka salah sekolah?  Atau memang yang mereka cari tidak ada disana. 

“Hey!  Anak muda!  Apa yang kalian lakukan disini?” seorang lelaki paruh baya memanggil Sehun dan Jeno. Mereka tidak mengenakan seragam sekolah disana, lalu apa yang mereka lakukan disini? 

Apa mereka akan mendaftar sekolah disini? 

“Ahh kami hanya mencari seseorang, paman” 

“Apa kau anak Lee Donghae?” Jeno sedikit kaget mendengar pertanyaan lelaki yang lebih dikenal dengan Guru Kang itu. 

“Kau sangat mirip dengannya” Guru Kang menjawab pertanyaan yang tidak Jeno tanyakan. Raut wajah Jeno sangat terlihat menanyakan itu. 

“Ya aku anaknya, paman” 

“Kalian mencari siapa?” Ohh, Sehun menyukai Guru Kang ini, tepat sasaran tanpa banyak basa basi. 

“Im Yoona” Guru Kang terlihat sedikit kaget, untuk apa anak itu mencari ibunya sendiri? 

“Tadi dia kesini, tadi pagi. Kau mencari ibumu, ya?” tidak. Jeno bukan anak yang hilang, sungguh. Pertanyaan Guru Kang itu membuat Jeno merasa seperti anak hilang yang mencari ibunya.

“Ibuku Jessica Jung, paman” jawab Jeno sedikit malas, sedangkan Sehun menahan tawanya mati matian. 

“Ahh benarkah? Padahal dulu Donghae Cinta mati pada Yoona, hinggal ia rela melompat dari atap agar Yoona mau menerinya” Guru Kang teringat kejadian saat Donghae nekat bunuh diri agar Yoona menerimanya, cerita Cinta yang melegenda disekolah mereka. 

“Ya aku tau itu, Ayah sudah bercerita. Tapi dia tidak jadi lompatkan? Ayah itu penakut. Jadi, apa Bibi Yoona benar benar kesini?” 

“Ya, tadi. Dan ia baru saja kembali. Apa kalian tidak selisih digerbang?” lagi lagi Jeno nyaris bertemu Yoona. 

Jeno segera berlari meninggalkan Sehun dan Guru Kang.

Jeno sungguh ingin bertemu dengan Yoona. 

Bertemu dengan Cinta sejati ayahnya. 

Mengenal wanita bernama Im Yoona itu. 

Jeno sangat penasaran dengan Yoona. 

Pesona apa yang ia miliki hingga Ayahnya masih mencintainya bahkan ketika Ayahnya sudah menikah dengan Ibunya yang sangat cantik. 

Apa yang dimiliki Yoona dan tidak dimiliki Ibunya hingga Ayahnya masih mencintainya, hingga detik ini. 

“Im Yoona-ssi!  Kumohon!”

•••

“Aku akan kembali lusa, Bibi” Yoona meneguk minumnya dan hanya menyisakan segelas kosong. Ia meletakkan gelas itu kemeja makan milik Bibinya. 

“Cepat sekali” Yoona baru saja datang dan ia akan pulang. Apa Yoona tidak merindukan kota kelahirannya itu? 

“Aku sudah sebulan disini jika kau lupa, Bibi” 30 hari bukan waktu yang sebentar untuk liburan, benar?

Yoona kesini hanya melepas rindu, bukan untuk kembali selamanya ke tanah Korea Selatan itu.

Ia masih akan kembali ke Amerika dimana Ayahnya sudah menunggu kepulangan dirinya. 

Bahkan pekerjaannya juga menunggu dia di Amerika sana.

“Kau sudah bertemu dengan Donghae?” Bibi Yoona mengenal bagaimana keponakannya itu. 

Sudah pasti Donghae lah menjadi alasan kenapa Yoona kembali ke Seoul setelah 17 tahun lamanya ia merantau keluar negeri. 

Hanya Cinta yang membuat seseorang kembali, bukan? 

“Aku tidak bertemu dengannya” Yoona sudah mengaku, ia sudah mengalah pada dirinya sendiri. Bahwa karena Donghae lah ia kembali. 

Bahwa karena ia merindukan pria itulah ia rela kembali ke Seoul, kembali merasakan perih hatinya akan Cinta mereka yang dipaksa berhenti. 

Pahit manisnya cerita mereka. 

Yoona rela merasakan itu lagi karena ribuan juta sel didalam tubuhnya merindukan Donghae. 

Yoona sengaja mengunjungi tempat tempat yang dulu sering ia kunjungi dengan Donghae.

Hanya untuk sebuah keajaiban bertemu dengan mantan kekasihnya itu. 

Tapi harapannya adalah sebuah kekosongan. Ia tidak bertemu dengan Donghae.

Yoona semakin merasa bahwa Donghae sudah benar benar bahagia. 

Lalu apa yang Yoona harapkan? Tidak ada.

Tidak ada alasan untuk ia bertahan di Korea Selatan. 

Yoona sudah memutuskan mengubur dalam dalam Cinta nya yang sudah ia biarkan bertahan dihatinya selama 17 tahun. 

Jika Donghae bahagia, maka Yoona juga bahagia. 

Bukankah begitu yang dikatakan para Pujangga Cinta?  

“Yoona?” Yoona menoleh menatap Bibinya yang terlihat khawatir. 

Yoona hanya diam dan tersenyum kecil, lalu ia bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya. 

Yoona janji, ini adalah patah hati yang terakhir karena Lee Donghae. 

•••

Jeno menatap jam dinding yang tergantung didinding rumah sakit itu.

30 menit sudah ia menunggu panggilan namanya untuk masuk ke ruang periksa. 

Jika bukan karena Ayahnya, Jeno tak akan ke rumah sakit. 

Ia hanya mimisan karena kelelahan dan Ayahnya memaksanya untuk memeriksa kesehatannya ke rumah sakit. 

Dan lebih menjengkelkan lagi, Ayahnya hanya mengantarkannya sampai depan rumah sakit dan menyuruhnya untuk menghubungi Ayahnya jika Jeno sudah selesai. 

Harusnya Ayahnya menunggunya, bukan malah meninggalkannya. 

Jeno merindukan Ibunya. Jika saja Ibunya ada disini, Jeno tak akan merasa hampir mati karena kebosanan menunggu. 

“Nona Im Yoona” Jeno tertegun mendengar nama yang dipanggil, dan ia melihat seorang wanita melewatinya dam memasuki ruang kesehatan. 

Benarkah itu adalah Im Yoona yang ia cari? 

“Yoona-ssi?” 

“Jadi kau anaknya Donghae?” Jeno mengangguk mengiyakan pertanyaan Yoona pada dirinya. 

Yoona menatap Jeno intens. Hidung, mata, alis bahkan bibir milik Jeno benar benar seperti milik Donghae. 

Jadi benar, bahwa Donghae sudah menikah dan memiliki anak. 

Benar bahwa Donghae sudah bahagia, benar bahwa Donghae sudah melupakan dirinya. 

“Bagaimana kabarnya? Ahh ia pasti baik baik saja” Yoona salah kata. Sudah jelas Donghae baik baik saja, kenapa ia bertanya?  Berharap bahwa Donghae tidak baik baik saja karena tidak bersamanya?  Stupid, Im Yoona. 

“Ya, dia baik baik saja, Bibi. Kalau kau melihatnya dia baik baik saja. Tapi aku tidak tau dengan hatinya” Jeno menjawab mantap, ia tau Ayahnya baik baik saja. Tapi mata Ayahnya mengatakan lainnya. Walaupun sudah memiliki anak dan sudah berumur, Jeno tau Ayahnya butuh seorang wanita disampingnya. Khususnya wanita yang Ayahnya cintai. 

“Hatinya?” Jika Donghae sudah menikah, sudah pasti hatinya baik baik saja. Ia pasti bahagia dengan istrinya, bukan begitu? 

“Ibuku meninggal, saat umurku baru 5 tahun” jelas Jeno. Mengingat kembali ke masa dimana ia kehilangan Ibunya, walaupun ia lupa bagaimana Ibunya memperlakukan ia, Jeno tau Ibunya adalah seorang wanita yang baik dan lembut. 

“Ibumu?” Yoona kaget, jadi Donghae adalah seorang duda? 

Yoona tau bagaimana perasaan Donghae ketika kehilangan seseorang yang dicintai. 

Jadi itulah mengapa Jeno berkata hati Donghae tidak baik baik saja. 

“Kanker otak stadium 4. Sebuah keajaiban Ibuku bertahan selama 6 tahun dan bisa melahirkan aku” Jeno ingat sekali apa penyebab Ibunya meninggalkan dia, penyakit menyedihkan. 

“Jessica?” kanker otak stadium 4, sudah pasti itu Jessica kan?  

Yoona tersenyum miris, Donghae benar benar menikah dengan Jessica. 

“Kau mengenalnya, Ayahku menceritakan tentang kisah kalian, tentang Ibuku, dan semuanya” Jeno mengiyakan pertanyaan Yoona. 

Ibunya dan Yoona memang saling mengenal, walaupun mereka tidak berteman, mereka memiliki satu pria yang dicintai. 

Jeno ingat keseluruhan cerita Donghae tentang kisah cintanya yang tragis bersama dengan kekasihnya dulu, kekasihnya yang hingga saat ini Jeno yakin Ayahnya masih cintai. 

Bukan Ibunya, itu adalah Yoona. Ya, Im Yoona.

“Maaf, sebelumnya aku ingin bertanya. Apa kau sudah menikah?” pertanyaan itu menusuk hati Yoona, ia belum menikah. Bahkan jauh didalam lubuk hatinya ia menunggu Ayah anak itu. 

“Aku belum” memang seperti itu kenyataan nya kan?  Yoona belum menikah. 

“Kau menunggu Ayahku?” tidak. Tentu saja Yoona akan mengatakan tidak, meskipun itu adalah kebohongan.

Tak mungkin ia menjawab ‘Aku belum menikah. Pria yang ingin kunikahi menikah dengan Ibumu, dan aku masih menunggunya’ kan? 

Yoona senang mendengar bahwa Donghae sudah memiliki keluarga, pasti Donghae sudah bahagia walaupun disisi lain ia sedih karena harus benar benar merelakan Donghae. 

Yoona juga sedih mendengar istri Donghae meninggal, namun disisi lainnya ia juga senang karena memiliki kesempatan bersama dengan Donghae kembali. 

Katakan ia tak tau diri, katakan ia jahat, katakan ia kejam. Faktanya, tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi Cinta Yoona untuk Donghae.

Terlalu besar setelah 17 tahun lamanya. 

Donghae itu Cinta pertamanya, sekaligus Cinta terakhir yang Yoona miliki. 

“Tidak bisa dikatakan seperti itu” Yoona tak ingin menyakiti perasaan Jeno. Mengatakan bahwa ia menunggu Ayah bocah laki laki itu sama saja dengan mendoakan agar orang tua mereka berpisah walaupun kenyataan nya Jessica sudah tiada. 

Karena kau tau, suatu kesalahan besar jika seorang wanita jatuh Cinta pada suami wanita lain. 

“Ayahku masih menunggumu. Walaupun dia berkata bahwa dia sudah melupakanmu, aku tau itu hanya untuk menjaga perasaanku, karena aku sangat menyayangi Ibuku. Awalnya aku tak mengerti kenapa Ibuku menginginkan ini, tapi saat mendengar cerita Ayahku, aku mulai mengerti. Walaupun aku masih berumur 16 tahun, aku tau kalian saling mencintai hingga detik ini dan kalian berhak bahagia bersama” semua orang butuh pasangan hidup. Dan yang Jeno tau, hanya wanita bernama Im Yoona lah yang benar benar ayahnya butuhkan. 

Jeno mengerti bahwa Cinta tak bisa dipaksakan, bahwa ia tak bisa melarang Ayahnya mencintai Yoona. 

Bahwa Jeno tak berhak menghalangi Ayahnya untuk bahagia yang hanya Ayahnya dapatkan dari Yoona. 

“Kau belum menikah, aku tau bahwa kau masih mencintai Ayahku” Yoona tertegun mendengar ucapan Jeno. Anak itu benar benar memiliki pemikiran yang dewasa. 

Disaat seharusnya ia marah karena secara tak langsung Ayahnya mengkhianati Ibunya, Jeno malah mencarinya dan Yoona yakin memintanya kembali pada Donghae.

“Kembalilah pada Ayahku” aku tidak salah, kan? •••

“Ayah!” Jeno begitu bahagia melihat Ayahnya pulang kerumah setelah hampir 5 jam ia menunggu Ayahnya. 

Jeno menyambut kepulangan Donghae dengan sebuah pelukan hangat miliknya serta kebahagiaan yang luar biasa Jeno rasakan. 

“Kau tampak bahagia, nak. Apa kau sudah mendapatkan Lami untuk menjadi kekasihmu?” jarang sekali Donghae mendapatkan putranya itu antusias seperti ini, dan Donghae ingat betapa antusiasnya Jeno bercerita tentang Lami, teman sekelasnya yang ia sukai. 

“Bukan Lami, aku mendapatkan kekasih lain” Jeno menjawabnya mantap. Tak apa jika Lami menolaknya sekarang, karena kekasih untuk Ayahnya lah yang ia cari, bukan untuknya. 

“Oh, jadi kau sudah berpaling dari Lami?” Donghae berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Putra tunggalnya itu. 

Jeno sangat senang, membuat ia seperti anak ayam yang terus mengikuti induknya. 

“Dan kau akan cemburu jika bertemu dengan kekasih ku ini” Donghae tertawa mendengar hal itu. Ia cemburu? Pada kekasih anaknya? 

Ayolah, Donghae bukan tipe paman penyuka anak remaja. 

“Selera ku bukan anak SMA, nak” Jeno mengangguk pasti. Duduk diranjang berukuran King Size milik Ayahnya. Memperhatikan Ayahnya yang sibuk membuka pakaian. 

“Aku mengencani wanita berumur 35 tahun, Ayah!” seru Jeno. 

“Kau gila?!” Ayah mana yang tidak kaget mendengar Putra berumur 16 tahunnya berkencan dengan seorang Bibi berumur 35 tahun?  Seumuran dengannya. Astaga!

“Jika kau bertemu dengannya kau juga akan melupakan umurmu, Ayah” Jeno tetap bersikukuh mantap pada wanita pilihannya. 

“Siapa gadis itu? Temukan Ayah dengannya!  Dan Ayah akan memintanya menjauhi mu!  Jadilah anak yang normal, Jeno! Jangan membuatku mati muda!” sejujurnya, Donghae sangat ingin memukul anaknya itu. Tak ada yang lebih gila jika seorang anak remaja berkencan dengan gadis berkepala 3.

“Kau harus bertemu dengannya kalau begitu! Besok malam datanglah dan minta ia menjauhi ku!  Selamat malam Ayah!  Aku mencintaimu!” Jeno tertawa lebar melihat ekspresi Ayahnya, sangat siap menerkam dirinya. 

Donghae yang melihat anaknya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Betapa kasihannya dirinya. 

“Jess, anakmu terlalu gila!” Donghae menggerutu, mencoba curhat pada Jessica. 

Donghae melirik bingkai foto yang ada di nakas disamping ranjangnya, menatap foto pernikahannya dengan Jessica. 

“Maafkan aku yang hingga saat ini masih menganggap mu sebagai seorang teman” Donghae masih menyimpan foto pernikahannya dengan Jessica, karena menurutnya itu adalah sebuah permintaan maaf darinya untuk Jessica. 

Permintaan maaf karena ia tidak bisa mencintai wanita itu lagi seperti sebelum ia mengenal Yoona. 

Permintaan maaf karena hingga detik ini cintanya masih milik Im Yoona. 

Donghae merasa bersalah, kepada Yoona, kepada Jessica, bahkan kepada anaknya sendiri. 

Donghae merasa bahwa ia bukanlah Ayah yang baik. 

Disaat istrinya sekarat, putranya masih berumur 5 tahun, ia begitu merindukan Yoona. Pergi dari rumah dan tidak pulang selama 3 hari. 

Donghae masih ingat, saat ia pulang kerumah dan mendapati rumahnya ramai dipenuhi keluarga bahkan kerabat lainnya, mereka mengatakan bahwa Jessica sudah meninggal.

Hari itu adalah hari yang paling Donghae sesali selain dimana ia dan Yoona berpisah.

Lagi lagi ia merasa bahwa ia adalah seorang pengecut. 

“Aku sunggu minta maaf, Jess” dan karena kesalahannya itulah Donghae tak berani untuk mencari cintanya lagi. Donghae tau, saat inilah waktu yang tepat untuk ia mencari Yoona kembali. 

Berharap bahwa Yoona sudah bercerai atau apapun yang penting ia bertemu dengan Yoona. 

Namun, perasaan bersalah itu membuatnya berhenti mencari Yoona. 

Donghae takut, disaat ia mencari Yoona maka Donghae akan kehilangan yang lain. Seperti insiden waktu itu.

•••

“Kita ingin bertemu dengan kekasihmu kan? Kenapa menyuruhku memakai setelan anak muda? Kau tau nak, aku ingin memakai setelan gangster tadinya, agar wanita itu benar benar menjauhi dirimu” Donghae sedikit pusing melihat putranya yang satu itu. Untuk bertemu kekasihnya saja Donghae harus mengenakan kemeja merah kotak kotaknya serta jeans biru dongker miliknya. Itu adalah setelan anak muda jaman sekarang. 

Dan Donghae bukanlah salah satu dari jutaan anak muda itu. Ia sudah berumur hampir 40 tahun, jas lah yang cocok untuknya mengingat ia juga seorang Presdir di perusahannya. 

“Kau akan bergabung dengan anak muda Ayah, jadi bersikaplah seperti anak muda. Wajahmu juga tidak terlalu tua, kau masih pantas menjadi anak muda. Dan Ayah tau, aku masih cocok jika memanggil mu Hyung” ya, Jeno benar. Donghae sudah memiliki anak di umurnya yang masih 20 tahun. Itu karena Jessica. 

Permintaan terakhirnya adalah menikah dan memiliki keluarga.

Mengingat penyakit yang diderita Jessica, Donghae menyetujuinya.

Bahkan mereka menikah diumur mereka yang masih 19 tahun. 

Itulah sebabnya Donghae memiliki Putra berumur 16 tahun disaat ia berumur 35 tahun. 

Orang orang mengira bahwa mereka adalah adik kakak. Selain wajah mereka yang kelewat mirip, Donghae juga berumur tidak terlalu tua.

“Aku bertaruh, kau kan kembali ke 17 tahun yang lalu, Ayah!” ya, terserah apa yang Jeno katakan. Sudah sebaiknya jika Donghae mengikuti alur yang anaknya buat itu. 

“Ya, kita akan kembali kesana. Dengan bantuan mesin waktu milik Doraemon” itu yang diinginkan Jeno kan?  

“Dia sudah datang!” Donghae menoleh mengikuti pandangan Jeno. 

Mengikuti pandangan Jeno yang tertuju pada seorang wanita yang anaknya sebut adalah kekasihnya. 

Mengikuti pandangan Jeno yang tertuju pada seorang wanita yang membuatnya seperti memasuki mesin waktu dan kembali ke 17 tahun yang lalu. 

Donghae berdiri dari duduknya. 

Jeno sangat pintar memilih tempat makan malam di restoran yang memiliki balkon serta cuaca yang sangat mendukung dengan ribuan bintangnya di langit. 

Sangat mendukung suasana yang sekarang terjadi. 

Pure hazel milik Donghae tak berkedip satu detik pun. 

Wajah itu masih sama, hidung itu, senyuman itu, bahkan rambut itu. 

Semuanya sama seperti 17 tahun yang lalu. 

Seketika Donghae melupakan segalanya. Umurnya, sekitarnya, bahkan ia melupakan alam ini. 

Semua teralihkan oleh seorang wanita didepan sana. 

Wanita yang sudah mencuri hatinya dari 17 tahun yang lalu sampai detik ini juga. 

Dan Donghae yakin, ia tak akan pernah mengembalikan hati Donghae yang telah ia curi. 

Itu adalah Im Yoona. 

Yang berdiri didepan sana adalah Im Yoona. 

Si pencuri hatinya adalah Im Yoona. 

Wanita yang hingga detik ini dan seterusnya ia cintai adalah Im Yoona. 

Dan Im Yoona itulah yang membuat tubuhnya bergerak diluar kendali dan menabrak tubuh Yoona kedalam pelukan Donghae. 

Menyusun kembali pecahan serpihan masa lalu dengan satu pelukan penuh kerinduan. 

“Dialah kekasihku Ayah!  Karena sepertinya kau menyukainya, aku merelakannya untukmu!” Donghae menoleh menatap Jeno yang berkata seperti itu. 

Senyuman ke gembiraan terpancar dari wajah putranya. 

Donghae tak menyangka bahwa Jeno akan melakukan ini. 

Ia pikir Jeno akan marah mendengar cerita cintanya.

Namun semua bertolak belakang dari pikiran Donghae. 

Jeno mencari Yoona untuk dirinya. 

Jeno mengembalikan kebahagiaannya. 

Betapa ia menyayangi putranya itu. 

“Aku menyukai Bibi Yoona. Aku setuju jika kalian menikah. Kau beruntung Ayah, Bibi Yoona bahkan belum menikah karena menunggumu! Aku yakin Ibu akan bahagia jika melihat kalian bersatu kembali. Miliki waktu berdua, aku tak ingin mengganggu kalian” Donghae kini beralih memeluk Jeno. 

Air matanya tak sanggup ia tahan. 

‘Sica-ya, terimakasih telah memberikan cupid untukku dan Yoona’ jika saja Jeno dan Yoona mendengar ucapan hati Donghae itu, sudah pasti mereka akan tertawa dan mengejek kekonyolan Donghae itu. Sangat kekanakan. 

Ini sudah 15 menit setelah Jeno meninggalkan Donghae dan Yoona dimeja makan malam mereka. 

Tapi tak sepatah kata pun yang terucap dari bibir keduanya.

Entah itu karena canggung, terlalu rindu, atau bahkan lainnya. 

“Apa kabar?” Yoona mengalah, dan pertanyaan aneh itu keluar dari bibirnya. 

“Kau masih lucu” dan itulah jawaban Donghae atas pertanyaan Yoona. Membuat Yoona mengerucutkan bibirnya karena kesal. 

“Berhenti melakukan itu, kau sudah 35!” wajah Yoona memerah menahan malu sedangkan Donghae tertawa puas karenanya. 

Mereka benar benar melupakan umur sepertinya. 

“Sebelum semua pertanyaan yang akan ku lontarkan, apa benar kau belum menikah?” Yoona memejamkan matanya dan memaki didalam hati. Sial. Kenapa dari sekian pertanyaan itulah yang ditanyakan Donghae padanya? 

“Jadi kau benar benar menungguku?” Donghae itu memang terlalu percaya diri. Sama sekali tidak berubah. 

“Aku berterimakasih bahwa kau setia menungguku, Yoona. Maafkan aku yang tidak mencarimu. Aku punya alasan dan kuharap kau mengerti” Donghae sangat berterimakasih karena dengan setianya Yoona menunggu dirinya selama 17 tahun.

Dengan Cinta yang masih sama. 

Donghae sangat beruntung memiliki wanita yang ia cintai seperti Yoona. 

“Kita sudah disini sekarang. Masa lalu adalah masa lalu. Kau memaafkan ku kan?” Donghae masih takut jika Yoona belum memaafkannya atas apa yang ia lakukan dulu. 

Membiarkan Yoona pergi adalah kesalahan terbesar didalam hidup Donghae.

“Aku selalu memaafkan mu. Seperti yang kau katakan. Masa lalu adalah masa lalu” Yoona memang tak pernah menyalahkan Donghae atas apa yang terjadi. 

Yoona juga tidak menyalahkan Jessica. 

Karena Yoona tau, hal hal seperti itulah yang akan membuatnya bahagia kelak nanti. 

Dan ini adalah kebahagiaan itu.

“Bertemu denganmu saat ini membuatku lupa bahwa kita pernah berpisah selama 17 tahun. Aku lupa dengan semua kesakitan yang ku lalui, Yoona. Banyak yang ingin kutanyakan sungguh. Tapi itu hilang kandas saat aku sudah bersamamu” mereka melupakan 17 tahun saat mereka berpisah. 

Seperti tidak ada 17 tahun itu, seperti mereka terus bersama dan tak pernah berpisah. 

Apalagi yang Donghae pikirkan jika Yoona sudah ada dengannya sekarang? 

Tak akan ada lagi kesakitan. 

“Aku juga merasa seperti itu. Seperti aku tak pernah pergi dari sini. Seperti aku selalu bersamamu. Apakah ini waktunya untuk kita?” mungkin waktu untuk Donghae dan Yoona bukanlah 17 tahun yang lalu, maka sekarang lah waktu mereka. 

Mulai saat ini hingga abadilah waktu yang sesungguhnya untuk Lee Donghae dan Im Yoona. 

“Bukankah Jeno membawamu kemari untuk itu? Anak itu sudah mengerjai ku dengan mengatakan kau adalah kekasihnya. Wanita berumur 35 tahun adalah kekasihnya. Aku hampir gila, Yoona” Donghae sedikit curhat pada Yoona. Akan kegilaan anaknya itu. 

“Jadi, apakah kita bisa mengulangnya dari awal?” cerita ini ada untuk mereka kembali bersama bukan? Jeno sudah menyusunnya, dan inikah yang Jeno inginkan. 

Kebahagiaan untuk Ayah tercintanya. 

“Ya, kita bisa” keinginan Jeno akan benar benar terwujud. Jeno sudah menyetujui nya. Dan Donghae tak ingin mengulur waktu. 

Ini adalah takdir. 

Bukan saatnya untuk Donghae takut kembali pada Yoona. 

Seperti yang dikatakan Jeno, Jessica pasti senang melihatnya kembali pada Yoona. 

Jessica pasti mengerti akan apa yang saat ini terjadi. 

Untuk kali ini saja, biarkan mereka egois untuk kebahagiaan mereka sendiri. 

“Im Yoona, maukah kau menikah denganku?” tanpa cincin, Donghae berlutut disamping kursi yang Yoona duduki. 

Melontarkan pertanyaan yang dulu tak sempat ia lontarkan pada Yoona. 

“Ya, aku mau” dan Yoona menjawab pertanyaan yang dulu tak sempat Yoona jawab. 

Donghae berdiri, dan menarik Yoona kedalam pelukannya.

Donghae berjanji bahwa ia tidak akan pernah melepaskan Yoona lagi.

Ia berjanji tidak akan membiarkan Yoona meninggalkannya lagi.

Yoona adalah miliknya, siapapun tak berhak memisahkan mereka lagi. 

Sekalipun itu ajal mereka, Donghae tetap akan bersama Yoona. 

Ke nereka sekalipun, Donghae akan mengikuti Yoona. 

Karena Donghae tau bahwa dirinya tercipta hanya untuk Im Yoona. 

-TAMAT-
-Epilog-

“Jeno-ya, kenapa kau sangat ingin menyatukan Paman Donghae dengan Bibi Yoona?”

“Selain karena cerita Ayah, aku mendapatkan misi dari Ibuku. Sebuah misi dari surat diulang tahunku ke 14, yaitu menyatukan kembali yang seharusnya bersatu”

“Ibumu sangat baik”

“Tentu saja, Sehun hyung!”

“Jeno-ya, kemarin aku bertemu dengan Lami. Dan ia bilang, hari sabtu di Sungai Han”

“Benarkah? God! Aku akan mendapatkan Lami!!”

-SELESAI- 
Akhirnya selesai juga ini sequel hohoho

Satu Bulan juga buat nyelesaikan ini wkwkkwk

Karena authornya lagi sibuk buat persiapan masuk kuliah, makanya ini sequel kelamaan di post dan bikin reader nya lupa sama cerita sebelumnya 😂😂

Dan maapkeun autbor kalo sequelnya ga sesuai fantasi kalian. 

Author sibuk dan pikiran jadi kacauuuu 😭😭

Tapi semoga kalian suka sama sequel ini. 

I try to do the best. Eaakkkk. 

Terima Kasih sudah menunggu, Terima Kasih sudah membuang waktu berharga kalian untuk membaca karya ku. 

Karena respon kalian, baik itu kritik saran maupun pujian, adalah semangat author untuk selalu menulis. 

Respon kalian adalah hal yang menjadi alasan author tetap menulis. 

Terimkasih banyak readers ku tercintaaa 😊😚😘

Fake or Real 

By. Aphrodiv

Cast : Im Yoona x Lee Donghae

Genre : Comedy, Romance, School-life, Sad

Length : One-shot 

Rate : T




“Arrggghhh!” puluhan pasang mata dikantin itu menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengejutkan mereka.

“Dimana matamu, idiot?!” pemuda yang dikenal sebagai si pembuat onar di SMA itu berteriak pada gadis yang baru saja menabraknya dan menumpahkan Jjampong panas yang ia bawa diseragam sekolah milik si pembuat onar atau lebih kasarnya si Penguasa SMA mereka itu.

“Matilah kau,  Im Yoona” bukan membantu, Yuri malah menakuti Yoona dengan membisikkan mantra pencabut nyawa ditelinga gadis itu.

“Kau juga tidak melihat aku berjalan kan!  Apa kau bilang?  Idiot?  Kau lebih idiot!” tidak ada yang lebih mengagetkan lagi ketika mendengar Yoona membalas teriakan Donghae. Yoona mencetak sejarah dengan melawan pada si Penguasa sekolah ini.

“Beraninya kau!  Siapa namamu hah?  Oh,  Im Yoona!” Donghae melihatnya di bet nama milik Yoona. Menandai gadis yang telah membuatnya kotor terkena Jjampong.

“Sebagai permintaan maaf, kau harus menjadi kekasihku!” tidak ada yang lebih gila daripada ucapan Donghae yang baru saja ia katakan.

Setelah ia membentak Yoona, ia memintanya untuk menjadi kekasihnya?  Benar benar gila. Itu yang ada didalam pikiran Yoona.

“Menjadi kekasihku,  dan membuat Jessica cemburu. Dengan itu, ia akan kembali padaku”

 

 

•••
“Hey!  Itu Im Yoona! ” Oh tidak, mereka menemukan Yoona. Yoona segera lari dari belakang perpustakaan mereka.

Ia masih ingat saat menolak Donghae kemarin, Donghae mengancam akan mengganggu hidupnya, seperti sekarang.

Berlari dari tempat ke tempat tentu saja membuat Yoona kehabisan tenaganya.

Gadis itu bersembunyi di belakang gudang sekolah mereka. Melihat situasi sepertinya aman, Yoona harus kembali ke kelas karena jam istirahat sudah selesai.

‘Byurrrr!’

Terkutuklah kau, Lee Donghae!

Yoona menatap kesal kearah atas dimana teman teman Donghae dan tentu saja Donghae yang ada di balkon lantai 2, dan baru saja menyiramnya dengan air yang Yoona yakini bekas mengepel lantai toilet sekolah mereka.

“Bagaimana, Yoona?”

“Jawabanku tetap tidak, Idiot!” ini sungguh tak adil, Lee Donghae bersama kru krunya,  akan sulit untuknya membalas perbuatan pemuda nakal namun sayangnya kelewat tampan itu.

 

 

 

“Tugas yang saya berikan kemarin, dikumpulkan sekarang. Kau akan tau akibatnya jika tidak menyelesaikan tugas yang ku berikan” itu seperti pertanda keramat bagi para siswa dan siswi yang tidak mengerjakan tugasnya.

Bagaimana Guru Kang akan menghukum mereka dengan mengutip dedaunan yang gugur dibelakang sekolah dan harus menghitung berapa helai daun itu. Sangat gila.

Jadi, harus wajib untuk menyelesaikannya.

“Ada apa, murid baru?” Yoona memejamkan matanya erat, sungguh ia sudah menyelesaikan tugasnya kemarin. Dan ia juga sangat ingat membawa buku itu. Apa buku itu memiliki kaki dan kabur dari tas Yoona?

Ia sungguh tak mau dihukum dan dicap buruk oleh Guru Kang. Karena ia adalah siswi baru disini.

Lalu, tak sengaja tatapan Yoona bertemu dengan tatapan Donghae yang sialnya teman sekelasnya.

Donghae tersenyum ramah padanya. Sangat teramat ramah. Membuat Yoona benar benar ingin meninju wajah tampan Donghae.

Donghae lah pelaku nya, siapa lagi?

 

 

 

Disaat saat seperti inilah Yoona sangat merindukan ranjang empuknya.

Harusnya ia sudah pulang kerumahnya dua jam yang lalu. Karena harus membersihkan dedaunan kering dibelakang sekolah mereka, ia harus mengurung niatnya untuk beristirahat di ranjang kesayangannya.

Jika Donghae meminta bantuan padanya, kenapa dengan cara seperti ini?

Bukan kah akan lebih baik jika ia memperlakukan Yoona bak Putri di istana olympus?  Bukan malah membuatnya seperti ini. Sangat amat teraniaya.

Yoona itu tipikal orang yang sabar, sungguh. Karena itu ia tidak akan menyerah, untuk menolah Donghae.

Saat ini saja ia sudah diperlakukan seperti ini, apalagi menjadi kekasih palsu Donghae.

Sepasang sepatu beserta kakinya sudah ada didepan Yoona, gadis itu mengadakan kepalanya dan mendapati Donghae yang berdiri didepannya.

“Tidak,  tidak!  Aku ini kuat! Bagaimanapun caranya, aku tidak akan menyerah!  Tidak, untuk preman sekolah itu!” Yoona menyemangati dirinya sendiri, kedatangan Donghae beserta kru nya itu merupakan malapetaka baginya. Akan ada musibah yang menimpa dirinya.

“Kau sungguh sangat keras Yoona. Baiklah jika kau tetap menolak” Donghae berlalu setelah sebelumnya menyapa Yoona dengan senyuman manis miliknya.

Yoona sempat terpesona melihatnya namun itu hilang dalam sekejap setelah teman teman Donghae menumpahkan 3 plastik besar berisi dedaunan kering ke sekelilingnya. Entah darimana dedaunan itu,  Yoona tak tau.

Yang ia tau pasti, ia akan pulang malam hari ini.

“Aku kuat!”

 

 

•••
Yoona harus berakhir di Ruangan Kesehatan hari ini, karena semalam terlalu lelah ditambah ia terlambat tadi pagi dan mendapat hukuman berlari mengelilingi lapangan.

Walaupun ia memiliki fisik yang kuat, ia masih seorang anak perempuan yang tak lebih kuat dari anak lelaki.

Berada di Ruangan Kesehatan bukanlah ide yang buruk, ia bersyukur berada disana karena tak akan ada Lee Donghae.

“Apa kau tidur?” Yoona kenal suara ini,  suara berat milik Donghae. Ia segera memejamkan matanya erat, berpura pura tidur.

“Maafkan aku,  itu akibatnya jika kau menolakku. Istirahat lah dan sembuh. Aku tak ingin kekasih ku sakit” setelah itu Donghae mencium kening Yoona.

Tanpa Donghae sadari, jantung Yoona berdetak begitu cepat. Apa begitu mudahnya untuk pria mencium wanita?  Pikir Yoona.

Namun, tanpa Yoona sadari Donghae sudah tersenyum miring. Tentu saja Donghae tau kalau Yoona itu tidak tidur dan sadar sepenuhnya atas kehadiran Donghae.

 

 

 

•••
“Yoona-ssi!  Kau harus melihat ini!” Victoria menarik paksa lengan Yoona. Tanpa bisa mengelak, Yoona mengikutinya dan didampingi oleh Yuri, sahabat Yoona.

“Donghae!  Turunlah!” hampir seluruh siswa dan siswi sekolah itu berkumpul dilapangan depan sekolah, melihat Donghae yang berada dilantai teratas sekolah mereka yang siap untuk melompat kebawah.

Melihat Yoona sudah hadir diantara ratusan siswa dan siswi dibawah sana, Donghae memulai aksinya.

“Aku akan melompat kebawah jika kau menolakku, Yoona!” teriakan itu membuat semua orang khawatir, dan menyuruh Yoona untuk menerima Donghae.

“Dia tak akan melompat, itu hanya ancamannya saja” Yoona tau Donghae itu seperti apa,  ia tak akan berani melompat kebawah.

“Ini serius, kenapa kau begitu jahat?” pekik Changmin, salah satu teman Yoona.

“Idiot!  Kau tak akan mati jika melompat dari sana!  Kakimu yang akan hancur!  Aku tak akan peduli!” Yoona tak akan pernah termakan bualan Lee Donghae, tidak akan!

“Aku akan menghitung!  Di hitungan ke tiga aku akan benar benar melompat!  Satu!” Yoona mulai takut, apa Donghae gila?

“Terima saja, Yoona. Kau akan membunuh Donghae” teman temannya berteriak padanya. Tak banyak juga yang menyalahkannya.

Yoona melirik Jessica yang tampak khawatir.

Kenapa Donghae tidak meminta kembali Jessica saja dengan cara seperti ini?

“Dua!” Donghae tak akan melakukan hal itu! Yoona yakin itu.

Tak akan mungkin untuk menjadi seorang kekasih palsu.

Tapi sepertinya Donghae benar benar akan melompat.

“Tiga!” semua orang yang ada disana berteriak.

“Tunggu!!!”

 

 

 

•••
“Hey!  Tunggu aku!” teriakan Yoona tak diindahkan oleh Donghae. Donghae hanya berjalan cepat dan memasuki restoran yang ia tau adalah tempat favorit Jessica. Menjalankan misi membuat mantan kekasihnya itu cemburu.

“Kau seperti dikejar hantu saja!” gerutu Yoona dan menghempaskan pantatnya ke kursi restoran.

“Ya, kau hantunya” percikan api tak bersahabat mulai membara dimata Yoona. Pantas saja mantan kekasihnya memutuskannya, ia bersikap seperti itu. Pikir Yoona.

Donghae melihat Jessica dan teman temannya memasuki restoran itu.

“Yoona-ya” bisik Donghae memberikan isyarat agar Yoona membuka mulutnya,  menyuapi Yoona makanan yang sudah disajikan beberapa menit yang lalu.

“Apakah enak?  Ughh lihat, pipimu terkena nodanya” Donghae membersihkan pipi Yoona sambil melirik Jessica.

Walaupun Donghae itu mantan kekasihnya, tentu saja Jessica risih melihat Donghae bermesraan dengan pacar barunya didepan Jessica. Terlebih lagi di restoran yang biasa ia kunjungi dengan Donghae.

Jessica membuang nafasnya sedikit kasar, dan mengajak teman temannya untuk keluar dari sana.

Melihat Jessica yang sudah keluar dari restoran itu, ia mendorong wajah Yoona, menjauhkannya dari hadapannya.

“Aghhh!” tidak bisakah Donghae sedikit lembut? Walaupun itu dengan kekasih palsunya.

“Dia cemburu!” tawa Donghae tanpa mengacuhkan gerutuan Yoona.

“Ini, kau yang bayarkan?” Yoona sedikit takut mengingat tak sedikit makanan yang ia pesan. Ia tidak sarapan tadi pagi,  dan cacing didalam perutnya sudah berdemo agar diberi makan.

“Tentu saja tidak! Kau bayar sendiri! Memangnya siapa dirimu?” sebenarnya itu sangat kasar, tapi Yoona mengerti akan hal itu. Lagian benar kata Donghae, mereka hanya palsu kan?

“Kau keparat, tapi mau bagaimana lagi. Aku akan menelopon Yuri” Yoona ingin membentaknya sebenarnya, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutnya hanya suara lembut.

“Baguslah” jawab Donghae sungguh tak tau diri.

 

 

 

•••

“Maaf, Yuri-ssi. Tapi Yoona harus pulang denganku” perintah Donghae tak bisa ditolak, mengingat ia si penguasa sekolah serta kekasih Yoona walaupun palsu.

Yuri memandang Yoona dengan raut memohon, mereka sudah janji kemarin saat pulang sekolah hari ini mereka akan ke toko buku. Dan Yuri sangat tak suka jika kemana mana sendirian, tanpa ditemani.

Yoona yang mengerti maksud Yuri hanya memandang lemah sahabatnya itu, ia tak bisa menolak Donghae.

“Baiklah, aku mengerti” Yuri mengalah dan berpamitan pulang pada Yoona dan Donghae.

“Kau kekasihku kan? Temani aku latihan” Yoona hanya mengangguk mengiyakan. Mengikuti kemauan kekasih palsunya itu.

Yoona harus bersabar, hanya sampai Jessica meminta Donghae kembali. Itu saja. Sangat simpel.

Dengan ia selalu bersama Donghae maka akan semakin cepat Jessica cemburu dan meminta Donghae kembali. Ia harus kerja keras mulai sekarang.

Agar semuanya berakhir, walaupun jauh didalam hati Yoona ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan.

Latihan sudah berakhir, dengan penuh keringat Donghae berjalan kearah Yoona.

Dengan senyuman maut serta iris hazel milik Donghae yang lembut menatap dalam padanya.

Sesaat Yoona terpana menatapnya, sedetik kemudian jantungnya berdetak dengan cepat kala Donghae memeluknya erat.

Seakan akan tak ingin kehilangan Yoona. Apa Donghae berubah pikiran? Kenapa ia tiba tiba memeluknya seperti ini? yoona sangat bingung. Namun yang ia rasakan adalah kehangatan dari pelukan Donghae.

Walaupun ia tau tubuhnya akan bau karena kena keringat lelaki itu.

“Apa Jessica melihatnya?”

“Eoh?” Yoona tersadar dari lamunannya.

“Jessica melihatnya?” tanya Donghae sekali lagi. Yoona melirik ke kanan dam ke kiri, mencari si pemilik nama lengkap Jessica Jung itu. Dan ia mendapati Jessica yang melihatnya dari depan sana tanpa ekspresi apapun dan berlalu pergi dengan teman temannya.

“Dia sudah pergi” dan pelukan itu terlepas. Donghae melirik kebelakang memastikan Jessica dan teman temannya pergi.

“Aku yakin sebentar lagi dia akan memohon kembali padaku” Yoona yang mendengar itu hanya terdiam, jadi itu alasan Donghae memeluknya erat.

Lalu apa yang ia harapkan sih? Yoona tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

“Ayo, aku antar pulang”

 

 

 

•••
Tak ada yang lebih sial ketika kau kedapatan tertidur dikelas oleh Guru Killer. Yoona merutuki mata bodohnya yang tak bersahabat. Karena itu ia harus dimarahi dan disuruh keluar kelas. Padahal hanya tinggal 30 menit lagi untuk waktu pulang sekolah.

Yoona memasuki toilet sekolah, mencuci mukanya agar tidak kusut seperti tadi.

“Hey! Yoona!” empat orang siswi sudah ada didepan Yoona. Menatap Yoona dengan tatapan ingin menerkam.

‘Pluk!’ kotak tissue baru saja mendarat di kepalanya dan terjatuh ke lantai.

“Apa yang kau lakukan!” bentakan Yoona dijawab oleh serbuan keempat gadis itu.

Menjambak rambut Yoona, menarik seragamnya, bahkan ada juga yang memukulinya.

“Hentikan” keluhan Yoona tak didengar oleh keempat pasang telinga mereka.

“Kau tak pantas bersama Donghae!” itu salah satu dari sekian makian mereka pada Yoona.

“Bitch!”

“Matilah”

“Jauhi Donghae kami!”

Dan diakhiri siraman air got yang entah darimana mereka dapatkan ke tubuh Yoona.

“Donghae tak akan mau dekat denganmu jika kau bau seperti itu!” kepergian keempat gadis itu membuat Yoona sedikit lega, namun tak menghentikan air mata yang jatuh dari pipinya.

Yoona segera bangkit dan keluar dari toilet, melewati para siswa siswi yang hendak pulang.

Semua mata tertuju padanya, namun tak ada satupun yang mau mendekati Yoona.

Yoona semakin mempercepat larinya menghindari tatapan iba bahkan tatapan jijik padanya.

‘Bruk!’ tubuh Yoona oleng namun tak sempat jatuh ke lantai, lengan seseorang menahan pinggangnya.

“Yoona?” Yoona menatap Donghae dan melepaskan lengan Donghae dari pinggangnya. Menghindari iris hazel khawatir Donghae.

“Apa kau baik baik saja?” tidak, Yoona sungguh tak baik baik saja.

“Aku baik baik saja. Aku mau pulang” Yoona sudah berusaha mengentikan isakan tangisnya, tapi ia tak bisa.

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri”

“Aku tak akan membiarkan kekasihku seperti ini. Aku akan mengantarmu dan tidak ada bantahan” mendengar hal itu justru membuat Yoona semakin sulit untuk menahan air matanya. Isakan tangis Yoona semakin mengeras, Yoona tak bisa menahannya lagi.

Tanpa aba aba, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya, meredakan tangisan Yoona tanpa peduli bau menyengat yang keluar dari tubuh Yoona.

 

 

•••
Sebenarnya Yoona penasaran dan ingin bertanya pada Donghae, kemana tujuan mereka saat ini.

Setelah bel istirahat berbunyi, Donghae menarik lengan Yoona dan mengatakan akan ada kejutan untuknya.

Langkah kaki mereka membawa Yoona dan Donghae ke lapangan sepak bola sekolah mereka, memasuki kerumunan beberapa siswa dan siswi yang sudah ada disana.

“Hadiah untukmu. Lakukan lah sesukamu pada mereka” Donghae tersenyum manis pada Yoona, menunjukkan kejutan Donghae yang berupa empat orang siswi yang sudah mengerjai Yoona kemarin.

“Katakan yang ingin kalian katakan pada Yoona!” Yoona bisa melihat keempat siswi itu ketakutan akibat bentakan Donghae.

“Maaf, Yoona” ucap salah satu diantara mereka mewakili.

“Siram mereka!” Yoona hanya diam saat Eunhyuk menyuruh Yoona menyiram mereka, membalas perbuatan keempat siswi itu kemarin. Teman teman Donghae sudah menyiapkannya, empat ember air yang Yoona yakini bersumber dari got. Baunya juga lebih menyengat ketimbang air yang mereka siram kemarin pada Yoona.

“Siram saja, Yoona!” siswa siswi yang lain mulai meneriaki Yoona untuk membalas dendam.

Sedikit muncul perasaan kasihan Yoona pada mereka.

“Aku tak akan membuang waktuku untuk hal tak penting seperti ini. Ayo kita pergi” iris madu dan iria hazel Donghae bertemu, senyuman dibalas senyuman.

Tanpa sepatah kata, Donghae menggenggam erat tangan Yoona, dan membawa gadis itu pergi.

Sebelum Donghae dan Yoona benar benar pergi, Donghae membalikkan badannya.

“Jangan pernah menyentuh kekasihku! Kau akan tau akibatnya!” itu peringatan yang tak akan bisa dilanggar. Peringatan dari si penguasa sekolah.

Donghae dan Yoona berlalu meninggalkan lapangan sepak bola.

Tanpa mereka sadari, Jessica sudah memperhatikan mereka berdua. Dengan tatapan yang tak ada satupun orang mengerti.

“Sayangnya, kami bukan Im Yoona!” teriak teman teman Donghae yaitu Eunhyuk, Kyuhyun, Changmin, Tiffany dan Minho lalu menggantikan Yoona untuk membalas perbuatan keempat siswi itu.

 

 

 

•••
Sebulan menjadi kekasih palsu Lee Donghae tampaknya tidak membuahkan hasil untuk menggetarkan hati Jessica kembali.

Entah gadis itu benar benar sudah melupakan Donghae atau tidak, yang pasti Yoona sudah sadar, bahwa ia jatuh kedalam perangkap yang mereka buat sendiri.

Orang orang akan berpikir bahwa kedua insan itu sedang berkencan seperti halnya pasangan muda lain.

Nuansa yang biasanya keluar dari interaksi Yoona dan Donghae tampak bersembunyi.

Mereka hanya duduk berdiam diri dipinggir Sungai Han sore itu.

“Aku ingin berhenti melakukan ini” Yoona berdiri dari duduknya, menatap iris hazel Donghae dalam.

“Aku tak ingin berpura pura lagi, aku takmau menjadi pasangan palsumu lagi” Donghae ikut berdiri didepan Yoona, membalas tatapan Yoona.

“Kenapa kau ingin berhenti? Apa alasanmu? Apa kau tersiksa? Apa yang membuat mu seperti ini?” tentu saja Donghae tidak terima dengan keputusan Yoona yang mendadak.

Tapi sebenarnya, entah ini untuk Jessica atau apa, Donghae tak tau kenapa ia tak ingin berhenti.

“Aku punya alasan, aku tak bisa berpura pura menyukaimu lagi” Yoona memiliki alasan, alasan yang tak mungkin ia ungkapkan pada lelaki itu.

“Hidupmu terlalu banyak alasan!  Katakan saja! Kau terlalu sulit, kau banyak alibi!  Kau keras kepala! Kau… ”

“Karena aku benar benar jatuh cinta padamu!” Donghae terdiam. Yoona memejamkan matanya menahan jantungnya yang berpacu sangat kencang.

Apa yang baru ia katakan?

Alasan yang sungguh ingin ia pendam keluar begitu saja.

“Kau pikir aku tidak?” Yoona mengangkat kepalanya, membuka matanya lalu menatap mata Donghae yang masih menatap padanya dalam.

“Kau pikir aku tidak jatuh Cinta padamu?” Dongahae membuka suaranya lagi, meyakinkan pada Yoona bahwa ia juga jatuh kedalam perangkap yang mereka buat.

Yoona awalnya tidak percaya, tapi saat kalimat kedua yang Donghae ucapkan untuk menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan ucapan pertamanya. Kedua kalimat itu membuat Yoona percaya, bahwa Donghae serius dengan ucapannya.

Satu detik selanjutnya pelupuk mata Yoona menumpahkan setetes liquid bening, dan diikuti oleh tetesan tetesan berikutnya, membasahi pipi gadis itu.

Bersikap gentle, Donghae menarik Yoona kedalam pelukannya.

“Aku tak tau kenapa kau menangis, yang kutau kita adalah pasangan yang real sekarang. Tidak ada kekasih palsu, tidak ada berpura pura mesra. Tujuan kita sudah jelas sekarang. Kau dan aku. Kita benar benar sepasang kekasih mulai dari sekarang, Yoona. Aku tak akan memintamu jadi kekasihku, karena aku tidak menerima penolakan atau alasan mu yang lain. Aku mencintaimu” Donghae tak percaya atas apa yang ia ucapkan barusan. Itu bukanlah kata kata yang lebih romantis yang selalu ia ucapkan pada Jessica, tapi yang pasti ini lebih tulus dari pada ucapan yang biasa ia lontarkan pada Jessica.

Donghae sadar betul bahwa saat ini hanya Yoona lah yang ia inginkan. Hanya Yoona lah yang ia butuhkan untuk mengisi hari harinya.

 

 

 

 

Matahari sudah terbit dinegara bagian Eropa, dan sudah saatnya Bulan muncul dinegara gingseng itu.

Angin malam yang sebenarnya tidak sehat itu menerpa wajah Yoona.

Tak ada kata dingin bagi Yoona malam ini, karena jemari serta tangan besar Donghae menggenggam erat tangannya saat ini. Tak ada yang lebih hangat dari itu.

“Bagaimana aku bisa kedinginan jika matahari sudah ada disampingku” celetuk Yoona menjawab pikiran nya sendiri.

“Apa?” Yoona tersadar dan menggeleng menjawab pertanyaan Donghae. Senyuman konyol serta malu sendiri itu tercipta diwajahnya.

“Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang” Yoona mengiyakan ajakan Donghae. Dan mereka bergegas meninggalkan Sungai Han dan pulang.

Sebenarnya Yoona tak ingin membebani Donghae dengan mengantarkannya pulang, karena lelaki itu memaksa dengam alasan bahwa ia adalah lelaki gentle maka ia harus mengantarkan seorang gadis pulang kerumahnya.

Yoona mengiyakan tawaran Donghae yang memaksanya, tentu saja ia tidak menyesal menerima tawaran itu.

“Sudah sampai, aku turun” Yoona keluar dari mobil hitam milik Donghae, dan berjalan menuju pagar rumahnya.

“Tunggu!” Donghae menghentikan Yoona, lelaki itu buru buru keluar dari mobilnya.

“Apa aku melupakan sesuatu?” tanya Yoona bingung dan hanya memerhatikan Donghae yang sibuk keluar dari mobilnya.

Donghae mendekati Yoona dengan senyuman maut miliknya, senyuman khas seorang Casanova.

“Tidak, hanya saja ini akan menjadi kebiasaan baru” Donghae menarik kepala Yoona mendekat dan mencium kening Yoona.

“Selamat malam” Donghae berlalu dari hadapan Yoona dan memasuki mobilnya.

Donghae menginjak pedal gas mobil miliknya dan meninggalkan tempat tinggal Yoona.

Yoona masih terdiam menatap mobil Donghae yang menjauh.

Semburat merah dipipinya terlihat menggemaskan.

“Aku tak tau rasanya seperti ini. Benar benar menyenangkan. Walaupun sedikit sakit saat jantungku berdetak begitu cepat” detakan jantung yang begitu cepat memang menyakitkan, Yoona.

Entah itu karena bahagia ataupun sedih. Jika jantungmu memompa darahmu begitu cepat, memang terasa sedikit sakit.

 

 

 

•••
Entah ini salah siapa, Ibu Yoona,  Ayah Yoona atau bahkan Yoona sendiri. Yang pasti ini adalah hari tersial diantara hari hari sial lainnya bagi Yoona.

Harusnya Yoona bangun lebih awal dan pergi kesekolah dengan senyuman ceria karena ia sudah sah menjadi kekasih Lee Donghae.

Bukan malah berakhir dibelakang sekolah dengan usaha memanjat tembok untuk masuk ke sekolah tersebut.

Yoona sangat malas berurusan dengan satpam sekolah mereka ditambah guru pengawas yang sudah pasti akan menghukum Yoona seperti beberapa waktu lalu karena terlambat.

Yoona mendapatkan ide ini ketika seminggu yang lalu kedapatan Changmin yang masuk ke sekolah mereka melewati tembok ini.

Benar benar ide brilian untuk menghindari hukuman yang tak diinginkan.

“Kau masih ingin berusaha memanjat itu?” Yoona yang masih bersusah payah memanjat tembok itu menoleh kebelakang.

Mendapati Donghae yang sepertinya juga terlambat.

Donghae menarik pinggang Yoona, membantu gadis itu turun dari usahanya memanjat tembok.

Bagaimana ia tidak sulit memanjat jika ia masih menggunakan rok selututnya?  Pikir Donghae

“Terimakasih” Yoona merapikan roknya yang sedikit berantakan.

“Syukur aku yang melihatmu, bagaimana jika laki laki lain?  Kuyakin mereka akan diam saja melihatmu dan mengintip celana dalammu” Yoona hanya menunduk malu, menyadari bodohnya ia memanjat sedangkan ia memakai rok sekolahnya.

“Tidak perlu frontal begitu” balasnya mencibir dan memberikan pukulan kecil di perut Donghae.

Donghae hanya tertawa melihat tingkah konyol Yoona.

“Apa kau tetap mau sekolah? Ayo bolos, kita akan berkencan”

Dan tidak ada penolakan untuk Lee Donghae.

“Aku tak menyangka kau mengajakku berkencan disini. Ku pikir kau akan mengajak menonton atau melakukan hal lain yang biasa diminta oleh anak perempuan lainnya” Yoona tertawa kecil mendengar gumaman Donghae. Bagaimana tidak?

Saat ini mereka sedang berada di Taman anak anak, duduk diayunan.

Donghae tidak bergerak seperti halnya Yoona yang sibuk mengayunkan ayunan yang ia naiki, membiarkan rambutnya yang tergerai sedikit berantakan.

Donghae hanya fokus menatap Yoona, memikirkan banyak hal tentang gadis itu. Donghae tak tau alasan kenapa ia menyukai gadis itu, Yoona tidak sefeminim Jessica, tidak selembut Jessica, bahkan tidak semanja Jessica. Yoona itu tipe gadis yang sedikit tomboy, benar benar bukan tipe ideal Donghae.

Namun faktanya, Donghae jatuh pada pesona gadis itu.

“Kau suka anak kecil ya?” Yoona yang mendengar pertanyaan Donghae dengan cepat menjawab ya.  Ia memang begitu menyukai anak kecil,  melihat tingkah lugu mereka membuat Yoona bahagia.

“Kalau begitu, jika sudah menikah nanti. Ayo punya anak yang banyak. 11 mungkin cukup”

“Apa kau pikir mudah mengeluarkan mereka sebanyak itu?!”

“Kau menyukai anak anak kan? Semakin banyak, semakin kau suka”

“Tapi tidak seperti itu juga”

“Sebelas cuma sedikit Yoona”

“Kalau begitu kau yang mengandung mereka”

“Kalau aku bisa, apa yang tidak untukmu”

“Menyebalkan”

“Aku juga menyukaimu”

“Aku tidak bilang menyukaimu idiot!”

“Aku tau kau sangat menyukai ku”

“Aku akan memakanmu bentar lagi”

“Kau sangat imut”

Yoona yang sedikit kekanakan dan Donghae yang jahil.

Bukankah pasangan yang serasi?

 

 

 

•••
Salah satu hal yang ingin dilakukan Yoona jika memiliki kekasih adalah makan siang diatap sekolah dengan bekal yang ia bawa. Oh, tentu saja itu masakan Yoona sendiri.

Donghae setuju dengan ajakan Yoona untuk memenuhi keinginannya itu, hal hal sederhana yang belum pernah ia lakukan dengan Jessica.

Ahh, maaf. Jangan membahas wanita masa lalu Donghae lagi.

Kotak nasi yang tadinya berisi nasi goreng kimchi itu telah habis tak tersisa. Kotak itu dibiarkan terbuka begitu saja, entah Yoona atau Donghae lupa atau malas menutupnya, atau sekedar membumbuhi suasana romantis mereka.

Syukurlah sinar matahari siang itu tidak terlalu menyengat, jadi bermalas malasan diatap sekolah bukan menjadi ide yang buruk. Menghindari pelajaran olahraga yang sudah pasti materi praktek dilapangan sekolah.

Biasanya Donghae lah yang paling semangat jika sudah mengenai pelajaran yang biasa menguras keringat itu, tapi kali ini ia lebih memilih menyimpan keringatnya dengan bermalas malasan bersama Yoona.

Menyandarkan kepalanya dipaha Yoona, dan tidur selonjoran.

Dari sana, Donghae bisa melihat jelas wajah Yoona. Sederhana namun membuat jantungnya berpacu begitu keras.

“Lubang hidungmu sangat cantik jika dilihat dari sini” mata Yoona membulat lebar mendengar pujian memalukan dari Donghae.

“Kau mau mati?!” amuk Yoona dan mengincar telinga Donghae sebagai pelampiasan kemarahannya.

“Aku serius, kau ini kenapa sensitif sekali?” rintih Donghae memegangi telinganya yang sudah memerah.

“Lubang hidungmu semakin cantik bentuknya jika dilihat dari bawah sini. Aku serius” Donghae benar benar memuji lubang hidung Yoona, tapi sungguh wajah Yoona benar benar memerah menahan malu bukan karena pujian. Apa tidak ada bagian wajah Yoona yang lain yang lebih cantik?

“Kenapa harus lubang hidungku?” Yoona melupakan rasa malunya akibat pujian bodoh dari Donghae.

“Karena hanya aku yang boleh melihat lubang hidungmu dari bawah sini dam sedekat ini” Oh, itu rayuan. Walaupun bukan rayuan khas seorang Casanova, itu rayuan diluar dugaan.

“Ya, hanya kau. Kau membuatku malu, idiot” umpatan yang sudah Yoona tahan akhirnya ia lontarkan kepada Donghae, dan dibalas oleh tawa renyah khas Lee Donghae.

“Kau cantik, semuanya. Bahkan lubang hidungmu. Hatimu, wajahmu, semuanya. Itulah kenapa aku menyukaimu” kali ini bukan karena malu, wajah Yoona memerah karena ucapan Donghae, bahkan untuk kesekian kalinya jantungnya seakan ingin keluar dari sarangnya.

Donghae sudah membuatnya jatuh Cinta berkali kali, setiap hari, setiap menit bahkan setiap detik.

“Ngomong ngomong, kotoran hidungmu yang juga terlihat dari sini sangat cantik” kau akan benar benar mati, Lee Donghae.

 

 

 

•••
Ini sudah menjadi ke sekian kalinya Yoona melirik arloji hitam yang melilit pergelangan tangannya.

Sudah hampir 5 jam dari perjanjian pertemuannya dengan Donghae.

Yoona tidak salah tempat juga tidak salah jam.

Isi pesan yang dikirim Donghae benar benar menyatakan pukul 2 sore dan bertemu di Tavolo 24.

Bahkan langit yang tadinya masih disinari cahaya matahari kini sudah berganti dengan pancaran sinar Bulan.

Tidak biasanya Donghae telat seperti ini. Kalaupun telat, ia pasti mengirimi pesan untuk Yoona.

Kali ini benar benar tidak ada pesan. Yoona sudah menelponnya beberapa kali, namun Donghae tidak mengangkat panggilan dari Yoona.

Yoona ingin kembali, namun ia rasa 5 jam itu sia sia jika ia pulang tanpa bertemu dengan Donghae. Bagaimana jika setelah ia pulang Donghae akan datang?

Yoona meyakinkan dirinya untuk tetap tinggal dan menunggu sang kekasih.

Namun, batang hidung Donghae tak kunjung terlihat.

“Yoona!” Eunhyuk memasuki restoran bernuansa coklat itu, dan tanpa malunya berteriak memanggil nama Yoona.

“Donghae memintaku menjemput mu” jelas Eunhyuk sembari berdiri didepan Yoona.

“Dimana dia?” Yoona ikut berdiri, apa yang membuat Donghae menyuruh Eunhyuk?

Tak salah kan jika Yoona berharap Donghae memberinya kejutan?

“Rumah sakit” jantung Yoona berdetak tak karuan. Donghae dirumah sakit? Apa yang terjadi dengannya?  Apa ia kecelakaan? Koma? Atau apa?

“Apa yang terjadi padanya?!” suara Yoona benar benar tidak bisa terkontrol pada saat itu.

 

 

 

 

Elektrokardiografi itu mengeluarkan bunyi yang teratur. ‘Tit, tit, tit’.

Suasana diruangan itu begitu sepi.

Yoona menatap Jessica yang terbaring diranjang rumah sakit itu dengan tatapan iba. Wajah ceria serta senyuman menawan khas Jessica sama sekali tak nampak diwajah gadis itu.

Bahkan surai emas milik Jessica tampak begitu lesu.

Tatapan iba Yoona dibalas oleh senyuman menyedihkan Jessica.

Sudah hampir 20 menit saat Yoona dan Eunhyuk tiba, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut Yoona juga Jessica.

“Kanker otak stadium 4” mulai Jessica.

“Sebenarnya, aku masih mencintainya, Yoona” Yoona paham betul siapa ‘nya’ yang dimaksud oleh Jessica.

“Kau tau, aku memutuskan Donghae karena penyakit ini” Yoona sungguh tak ingin mendengar hal ini.

“Aku tak ingin Donghae bersedih ketika aku mati nanti. Jadi aku melepaskannya. Agar ia melupakanku dan bahagia” inilah yang Yoona takutkan. Hal hal yang diluar dugaan Yoona.

“Sebenarnya aku turut senang melihat Donghae yang bahagia bersamamu. Harusnya aku ikut senang karena ia mulai melupakanku dan mencintaimu. Tapi kenapa rasanya sesakit ini?” Jessica mulai terisak, menceritakan segala isi hatinya kepada kekasih mantan kekasihnya.

“Harusnya aku bahagia, karena inilah yang kuinginkan. Tapi kenapa hatiku hancur melihat Donghae yang bahagia bersamamu? Kenapa rasanya begitu sulit? Kenapa harus aku yang memiliki penyakit menyedihkan ini?” Yoona juga mulai ikut terisak. Terhanyut kedalam cerita Jessica membuat ia juga ikut terhanyut dalam kesedihan gadis itu. Yoona juga bisa merasakan perih dari hati Jessica.

“Maafkan aku karena ibuku menghubungi Donghae dan menyuruhnya datang kesini. Maafkan aku yang tidak tau diri mengambil nya lagi darimu. Maafkan aku, Yoona. Aku masih mencintainya” hati Yoona tertusuk lebih dalam daripada hati Jessica. Ini adalah cerita Cinta pertama miliknya, kenapa harus mengalami masalah serumit ini?

Yoona turut sedih dengan apa yang dialami Jessica, namun tak ada yang lebih menyedihkan lagi ketika secara tak langsung Jessica ingin mengambil Donghae kembali darinya. Mengambil kembali Donghae yang sudah berhasil mencuri hatinya.

Yoona memeluk Jessica yang terbaring diranjang, meredakan tangisan gadis malang itu dengan pelukan hangat miliknya.

Dan setelah itu, Yoona beranjak pergi keluar dari ruangan Jessica. Sungguh, ia tak bisa menahan isakan yang sudah tak terbendungkan lagi.

 

 

 

 

 

Donghae menatap kosong pada gelas kaca berisi teh didepannya.

Pikirannya bercampur aduk saat ini.

“Jessica memutuskanmu karena ia tau, hidupnya tak akan lama lagi. Ia tak ingin menyakitimu, nak. Tapi aku tak ingin melihatnya bersedih diakhir hidupnya. Aku tak ingin melihat ia tersakiti karena kau bahagia bersama gadis lain” Donghae tak pernah menyangka alasan Jessica memutuskannya. Disaat ia sudah mencintai Yoona dan melupakan Jessica, kenapa fakta itu baru terkuak sekarang?

“Jadi, ku mohon padamu. Kembalilah bersama Jessica dan buatlah akhir hidupnya menjadi bahagia” Donghae hanya diam, apa yang harus ia lakukan?

Disaat ia tak ingin menyakiti Yoona, disaat ia tak ingin Jessica bersedih, dan disaat hatinya lebih memilih Yoona. Apa yang harus ia lakukan?

Donghae beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Ibu Jessica yang masih duduk dikantin Rumah Sakit Seoul itu.

Tujuan Donghae adalah kamar Jessica, menunggu Yoona dan berbicara baik baik dengan Jessica.

Tapi, pemandangan pahit ia dapatkan didepan ruangan Jessica.

Itu bukan karena Eunhyuk yang memeluk Yoona, tapi karena melihat Yoona menangis tersedu sedu lah yang membuat itu sangat pahit.

“Yoona-ya” Yoona mendengar suara Donghae yang memanggilnya. Tapi tidak kali ini, Yoona sangat tak ingin bertemu dengan Donghae.

Ia sangat bingung akan apa yang harus ia lakukan pada lelaki itu.

Yoona menghindar, pergi meninggalkan Donghae.

Tentu saja Donghae tak akan membiarkan Yoona menjauhi dirinya.

“Yoona-ya!” teriak Donghae lagi dan Yoona benar benar berlari dari koridor itu.

Donghae mengejarnya dan diikuti oleh Eunhyuk.

Sebelum benar benar keluar dari area Rumah Sakit, Donghae menarik pergelangan tangan Yoona tepat saat mereka berada didepan Rumah Sakit itu.

“Ku mohon, jangan lakukan ini” Donghae menarik tubuh Yoona kedalam pelukannya. Tak ingin Yoona berlari darinya.

“Kita harus berpisah, Donghae. Inilah jalan untuk kita. Kembalilah pada Jessica” lagi lagi Yoona terisak dalam tangisannya. Merelakan Donghae untuk bersama Jessica.

Donghae melepaskan pelukannya, memaksa Yoona agar menatap wajahnya.

“Apa kau tidak mencintaiku lagi?” pertanyaan itu begitu menusuk Yoona. Bagaimana ia tidak mencintai Donghae lagi ketika cerita cintanya baru saja dimulai?

“Tentu saja aku masih mencintaimu, tapi Jessica lebih membutuhkanmu” jawaban Yoona tak kalah menusuk. Sama sama menusuk hati kedua insan itu.

“Apakah begitu sulit untuk kita bahagia?” untuk pertama kalinya Yoona melihat Donghae menangis didepannya. Bahkan lelaki itu juga terisak menyakitkan didepan Yoona.

“Kau tak boleh egois, kita tidak boleh. Jessica membutuhkanmu dan ia masih mencintaimu. Bukankah kau ingin kembali padanya?” ucapan Yoona seperti katana yang menghunus Donghae tepat di ulu hatinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu? Kau tau, kaulah yang kubutuhkan saat ini” Donghae berusaha keras menahan tangisannya, tapi sang Penguasa sekolah itu kali ini tidak bisa mengendalikan tubuhnya.

“Seperti yang kukatakan. Kita saling membutuhkan namun tak lebih daripada Jessica membutuhkanmu. Buat ia bahagia diakhir hidupnya. Kali ini ku mohon, ini permintaan pertama dan terakhirku. Kembalilah pada Jessica”

“Selamat tinggal” Yoona memeluk Donghae sebagai salam perpisahan. Donghae juga membalas pelukan Yoona.

Tangisan tak lepas dari keduanya. Bahkan Eunhyuk yang menyaksikan perpisahan mereka juga ikut menangis.

Kenapa cerita Cinta kedua temannya itu begitu menyedihkan?

“Kau tau Yoona, Cinta bersamamu adalah hal yang menakjubkan”

-TAMAT-

Akhirnya selesai 😚😘😍

Ini cerita terinspirasi dari film komedi romancenya Daniel Padilla x Kathryn Bernardo yang berjudul ‘She’s Dating The Gangster’.

Banyak kesamaan alur maupun plotnya.

Author buat remakenya kerna itu film benar benar menyentuh hati author apalagi pas bagian akhirnya.

Dan muncullah niat buat bikin ff YoonHae versinya.

Dan ya,  sengaja gantung.

Ada rencana buat sequel, tapi dibuat juga kalo banyak yang minat hehehe.

Itu aja, maaf kalo banyak kesalahan kata dan typo.

Mahal kita ♥♥

Btw, itu bahasa Filipina hohoho
Salamat po!

Review mu semangatku ↖(^▽^)↗

Passive 

By. Aphrodiv

Im YoonA – Lee Donghae 

Genre : School-life, AU, Comedy, Romance

Length : Drabble

Rate : G

 
Akan sangat menyenangkan jika menyukai seseorang yang juga menyukaimu,  bukan?

Itulah yang dirasakan Yoona.

Setelah memendam perasaan sukanya pada seorang siswa laki laki yang merupakan kakak kelasnya, akhirnya ia mendengar bahwa pemuda itu juga menyukainya.

Yoona menjadi seorang pemenang dari sekian siswi yang mengaku penggemar si Ketua OSIS itu ketika ialah seseorang yang disukai si Ketua.

Ditambah dengan gosip bahwa Sang Ketua OSIS itu belum pernah berkencan dengan siapapun, jackpot untuk seorang Im Yoona.

Double Jackpot saat si Ketua OSIS itu memasuki kelasnya saat jam kosong.

Mengerjainya ah lebih tepat menggodanya bukanlah ide yang buruk.

Dengan isyarat Yoona dan gengnya, salah satu temannya menutup pintu kelas mereka.

Menghalangi Donghae si Ketua OSIS untuk keluar dari kelas itu.

“Hey!  Kakak kelas!  Aku juga menyukaimu!” seisi kelas itu terdiam,  dan Yoona yang baru saja mengatakan itu menjadi perhatian puluhan pasang mata yang berada didalam kelas itu.

Bukankah sangat tidak tahu malu si Yoona itu?  Atau kelewat polos?

Donghae yang mendengarnya hanya tertegun diam, menatap Yoona yang berdiri dibelakang mejanya dalam.

Jika siswa/i lain tidak berisik menyoraki Yoona, sudah pasti mereka akan mendengar suara dentuman jantung Donghae yang begitu cepat.

Apa gadis ini gila?  Menyatakan perasaannya didepan orang banyak?  Pikir Donghae.

Ia bukan tipe seorang pemuda yang biasa mendengar hal hal Cinta didepannya.

Karena terlalu memikirkan pelajarannya,  hingga ia tak peduli akan hal itu.

Ia juga seseorang yang pernah nakal, bolos sekolah maupun tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Namun sungguh, Cinta masih sangat tabu untuk seorang Lee Donghae si Ketua OSIS.

Darahnya berdesir kencang saat Yoona berjalan mendekatinya.

Dengan ponsel yang ada ditangannya,  Yoona mengarahkan kameranya kearah wajah Donghae.

Tentu saja Donghae menghindari wajahnya yang sudah memerah menahan malu.

Namun,  lagi lagi dengan jahilnya serta ambisi mengambil foto Donghae,  Yoona mendekatkan kameranya ke wajah Donghae.

Dan berhasil mengambil fotonya.

‘Brugh’

Tubuh Donghae jatuh begitu saja ke lantai.

“Eh? Pingsan?” itu suara si jahil Yoona.

°°°
Yoona sudah melakukan banyak hal hanya untuk mendengar pernyataan Cinta dari Donghae, bahkan sudah 2 bulan sejak ia bergabung menjadi anggota di organisasi yang diketuai Donghae tak kunjung membuat Donghae menyatakan perasaannya pada Yoona.

Tidak hanya masuk sebagai anggota OSIS,  Yoona juga sering melewati kelas Donghae sekedar menyapa pemuda itu.

Sebelum menjadi anggota OSIS, Yoona rela menjadi panitia kegiatan jika ada acara di sekolah mereka.

Karena Yoona tau, Donghae itu pasif.

Jadi ia hanya perlu memancingnya.

Namun, umpan Yoona tak kunjung membuat Donghae memakannya.

Pemuda itu masih saja memendamnya,  benar benar tipe yang polos dalam hal Cinta.

Lusa akan diselenggarakan acara pelepasan kakak kelas SMA mereka, demi bersama Donghae, Yoona rela memasukkan obat pencuci perut ke minuman temannya yang akan menemaninya membeli alat dan bahan untuk acara pelepasan. Membuat si Malang Irene harus berkali kali memasuki toilet.

Sudah rencana Yoona, melihat si Ketua lah yang tidak ada kerjaan kecuali memandori anggota lain.

Seperti rencana busuk gadis itu,  akhirnya Donghae yang akan menemani Yoona membeli alat dan bahan yang dibutuhkan.

“Aku sudah lelah, Kak.  Bisa kita istirahat sebentar?” itu hanya dusta, si kuat Yoona mana mungkin kelelahan karena berjalan di swalayan selama 2 jam. 7 jam pun ia tahan.

Donghae mengiyakan ajakan Yoona.  Walaupun masih ada bahan yang harus dibeli, mana tega ia membiarkan seorang perempuan kelelahan,  terlebih lagi ia menyukai gadis itu.

Donghae sudah terbiasa berada didekat Yoona selama gadis itu tidak malukan hal hal gila seperti kejadian 4 bulan silam.

Itu sangat teramat diluar dugaan Donghae. Walaupun awalnya ia senang karena Guru Jung menyuruhnya memberikan mereka materi dikarenakan Guru Jung tidak dapat masuk karena sibuk, ia harus berakhir ditempat tidur ruang kesehatan sekolah mereka.

“Kak, aku tau kau handal bernyanyi. Ku harap kau melakukan pertunjukan menyanyi diacara pelepasan nanti”

“Kak, apa kau suka buah stroberi?”

“Aku sangat lelah”

“Kak,  aku tau kau menyukai warna biru”

“Kak, kau memang belum pernah berkencan kan?”

“Selamat!  Ini adalah kencan pertamamu!  Denganku!”

Yoona itu berisik, ceria, sedikit nakal, genit, dan tidak tau malu. Namun itulah mengapa Lee Donghae menyukainya.

Yoona itu apa adanya. Ia benar benar hidup sebagai Im Yoona tanpa menghiraukan komentar iri orang lain terhadapnya.

Sudah banyak beredar rumor bahwa mereka berpacaran. Selama rumornya bersama Yoona,  tak akan menjadi masalah untuk Donghae.

“Kak! Kenapa kau hanya melamun dari tadi?” gerutuan Yoona membuat Donghae tersadar dari dirinya yang berlayar dipikirannya akan gadis itu.

“Aku tidak melamun” elak Donghae setelah tertangkap basah oleh Yoona.

“Cepat habiskan minumanmu!  Setelah ini kita akan menonton!” mata Donghae membulat mendengar perintah Yoona.

“Bagaimana dengan bahan yang belum kita beli?” bahannya masih belum lengkap, tapi Yoona sudah seenaknya mengajaknya menonton bioskop.

Bahkan mereka harus cepat kembali dan membantu anggota lain untuk menyiapkan tempatnya.

“Kita bisa membelinya setelah selesai menonton. Kau tak harus selalu menurut. Kau itu Ketua OSIS,  tak akan ada yang memarahimu,  kak” yang dikatakan Yoona itu benar, siapa yang akan berani menegur Sang Ketua?

“Tapi sebelumnya,  ada yang ingin ku katakan!” apapun itu, Donghae tau, Im Yoona ini selalu penuh kejutan.

“Katakan saja” Donghae sudah penasaran karena gadis itu masih belum melanjutkan perkataannya.

“Karena kau seorang pasif, aku yang akan mengambil langkah!” Donghae sibuk menebak apa yang akan dikatakan Yoona. Ia pasif? Mengambil langkah apa?

“Maukah kau berkencan dengan ku? Dan menjadi kekasihku?” itu sungguh diluar dugaan.

Iris hazel milik Donghae refleks membesar.

Donghae memang berencana akan menyatakan perasaannya pada Yoona, namun nyalinya tidak ada untuk yang satu itu.

Gadis ini benar benar diluar dugaan. Itu yang dipikirkan Donghae.

Ia menyukai Yoona,  dan Yoona menawarkannya menjadi kekasihnya. Itu tentu saja keinginan Donghae.

“Hey!  Kau mendengarku?”

“Ayo berkencan!  Dan menjadi sepasang kekasih! ”
-TAMAT-
Epilog

“Kalian kemana saja? Kenapa membeli bahannya bisa sampai 5 jam?” Donghae dan Yoona hanya memberikan cengiran mereka dan menggaruk belakang kepala mereka serempak.

“Jika ingin berkencan, bukan disaat tugas kalian membeli alat dan bahan untuk acara” itu memang mutlak salah mereka berdua. Tapi, Yoona lebih dominan.

“Bahkan kalian tidak membeli bahannya yang lengkap! Kalian harus kembali ke swalayan dan beli segala keperluan. Dan kau,  Im Yoona. Biarkan saja Ketua Donghae yang pergi, ia akan ditemani Kris ke swalayan. Aku tau, kau yang membuat kalian lama kembali!”

•••
Akhirnya selesai juga ini ff. Ceritanya terinspirasi dari dua adik sepupu author yang masih 4 tahun, dijodoh jodohin gitu. Trus ada suatu waktu, adik cwe gw mau ambil foto si adik cwo, nahh si cwo ngehindar trus ehh dengan polosnya si cwe trus trusan ngarahi kameranya ke muka si cwo, setelah diambil gambarnya dengan suara yang khas si cwo langsung nangis kejer:”v sambil mukulin emaknya yang ketawa liat tingkahnya 😂😂
Itu aja, seperti biasa.

Review mu, semangatku^^